
Di sebuah ruangan yang terlihat mewah, duduk beberapa orang bersama Tuan dan Nyonya Liu yang kini dicari oleh pasukan khusus atas kekacauan yang mereka timbulkan di Provinsi otonom Tiongkok, yaitu Tibet dan beberapa wilayah di Bhutan.
"Bagaimana perkembangan pancingan dan serangan yang kalian lakukan di sana?" Seorang pria gagah yang menjadi Menhan Israel bertanya.
"Siasat kita sesuai rencana Sir. Jika tidak ada halangan, Projek kita akan berjalan lancar tanpa gangguan pihak pihak yang telah terpancing dengan keributan tersebut." Jawab Nyonya Liu yang di anggukkan oleh sang suami tercinta yang kini diperalat oleh istrinya.
"Apakah Profesor tua itu telah setuju?"
"Dia tetap bersikeras tak mau membantu. Mengapa kita tidak cari orang lain saja Sir? Aku sudah muak betul memberi makan *njing tua yang tiada gunanya itu" Seru Nyonya Liu dengan suara kesal.
"Ingat, apa yang ku perintahkan, itulah yang kau kerjakan. Jika ada yang mengambil keputusan salah dan berakibat fatal, tebusannya adalah nyawa nya bersama seluruh keluarganya." Ucapan lembut dan halus Menhan itu terasa begitu mengerikan bagi mereka yang hadir di ruangan tersebut.
.---***---. .---***---. .---***---.
Seorang pemuda terlihat terbang dekat dengan permukaan air laut untuk menghindari deteksi radar agar dia dapat dengan mudah menyelidiki pulau yang berada di pinggiran laut dalam yang berbatasan dengan Pantai Miami (Miami Beach).
John dalam pakaian The Black Man nya terbang rendah dengan Tongkat Emas (Toya) berada di punggungnya dan pedang di pinggangnya menggunakan sarung pedang khusus yang di rancang agar sekilas tidak tampak di pandang mata.
John yang melihat dengan kaca mata supernya kini memandang jauh ke arah pulau untuk bahan penyelidikannya dalam menyelamatkan Senator Samuel Liden yang kini entah berada dimana.
Sedikit pun John tidak menyangka bahwa pulau yang dulu telah dihancurkan nya bersama jasad Charlie dan Larry Sung kini telah dihuni banyak orang yang sedang sibuk mempersiapkan sesuatu.
Puluhan orang memakai baju putih celana hitam dan kacamata hitam tampak hilir mudik kesana kemari dari helikopter ke bangunan baru yang dulu telah hancur oleh ledakan bom dan kini telah di bagun kembali.
The Black Man memutar dari arah depan ke bagian belakang pulau dan turun di daerah hutan pantai bagian belakang pulau.
Dalam cuaca malam yang gelap, John dengan pakaian supernya yang memang seluruhnya berwarna hitam itu berjalan perlahan jika ada bayangan orang dan melesat cepat jika sekitarnya sepi.
Dengan kacamata pada baju supernya. sangat mudah dia memandang ke arah jauh memantau keadaan.
Saat tiba di belakang bangunan besar yang megah dan indah itu, John mengerahkan pikirannya dan melesat ke atap gedung tinggi itu dengan cepat.
Empat orang penjaga segera menyergapnya. tadinya penjaga penjaga itu hanya duduk dibalik tembok, mendengar suara kaki seseorang, mereka pun siap siaga dengan senjata di tangan.
Dengan cepat The Black Man melumpuhkan mereka bergerak ke sana kesini memukul bagian tengkuk dengan keras.
Sebentar saja, empat orang penjaga rebah pingsan dan kini The Black Man yang melanjutkan penyelidikannya dari atas gedung itu melihat ke bawah di mana para penghuni pulau masih membawa barang barang ke arah dalam bangunan.
Tak lama kemudian, pekerjaan mereka selesai dan beberapa orang yang berdiri di bangunan besar itu sambil bercakap cakap,
__ADS_1
"Besok, kita tinggal mengangkut bahan terakhir pada pukul 9 pagi. Kalian istirahat lah malam ini."
"Baik Tuan, apakah kami tidak perlu melapor kepada Nyonya Liu?"
"Tidak, biar aku yang melapor kepada Tuan dan Nyonya."
The Black Man yang mendengar pembicaraan itu, memutuskan untuk mengikuti pria muda tampan yang dipanggil Tuan oleh bawahan pulau tersebut.
.---***---. .---***---. .---***---.
Di dalam kamar yang paling besar dan paling mewah di hotel bintang lima daerah Florida tak jauh dari pantai Miami, tampak sepasang suami istri sedang duduk membicarakan hal yang baru siang tadi terjadi.
Nyonya Liu berkata kepada suaminya,
"Rasanya aku ingin sekali membunuh nya, enak saja dia memerintah ku yang berkedudukan sama dengannya, bahkan pakai mengancam segala lagi."
"Sudahlah, kau sabarlah. Dia itu orang paling berkuasa di dunia, lebih baik kita tidak mencari permusuhan dengan nya." Jawab sang suami dengan penuh kekhawatiran di wajahnya.
"Tok tok tok, permisi, saya Rooney." Terdengar suara ketukan di iringi suara seorang pria muda yang paling banyak berusia 30 tahun.
Mantan Perdana Mentri Liu dan istrinya segera menyambut ke pintu. Setelah membuka pintu, mereka mempersilahkan Rooney masuk.
"Bagaimana persiapannya?" Tanya Nyonya Liu setelah mereka duduk di sofa bagian dalam.
"Kapan penjemputan para ilmuan itu dilakukan?" Tuan Liu ikut bertanya pula.
"Besok pada pukul 11 siang Tuan. Semua laporan yang Tuan dan Nyonya minta telah kami siapkan. Besok siang tentu akan bisa di kirimkan." Jawab Rooney yang kemudian permisi.
Tak lama setelah Rooney pergi, Nyonya Liu berkata kepada suaminya,
"Sebentar aku buatkan minuman hangat untukmu. Setelah itu, aku akan pergi memeriksa tahanan di bawah."
"Kita pergi bersama," Sanggah Tuan Liu.
"Baiklah, tapi kita minum dulu." Nyonya Liu berkata sambil ke dapur membuatkan Teh.
Teh dalam cangkir besar itu di tuangkan sedikit bubuk putih halus oleh Nyonya Liu sebelum diberikan kepada suaminya.
Tak lama setelah Tuan Liu minum tehnya, dia tertidur rebah di sofa panjang. Nyonya Liu mengeluarkan senyum aneh dan lalu pergi keluar mengunci kamar dan turun ke bawah sampai di lobi parkir.
__ADS_1
Seorang pria terlihat sedang menunggu Nyonya Liu dan setelah mereka bertemu, segera mereka melanjutkan naik lift ke bawah ... Lobi parkiran setelah memasukkan sandi 2468.
Nyonya Liu yang sedang mabuk oleh pelukan ... Rooney tidak tau jika di atas Lift yang mereka tumpangi ada seorang pria muda dengan baju pelayan hotel.
Sesampainya mereka berdua di lantai dasar, Nyonya Liu turun dan bersama Rooney, dia segera tenggelam dalam perpaduan kasih berahi bersama Rooney sesampainya di kamar utama dalam ruangan itu.
John yang kini turun dan berjalan perlahan memasuki ruang indah bawah tanah itu terperogok seorang penjaga.
"Hei,, siapa kau?" Bentak penjaga tersebut.
"Pelan kan suaramu, aku utusan Tuan Liu kemari ingin bertemu Nyonya Liu." Jawab John dengan tenang.
Penjaga yang curiga itu segera berlari ke sudut ruangan untuk menekan tombol alarm merah.
Belum sempat dia menekan tombol, terjangan John begitu cepat berhasil menghadang dan memberikan totokan lumpuh kepadanya.
Beberapa orang penjaga lainnya tampak disitu. Dengan sigap John melepaskan tendangan dan pukulan hingga lima penjaga terlempar kesana sini.
Karena suara hiruk pikuk diluar, Rooney dan Nyonya Liu yang belum sempat berkikuk-kikukan itu tampak keluar dari kamar besar.
Saat perhatian John teralihkan gerakan Rooney yang berusaha menyerangnya dari belakang, penjaga lainnya yang telah tiba di situ segera menekan alarm peringatan bahaya hingga suara gema mengiung terdengar di kamar kamar khusus di seluruh penjuru hotel.
Melihat posisi yang tidak menguntungkan, John menerima tendangan Rooney yang mengenai pangkal pahanya dan membuat John terjatuh hingga penjaga bawahan Nyonya Liu segera menangkap dan menelikung tangannya.
"Siapa kau?" Tanya Rooney mengancam.
"Aku adalah pelayan yang tersesat hingga kemari," Jawab John tenang.
"Jangan main main, lekas katakan siapa kau dan siapa yang mengirim mu?"
"Aku adalah utusan pemimpin kalian." Jawab John yang bermaksud mempermainkan mereka dengan mengatakan dirinya adalah utusan Tuan Liu.
Namun tak disangkanya, muka Rooney dan Nyonya Liu berubah seketika. Dengan tergagap Nyonya Liu bertanya,
"Kau,, u, utusan, Tu,, Tuan Malech?"
Melihat reaksi mereka, John segera mengangguk sambil tertawa didalam hatinya.
Siapa Tuan Malech? kenal pun tidak. Namun melihat ketakutan di wajah mereka semua mendengar nama itu, John pun mengaku ngaku saja.
__ADS_1
Dalam hatinya merasa puas karena dapat mempermainkan para penjahat itu.
Bersambung ...