
Kenji yang baru tiba di kota itu segera dibawa ke area Pabrik Min yang telah 7 tahun ini dibiarkan kosong dan angker.
Dengan petunjuk seorang pasukan khusus yang di sandera nya, Kenji akhirnya dapat melihat sebuah lereng tebing di ujung gorong gorong dekat pintu menembus simpang 4 hotel yang dulu pernah disewa John dan Paman Li serta keluarganya.
Saat itu mentari telah terbit naik se tombak. Kenji memukul tengkuk prajurit setengah baya tersebut kemudian terus meluncur terbang mengitari tebing kecil yang tinggi.
Tak berapa lama, dia melihat sesosok tubuh terbaring seperti mati,
"Suhu, Suhuuuu,,," Bisikan kecil di susul teriakannya yang bergema di seluruh penjuru tebing.
Dengan air mata mengalir, Kenji segera turun di tempat datar seluas satu meter dan memeriksa tubuh John yang pingsan.
"Suhu, Suhu,,, bangun Suhu,," Teriak Kenji sambil menggoyang goyangkan tubuh Suhunya.
Perlahan John mengeluh sambil membuka matanya sedikit untuk kemudian pingsan lagi dalam pelukan muridnya.
Kenji yang dilanda haru dan senang bercampur sedih melihat keadaan Gurunya yang sekarat itu segera membopong tubuh John dan membawanya terbang kembali ke rumah Kek Meshach di pinggiran kota New York Amerika Serikat.
.---***---. .---***---. .---***---.
Pagi itu, terlihat ribuan orang sedang berada di ruangan yang sangat luas berbaris rapi mendengar instruksi dan pidato pimpinan terbesar mereka.
"Para pasukan sekalian, kekuatan yang kita bangun selama beberapa tahun ini sudah saatnya dikenal dunia. Projek yang kita impikan telah berhasil di selesaikan oleh para profesor ahli kita. Beri tepuk tangan kepada mereka."
"Prok, prok, prok, prok," Suara tepuk tangan yang sangat meriah terdengar bergema di ruangan aula yang sangat besar itu.
Kembali Tuan Malech memberi arahan arahan dalam pelaksanaan tugas mereka untuk 'menyelamatkan' dunia.
Setelah acara selesai, para pasukan dan tamu undangan makan bersama di temani Malech Mechiah yang mengobrol bersama mereka dengan penuh suka cita.
Setelah kematian Boaz Immanuel dan adiknya Asher Benjamin, kini tak ada lagi yang mengaturnya. Bahkan dialah yang menjadi pengatur seluruh bawahannya di dunia dalam kerja sama mereka untuk melakukan Reboisasi besar besaran.
Malech sedang berbincang dengan seorang rekan nya yang dari awal membantunya memuluskan rencana dalam impiannya menguasai seluruh dunia.
"Tuan Christ, akhirnya apa yang kita cita citakan berhasil." Seru Malech dengan wajah sumringah.
"Berkat kegigihan Commander Hans, akhirnya kita dapat menyingkirkan The Black Man selamanya." Jawab pria tegap besar berwajah lembut dan garang berusia 56 tahun itu.
"Mari kita ke ruangan ku, lebih leluasa bicara di sana." Ajak Tuan Malech sambil berdiri dari kursinya.
Sesampainya mereka ke dalam, Hanji datang dengan tergesa gesa.
"Papa, Komandan Shearer izin melaporkan hal yang sangat penting." Seru Hanji sesampainya ke ruang tersebut.
__ADS_1
"Suruh dia masuk Hanji."
Tampaklah seorang pasukan setengah tua yang di culik Kenji semalam dengan wajah pucat dan badan penuh lumpur kotor yang menyengat baunya.
"Lapor Pak, saya kemarin malam di culik oleh The Black Man dibawa ke pinggir tebing pembuangan limbah Pabrik Min."
"Apa? Th,, The Black Man?" Seru Tuan Malech kaget.
"Ya Pak, The Black Man yang pernah menghancurkan gudang bahan makanan. Ternyata dia masuk ke tebing pembuangan dan ketika pergi, membawa sesosok tubuh yang kemungkinan besar adalah The Black Man yang asli. Kita harus hati hati Pak." Seru Komandan pasukan itu.
"Perintahkan lakukan penjagaan ketat di seluruh bangunan. Khususnya di sekitar tempat penyimpanan RBM." Perintah Tuan Malech.
"Siap Pak," Seru Pimpinan penjaga dan pasukan serentak.
RBM (Reforestation Bomb Machine) adalah Projek hasil gagasan Boaz Immanuel yang dulu pernah hampir berhasil menghancurkan dunia.
Meski begitu, mereka menyangka bahwa RBM yang kini telah rampung adalah mesin penghancur kiamat dunia. Namun sedikitpun mereka tidak tau bahwa perakitan mesin yang dilakukan oleh Prof Li dulu dan para ilmuan lainnya sudah di ubah oleh Profesor Tibet tersebut.
Karena ketidak tahuan nya, Tuan Malech tetap saja memakai komponen komponen yang di ciptakan oleh Prof Li.
Meski RBM (Mesin Bom Reboisasi) tidak lah sedahsyat yang mereka bayangkan, namun untuk melakukan penghijauan tanaman dan menghancurkan beberapa kilometer kawasan radiasi, mesin itu mampu melakukan nya.
Begitulah rencana yang kini akan dipercepat pelaksanaannya oleh Tuan Malech, Menhan Christ dan Komandan Hans serta bawahan mereka, dikarenakan adanya bahaya penyerangan dua The Black Man yang kemungkinan akan menyerang dalam waktu cepat.
"Kakek, Subo, Nenek, semuanya tolong aku." Seru Kenji dalam pakaian super nya saat hampir tiba di pintu bawah tanah menuju ke istana Kek Meshach.
Mereka yang tengah duduk makan bersama terkaget dan langsung menuju ke pintu yang menuju ke ruang bawah.
Setelah membuka kunci, Sarah berteriak senang dan khawatir,
"John,,"
Segera Sarah menyambut tubuh John dan membawa nya ke dipan di ruang itu.
"Sebentar aku periksa," Seru Kek Meshach dengan wajah khawatir.
Dengan teliti dan perlahan, Kakek tua itu memeriksa John yang tergolek dalam keadaan pingsan dan napas sesak.
"Tubuhnya lemah keracunan, dada sesak dan kaki patah." Kek Meshach menjelaskan.
"Tolong dudukkan dan pegang Suhu mu Kenji,," Seru Sarah sambil mengangkat bahu John.
Tak lama kemudian, Sarah pun meletakkan kedua tapak tangannya di punggung John bagian atas.
__ADS_1
Terlihat uap mengepul dari kepala John yang berambut panjang aut-autan dengan kumis dan jenggot tak terpelihara.
Sungguh memprihatinkan melihat wajah John seperti itu. Bu Citra dan Bu Melly yang tampak telah tua itu menangis melihat anak yang dikiranya telah tewas ternyata mengalami siksaan selama ini.
Hampir dua jam Sarah mencoba mengobati John dengan aliran tenaga dalam nya yang selama ini selalu di latih mengikuti petunjuk petunjuk mendiang Han Lojin Guru mereka.
Malahan kini bukan hanya pada kepala John terlihat uap putih menghitam keluar, namun dari kepala Sarah juga terlihat uap mengepul perlahan hingga lama kelamaan tampak tebal.
"Sarah, jangan paksakan dirimu. Bisa berbahaya." Seru Kek Meshach yang melihat darah keluar dari ujung bibir wanita itu.
Sarah seperti tak mendengar kata kata Kek Meshach. Dengan perhatian sepenuhnya tertuju kepada sang kekasih yang berada dalam keadaan bahaya, Dia tetap mengobati John meski tubuhnya tampak lemah.
Sejam setengah kemudian, Sarah jatuh tergeletak di dipan dalam keadaan nafas sesak dan ... pingsan.
"Panggil Mark ke mari." Seru Kek Meshach kepada menantunya yang segera lari menuju ke ruang sebelah untuk menelpon Dokter Mark.
"Halo, Mark, kau secepatnya kemari. Sarah dan John dalam bahaya." Hanya itulah kata kata yang terdengar dari mulut Bu Citra yang langsung menutup telponnya untuk segera berlari ke tempat dimana putra dan putri sahabat nya sedang pingsan.
John yang di pegang oleh Kenji mengeluh perlahan.
"Ayah, Ibu,, Sarah,,," Dengan suara perlahan John memanggil nama keluarganya.
Hanya beberapa belas menit saja, Seseorang tiba dengan membawa sebuah tak jinjing berpakaian putih memencet bel.
Setelah Lin Lin membuka pintu, masuklah Dr Mark dengan wajah panik menuju ke arah dalam mengikuti Wan Wan.
Baru saja Dr Mark memulai pengobatan kepada Sarah, pintu bel kembali berbunyi, Wan Wan segera berlari membuka pintu.
Ternyata yang sampai kesitu adalah Barbara dan Ayahnya bernama Samuel Liden.
"Bagaimana keadaan nya Kek? Ah,, Sarah kenapa?" Tanya Barbara kaget setibanya dia di situ.
Melihat isyarat Kek Meshach yang tidak ingin Mark terganggu oleh kebisingan mereka, Barbara hanya berdiri diam melihat apa yang di lakukan Dokter tersebut.
Setengah jam kemudian, hari telah agak sore. Ketika Sarah mengeluh dengan kepala pusing akibat serangan balik kekuatan John yang selama ini tergembok oleh luka dalamnya sehingga menimbulkan reaksi balik dari racun yang mengeram bertahun tahun di tubuhnya melalui telapak tangan Sarah.
"Sarah, tubuh mu keracunan. Racun di tubuh John masih tersisa sedikit dan perlahan lahan menyebar ke seluruh tubuh." Seru Dokter Mark yang selama ini menjadi Dokter pribadi keluarga Kek Meshach.
"Berapa lama racun menyebar ke seluruh tubuhnya?" Tanya Sarah dengan pandang mata kesedihan memandang ke arah kekasihnya.
"Menurut perkiraan ku, mungkin sepuluh tahun. Racun yang menyebar dalam tubuhnya lebih lambat dari racun yang perlahan menyebar di tubuh mu."
"Baik, terimakasih Dokter." Ucap Sarah kepada pria yang pernah melamar nya itu.
__ADS_1
Bersambung ...