
Siang itu matahari bersinar terang dan mampu menghantarkan panas nya yang menembus Lapisan Ozon ke kaki bukit Ang Hwa.
Tampak beberapa warga Dusun di kaki bukit Ang Hwa hilir mudik menuju ke atas bukit sambil membawa barang di pundak mereka.
Di situ terlihat dua orang pria asing yang juga menuju ke puncak bukit bunga merah dimana terdapat sebuah rumah yang dulu dibangun Han Lojin bersama Rafli Sanjaya.
Tak lama kemudian kedua pria asing itu segera mengucap salam,
"Assalamualaikum warahmatullah"
Terlihat seorang wanita keluar dari rumah dan selesai menjawab salam, diapun segera berlari memeluk salah seorang pria asing tersebut,
Siapakah mereka? Tak perlu dijawab karena tentu pembaca semua sudah mengenal persis siapa mereka.
Mereka adalah Robert, Denis dan citra yang sedang berpelukan.
Tak lama kemudian Melly keluar, begitu melihat Robert, dia berlari memeluk sang suami yang telah pergi selama 10 bulan lebih.
Citra yang heran melihat dibelakang mereka terdapat masyarakat sekitar yang sedang membawa barang yang begitu banyak bertanya,
"Apa yang mereka bawa? Kenapa mereka membawanya kemari?"
Melly dan Rafly Sanjaya yang baru keluar pun mengerutkan alis mereka tanda bingung.
"Mari kita masuk ke dalam" Ucap Denis yang lalu masuk ke rumah menggandeng bahu istrinya di ikuti oleh Rafly Sanjaya dan Melly.
Sedangkan Robert masih di luar mengarahkan para warga dusun dimana mereka harus meletakkan barang dan lalu memberi mereka upah.
Selesai semua barang di angkut, Robert yang tadi telah dikenalkan oleh Denis kepada seorang Paman warga dusun segera memanggilnya dengan berkata,
"Paman, ini upah kalian, tolong paman bagikan kepada warga lain yang ikut mengangkut barang"
Segera paman tersebut menjawab,
"Ini kebanyakan Tuan, bahkan ini sudah tiga kali lipat upah yang biasa kami terima melakukan pekerjaan-pekerjaan seperti ini".
"Tidak apa Paman, tolong bagikan secara merata, dan ini upah Paman untuk mengurus dua ekor kuda kami, sedangkan gerobak kuda itu bisa Paman pakai buat Paman berdagang"
Robert kembali mengeluarkan uang yang sangat banyak.
Hari itu, warga sekitar seperti kejatuhan harta karun dari langit, beberapa orang pengangkut yang berdiri di depan Paman tadi segera tersenyum ke arah Robert sambil mengucapkan terimakasih tak henti-hentinya.
Terlihat dari pancaran mata mereka rasa terimakasih yang begitu dalam kepada Robert dan Denis sekeluarga.
__ADS_1
Akhirnya warga dusun kembali menuruni bukit untuk pulang ke rumah masing-masing dalam keadaan hati yang gembira. Mengapa hati gembira? Apakah karena mendapatkan sesuatu yang menyenangkan?
Atau karena mendapatkan sesuatu yang berlipat-lipat ganda?
Sebenarnya rasa gembira dan bahagia tersebut timbul dari rasa puas akan sesuatu yang terjadi.
Manusia cenderung akan merasa bahagia jika mendapatkan harta berlimpah karena dengan didapatnya harta tersebut, ada kepuasan dalam hatinya yakni setelah mendapatkan harta yang melebihi Ekspektasinya.
Namun tidak semua orang yang mendapatkan harta banyak dapat merasa bahagia.
Contohnya, jika seseorang berada di gurun pasir yang tandus dalam keadaan sangat kehausan.
Maka harta yang bagaimana banyak pun tidak akan dapat membuatnya bahagia karena yang dibutuhkannya adalah air segar yang dapat memulihkan dahaga.
Kalau begitu, jelas bukan pada harta atau sesuatu bahagia itu terletak, namun kebahagiaan ada pada rasa di dalam hati yang merasa puas atas segala pemberian Allah.
Maka Rasul Allah selalu merasakan bahagia baik dikala miskin, senang, kesusahan, kelapangan, karena Rasul puas dengan apapun pemberian Allah.
Maka jika kita ingin bahagia, lakukan kebaikan kita sesuai yang di ajar kan oleh Syari'at dan tentu kita akan mengalami yang namanya Bahagia.
Begitu pula di ruang tengah sebuah rumah di Bukit Ang Hwa, Denis dan Robert sedang mengalami kebahagian sambil bercerita kepada istri mereka dan ayah Citra tentang perjalanan mereka bersama John dan Sarah yang kini telah tinggal bersama Han Lojin.
Kalau begitu, kita tinggalkan dulu Denis, Robert, Citra, Melly dan Rafly Sanjaya yang sedang merasakan kebahagiaan dan mari kita melihat keadaan John dan Sarah yang berada di pegunungan Mooji bersama Suhu mereka.
.---***---. .---***---. .---***---.
hari ini kau tidak perlu latihan, karena sumur kita kering, tugas mu hari ini adalah mengangkut air dari telaga ke sumur" Ucap Han Lojin pelan yang terdengar sangat jelas di telinga John. Namun aneh nya, Sarah yang berada di samping John tidak mendengarkan suara Suhunya sedikitpun.
Tak lama kemudian kembali Han Lojin berkata dengan sangat pelan,
"Ajak Sarah pulang sekarang"
Sarah yang sedang bersama John pun mendengar perintah kedua tersebut di telinganya, padahal jarak Han Lojin dari mereka berdua hampir 3 mil jauhnya.
Itulah ilmu yang selama ini di latih oleh Han Lojin dari kitab pusaka warisan gurunya dulu.
Ilmu itu tidak ada gerakan silat didalamnya, namun melatih penyatuan Sin Kang (tenaga sakti) dan Khi Kang (pengendalian suara).
Telah 3 tahun John dan Sarah berlatih di bawah arahan Han Lojin dan hari ini, kekeringan terjadi di sekitar rumahnya.
Tak lama kemudian, tampaklah seorang pemuda tanggung berusia 15 tahun berlari ke arah rumah. Di belakangnya diikuti oleh seorang gadis remaja cilik yang sangat cantik berusia 12 tahun.
Sesampainya John dan Sarah di rumah. Han Lojin segera memanggil Sarah, Sarah yang mendengar suara gurunya segera datang menghampiri Sang Suhu yang telah duduk di meja makan.
__ADS_1
John yang melihat Sarah berjalan ke arah Suhunya segera berlari ke belakang untuk mengambil timba kayu yang besarnya mampu menampung 200 liter air sekaligus.
Saat John telah berangkat, Han Lojin segera bercerita kepada Sarah apa yang pernah di ceritakan dulu kepada orangtuanya perihal kelainan pada John.
John mempunyai beberapa zat beracun yang telah menyatu dengan tubuhnya.
Zat itu akan bereaksi saat John hilang kendali atas dirinya.
Jika itu terjadi, maka setiap orang yang terkena pukulannya atau bersentuhan secara keras dengannya akan tewas keracunan.
Semakin lama racun itu tidak bereaksi, maka akan semakin cepat membahayakan John.
Tiba-tiba Sarah mengeluarkan air mata, dia menangis mendengar hal itu.
Bayangannya akan kehilangan sosok John telah membuatnya lupa bahwa dia sedang berada di depan Suhunya.
Han Lojin kaget mendengar isak tangis keluar dari mulut seorang bocah perempuan.
Sedikit senyum menghiasi wajah Han Lojin, lantas Kakek Han pun berkata kepada Sarah,
"Selama tiga tahun ini, kau telah menjalani persiapan, maka mulai hari ini aku akan menggembleng mu secara khusus".
"Maksud Suhu?"
"Kau tidak akan berlatih banyak jurus Sarah,
namun aku akan lebih menekankan latihan Sin Kang padamu agar kelak diwaktu yang genting bagi John, kau dapat menolongnya".
"Baik Suhu," Jawab Sarah yang merasa senang mendengar dia bisa menolong John kelak.
Mulai hari itu, Sarah tidak lagi sering berlatih bersama John, Han Lojin sering melatih Sarah di dalam rumah sedangkan John tetap berlatih di Telaga.
Semakin lama berjalannya waktu, semakin John merasa penasaran, kenapa Gurunya tidak melatih mereka berdua bersama-sama.
Pernah suatu hari John bertanya kepada Suhunya, namun Han Lojin hanya berkata kepada John,
"Kelak kau akan tau kenapa".
Saking penasarannya John, suatu hari saat pertengahan latihan, dia bangun dari telaga dimana terdapat air terjun menuju ke rumah menggunakan Gin Kang nya, dia mengendap endap.
Sesampainya di rumah, John mengintip ke dalam dan dia melihat, suhunya sedang duduk bersemedi bersebelahan dengan adik seperguruannya yang juga duduk bersemedi mengatur pergerakan tenaga yang berpusat dua centimeter di bawah pusar.
Kali yang lain, John pernah mengintip Sarah sedang di totok oleh suhunya untuk melancarkan Aliran Chi dalam tubuhnya.
__ADS_1
Begitulah hari-hari berlalu di sana yang kini mulai tampak membosankan bagi John.
BERSAMBUNG ...