
Pagi itu, John yang memakai jaket bertudung warna Abu-abu hitam kebiruan yang dulu dibuat oleh neneknya terlihat berjalan menuju ke terminal bersama 6 orang lainnya.
Mereka tak lain adalah Sarah yang menggandeng Lin Lin dan Wan Wan, Bu Citra yang memegang tangan Kenji dan Bu Melly yang kini tampak cantik dan matang dalam usianya yang sudah setengah abad itu.
"Kita sarapan dulu disini, terminal sudah di depan." Seru John kepada mereka.
Sarah dan yang lainnya segera mencari tempat duduk di sudut Restoran sedangkan John pergi memesan makanan.
Sambil makan, John menjelaskan rencana nya melakukan perjalanan ke Amerika melalui jalur darat dan udara dengan menggunakan kendaraan umum.
"Ibu, Bibi, apakah semua perlengkapan kita sudah siap?" Tanya John perlahan.
"Semua sudah di urus bibi mu John." Jawab Bu Citra sambil memakan makanan nya.
"Sudah siap semua, data dan izin kita ke Amerika telah bibi kasih ke Sarah. Bagaimana dengan tempat tinggal kita di sana John?" Bu Melly melanjutkan.
"Tenang saja Bik. Kalian di sana akan menempati rumah kakek di pinggiran Kota. Aku telah berkunjung dan melihat keadaan nya yang tenang dan nyaman, halaman serta pekarangan belakang pun sangat luas, bisa menjadi tempat berlatih yang baik buat mereka." Ucap John menjelaskan seraya menunjuk kepada tiga bocah yang duduk saling berdempetan satu sama lain.
Tak berapa lama, sarapan mereka pun kelar dan setelah membayar harga makanan, John segera menyusul keluarga nya yang telah jalan duluan.
Dengan ujung matanya, John melihat ada dua orang yang mengikuti mereka dari jauh.
Sesampainya John ke terminal dan berada di dalam Bus, dua orang misterius masih saja mengikuti mereka.
"Ada dua orang yang memata-matai kita,, jangan lihat." Seru John memberitahukan kepada Sarah yang duduk disampingnya.
Sarah yang ingin berpaling ke belakang mengurungkan niatnya. Mereka pun kini melanjutkan perjalanan hingga sampai ke Bandara Cut Nyak Dhien di pusat Kota Bandung.
.---***---. .---***---. .---***---.
"Apa yang menjadi kendalanya Profesor?" Seorang pria gagah bertanya kepada beberapa ilmuan yang ada di situ.
"Projeck MO2 (Emotu) tidak menemukan pembangkit daya yang memadai sehingga daya ledaknya paling hanya akan menjangkau beberapa ratus meter saja." Profesor Goldin menjelaskan.
"Baiklah, kita tunggu saja kabar dari Mr Asher beberapa hari lagi." Seru Tuan Malech tenang.
Setelah menyeruput kopi masing masing, sepuluh orang ilmuan itu kembali bekerja melanjutkan rakitan dan penelitian mereka hingga sore hari.
Beberapa saat menjelang terbenamnya matahari, para ilmuan telah bubar kembali ke bilik mereka masing masing.
__ADS_1
Di lain tempat di sebuah Laboratorium yang paling terkenal dan besar yang berada di pusat Kota Tel Aviv Israel, terlihat pula penelitian di lakukan oleh belasan Profesor Ahli yang dipimpin oleh Asher Benjamin sendiri sebagai Wakil Menteri Pertahanan Israel.
Seorang Jenderal yang berasal dari Eropa tampak berada di situ. Dia adalah Jenderal Hans yang menjadi salah satu pemimpin militer Jerman yang kini telah masuk menjadi salah seorang Anggota IAG yang sangat terhormat.
Bersama Asher Benjamin, Hans menjadi salah seorang penanggung jawab Projek besar itu setelah Malech dan Asher.
Belasan Profesor Ahli tersebut tampak sungguh sungguh dalam tugas penelitian mereka. Telah ribuan kali mereka mengalami kegagalan dalam uji coba. Namun, karena perintah Menteri Pertahan yang baru, mereka terpaksa melakukan penelitian ulang hingga ribuan kali uji coba lainnya.
Malam itu, sekitar pukul 11,00 barulah mereka menghentikan pekerjaan mereka.
Saat sedang duduk minum kopi, Profesor Greek berkata kepada mereka,
"Memang luar biasa otak dan penemuan Profesor Hawk, sudah puluhan tahun tidak ada yang bisa memecahkan komposisi campuran yang dibuatnya."
"Apakah anda tidak tau, Siapa Profesor Toni Hawk?" Tanya teman yang ada di sampingnya.
"Profesor Toni Hawk yang menjadi pakar para peneliti dulu?" Tanya Profesor Greek yang masih sangat muda itu.
"Baca buku ini, anda akan tau siapa Profesor Meshach," Jawab Prof Mark sembari menyodorkan sebuah buku.
.---\*\*\*---. .---\*\*\*---. .---\*\*\*---.
"John, berapa lama kita terbang?" Gadis cantik yang duduk disisinya bertanya.
Sarah melihat ke belakang dan bertanya,
"Bagaimana keadaan kalian?"
"Kami baik Subo, hanya telinga kami saja yang masuk angin."
Mendengar jawaban Wan Wan, Sarah tersenyum geli.
"Tidurlah kalian,"
"Baik Subo" Jawab mereka hampir serentak.
Melihat mereka semua telah tertidur, Sarah pun rebah disandaran kursi penumpang pesawat yang menuju ke Amerika setelah transit beberapa kali.
Sesampainya mereka di Amerika, John yang kini memanggil Taxi segera menghapiri keluarganya. Lin Lin dan Wan Wan yang sangat ceria menunjuk kesana sini memperlihatkan gedung gedung pencakar langit kepada Kenji.
__ADS_1
Sibuklah Kenji menghadapi dua gadis lincah yang beberapa tahun lebih muda darinya.
"Ayo naik," Ajak John kepada mereka bertiga.
"Baik Suhu." Jawab ketiganya serempak.
Sebenarnya, Lin Lin dan Wan Wan selalu di suruh untuk memanggil John dan Sarah dengan panggilan Paman dan Bibi, namun karena mendengar Kenji memanggil mereka berdua dengan panggilan Suhu dan Subo, akhirnya anak anak itu juga ikut ikutan.
Setelah menempuh perjalanan panjang, dua buah Taxi itu pun berhenti di sebuah Istana usang yang tampak angker.
Istana besar yang berada di atas tanah seluas hampir 4 hektare itu dikelilingi pagar tinggi yang juga lusuh warnanya. Tampak bangunan itu hanya cocok dihuni oleh hantu.
"Suhu, rumah ini menakutkan sekali. benarkah kami akan tinggal di rumah seram seperti ini?" Lin Lin yang terkenal lebih cerewet berkata kepada John.
Sarah yang melihat keadaan rumah tersebut ikut mengerutkan alis nya, begitu juga Bu Citra dan Bu Melly.
"Marilah masuk dulu, di dalam kalian pasti tak akan berkomentar sama sekali." Seru John dengan riang gembira sambil memanggul tas bawaan mereka ke dalam gerbang.
Benar saja, saat sampai di pintu besar Istana tua tersebut, mereka semua disambut seorang kakek yang nampak tampan meski sudah tua sekali.
Saat masuk, mulut Lin Lin, Wan Wan dan Kenji berdecak kagum.
"Ck ck ck ..., Wah, sangat jauh beda antara luar dan dalam nya." Seru Wan Wan sambil memandang bagian dalam Istana yang layaknya dihuni oleh pangeran atau sultan yang sangat kaya.
"Selamat datang di rumah kalian," Seru Kek Meshach yang berwajah ceria.
Bu Citra tampak terpelongo memandang wajah Kakek tua itu, begitu juga Melly. Mereka berdua masih berdiri di depan pintu.
Sementara John, Sarah dan tiga bocah yang berlari lompat lompatan terus masuk ke dalam.
"Masuklah Nak," Kembali ayah suaminya itu berkata sambil memandang nya.
Perlahan air mata menetes di pipi Bu Citra yang tak kuat menahan kesedihan hatinya melihat wajah ayah Denis,
"Ayah,,,,," Seru Bu Citra yang menubruk dan memeluk ayah mertuanya itu.
"Anak ku,," Seru Prof Meshach yang juga tak dapat menahan harunya teringat kepada putra dan nasib menantunya ini.
Melly menatap mereka berdua dengan linangan air mata. Setelah beberapa saat, ketiga keluarga yang baru berjumpa itu segera masuk ke dalam duduk di sofa empuk yang mewah dan wangi.
__ADS_1
Beberapa pelayan yang baru bekerja disitu, segera menyiapkan santap siang untuk mereka yang hingga kini masih tampak bercakap cakap di sofa sambil melihat Kenji, LinLin dan WanWan yang berlarian bermain sambil kejar kejaran di ruangan yang luas itu.
Bersambung ...