
"Kurang ajar, dia membawa Profesor Li, Hei, cepat selamatkan Ketua." Teriakan Rooney sambil memaki maki pasukan penjaga yang sangat takut kepadanya.
Sibuk lah para penjaga kesana kemari dalam kegelapan ruangan yang hanya mendapat cahaya matahari suram dari luar.
Teriakan demi teriakan terdengar kacau balau. Bahkan ada pasukan yang terinjak dan tersepak tubuh teman yang masih pura pura pingsan.
Seandainya lampu ruangan itu terang, sungguh lucu dan menjengkelkan melihat tingkah tingkah pasukan itu.
Tuan Boaz Immanuel kini telah di bawa keruang depan yang lebih banyak masuk sinar mentari oleh bawahannya.
Dengan gerakan kasar, Rooney melepaskan baju terbangnya dan baju terbang Liu Gan yang dipakainya untuk mengejar The Black Man.
Namun, hingga setengah jam dia terbang, The Black Man tak juga terlihat olehnya.
Akhirnya, dengan keputusasaan yang dalam Rooney kembali ke pulau dimana dua helikopter telah terlihat di depan bangunan yang akan membawa Tuan Boaz serta beberapa orang lainnya ke Rumah Sakit karena mengalami luka yang sangat serius.
.---***---. .---***---. .---***---.
John terbang di angkasa menuju ke arah yang membuat dia mengenangkan kembali kisah hidupnya.
John yang terbang memeluk seorang pria paruh baya berpakaian serba putih dengan jubah putih di luar pakaian nya yang berkibar kencang terkena angin akibat laju tubuhnya bersama John ke arah Timur.
John dalam pakaian The Black Man nya terhanyut kenangan masa lalu ketika tiba tiba sebuah suara menegurnya dengan lembut.
"Hei Nak, Turunkan Aku." Suara Prof Li terdengar lembut dan lantang seperti sudah sering di dengarnya.
"Di daratan depan aku akan menurunkan mu. Diam lah Pak Tua," John menghardik dengan suara yang dibuat buat.
"Hahaha, kau masih seperti dulu, kau tidak pernah berubah John." Ucapan Prof Li hampir saja menghempaskan mereka ke permukaan laut akibat kekagetan yang mempengaruhi John.
"Si,, Siapa,, Kau?" Tanya John setelah mampu mengendalikan dirinya kembali.
"Benarkah kau tidak kenal lagi dengan pamanmu?"
__ADS_1
Segera The Black Man meluncur di sebuah pulau kecil di tengah lautan luas itu mengarah ke bawah pohon kayu rindang di pinggir pantai sebelah barat.
Karena identitas aslinya telah dikenali, John membuka kacamata yang tersambung dengan penutup kepala karet yang di turunkan ke bahunya.
"Maaf, aku benar benar tidak mengenali anda. Siapakah anda Tuan?"
"Kalau kau tak mengenalku, mengapa kau selamatkan aku dari sana?" Tanya Prof Li.
"Aku hanya mendapat pesan Tuan Sam untuk menyelamatkan mu dari sana."
"Akulah yang menjadi mata mata pemerintah yang ingin mengakhiri kejahatan mereka." Seru Prof Li sambil duduk di akar pohon dengan posisi membelakangi John.
"Ah, kau,, Paman,,, Yeshe,,???" Seru John tiba tiba melihat benjolan sebesar telur puyuh di leher Profesor Li.
"Dengan wajah kaget Prof Li memandang ke arah John dengan tatapan heran kemudian tertawa lepas.
"Hahaha, John, kupikir kau telah lupa padaku." Ucap Prof Li yang memiliki nama asli Yeshe Arieli.
"Ah Paman, maafkan aku. Tadi benar benar mataku tak dapat mengenalmu."
Ketika lajang dulu, Prof Li atau Prof Yeshe Arieli jarang sekali berada di Tibet. Namun, setiap dia pulang dari Amerika, dia sering berkunjung ke rumah John di Tibet karena rumah mereka memang berdampingan.
Bahkan sampai John pindah di Bukit Ang Hwa, Arieli sering berkunjung setahun sekali ke tempat kediaman John yang tinggal bersama Guru dan Keluarganya di Bukit Ang Hwa/ Ang Hua San.
John segera memeluk paman jauh nya itu sambil menangis sesenggukan. Prof Li yang menepuk bahu John hanya mengalirkan air mata haru melihat anak yang dulu sering di timangnya kini telah menjadi seorang Pahlawan Super yang sangat terkenal di seluruh dunia.
"Bagaimana Paman Yeshe bisa,,"
"Mulai sekarang, panggil saja aku Paman Li atau Profesor Li."
"Baik Paman Li. Ceritakan lah, bagaimana Paman bisa menjadi mata mata Amerika?" Tanya John penasaran.
Prof Li atau Yeshe Arieli pun bercerita bahwa ketika dulu Charlie Sung menyerang ke Gunung Muji hingga mengorbankan seluruh keluarga John, Charlie Sung juga menghabisi seluruh keluarga Prof Li yang saat itu sedang berada di Amerika bersama Carolin istrinya yang merupakan adik kandung istri Senator Samuel Liden.
__ADS_1
"Ketika aku mendengar tentang musibah itu, aku berusaha untuk menghancurkan Charlie Sung, namun kabar yang ku dengar, Charli Sung tewas bersama komplotan nya oleh The Black Man yang ku yakin pastilah kau orangnya." Seru Prof Li semangat.
Prof Li melanjutkan ceritanya ketika dia sudah merasa puas atas kehancuran Charlie Sung dan antek anteknya, Kakak iparnya yaitu Samuel Liden yang menjadi anggota IAG menceritakan keterlibatan Boaz, Asher dan Malech yang bekerja sama dengan istri Charlie Sung yang di selamatkan The Black Man yaitu Nyonya Liu.
"Ah, jadi Nyonya Liu itu benar istri Charlie Sung?" Tanya John.
"Kau pikir kenapa dia memusuhi keluarga Senator dan keluargamu? Kenapa pula wanita licik itu membangun kembali pulau yang menjadi tempat kekasihnya tewas itu?"
"Kalau saja aku tau dia sejahat itu, tentu aku akan ... menyerahkannya ke polisi." Seru John geram.
"Yang sudah berlalu biarkan saja." Ucap Prof Li seraya menunduk.
"Lalu bagaimana bisa Paman menjadi Ilmuan mereka?" Tanya John penasaran.
"Memang keahlian ku di bidang bahan kimia dan mesin. Aku sengaja menyamar memasuki sarang mereka, namun mereka mengetahuinya dan hingga sekarang mereka mengancam ku." Jawab Prof Li.
"Mengancam bagaimana Paman?" John kembali bertanya.
"Anak anak dan istriku hingga kini mereka sekap di Changsha. Aku di paksa melakukan semua perintah mereka di bawah ancaman keselamatan keluargaku."
"Kalau begitu, Projek penghancur mereka kini benar benar telah Paman selesaikan?"
"Itulah yang membuatku susah John. Ketika uji coba, Projek itu benar benar kami lakukan dengan sebaik baiknya. Namun kini yang di produksi mereka adalah rumus yang telah ribuan kali gagal. Jika mereka mengetahuinya, maka keselamatan Bibi dan adik adikmu pasti terancam." Jawab Prof Li.
"Kalau begitu, cepat kita ke China Paman. Aku akan menyelamatkan keluarga Paman."
"Tempat itu di jaga ketat John. Bukan hanya oleh penjaga bawahan Nyonya Liu, pasukan Israel pun di tempatkan disana. Apalagi sekarang pasti ketiga Black Monster itu akan menuju ke sana."
"Jangan kuatir Paman, aku telah merusak baju seorang dari mereka."
"Kami membuat banyak baju terbang dengan dana yang di berikan oleh Boaz dan Malech, entah bagaimana nasib mereka nantinya." Ucapan Prof Li seperti tampak putus asa.
"Sebelum usaha, jangan dulu kita menyerah Paman, Ayo." John berkata sambil memeluk tubuh Prof Li dari belakang.
__ADS_1
Segera mereka berdua terbang cepat ke arah daratan Tiongkok, tepatnya ke kota Changsha.
Bersambung ...