THE BLACK MAN

THE BLACK MAN
Awal Perang Terbuka


__ADS_3

Tampak tiga orang sedang menuju ke atas gedung dimana terdapat Helikopter di sana.


Tuan Liu, istrinya dan Mojin Lama atau Xi Jin Hung kini telah naik ke dalam Helikopter. Namun saat akan menerbangkannya, terjadi sedikit masalah teknis sehingga menyebabkan Helikopter tidak mampu terbang. Karena itulah mereka bertiga selamat dari pengejaran John The Black Man yang tampak terbang dengan kecepatan tinggi ke arah jalan utama.


Setelah yakin bahwa mereka aman, Tuan dan Nyonya Liu kembali ke dalam untuk bergegas menuju ke Apartemen milik mereka.


Sesampainya mereka bertiga di sana, mereka segera membicarakan rencana lanjutan untuk menjebak The Black Man bersama orang orang pilihan Perdana Menteri Liu serta Xi Jin Hung.


The Black Man yang dari tadi mengejar ketiga musuh nya itu tak kunjung menemukan Tuan Liu dan istri nya serta Xi Jin Hung.


Akhirnya John balik arah menuju kembali ke rumah sementara yang ditempati oleh keluarga nya di bukit Ang-hwa.


"John, akhirnya kau kembali" Ucap Barbara yang tampak senang melihat John.


Sarah saat itu segera menghampiri John pula. Setelah berhadapan langsung, Sarah berkata,


"Baru saja kakak kemari menyampaikan pesan penting ini kepadamu sekaligus melihat keadaan kedua putrinya".


Saat membuka kertas tipis berisi pesan itu John terkejut di buatnya.


Walikota Polam mengabarkan bahwa ada mata-mata Amerika dan Israel yang baru saja mendatanginya dan menanyakan perihal tentang The Black Man.


Kini John harus lebih berhati-hati karena banyak pihak yang mengincarnya, begitulah akhir bunyi pesan Walikota yang disampaikan kepada John.


"Mari masuk kedalam" Ajak John kepada Barbara dan Sarah.


"Keadaan di China sekarang sedang gawat, kemungkinan perang tak bisa di cegah lagi, apalagi Perdana Menteri Liu dan Aliansi Komunis ikut terlibat"


"Lalu bagaimana sekarang John?" Tanya ibunya.


"Sekarang lebih baik aku ungsikan dulu ibu, bibi dan seluruh keluarga, baru aku bisa ikut membantu para Pendeta Lama yang akan dimusnahkan"

__ADS_1


"Kemana?" tanya Bu Melly khawatir.


"Sejauh mungkin hingga dampak perang tak akan mengenai kalian semua" Jawab John yang kelihatan bingung dari raut wajahnya.


Akhirnya John segera membawa keluarganya beserta Barbara dan kedua keponakannya, putri Walikota Polam pergi dari situ.


Setelah mengungsikan mereka semua di tempat yang aman, yaitu di sebuah rumah peristirahatan Barbara dan keluarganya di Kota Hunan yang dapat di tempuh lewat utara Kota Sichuan menghindari bentrok dengan Aparat Pemerintah Tiongkok, John kini terbang melaju cepat ke kuil besar tempat para Pendeta Lama sedang di bantai.


Sesampainya John di sana, pihak militer yang melihat The Black Man berada di pihak Pendeta Lama segera menyerang John dengan tembakan ringan dan berat bertubi-tubi.


Namun dengan mudah John dapat mengelakkan dan saat terkena pun, tidak ada yang terjadi padanya.


Tampak perlahan-lahan pihak kemiliteran mulai terdesak. Namun banyaknya Tentara membuat John kewalahan juga akhirnya.


Segera John menuju ke dalam bangunan induk di kuil tersebut,


"Dimana Sianjin?" Tanya John kepada seorang Pendeta yang kalang kabut di situ.


Mendapat informasi bahwa Sinjin Lama berada di ruang pertapaan nya, John segera ke sana. Melihat situasi gedung-gedung telah diledakkan dan banyak yang terbakar, mayat para pendeta pun tampak bergelimpangan dengan darah dimana-mana.


"Sianjin, mari kita keluar dari tempat ini"


"Tidak, aku akan tetap di sini bersama seluruh Pendeta yang telah menghadap Sang Hyang dengan gembira. Tolong kau selamatkan anak ini, karena menurut ramalan, dialah yang akan menjadi dalai lama pemersatu umat di Tibet kelak".


Saat John melihat ke arah tangan Sinjin Lama, tampak seorang bocah berusia 8 tahun yang tidak memiliki rambut dan berwajah tampan namun mempunyai pembawaan yang sangat tenang di tengah kemelut yang sedang terjadi.


"Ajarkan dia ilmu beladiri dan kelak, dia lah yang melanjutkan seluruh perjuangan manusia ke arah kedamaian, jangan lupa bawa kotak itu. Pedang pusaka Sian Liong kini ku wariskan padamu".


Mendengar permintaan Sinjin Lama, John segera mohon pamit dan memberi penghormatan kepadanya.


John mendekati anak itu lalu segera menggendongnya untuk menerbangkannya bersama sebuah kotak peti berukuran setengah meter persegi.

__ADS_1


Si anak yang sangat tenang itu tidak mengatakan apa-apa, hanya air mata yang mengalir melihat Sinjin Lama yang semakin lama semakin menghilang dari pandangan nya.


Setelah menyimpan peti kotak di dalam terowongan pertengahan puncak gunung Wuji, John kini membawa anak yang bernama Ken Ji Kun itu ke tempat dimana Barbara, Sarah, ibu John dan ibu Sarah berada sekarang bersama dua keponakannya berusia 7 dan 5 tahun yang merupakan putri dari Walikota Polam.


.---***---. .---***---. .---***---.


Akibat amukan Pihak Militer, seluruh penjuru Tiongkok geger dan kini, dimana mana terdapat kecaman untuk Pemerintah China Tiongkok.


Presiden China saat itu terus menerus menghubungi Menteri. Namun, Menteri Liu entah kemana rimbanya. Tak ada seorangpun yang tahu.


Sementara di pinggiran daerah Tibet di atas sebuah bukit kini hanya terlihat puing-puing bangunan yang telah hancur luluh lantak.


Sedangkan pihak kemiliteran untuk sementara di istirahatkan sejenak oleh Presiden sambil menunggu pertanggung jawaban dari Pihak IAG bersama Perdana Menteri dan Aliansi Komunis Tiongkok yang masih belum bertanggungjawab.


Pagi hari itu, sepucuk surat Satelit diterima oleh Barbara dari ayahnya yang juga memberi selembar surat kepada John.


Surat yang berupa rekaman Audio Visual dari Samuel Liden itu mengatakan bahwa hidup John kini dalam keadaan bahaya dan Senator Samuel meminta tolong kepada John untuk sebisa mungkin tidak melibatkan keluarga nya dan Barbara.


Mendengar bunyi surat yang sangat serius dari Senat Sam, maka John akhirnya menuju keluar Tiongkok bersama seluruh keluarganya dan dua putri Walikota Polam yang kini telah kehilangan ayah ibu mereka yang tewas akibat menengahi perang yang sedang berkecamuk.


Anak yang bernama Ken Ji Kun ikut pula dengan John menuju ke Indonesia di Kota bandung yang saat itu telah menjadi suatu kota yang lebih besar dari Kalimantan, Ibukota Indonesia.


Sesampainya di sana, setelah menemukan rumah yang cocok untuk mereka tinggali, John segera pamit mengantar Barbara ke Amerika di iringi raut wajah cemburu dari Sarah Kill.


Sesampainya mereka berdua dikediaman Senator Samuel Liden, mereka menemukan rumah barbara sudah dalam keadaan hancur dan terbakar.


Barbara yang saat itu merasa terpukul, segera menuju ke ruang bawah tanah rahasia dimana terdapat sebuah ruangan yang di penuhi monitor dan melihat hal yang terjadi, Barbara menangis hampir muntah.


Ibu nya di jambak rambutnya dan dikupas kulit kepala serta rambutnya, perutnya terburai mengeluarkan usus dalam keadaan masih hidup dan menjerit.


Sedangkan Samuel Liden, setelah di pukul dengan berat, dibawa oleh orang-orang suruhan Nyonya Liu dan Wakil Menteri Pertahanan Israel.

__ADS_1


Melihat dari monitor, Rekaman terakhir itu sengaja di tinggalkan ayah Barbara sebagai jejak ke tempat dimana di sekap nya Senator Samuel Liden.


BERSAMBUNG ...


__ADS_2