
“Siapa pria tadi?” tanya Leo begitu ia melajukan mobilnya meninggalkan klinik di mana dia melihat Angela tengah mengobrol dengan seorang pria.
Bibir Angela terkatup rapat-rapat. Tak ada sedikit pun niat untuk menjawab pertanyaan Leo. Dia merasa kesal sekaligus marah karena Leo sudah seenaknya menyeretnya pergi. Angela bahkan belum sempat berpamitan dengan Raymond. Jangan sampai Raymond berpikir jika Angela adalah wanita yang tidak punya sopan santun.
“Angela, aku bertanya padamu. Siapa pria tadi?”
Leo bertanya kembali. Kali ini dengan nada yang lebih tinggi. Entah dari mana munculnya. Tapi, Leo merasa jika dia tidak suka Angela berinteraksi dengan pria lain sebegitu akrabnya. Jangan tanya kenapa Leo bereaksi seperti itu sebab Leo sendiri pun tak tahu jawabannya.
“Dia mantan seniorku di kampus,” jawab Angela pada akhirnya. Ia masih menatap lurus ke depan, tak menoleh pada Leo sedetik pun.
Leo melirik Angela. “Aku tak suka melihatmu dengan pria lain,” ungkapnya dengan jujur.
Angela dengan cepat menoleh. Dia melipat tangan di depan dada. Rasa kesalnya semakin membuncah tatkala ia mendengar kalimat yang meluncur bebas dari bibir Leo.
“Jadi, karena itu kau tadi menyeretku? Kau membuatku malu, Leo. Apa maumu?” tanya Angela, kesal sekaligus bingung. Kenapa Leo berkata seolah-olah dia tidak mau Angela berhubungan dengan pria mana pun selain dirinya?
“Aku tidak suka cara pria itu menatapmu dan bagaimana kau tertawa karena dia,” balas Leo.
Angela menaikkan sebelah alisnya. “Seriously, Leo? Memangnya bagaimana cara Ray menatapku? Dia hanyalah temanku dan aku tidak sedang menggoda dia. Apakah kau pikir aku adalah wanita yang suka menggoda banyak pria?” cecar Angela.
Leo menepikan mobilnya. Dia lantas menoleh ke arah Angela. Berdebat sambil menyetir bukanlah hal yang aman untuk dilakukan.
“Angela, aku tidak bermaksud menuduhmu seper—”
“Kau membuatku malu karena sudah menyeretku seperti anak kecil. Aku benar-benar tidak menyangka jika kau sangat kekanak-kanakan,” ujar Angela lalu keluar dari mobil.
“Angela, kau mau ke mana?!” tanya Leo, tak mengerti kenapa Angela tiba-tiba saja keluar dari mobilnya.
“Lebih baik aku pulang naik taksi daripada harus pulang dengan pria yang sudah mempermalukanku,” balas Angela ketus.
"Angela, aku tidak bermaksud seperti itu. Dengarkan aku!" panggil Leo berusaha menghentikan Angela.
Angela memanggil taksi, mengabaikan Leo lalu pulang ke apartemennya. Sementara Leo kembali ke dalam mobil hanya diam di dalam mobil sambil menatap taksi yang membawa Angela pergi. Dia ingin sekali menyusul Angela. Namun, sayangnya gengsi mengalahkan hatinya. Dia pun mengurungkan niatnya dan memilih untuk pulang.
__ADS_1
"Dia pasti akan kembali," gumamnya.
Sesampainya di apartemen, Angela duduk merenung di sofa. Tatapannya kosong pada layar televisi yang menyala. Dia kembali memikirkan tentang sikap Leo.
‘Kenapa Leo bersikap seolah-olah dia cemburu?’ tanya Angela dalam hati.
Di satu sisi dia senang karena sikap posesif Leo yang berarti rencana Angela sudah berjalan semakin mulus. Tapi, di sisi lain dia takut akan terbawa perasaan. Dia tidak mau terjebak dalam permainan yang ia ciptakan sendiri. Dia tidak boleh melibatkan perasaannya pada hubungan palsu antara dirinya dan Leo.
Angela menggelengkan kepalanya. ‘Bukankah bagus kalau Leo cemburu? Itu artinya dia sudah masuk ke dalam perangkapku,’ sambung Angela dalam hati.
Meski rasa khawatir masih bergelayut manja di benaknya, Angela tak mau memikirkannya. Dia harus mengingat tujuan awalnya yaitu untuk menjerat Leo. Dan karena hal itu mulai berhasil, Angela seharusnya berbahagia.
*****
Leo berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya. Beberapa jam telah berlalu, siang sudah berganti malam, tapi Angela masih belum menghubunginya juga.
“Apakah Angela benar-benar marah?” gumam Leo.
Tak kunjung mendapatkan kabar dari Angela, pria itu merasa tak tenang. Dia berpikir, ‘Apakah tadi aku bersikap keterlaluan?’
“Sial!” umpat Leo sembari mengusap wajahnya frustrasi.
Menyingkirkan segala rasa gengsi yang dia miliki, Leo menyambar ponselnya kemudian menelepon Angela. Tapi, sayang sekali yang menjawab justru suara operator yang berkata jika nomor Angela sedang tidak aktif.
Khawatir dengan keadaan Angela, tanpa berpikir panjang Leo langsung pergi ke apartemen Angela. Namun, kekecewaan lagi-lagi menderanya sebab Angela tak ada di apartemennya. Leo bahkan sudah menunggu di depan apartemen Angela hampir tiga puluh menit dan masih belum ada tanda-tanda keberadaan Angela di sana.
“Di mana Angela sebenarnya?” tanyanya bingung.
Sementara itu, Angela saat ini sedang di rumah Nick. Malam ini, dia akan bermalam di sana. Dia sengaja meninggalkan ponselnya di apartemen supaya Leo tak bisa melacak keberadaannya. Akan bahaya jika Leo tahu dia berada di rumah Nick dan mengenal Evelyn.
Dia senang ketika mendapatkan kabar kalau Alden sudah sembuh. Tapi, wajahnya berubah menjadi masam saat ia melihat Evelyn tampak kegirangan saat Nick mengembalikan ponselnya.
Dari tempatnya duduk, Angela melirik Evelyn yang terlihat sedang menghubungi seseorang. Angela yakin jika Evelyn berusaha menghubungi Leo. Tapi, dia berusaha untuk tetap bersikap tenang.
__ADS_1
“Angela.”
Panggilan itu membuat Angela sontak saja menoleh ke arah Nick. Senyum lembut tersungging di wajah cantiknya.
“Ada apa, Nick?”
“Aku ingin membicarakan tentang masa depanmu,” ucap Nick, memulai kalimatnya. Wajahnya tampak begitu serius memandang sang adik. “Apa rencanamu ke depannya?”
Angela menghela napas panjang.
“Kau tahu, ‘kan, kalau aku ingin melanjutkan studi S2? Sayangnya, sejauh ini aku belum menemukan universitas yang tepat,” jelas Angela. Dia berusaha untuk membuat alasannya selogis mungkin supaya Nick tidak curiga.
Nick meletakkan secangkir kopi dari genggamannya. Dia menatap sang adik dengan tatapan lembut. Dia tahu jika di usia Angela akan ada banyak sekali keraguan yang muncul mengenai masa depan. Nick juga pernah ada di posisi itu jadi dia merasa maklum.
“Di negara ini ada beberapa universitas top. Kenapa kau tidak pilih salah satunya saja?”
Angela terkekeh kecil. “Kau benar, Nick. Tapi, aku masih harus membuat banyak pertimbangan. Seperti yang kau bilang, ada banyak universitas top di negara ini dan itulah yang membuatku semakin bingung untuk memilih,” jelas Angela.
“Hm, atau mungkin kau bingung memilih karena pilihanmu tidak ada?”
Angela terkesiap. “A-apa maksudmu, Nick?” tanyanya terbata. Apakah Angela sudah salah bicara?
“Jangan salah paham dulu.” Nick tersenyum. “Aku hanya berpikir jika mungkin kau ingin melanjutkan studi S2 di negara lain yang memiliki universitas top dunia. Aku tidak akan melarang jika kau memang ingin melanjutkan kuliah di universitas yang lebih baik.”
Angela menggeleng. “Tidak, Nick. Aku hanya masih harus mempertimbangkan antara dua universitas pilihanku saja. Aku akan melanjutkan studiku setelah apa yang aku lakukan saat ini selesai.”
“Apa maksudmu?”
Angela tergagap. Kenapa dia bisa keceplosan?
“Jangan khawatir. Aku hanya melakukan hobiku saja,” ucapnya mengalihkan pembicaraan.
“Apakah kau sedang dekat dengan pria, Angela?”
__ADS_1
“Tidak,” jawab Angela, namun hal itu justru membuat Nick jadi curiga.