
Pagi itu, terlihat beberapa ilmuan dari berbagai negara berada di kediaman Robert. Saat itu Denis yang baru selesai sarapan bersama Rob dan Melly segera berkata,
"Rob, tolong ambilkan aku APTX (Apotoxin) dan Kalium"
Setelah melihat Robert mengangguk, Denis segera menuju ke Laboratorium pribadi milik Robert yang langsung mengambil apa yang di minta temannya itu untuk kemudian masuk ke Lab yang berjarak beberapa langkah dari rumahnya.
Denis yang kini sedang mencampurkan bahan-bahan Kimia dengan sangat hati-hati meminta bahan lainnya kepada Robert.
Beberapa sahabat Denis, para ilmuan lain pun turut hadir di sana membantu Proyek Denis.
Kali ini mereka tidak melakukan penelitian masing-masing. Namun mereka meneliti satu proyek gagasan Denis bersama-sama untuk mendapatkan hasil yang memuaskan.
Apalagi saat itu telah beredar kabar bahwa di China telah menyebar Virus Medulla secara besar-besaran.
Kebetulan salah seorang ilmuan teman Robert dan Denis yang berasal dari China bernama Chan Lung atau akrab disapa dengan Prof Chan tampak sangat antusias.
Setelah bekerja berminggu-minggu, akhirnya tiba lah mereka pada saat yang di tunggu-tunggu, yaitu saat uji coba serum yang diberi nama serum Medulla 01.
Pagi itu, Denis bersiap-siap menyiapkan perlengkapan dan hewan percobaan.
Mereka hanya mengambil seekor hewan saja, yakni seekor tikus putih yang berbobot setengah kilogram.
Setelah semua persiapan selesai, Denis di bantu yang lain segera melakukan uji coba pada Serum Medulla.
Beberapa detik telah berlalu dari penyuntikan Virus Medulla dan terlihat tikus tersebut perlahan-lahan melemah, kadang-kadang kejang dan di saat yang kritis itu, Denis segera menyuntikkan jarum berisi serum Medulla 01 yang diterimanya dari Robert.
Tidak butuh waktu lama mereka menunggu, segera terlihat reaksi yang sangat instan pada tikus itu.
Berbeda dari percobaan Denis dulu di Sabang, kali ini tikus percobaan tidak terlihat agresif.
Beberapa menit kemudian, Denis segera mengambil sampel darah tikus dan begitu di periksa, tidak ada sedikitpun bekas dari Virus Medulla yang awalnya di suntikkan.
Dengan sangat senang mereka bersorak sorai gembira dan saling berpelukan seraya menjabat tangan.
"Kini mari kita lakukan percobaan langsung kepada ku". Ucap Denis dengan senyum di bibirnya.
__ADS_1
Para ilmuan lain yang berasal dari Jepang dan Prancis merasa keberatan pada saat itu.
Ternyata mereka belum sempat mendengar cerita Robert dan Denis tentang kejadian Denis dulu di pulau Sabang.
Agar tidak membuat khawatir ilmuan lain, Robert segera menceritakan kejadian yang pernah menimpa Denis dulu.
Setelah mendengar kisah Denis yang pernah terjangkit Virus tersebut disebabkan gigitan seekor tikus percobaan, maka mereka pun setuju.
Tak lama kemudian, di suntikkan lah Serum M01 (Medulla 01) ke tubuh Denis yang menyebabkan Denis pitam dan langsung terjatuh kejang. Tak lama kemudian, Denis mengalami pingsan selama dua jam.
Kini para sahabat Denis telah membawa nya ke ruangan sebelah yang berada di rumah Robert.
Denis pun di baringkan oleh mereka di sana dan mereka menunggu dengan hati tegang sambil terus memeriksa Denis menit ke menit.
Setelah dua jam pingsan, Denis kini terbangun dengan perlahan-lahan dan merasakan tubuhnya sangat prima.
Mereka segera mengambil Sampel darah Denis dan kembali ke Laboratorium untuk menelitinya.
15 menit kemudian, mereka keluar menemui Denis dan berkata bahwa Virus Medulla di tubuhnya telah bersih.
Para ilmuan lainnya tersentak kaget melihat Denis mengiris telapak tangannya. Mereka pikir Denis telah menjadi gila di sebabkan serum M01 yang disuntikkan ke lengannya.
Namun tidak dengan Robert yang memang sudah tau apa maksud Denis melakukan hal itu.
Denis melihat luka yang sedikit mengeluarkan darah dan Denis tersenyum melihat tangannya yang berdarah.
"Tidak sia-sia usaha kita, sekarang kita bisa memproduksi serum M01 secara massal dan di kirimkan ke China dan tempat-tempat dimana Virus Medulla berkecamuk. Serum M01 ini mesti terus kita produksi hingga aku dapat menumpas habis Charlie Sung dan seluruh Kolega serta antek-anteknya". Ucap Denis setelah merapikan perban yang di balutkan di telapak tangannya.
.---***---. .---***---. .---***---.
Sepintar-pintarnya tupai melompat, pasti akan jatuh juga.
Sepandai-pandainya orang menyembunyikan durian, pasti akan tercium juga.
Walaupun sudah beberapa tahun tinggal di daerah pedesaan Tibet bersembunyi melarikan diri dari Indonesia.
__ADS_1
Citra dan orang tuanya akhirnya di temukan juga oleh mata-mata utusan Adi Sanjaya yang bekerja sama dengan Charlie Sung, pimpinan Black Heart Organisation ( BHO ).
Sore itu, terlihat beberapa orang mendatangi sebuah rumah dan mengetuk pintu.
Saat pintu di buka, ternyata bukan wajah Indonesia yang membuka, namun orang pribumi asli Tiongkok dan Tibet yang membuka pintu.
Sekelompok orang tersebut kemudian kembali melanjutkan ke rumah selanjutnya hingga tiba di rumah yang di diami oleh Citra dan orang tuanya kini.
Begitu pintu rumah terbuka, kelompok tersebut pun melewatkan rumah Citra, kenapa mereka tidak masuk dan memeriksa?
Rupanya yang membuka pintu rumah Citra adalah Han Lojin yang beberapa hari lalu telah sampai dan tinggal disitu.
Ternyata dari tempatnya bertapa, Han Lojin mendapatkan firasat agar mencari seorang murid untuk di gembleng dengan ilmu beladiri yang kelak diharapkan akan menjadi penerusnya dalam memberikan pertolongan kepada manusia yang membutuhkan pertolongan.
Namun sebelum Han Lojin pergi mencari ke pelosok Negeri China, terlebih dulu Han Lojin singgah di rumah kediamannya di pedesaan Tibet dimana terdapat kerabatnya dan anak perempuan yang dulu pernah di angkat anak oleh Han Lojin disitu.
Setelah tiba di rumah Citra, tanpa sengaja Han Lojin melihat John dan saat Han Lojin meraba tubuh John, ternyata John mempunyai struktur tulang yang sangat bagus untuk bisa menjadi Pendekar Ahli bahkan mungkin kemampuannya kelak akan jauh melebihi Han Lojin yang kini sangat ingin menjadi Gurunya.
Karena bahaya semakin mendekat, Citra segera menelepon Denis di London dan menceritakan keadaan di Tibet. Denis pun menyerahkan seluruh keluarganya kepada Han Lojin agar dapat diamankan.
Dengan segera, Han Lojin membawa Citra, ayah dan ibu serta John ke dalam hutan di puncak bukit bunga merah.
Di sana mereka tinggal di bawah pohon yang sangat besar dan rimbun, tak lupa pula Han Lojin membawa bekal makanan serta obat-obatan untuk bekal.
Namun beberapa hari di situ, ayah Citra yang memang sudah sangat tua mengalami sakit.
Han Lojin segera memberikan obat-obatan alami. Selang seminggu kemudian, Rafly Sanjaya pun telah pulih dari sakitnya.
Namun 2 hari kemudian, ibu Citra yang malah meninggal, mungkin saja karena kecapekan mengurus suaminya.
Apapun alasannya, pastinya semua itu bisa terjadi karena Allah telah menetapkan demikian.
Karena apabila telah datang ajal seseorang, maka tak ada yang bisa menundanya dan mempercepat prosesnya walaupun sesaat.
Semua adalah kehendak Sang Khaliq, Allah Yang Maha Pencipta segala ciptaan.
__ADS_1
BERSAMBUNG ...