
Pagi itu, terlihat seorang pemuda berjalan jalan dengan pakaian berwarna putih menelusuri jalanan dekat Pabrik Min yang telah lama tidak lagi beroperasi.
John yang kemarin tiba di Changsha bersama Paman Arieli atau Prof Li kini terlihat mengintai dari jauh.
Tiba tiba, dari semak depan keluar tiga orang bersenjata menghentikan John.
"Berhenti. Siapa kau? Sedang apa disini?" Tanya seorang pria bermata sipit sambil memegang lengan John.
"Ah,, Maaf Tuan, aku orang ba,, baru di sh, sini. Aku hanya ingin lati pagi saja Tuan."
Akting John rupanya mampu mengelabui ketiga penjaga Pabrik itu.
"Lekas pergi menjauh, jangan sampai kepalamu kami tembak."
"Ba,, Baik Tuan." Seru John yang memasang muka pucat ketakutan. Segera dia pergi menjauh dari pabrik tua itu kembali ke Hotel yang berada dua kilometer dari situ.
Sesampainya di Hotel, John segera masuk ke kamar di tingkat atas dimana Paman Li telah menunggunya.
"Bagaimana John?"
"Aku digagalkan oleh tiga penjaga pagar Paman." Jawab John.
"Lantas bagaimana?" Prof Li bertanya.
"Tak apa Paman, tadi aku melihat terdapat saluran pembuangan bawah tanah. Besok aku coba mengintai lewat gorong gorong."
Malam harinya, John hanya bersemedi di kamar hotel. Sedangkan Pamannya, sibuk membuat catatan formula, rute pelarian, dan denah lokasi tempat penyanderaan.
John dan Prof Li sama sekali tak mengetahui bahwa kekacauan yang disebabkan The Black Man di Pulau daerah Florida membuat tempat itu tidak dijadikan pabrik produksi lagi sehingga seluruh penjaga dan alat malam itu di angkut ke Kota Changsha.
Terlihat kesibukan di sekitar bangunan yang pagi tadi dimata-matai oleh John. Barang barang dibawa dengan Helikopter dan kendaraan lainnya.
Ratusan personel penjaga ditempatkan disitu. Meski tempat itu berada dekat dengan pusat kota Changsha, karena halaman nya yang luas, maka pabrik tersebut bisa dibilang berada agak jauh dari bangunan bangunan lainnya.
Kita tinggalkan dulu John yang sedang bersemedi dan bawahan Pabrik Min yang tengah sibuk menjadikan Pabrik tersebut sebagai rumah produksi utama.
Kini marilah kita lihat keadaan Barbara yang hari itu berangkat dengan menyamar menuju ke pinggiran New York dari tempat nya di Ohio.
Barbara yang memesan Taksi, diantar hingga sampai beberapa ratus meter dari istana Prof Black Hawk. Setelah dia membayar dan Taksi pergi dari situ, Barbara segera masuk ke istana setelah memanggil dari pintu samping beberapa lamanya.
Begitu pintu dibuka, Barbara yang memakai topi, pakaian pria dan masker segera di todong senjata. Rupanya gerak geriknya sudah sudah dipantau dari kamera pengintai oleh Tuan Meshach dan Sarah.
"Siapa kau?" Seru Sarah dengan suara mengancam.
"Aku Barbara Sarah." Jawab Barbara yang membuat pistol di mukanya turun perlahan.
__ADS_1
Segera Barbara ditarik masuk oleh Sarah. Sedangkan Kek Meshach menutup dan mengunci pintu.
"Maaf atas sikapku tadi Barbara," Ucap Sarah setelah duduk di sofa.
"Kedatanganku kemari atas permintaan Ayah. Dia selalu di incar dan di intai makanya aku yang kemari."
"Ada pesan apa Nak?" Tanya Kakek tua itu kepada Barbara.
Sarah yang penasaran juga menantikan jawaban Barbara.
"Ayah berpesan agar John jangan menyerang ke Hunan. Karena mereka memasang jebakan di sana."
"John telah berangkat 4 hari yang lalu Barbara." Jawab Kek Meshach tegang.
"Apakah tidak bisa menghubunginya?"
"Tidak, John tidak memegang ponsel. Bagaimana ini Kek?" Tanya Sarah panik.
"Tenang, jangan panik. Aku harus melakukan Projek itu." Seru Kek Meshach.
"Projek apa Kek?" Kembali Sarah bertanya.
"Beberapa malam yang lalu, aku bermimpi melihat John gagal dalam misinya. Dia tewas ke dalam limbah berlumpur di tebing Himalaya. Akhirnya kiamat dunia pun terjadi oleh keganasan Boaz Immanuel yang menyerang seluruh daratan dengan mesin buatannya."
"Apakah hal itu akan terjadi?" Seru Sarah sambil meneteskan air matanya.
Barbara yang melihat Sarah selalu murung dan sedih memutuskan untuk tinggal disitu dengan izin Prof Meshach menemani Sarah yang makin lama semakin dekat dengan Barbara.
.---***---. .---***---. .---***---.
Di dalam ruang bawah tanah yang sempit dan berbau menyengat, terdapat 5 orang yang di sekap oleh bawahan Tuan dan Nyonya Liu.
Ruang berdinding jeruji besi itu sebenarnya merupakan ruang penampungan limbah pabrik yang di buang ke sebuah tebing kecil dan dalam melalui gorong gorong bawah tanah Pabrik Min di Kota Changsha.
Malam itu, sesosok hitam melesat di dalam gorong gorong seraya berendap-endap ratusan meter dari situ. John yang mengenakan Seragam The Black Man nya berjalan menyusuri lorong gelap yang panjang.
Dengan sinar ultra yang ada di kacamata nya, John dapat melihat dengan jelas. Tikus tikus berlarian ke sana sini.
Kecoak, kalajengking, dan binatang binatang yang biasa hidup di got dan gorong gorong berlarian berseliweran di sekitar tempat tersebut.
Setelah melalui perjalanan yang panjang, The Black Man melihat cahaya penerangan dari ruangan sempit yang berada jauh di sebelah kanannya.
Melihat pergerakan bayangan, The Black Man melesat cepat ke arah itu.
"Jangan,, jangan sakiti kami,, ku mohon." Seru suara seorang wanita setengah tua yang memeluk kedua anaknya.
__ADS_1
"Bibi, aku utusan paman Yeshe, aku datang untuk menyelamatkan kalian." Seru Jhon dibalik pakaiannya.
Nyonya yang baru saja ketakutan setengah mati, mendengar suara pria misterius itu menyebut nama suaminya, tertegun sesaat. Ketika John hendak memegang jeruji ruang kecil tersebut, Wanita itu berteriak,
"Hei, jangan pegang."
"Trriiiikkhh,, Bhhuukkkhhh,,," John tersengat aliran listrik dahsyat hingga membuatnya terlempar menabrak dinding gorong gorong dan ... pingsan.
Segera terdengar suara gemuruh dan puluhan tapak kaki menuju kesitu. Para penjaga dan pasukan bawahan Boaz telah memenuhi lorong tersebut.
Hanya sebentar saja John pingsan dan kini dia telah bangun berdiri sambil menggeleng geleng kepalanya yang pusing akibat sengatan dan benturan keras.
Tiga sosok hitam mengerikan terbang ke dekat John. Seorang manusia yang kulitnya hitam melepuh bengkak berair memakai kotak terbang di punggungnya.
"Hahahaha,, tibalah hari kematian mu The Black Man." Seru Rooney yang baru tiba di situ bersama kedua rekannya.
The Black Man dengan tongkat di tangannya segera menyerang pasukan. Sekejap saja barisan yang berada paling depan telah rebah dengan tangan dan kaki patah.
Tembakan pun berdesingan dari senapan pasukan yang ketakutan oleh sepak terjang The Black Man.
"Bodoh, jangan sembarangan menembak." Teriakan Rooney menghentikan tembakan senjata api otomatis itu.
"Lepaskan tawanan, kalau tidak, kalian semua akan mati." Hardik John dengan suara menggema.
"Hahaha,, sudah kejepit masih mengancam." Sahut Jin Hung yang membantu Rooney dan Liu Gan menyerang The Black Man.
Segera terjadi pertarungan sengit antara The Black Man melawan tiga orang Black Monster di dalam lorong yang lebarnya 2X3 meter itu.
"Ciuffhhh,, Wuuut,, Plaaaakkhh, Duuukkhh,,"
Serangan serangan Black Monster dapat dihindarkan The Black Man dengan susah payah.
Semakin lama semakin tampak para pasukan terdesak hebat. Pasukan pasukan itu tidak leluasa bergerak karena takut kena damprat Black Monster.
Ketiga Black Monster pun tertahan serangannya karena banyak pasukan yang menjadi tameng The Black Man yang meloncat ke sana kemari sambil merobohkan para pasukan bawahan musuh musuh John.
Setelah setengah jam bertanding matian matian, Black Monster terlibat rantai tua yang di ayunkan John.
"Lepaskan mereka. Kalau tidak, semua tawanan ini akan menjadi mayat." Terdengar seruan seorang wanita yang tidak lain adalah Nyonya Liu.
"Jika kau berani menyentuh mereka, akan ku cabik-cabik kau dan semua pasukan mu." Seru John yang memang telah emosi.
Setelah melakukan perbincangan tawar menawar yang panjang. John setuju untuk menukar tawanan dengan dirinya.
Tak lama kemudian, John telah kembali ke tempat itu bersama Prof Li. John segera masuk ke dalam ruang sempit dimana terdapat kerangkeng beraliran listrik tinggi setelah melihat Prof Li jauh meninggalkan tempat tersebut menyusuri lorong bersama istri dan kedua anaknya serta dua orang lain yang tidak di kenal John.
__ADS_1
The Black Man yang dengan pasrah mengurung dirinya disitu tidak tau sama sekali bahwa Prof Li yang keluar dari lubang di pinggir jalan samping hotel telah di tangkap kembali oleh bawahan Malech dan Boaz.
Bersambung ...