
Leo pulang ke rumah orang tuanya setelah dari hotel, berharap Angela masih berada di sana. Meninggalkan Leo di di pesta sama sekali tidak membuat Leo berpikir jika Angela akan marah, Leo berpikir jika ada ibu nya maka semua akan baik baik saja karena ada ibunya.
Leo tiba di rumah ibunya melihat rumah sudah dalam keadaan sepi.Hampir semua penghuni sudah beristirahat di kamar masing-masing, begitu juga Angela pikirnya. Leo langsung menuju kamar yang ditempati Angela, tapi saat melihat kamar itu kosong, Loe terkejut dan mulai merasa panik.
"Angel! Sayang!" Panggilnya berlari mencari ke kamar mandi, tetapi tak juga menemukan keberadaan Angela.
Perasaan Leo menjadi tak menentu, Leo teringat kembali kejadian di pesta dan seakan baru terpikir jika apa yang dia lakukan mungkin sudah membuat Angela marah. "Sayang, aku sudah bilang akan kembali. Dimana kamu?" gumamnya cemas.
Leo berlari menuju kamar orang tuanya dan terus mengetuk pintu kamar tak sabar agar pintu dibuka. "Berisik sekali. Ada apa, Leo?" tanya Wira kesal.
"Sudah pulang!" jawab Wira datar.
"Sudah waktunya istirahat, jangan membuat keributan!" Wira baru saja akan kembali masuk ke dalam kamar, tapi Leo menahan tangan Wira.
"Pa, aku ingin bicara dengan mama!"
"Sudah tidur, lelah menghadapimu. Papa juga mengantuk, kau istirahatlah, atau pergi temui kekasihmu." Wira bergegas masuk setelah mengatakan itu.
__ADS_1
Leo yang masih berdiri di depan pintu hanya bisa terdiam di depan pintu kamar orang tuanya. Leo terdiam lemas saat berbagai pikiran mulai berkecamuk dibenaknya memikirkan akibat dari kejadian hari ini. Tidak ingin harga dirinya, nama baiknya tercoreng karena kehadiran Evelyn hari ini kembali membuat Leo menjadi bodoh dan melupakan akibat dari tingkahnya.
Langkah kaki Leo membawanya menuju ke kamar yang sebelumnya ditempati Angela, Leo terduduk lemas di pinggir ranjang. Rasa takut kehilangan menyelimuti Leo dan itu benar-benar membuatnya takut. Leo bahkan tak berani untuk menelpon Angela, Leo merasa kesal pada dirinya sendiri.
"Argh….," teriaknya melempar lampu tidur yang ada di atas nakas.
Bukan hanya lampu, beberapa barang yang ada di sebelahnya menjadi pelampiasan emosi Leo. leo merasa kesal pada dirinya sendiri, kebodohannya telah membuatnya kembali menyakiti Angela dan itu membuatnya kecewa.
"Leo! Bisakah kau lebih tenang! Kenapa kau hanya bisa membuat kegaduhan!" bentak Wira yang sudah berdiri di depan pintu kamar menatap kesal pada putranya.
Leo yang melihat Sarah, langsung mendekat, mengabaikan kakinya yang tertusuk pecahan kaca di lantai.
"Leo!" Teriak Sarah. Meski kesal, tetap saja nalurinya sebagai seorang ibu tidak ingin anaknya terlukaa.
"Ma, Angela!" Leo memegang kedua bahu Sarah, mengabaikan luka di kakinya.
Wira dan Sarah yang melihat itu langsung memapah Leo ke sofa yang berada tak jauh dari sana. Sarah berteriak meminta pelayan mengambil kotak obat.
__ADS_1
"Tolong berhenti bersikap bodoh, Leo! Kau juara dalam pekerjaan, tapi dalam hal lainnya kau benar-benar tidak bisa diandalkan. Kau hanya bisa membuat masalah. Tolong berhenti!" ucap Sarah begitu kesal pada Leo, tapi tetap membersihkan dan mengobati kaki Leo yang terluka.
"Ma, Angela–"
"Lepaskan Angela. Berhenti mengejarnya, berhenti menyakitinya berhenti memberi harapan padanya!" ucap Sarah memotong kalimat Leo yang belum selesai diucapkan.
"Papa tidak ingin mendengar nama Angela lagi di rumah ini, jangan ada yang membahas Angela lagi. Kau sudah kehilangan kesempatan bersamanya, hanya wanita bodoh yang akan mau memaafkan kesalahanmu. Biarkan gadis baik itu menemukan pria yang layak untuknya dan itu tentunya bukan kau!"
"Pa!" tegur Sarah.
"Teruslah membela putramu. Dia tidak akan bisa melepas wanita tak tahu diri itu. Pulanglah ke rumahmu, Leo. Aku sedang tidak ingin melihatmu di rumah ini!" usir Wira lalu memilih kembali ke kamarnya sebelum emosinya semakin memuncak melihat kebodohan putranya.
Leo terdiam tertunduk mendengar ucapan Wira yang terlihat begitu marah padanya. "Ma," ucapnya pelan menatap Sarah.
"Berhenti memberi harapan untuk Angela. Jika kau mencintai wanita itu, tolong berhenti mengejar Angela. Mama menyayangi Angela, mama tidak ingin kau terus menyakiti dia. Mama tidak akan ikut campur lagu urusanmu, terserah kau ingin bersama siapa. Sekarang istirahatlah. Mama juga lelah!" Sarah bangkit dari duduknya setelah mengobati kaki Leo.
"Mama akan minta pelayan membantumu ke kamar!" ucapnya lagi sebelum pergi meninggalkan Leo yang hanya bisa terdiam.
__ADS_1