
"Sarah, tolong belikan bumbu di depan sejenak nak" terdengar suara ibunya dari dapur.
"Ayo John, kita ke kedai depan" Ajak Sarah sambil memegang lengan baju John.
Barbara yang menyaksikan tingkah laku Sarah saat itu, tersenyum ke arah John.
Setelah John menyuruhnya pergi sendiri, akhirnya Sarah dengan rasa dongkol mendalam segera pergi meninggalkan John dan Barbara di ruang tamu.
Singkat nya malam itu, Sarah selalu merengut. Baik saat hendak makan malam maupun saat akan tidur.
Barbara di persilahkan oleh Bu Melly untuk menempati kamar tamu di bagian depan tepat di samping kamar John.
Bermacam pikiran parno mengganggu kepala Sarah, sehingga beberapa kali dia mengecek ke ruang tamu dan melihat tidak ada siapa-siapa di sana.
Sarah tidak bisa memejamkan matanya hingga pukul 3 dini hari, perasaan cemburunya yang mendalam telah sangat mengganggu istirahatnya malam itu.
John yang memang lelah pagi tadi, tertidur pulas. Begitu juga Barbara yang memang lelah setelah melakukan perjalanan yang sangat jauh.
Saat subuh tiba, alarm di kamar John berbunyi yang langsung saja membangunkan nya.
Segera John menuju ke kamar Sarah, ibunya dan Bu Melly untuk membangunkan mereka.
Rupanya, saat mereka bersiap akan shalat subuh berjamaah, John yang sedang menunggu Sarah kehabisan kesabarannya dan ibunya segera pergi untuk membangunkan Sarah yang ternyata masih tidur.
Setelah dengan susah payah bangun, akhirnya mereka shalat subuh bersama.
Kebetulan Barbara yang saat itu terbangun, keluar melihat mereka melakukan ritual ibadah, dia terpikir mengapa umat islam harus melakukan shalat setiap waktu.
Keesokan harinya pukul 8 pagi, karena Sarah masih tertidur maka John pergi mengajak Barbara ke Telaga Polam yang kini sangat bersih dan indah dengan bangunan yang megah seperti taman ria.
Di sanalah Barbara dan John menghabiskan waktu hingga jam menunjukkan pukul 11.30 siang, barulah mereka berdua pulang ke rumah yang memang tidak terlalu jauh dari situ.
.---***---. .---***---. .---***---.
__ADS_1
Di dalam gedung megah di Kota Yerusalem Negara Israel, terdapat 7 orang Yahudi yang sedang berdialog dengan dua orang Menteri dari Amerika yang khusus di kirim ke sana secara rahasia.
Ke 7 orang Yahudi itu terdiri dari seorang Ketua Menteri Pertahanan Umum, seorang Wakil Perdana Menteri, seorang Jendral Pertahanan dan 4 orang anggota parlemen Knesset Israel.
Mereka sedang membahas suatu rancangan perlakuan politik secara tersembunyi untuk dapat merampungkan proyek besar mereka yang sedang di kerjakan di Laboratorium Pusat Tel Aviv sejak 6 bulan yang lalu.
Asher Benjamin yang menjadi wakil menteri pertahanan dan merupakan seorang ketua tingkat dua di organisasi IAG segera melaporkan perkembangan yang terjadi saat rapat IAG di lakukan di amerika.
"Nyonya Liu akan memusatkan seluruh IAG seperti kemauan nya sendiri walau dengan sangat hati-hati dan terakomodir, sedangkan Senator Samuel Liden dan Pangeran Henry akan menjadi pengganjal yang sangat berat, sekutu kita yang setia hanyalah Jenderal Hans dari Jerman".
"Di Tibet apa yang terjadi?" Tanya Menteri Pertahanan Israel bernama Malech Mechiah kepada para bawahannya.
Salah seorang Menteri dari Amerika segera menjawab,
"Beberapa hari yang lalu, terlihat kemunculan The Black Man di sana dan terjadi perebutan umpan yang telah kita pasang di Pusat Kota Polam".
"Baiklah, teruskan rencana awal kita dan segera cari cara untuk merampungkan Projek kita di Tel Aviv".
Setelah berkata demikian, Tuan Malech, Menteri Pertahanan yang menjadi tokoh politik utama di Negara Israel itu segera meninggalkan ruangan menuju ke pintu besar yang ada di belakangnya untuk kemudian keluar dari ruangan tersebut.
.---***---. .---***---. .---***---.
Wanita yang memiliki tubuh yang sangat menggairahkan itu kini di kenal dunia sebagai Nyonya Liu istri Perdana Menteri China yang mengurus politik di seluruh Daratan China.
China atau Tiongkok adalah sebuah negara besar yang paling banyak penduduknya, mereka terdiri dari berbagai macam agama.
Namun peraturan presiden menyatakan bahwa seluruh pekerja di bidang pemerintahan harus menganut Komunisme atau Atheisme.
Bagi warga biasa, ada kebebasan dalam memeluk agama tertentu namun tetap di batasi dalam menyebarkannya dan setiap pemeluk agama apapun harus menghormati Ateis sehingga ibadah pun harus dalam keadaan sembunyi-sembunyi.
Begitulah keadaan Tiongkok pada tahun itu dimana Beijing masih menjadi Ibukota Tiongkok hingga saat itu.
Nyonya Liu sedang asik mengobrol dan bersenda gurau dengan sang suami yang menjadi orang nomor satu pengaruhnya di China ketika telepon visual milik sang suami berdering.
__ADS_1
Saat diangkat, orang kepercayaan mereka segera melaporkan bahwa penyerangan ke kerajaan Bhutan dan pusat peribadahan Pendeta Dalai Lama di daerah pedalaman Provinsi Otonomi Tibet besok akan di lakukan.
Menerima kabar itu, Perdana Menteri Liu segera menghubungi kantor kepresidenan Tiongkok untuk melaporkan hal itu.
Karena di tahun itu, kekuasaan atas seluruh pelosok China ada pada Perdana Menteri, maka presiden yang hobi nya bersenang-senang itupun menyerahkan seluruh urusan kepada menterinya.
Keesokan harinya, tibalah hari dimana akan di lakukan penyerangan dengan kendaraan darat, udara dan para militer yang tampak melewati Kota Polam di pagi itu.
John yang telah terbangun dan sedang berlatih Kungfu yang dulu di ajarkan mendiang Suhunya pun penasaran dan ikut melihat keluar.
Ketika mengetahui akan ada peperangan besar yang mungkin akan berakibat sampai ke Kota Polam, maka John segera bergegas berdiskusi dengan ibunya dan seluruh orang di rumah itu untuk mengungsi sementara ke rumah tua yang telah di bangunnya kembali di perbukitan yang lumayan jauh dari Kota Polam.
Semua penghuni rumah termasuk Barbara sebagai tamu saat itu menyetujui untuk pindah mendadak ke puncak Bukit Ang-Hwa.
Akhirnya, dengan menggunakan kendaraan milik Walikota, John membawa keluarganya serta istri Walikota bersama kedua putrinya yang sudah remaja untuk menuju ke bukit Ang-Hwa (bunga merah).
Sesampainya John di sana dan setelah memastikan perbekalan mereka cukup untuk beberapa waktu, John segera pamit pergi mengikuti para Angkatan Militer Tiongkok dan mencari tau, apa yang akan dilakukan para militer itu ke perbatasan India dan Tiongkok yang di batasi oleh jajaran puncak Gunung Himalaya.
Dengan terbang dan mengambil jalan memutar, John bisa sampai lebih dulu dari kendaraan militer yang malam itu lebih dulu beristirahat untuk menunggu semua anggota pasukan berkumpul dan memulihkan stamina.
John yang telah sampai di perbatasan kerajaan Bhutan kini menyelinap dan mengendap terbang ke arah pusat kerajaan yang saat itu sudah bersiap siaga menanti peperangan yang tentunya akan berat sebelah itu.
Tak lama kemudian, John kembali ke pasukan kemiliteran Tiongkok dan menculik seorang Jenderal penyerang. Dia lalu bertanya tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Karena tidak puas dengan jawaban Jenderal itu, akhirnya John segera terbang ke arah kuil penyembahan Dalai Lama dimana kuil besar tersebut telah di kelilingi oleh Angkatan Militer Bersenjata China yang siap menyerang menanti aba-aba dari komandan masing-masing.
Saat John sebagai The Black Man meluncur ke dalam kuil, ada orang bersenjata yang menembaknya. Namun tembakan itu hanya seperti peluru karet yang kenyal mengenai badan John yang di lapisi Baju Hitam Super.
Sesampainya The Black Man didalam komplek, para pendeta lama yang berada di dalam komplek kuil tempat peribadahan mereka itu menatap ke arah John dengan ragu.
Saat John mendarat, dia segera mengangkat tangan nya tanda menyerah dengan damai.
Begitu John turun, dia pun di sambut oleh para Dalai Lama dan pendeta tingkat bawah di halaman depan.
__ADS_1
BERSAMBUNG ...