
Di sekitaran gunung Himalaya berbatasan dengan Tibet yang dulunya merupakan tempat yang pernah dikuasai oleh salah seorang kaisar kerajaan, hiduplah seorang kakek yang sudah tua. Usianya kini telah mencapai 69 tahun.
Dia tinggal di sebuah gubuk di pertengahan puncak Himalaya tertinggi.
Di sekitaran gubuk terdapat kebun yang ditanami beraneka macam sayuran dan rempah-rempah bahan dasar untuk obat-obatan.
Dia sering dipanggil Han Lojin (Kakek Han).
Pagi itu terlihat Kakek Han sedang berjalan dengan membawa sebuah tongkat besi (Toya) menuju ke puncak gunung.
Dia melewati jalan yang begitu terjal dengan santai seperti tidak ada halangan apapun.
Padahal jalan di sekitar Gunung Muji itu sangat lah terjal, sampai-sampai orang muda yang menggunakan alat pendakian sekalipun akan sangat sulit untuk mendakinya.
Sesampainya Han Lojin di sebuah mata air yang terdapat air terjun yang mengalir indah ke lembah Baron,
Dia segera melompat ke bawah air terjun dan membuka kuda-kuda dengan kaki sedikit di renggang kan dan tapak tangan melekat seperti orang menyembah serta toya yang terbuat dari besi terletak di lipatan siku kiri dan kanan.
Air terjun yang terus menerus mengguyur hanya terasa seperti gumpalan kapas yang menimpa kepalanya.
Dari situ dapat kita ketahui bahwa Kakek Han adalah seorang ahli bela diri China yang kini sudah jarang ditemui.
Han Lojin sebenarnya adalah seorang Pendekar dari China yang memilih mengasingkan diri ke daerah Tibet.
Akibat perebutan kekuasaan yang tiada habisnya, Kakek Han merasa muak menghadapi semua itu. Dengan perasaan tercampur aduk akhirnya dia mengasingkan diri mencari kedamaian hati.
Setelah beberapa jam berlatih dengan posisi air terjun menimpa kepala, Kakek Han segera bersilat dan membuka jurus-jurus di atas permukaan air yang lebarnya sekitar 6x9 meter persegi.
Awalnya jurus yang di mainkan orang tua itu sangat lambat. Namun akhirnya, gerakannya terlihat sangat cepat sampai-sampai jika di lihat oleh mata biasa, tubuh Han Lojin akan seperti bayangan hantu yang menari-nari dengan di hiasi kilatan toya berwarna emas di sekelilingnya.
Setelah sekian lama Kakek Han berlatih, dia pun segera turun kembali ke gubuknya untuk beristirahat dan shalat asar.
Walaupun dia asli berwarganegara China, namun ada darah bangsa Uighur dari ibunya yang membuat dia memilih Agama Islam sebagai panutan dalam hidupnya.
.---***---. .---***---. .---***---.
Setelah seminggu Denis menyamar dan berkeliling di sekitar Pantai Florida, akhirnya dia menemukan hasil yang selama ini dicarinya.
__ADS_1
Sore itu dia melihat 5 orang berjaket kulit hitam mengkilat menaiki sebuah mobil masuk ke dalam terowongan kurang lebih berjarak satu kilo meter dengan Hotel tempat dia menginap.
Dengan segera Denis membuka jam tangannya dan menembakkan peluru halus ke mobil tersebut yang ternyata merupakan sebuah alat pelacak peninggalan ayahnya.
Lantas Denis pun mengikuti koordinatnya dari luar terowongan. Namun alangkah heran dan kagetnya Denis begitu melihat koordinat yang menandai dimana mobil tersebut berhenti.
Mobil itu kini berada tepat dibawah hotel Denis menginap.
Karena penasaran, Denis segera menemui resepsionis dan menanyakan dimana dia bisa menemukan pemilik Hotel.
Resepsionis menjawab dengan polos,
"Tuan Sung sedang tidak ada di tempat Pak".
Bagaikan kilat menyambar disiang bolong, selama satu minggu Denis ke sana kemari mencari dimana markas jaket hitam atau BHO berada.
Namun ternyata dari awal, Denis telah berada di wilayah mereka, tepatnya di atas markas Organisasi Hati Hitam tersebut.
Setelah menanyakan hal itu, Denis segera masuk ke kamar nya di hotel tersebut. Resepsionis tidak menaruh kecurigaan sedikitpun atas pertanyaan Denis yang masih dalam penyamarannya.
Tak lama kemudian, Denis tertidur hingga pagi di kamarnya.
Sesampainya Denis di lantai dasar, disitu dia melihat tempat yang dijadikan area parkiran mobil tersebut banyak terdapat mobil hitam terparkir melebihi jumlah orang yang menginap di hotel.
Dengan penasaran, Denis menuju ke Lift, dia segera menekan tombol ruang bawah tanah Hotel. Namun dilayar monitor Lift segera diminta memasukkan kode pin 4 angka.
Karena Denis takut ketahuan, dia segera membatalkan dengan memencet tombol Cancel dan segera naik ke Lobi Hotel untuk kemudian masuk lagi ke kamarnya.
.---***---. .---***---. .---***---.
Citra yang telah terbangun dari tidurnya segera mengajak Melly dan Roby (panggilan sayang Melly kepada Robert) untuk datang ke sebuah tempat dimana mereka biasa membicarakan hal penting dan rahasia.
Segera Citra menceritakan bahwa semalam dia didatangi oleh orang yang mencari Denis dan bertanya kepadanya.
Namun Citra berhasil memperlihatkan bahwa dia tidak begitu mengenal Denis sehingga mereka segera pergi.
"Benar kata ayah Denis, banyak orang yang terlibat dalam hal ini. Semalam secara tidak sengaja aku mendengar mereka berbisik mengatakan Om Adi juga termasuk salah satu dari mereka".
__ADS_1
Citra berkata dengan wajah tegang dan perasaan menyesal.
Melly yang mendengar hal itu sangat kaget dan langsung berkata,
"Apa? Om Adi terlibat? Berarti, Om Adi tahu mengenai asal-usul Virus Medulla yang di sebarkan di sini?"
Terlihat Citra mengangguk dua kali dengan wajah serius.
Robert yang mendengarkan dan tidak mengenal siapa Om Adi hanya menyimak dengan seksama.
Melihat Robert yang tidak begitu mengerti, akhirnya Citra menjelaskan kepada Robert.
Menteri Kesehatan Dr. Adi Sanjaya adalah adik kandung dari ayah Citra Mentari Sanjaya.
Usia ayah Citra yang bernama Rafli Sanjaya dengan Adi Sanjaya terpaut sangat jauh.
Maka banyak orang yang mengira bahwa Adi Sanjaya adalah kakak laki-laki Citra.
Dulu pada saat awal menikah, Rafli Sanjaya kehilangan orang tua dalam sebuah kecelakaan.
Yang selamat dari kecelakaan itu adalah Adi Sanjaya, sehingga dia pun di rawat oleh Rafli. Pada saat itu usia Adi Sanjaya baru 7 tahun.
Beberapa tahun Adi tinggal bersama kakak nya, Citra pun lahir dan akhirnya begitulah.
Sampai dia menjadi seorang Menteri Kesehatan bersama Citra yang menjadi Dokter ahli di Jakarta, Adi Sanjaya sering sekali melihat Kans/ kesempatan untuk kesinambungan mega proyek yang di terimanya melalui Charlie Sung.
Setelah bercerita panjang lebar, Citra mengusulkan untuk kembali ke Jakarta dan menemui orang tuanya, lalu menceritakan segala kejadian yang terjadi di Kota Sabang.
Saat itu Melly bertanya,
"Bagaimana dengan orang-orang yang ada disini?"
Citra menjawab bahwa tidak ada gunanya mereka merawat orang-orang yang terjangkit Virus jika Virus itu terus-terusan di sebarkan dan belum mendapat Anti Virus atau Serum penyembuh Virus.
Robert yang mendapatkan amanah untuk menjaga Melly dan Citra setuju.
Mereka bertiga segera mengemasi barang dan tak lupa Citra berpesan kepada Staf Ahli Kesehatan agar merawat pasien yang terjangkit virus sesuai arahannya kemarin-kemarin.
__ADS_1
Tak lama kemudian, terlihat tiga orang telah naik Very menuju pelabuhan Ule Lheu untuk segera ke Bandara Blang Bintang Banda Aceh menuju ke Jakarta.
BERSAMBUNG ...