
Malam itu, terlihat sesosok bayangan hitam terbang melintasi samudra luas dari sebuah istana di pinggiran Kota New York dimana Prof Meshach tinggal.
Bayangan yang tidak lain adalah The Black Man itu terbang menuju ke Ibukota Israel bernama Tel Aviv.
Setelah melewati perjalanan jauh, sekitar pukul sebelas malam tibalah John di sebuah gedung Laboratorium pribadi. Dia hinggap di atas atap paling atas.
Karena memang tak pernah ada permasalahan keamanan, maka penjagaan pun hanya disiagakan di bagian luar bangunan dan di sekitar pos penjagaan saja.
John berjalan mengendap endap melihat keadaan di sekeliling gedung besar itu. Dari sebelah utara bangunan, penerangan agak gelap, penjagaan pun hanya dua orang saja yang hilir mudik ke sana kemari.
Dari dinding itulah The Black Man mengindap indap seperti seekor cicak. Sedikit suara tokek di sebelah atas membuat kedua penjaga tersebut mendongak.
"Sraaat, plaaaakh, plaahkkkh, Buuukh,"
Secepat kilat The Black Man melompat dan sekejap saja kedua pengawal yang memegang senjata tersebut telah jatuh pingsan.
The Black Man kini tampak menuju ke arah pintu belakang dimana dua penjaga telah di dudukkan nya di atas kursi mereka.
Ketika dia masuk menyusuri gang yang berliku liku di dalam ruangan tersebut, The Black Man melihat Para Profesor sedang meneliti serum aneh didalam ruang kaca yang menembus dari tempat nya berdiri.
John teringat dalam hatinya, mengapa tempat ini begitu sepi? Tidak biasanya tempat sepenting ini dilakukan penjagaan biasa biasa saja.
Dia teringat pesan Kakeknya,
*Berhati hatilah John, tempat itu memiliki penjagaan yang sangat ketat*
"Ah, Buk,, Buk,, Buk,," Bersamaan dengan suara John yang sadar telah memasuki jebakan, palang palang baja tebal terjatuh dari atas di tiga penjuru tempat John berdiri.
Meski dia melesat dengan sangat cepat, The Black Man tetap saja terkurung.
"Selamat datang pahlawan, senang dapat menyambut mu," Seru seorang pria tua tampan dengan jenggot dan kumis tebal campuran putih dan pirang yang tidak lain adalah ... Boaz.
"Ternyata benar bahwa kau dalang dibalik semua ini," Ucap John melalui layar yang berada di dalam ruangan itu.
Melalui layar di dinding, John melihat keadaan di luar yang telah di datangi beberapa orang.
"Kau mengenalku?" Tanya pria bernama Boaz dengan sedikit terkejut.
__ADS_1
"Tak usah banyak omong, hentikanlah kegilaan mu Boaz, jika tidak, aku akan menghancurkan seluruh tempat ini." Ancam John dalam pakaian The Black Man nya.
"Hahaha, sombong kau The Black Man. cobalah kalau mampu," Seruan Boaz mengiringi kepergiannya di ikuti oleh adiknya dan komandan Hans.
John yang kini terkurung di ruangan 2x2 meter itu mencoba memeriksa baja padu setebal 30 cm tanpa tuas pintu di sebelah dalam.
Beberapa kali dia memukul sekencang kencangnya, Namun hanya sedikit saja baja itu tampak peyot, meski mencoba menghantam sekuat tenaga pun akan sia sia.
Akhirnya dia duduk menegakkan kakinya. Beberapa saat kemudian, para penjaga diluar dapat melihat The Black Man yang bersemedi menenangkan pikirannya.
Kita tinggalkan dulu John yang kini berada dalam kondisi terkurung rapat di kota Tel Aviv dengan pakaian The Black Man nya.
Kini mari kita ikuti kejadian yang mengegerkan penduduk Provinsi Hunan di kota Changsha.
Malam itu, sesosok pria terbang terlihat menuju pusat kota sambil menembakkan peluru kesana sini.
Awalnya para warga yang panik mengira itu adalah The Black Man. Namun, setelah diperhatikan, pria terbang itu hanya memakai celana dibawah lutut dengan mesin petak besar di belakang tubuhnya.
Di tangannya terdapat senjata rakitan khusus yang seperti menyatu dengan lengannya. Monster Hitam, begitulah para warga kota Changsha mengenal makhluk itu.
"Tolong,,, akhhh,, Tujdujdukdujdukh," Teriakan warga kota Changsha terdengar menyayat hati saat tembakan demi tembakan dilepaskan oleh makhluk itu.
Para warga kota yang biasanya tenang itu kini berlarian kesana kemari kocar kacir ketakutan setengah mati.
Ada sebagian warga yang di pukul tangannya, di tendang, di angkat dan di ayunkan hingga kepalanya berhamburan terkena tembok dan jalan jalan kota.
Sedikit tembakan kecil yang mengenai kulitnya hanya mampu menembus setengah inci kedalam kulit yang telah berubah oleh zat kimia khusus yang di ramu para Profesor peneliti dunia yang memang telah setahun lalu diperkerjakan oleh Nyonya Liu.
Dengan penerangan di kota yang sangat terang, kejadian itu merupakan tragedi besar bagi warga Changsha yang lemah dan tak berdaya.
Ada sebagian warga yang berada dalam hatinya, jika di saat seperti ini The Black Man dapat hadir menolong mereka tentu mereka merasa sedikit lega.
Namun para warga satupun tidak tau bahwa The Black Man yang mereka puja itu sedang terkurung seperti seekor kucing dalam kandang yang tak bisa keluar sama sekali.
Setelah puas menyerang kesana sini, Monster yang sebenarnya adalah Rooney itu masuk ke sebuah rumah makan mie daging. Sesampainya di dalam, dia pun kembali mengamuk yang membuat semua tamu dan pemilik restoran mie itu tewas mengerikan terkena amukannya.
Pada saat keluar, Black Monster mendapat luka akibat tembakan senapan otomatis pihak militer keamanan yang telah tiba mengurung tempat itu.
__ADS_1
Black Monster segera melarikan diri terbang menjauh dan hilang di kegelapan malam saat itu.
Luka luka di sekujur tubuhnya tampak mengeluarkan darah hitam kecoklatan akibat luka setengah inci di setiap permukaan tubuh yang tertembus peluru.
Para petugas medis dan kepolisian telah tiba di pusat kota. Mereka kini mengevakuasi korban yang masih dapat di tolong, mengangkut korban tewas, para pemadam pun tiba untuk memadamkan kebakaran akibat ledakan mobil, letusan senjata dan ledakan lainnya.
Monster Berkulit Hitam atau Black Monster yang tidak lain adalah Mister Rooney itu melarikan diri menuju ke Pabrik Min setelah berputar lewat utara.
"Hei, Rooney, kau ,,, kenapa?" Tanya Nyonya Liu kaget.
Rooney yang di papah oleh dua bawahan penjaga Labor, menjawab,
"Aku menyerang kota, Hahaha,"
"Apa?" Seru Nyonya Liu bertambah kaget.
"Panggil semua profesor ke ruang tengah," Rooney berkata sambil di obati oleh beberapa orang di sebuah kursi.
Sejam kemudian, Rooney tampak duduk di luar ruangan penelitian bersama Nyonya Liu, Jin Hung, Liu Gan dan para Profesor.
"Kekuatan kita belum cukup jika aku hanya sendirian saja menghadapi The Black Man." Ucap Rooney yang terlihat aneh dengan kulit hitamnya yang sedikit melepuh.
""Lalu kita harus bagaimana?" Tanya Jin Hung dengan hati ragu.
"Nyonya Liu, apakah persediaan dana mu cukup jika kita memproduksi beberapa baju terbang dan memperbanyak serum TCS?"
"Untuk Serum TCS pastinya cukup. Namun jika harus membuat mesin itu, dulu saja sebuah mesin baju terbang menghabiskan 70 Triliun Dolar."
"Ha? Sebanyak itu?" Seru Profesor Li kaget.
"Tiga hari lagi, setelah luka ku pulih total, aku akan pergi mencari dana. Persiapkan saja tempat untuk membuat Serum untuk kami bertiga dan Dua buah mesin baju terbang lainnya untuk Lou Gan dan Jin Hung." Ucapan Rooney terdengar tegas.
"Ah, kami tidak mau menjadi seperti mu," Kata Liu Gan terkejut.
"Apa? Kalian yang menyebabkan ku begini. Sekarang kalian membantah ku? Kalau kalian memiliki nyawa rangkap, silahkan menolak."
Perkataan Rooney atau yang di kenal warga kota Changsha dengan sebutan Black Monster terdengar seperti sebuah ancaman yang menakutkan bagi mereka yang hadir di ruangan itu.
__ADS_1
Bersambung ...