The Billionaire'S Scandal

The Billionaire'S Scandal
Bisa Memiliki Keduanya


__ADS_3

Tiga hari berlalu dan selama tiga hari itu juga tidak ada komunikasi sama sekali antara Leo dan Angela. Tanpa Evelyn ketahui jika sejak kemarin Leo sudah berusaha menghubungi Angela dan menemui Angela, tetapi Angela tidak ada di apartemennya begitu juga Angela tidak bisa dihubungi sekalipun Leo menghubunginya menggunakan nomor ponsel lain.


"Ada apa denganmu? Kau tidak senang aku berada di sini?" Evelyn yang sejak tadi memperhatikan sikap Leo merasa kesal saat Leo mengabaikannya bukan hanya hari ini, tapi sejak tiga hari lalu.


"Leo, jangan katakan ini ada hubungannya dengan Angela! Aku tidak akan diam jika benar semua perubahan sikapmu ada hubungannya dengan dia!" ucap Eve lagi mengancam Leo.


Mendengar ucapan Eve, Leo menjadi gugup. Leo semakin gelisah bukan karena takut Eve marah padanya, tetapi takut Eve melakukan hal yang tidak diinginkan pada Angela.


"Apa maksudmu?" 


"Kau jelas tahu maksudku, Leo. Aku tidak akan segan-segan jika aku tau kau memikirkan Angela. Kau tau aku tidak takut apapun, sekalipun harus malu jika itu berhubungan denganmu aku tidak keberatan sama sekali," jawab Evelyn.


"Kau terlalu banyak berpikir. Aku hanya memikirkan hubungan kita. Aku benar-benar bingung bagaimana caranya agar keluargaku bisa menerima hubungan kita." Leo merubah posisinya yang awalnya duduk di samping Eve menjadi berbaring dengan kepalanya yang berada di atas paha Eve.


Dengan mata terpejam, wajah Angela kembali mengusiknya. Leo benar-benar merindukan Angela, sekali pun Eve berada di sisinya. Sekarang tidak ada lagi hambatan dari Nick, Eve tidak pernah lagi mengeluhkan sikap Nick yang sering menahannya pergi, harusnya Leo senang, tapi semua itu sama sekali tidak berpengaruh untuknya.


"Apa yang harus aku lakukan agar mereka menyukaiku, Leo?" tanya Eve dengan raut wajah sedih sambil mengusap wajah Leo.


"Entahlah, aku juga tidak tahu," jawab Leo pelan.


Dimana kau Angela? batinnya.


Sebelum mengenal Angela, Leo memang selalu berusaha mencari cara agar keluarganya menyukai Evelyn dan merestui hubungan mereka, tapi setelah mengenal Angela, Leo bahkan tidak pernah berpikir tentang kelanjutan hubungannya dengan Eve. 

__ADS_1


Leo bingung pada dirinya sendiri, disatu sisi dia sadar dia menyukai Angela dan terbiasa dengan keberadaan Angela, tapi disisi lain dia juga mencintai Eve. Apakah Leo egois jika ingin memiliki keduanya. 


Benar, tidak ada salahnya jika aku bisa memiliki keduanya. Batinnya tanpa sadar tersenyum.


"Ada apa? Kau sudah memikirkan caranya?" tanya Eve penasaran melihat Leo tiba-tiba tersenyum.


Leo kembali duduk, tersenyum menatap Evelyn. "Aku harus pergi ke rumah orang tuaku, ada yang ingin aku bicarakan pada mereka," ucapnya tiba-tiba.


"Tentang kita?" tanya Eve sebelum Leo beranjak.


Leo tersenyum mengangguk. "Ya, mungkin aku akan bermalam di sana, aku akan mencoba bermalam disana dulu beberapa hari ini, kau pulanglah!" ucap Leo setelah itu pergi dengan semangat menuju kediaman orang tuanya.


***


Clarissa, Angela, Alden dan Nick saat ini tengah berada di rumah Clarissa. Rumah minimalis yang menjadi tempat Angela bermalam beberapa hari belakangan.


"Tante pintar masak sama seperti tanteku, ini enak aku suka." Pria kecil itu dengan lahap makan dari tangan Clarissa yang menyuapinya.


Angela dan Nick yang melihat itu merasa senang, terlebih Angela. Angela dulu pernah berkhayal jika saja Clarissa yang menikah dengan Nick, sebab sebelum Nick menikah, dia tau jika sahabatnya menyukai Nick–kakaknya meskipun Clarissa tidak pernah mengatakannya.


Angela menyenggol pelan lengan Nick yang tengah menatap Alden dan Clarissa, saat Nick menatapnya, Angela tersenyum meledeknya membuat Nick menjadi salah tingkah.


"Apa sebenarnya yang membuatmu tidak ingin lagi tinggal di apartemenmu, Angel?" tanya Nick.

__ADS_1


"Nick, aku sudah menjawabmu. Aku hanya bosan dengan suasana di sana," jawab Angela masih saja berbohong sejak kemarin Nick bertanya.


"Lalu sampai kapan kau akan merepotkan Rissa?" tanya Nick lagi membuat tatapan Clarissa yang tengah fokus pada Alden tertuju padanya.


"Aku sama sekali tidak merasa direpotkan, Nick. Angela sahabatku, aku juga sendirian di sini. Aku justru senang jika Angela mau tinggal bersamaku," jawab Clarissa.


"Aku juga mau tinggal di sini," sahut Alden membuat semua orang terkejut.


"Benarkah?" tanya Angela tersenyum lebar.


"Ya, aku mau. Di rumah sepi, aku sendirian," jawab Alden dengan wajah sendu.


"Sayang, kalau Alden kesepian di rumah, Alden bisa telepon tante, saat Tante tidak sedang bekerja, maka Alden boleh datang kemari. Alden mau kan?" Ucapan dari Clarissa semakin membuat Nick terkejut, perasaan tak biasa mulai hadir dan itu membuat Nick bingung harus bersikap bagaimana.


"Sayang, habiskan makanmu, setelah itu kita pulang. Papa harus kembali ke kantor, masih ada pekerjaan yang belum selesai," kata Nick.


"Nick, jika kau sibuk pergilah, Alden di sini saja bersamaku. Nanti kau bisa menjemputnya setelah pulang dari kantor," sahut Angela membuat Nick tak punya pilihan lagi.


"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu. Terima kasih untuk makan siangnya, Riss." Nick bangkit dari duduknya lalu beranjak pergi dari sana.


"Kenapa kau melihatku seperti itu?" tanya Rissa dengan wajah merona melihat senyuman Angela padanya.


"Tidak ada apa-apa, aku hanya senang. Sayang, kamu juga senang, kan?" tanya Angela pada Alden yang dengan cepat tersenyum mengangguk.

__ADS_1


__ADS_2