
Siang itu matahari terasa sangat terik sekali sehingga membuat orang-orang malas terkena langsung dengan cahaya nya.
Namun bagi wanita cantik yang sedang berjalan ke arah kota Jakarta, teriknya matahari seperti tidak dirasakannya.
Dia terus saja berjalan sendirian di pinggiran trotoar menuju Jakarta Pusat dimana ayah dan ibunya tinggal berdua di sebuah Apartemen.
Tak lama kemudian, wanita itu tampak dihentikan oleh sebuah mobil berwarna merah yang ternyata di dalamnya terdapat sepasang kekasih yang tidak lain adalah Melly bersama Robert.
"Citra, naiklah sini". Melly berkata kepada Citra yang terus saja menaiki mobil.
Tak butuh waktu yang lama, mobil pun segera berangkat dengan cepat menuju ke apartment milik orang tua Citra.
Tak lama kemudian, sampailah mereka bertiga di kediaman Rafli Sanjaya bersama istrinya.
"Assalamualaikum"
Seru Citra sesampainya mereka di depan pintu apartemen orang tuanya.
"Wa alaikum salam" Jawab suara seorang pria dari dalam yang segera datang ke depan untuk membuka pintu.
Citra terlihat tampak sedikit bimbang karena suara dari dalam bukan seperti suara sang ayah yang sangat di kenalnya.
Begitu pintu dibuka, Citra dan Melly kaget melihat bahwa yang membuka pintu adalah pamannya yaitu Dr Adi Sanjaya.
Namun karena Citra orang yang sangat cerdik, Citra dengan segera dapat mengubah ketegangan di wajahnya menjadi senyuman.
"Kenapa kalian pulang, bukankah seharusnya kalian masih berada di Pulau Sabang?".
Melly yang agak gugup ingin menjawab, namun segera di potong oleh Citra.
"Sebenarnya kami masih mau di sana Om,
tapi Melly sudah menemukan Cinta sejatinya dan akan segera melangsungkan pernikahan, makanya kami pulang untuk memberitahukan kabar bahagia ini kepada seluruh kerabat dan keluarga".
Dengan segera Melly memperkenalkan pria disampingnya,
"Perkenalkan Om, ini Robby seorang Duta Kesehatan dari Inggris yang melakukan penelitian di Kota Sabang"
Tak tampak bahwa Melly sedang berbohong tentang identitas Robert karena memang perawakan Robert mendukung identitas palsunya.
__ADS_1
Setelah Robert dan Adi Sanjaya saling bersalaman, Dr Adi segera bertanya,
"Mana rekanmu Citra,?? Yang kemarin rapat bersama kita?"
"Maksud Om, Dr dari Amerika itu?"
Tampak anggukan kepala Menkes sembari melihat kiri kanan.
"Kemarin dia buru-buru pamit, katanya akan kembali ke daerah asalnya karena urusan keluarga". Citra menjawab dengan sangat meyakinkan.
Tak lama kemudian, ayah dan ibu Citra telah kembali dari pasar dan begitu pintu dibuka, mereka berdua segera menghampiri putri mereka yang telah masuk kedalam bersama teman temannya bersama adik mereka.
Setelah beberapa lama mengobrol, Dr Adi Sanjaya berpamitan, karena akan ke pusat penelitian kesehatan di Jakarta Utara.
Setelah memastikan lewat jendela dan yakin mobil Omnya sudah pergi, Citra segera menceritakan kepada orang tuanya tentang keterlibatan Adi Sanjaya dengan Virus yang telah memakan banyak korban.
Mendengar hal itu, ayah Citra yang sudah tua kelihatan sangat marah, dia segera masuk ke kamar mengambil pistol dan menelepon adiknya.
Citra yang ingin menghentikan kegusaran ayahnya dengan mencegah sambungan telpon, kini telah terlambat.
Rafly Sanjaya pun segera berbicara dengan adiknya begitu telepon di angkat oleh Adi Sanjaya.
Karena sudah tidak dapat menahan emosi, ayah Citra segera memaki adiknya dan mengatakan bahwa keluarga mereka dari dulu selalu menjunjung tinggi nilai-nilai kebaikan.
Setelah puas memaki adiknya lewat telepon, ayah Citra menutup telepon genggamnya.
Secara tiba-tiba, dia segera menyuruh Citra pergi dan lari ke daerah Lhasa Tibet dimana terdapat keluarga ibunya di sana untuk bersembunyi dari kejaran paman yang pasti akan berusaha mencelakakan nya.
Citra pun mematuhi walaupun dia tau ayah dan ibunya pasti terancam bahaya yang sangat besar.
Dengan segera Citra mengajak Melly dan Robert untuk meninggalkan Apartemen itu dan segera naik ke mobil setelah mengambil buku tabungan dari ayahnya.
.---***---. .---***---. .---***---.
"Halo, cepat kalian ke apartemen kakak ku, Habisi semua orang yang ada di sana" Ucap Adi Sanjaya dingin yang segera menutup telepon genggam nya.
Maka tidak perlu waktu lama, terlihat di Apartemen Rafli Sanjaya telah datang 5 orang yang memegang Pistol. Mereka segera mendobrak pintu yang ternyata tidak di kunci itu lantas masuk lah mereka ke dalam.
Begitu melihat ke dalam, ternyata apartemen tersebut dalam keadaan kosong.
__ADS_1
Tiba-tiba ada suara pergerakan di pintu masuk, mereka berlima segera waspada dan salah seorang yang paling dekat ke pintu membuka pintu.
Namun naas, ternyata yang ada di situ adalah Rafli Sanjaya yang ingin mengunci pintu kamar.
Karena sudah berpapasan, Rafli lebih dulu melepaskan tembakan hingga menewaskan pria yang mencoba membuka pintu.
Sedangkan yang lainnya segera berlindung,
waktu sepersekian detik itu langsung saja di manfaatkan oleh orang tua tersebut untuk mengunci pintu.
Tak lama kemudian, terdengar suara ledakan dari dalam apartemen akibat bom yang sengaja di pasang oleh Rafly yang walaupun sudah tua, namun masih tersisa bekas-bekas saat dia berada di kemiliteran dulu.
Setelah meledakkan anak buah adiknya di dalam apartemen, segera orang tua Citra turun ke tempat parkiran dan mengambil mobil untuk segera berangkat ke Bandara dan langsung membeli tiket ke Tibet tempat dimana mereka akan bertemu dengan putri semata wayangnya.
.---***---. .---***---. .---***---.
Denis yang kini telah 3 minggu menyelidiki kawanan berjaket hitam, telah mendapatkan beberapa informasi yang akurat tentang markas dan pusat penelitian mereka.
Denis yang ingin segera kembali ke Pulau Sabang akhirnya singgah di kediaman pamannya yang sekarang berada di Washington DC.
Rencana nya Denis akan menginap selama 3 hari di situ. Namun di malam kedua dia berada di rumah pamannya, Denis menerima kabar dari Robert bahwa sekarang mereka semua telah berada di Tibet.
Denis yang penasaran akhirnya memutuskan untuk menyusul sahabat nya ke Tibet.
Keesokan harinya, Denis pamit kepada paman bibinya dan langsung menuju ke Tibet.
Sesampainya Denis di sana, tampaklah Robert, Melly dan Citra yang telah menunggu Denis di Bandara.
Setelah berjumpa, mereka segera berangkat menuju ke rumah kerabat Citra untuk bisa bercerita sejelasnya.
Begitu tiba di rumah, Denis yang merupakan seorang yang gigih dan berani, merasa takut juga bertemu dengan orang tua Citra yang telah berada di sana.
Namun setelah bertemu dan lama mengobrol dengan Rafli Sanjaya, segera mereka cocok dan Denis pun mulai mengutarakan hasrat hatinya untuk menikahi Citra.
Bak gayung bersambut, lamaran Denis di terima oleh orang tua Citra. Akhirnya mereka merencanakan pernikahan Citra dan Denis di Tibet dengan memakai tata cara pernikahan ummat muslim.
Karena Denis telah bersedia untuk masuk islam, maka namanya pun di tambah oleh ayah Citra menjadi Mohammed Denis Black Hawk.
BERSAMBUNG ...
__ADS_1