THE BLACK MAN

THE BLACK MAN
Rencana Yang Kelam


__ADS_3

Tak jauh dari Pantai Miami di Florida, di sebuah pulau yang kini dikuasai oleh Nyonya Liu dan Menhan Israel bernama Malech Mechiah terjadi beberapa hal selama setahun ini.


Setelah Projek besar yang mereka rencanakan gagal beribu ribu kali, hari ini seluruh penghuni pulau kecil itu bertepuk tangan bersorak sorai karena uji coba mereka kali ini mendapatkan kemajuan.


Tuan Boaz Immanuel yang telah melarikan diri dari pusat penelitian di Israel akibat amukan The Black Man setahun lalu itupun kini tampak hadir di samping Tuan Malech dan Tuan Liu.


"Kapan produksi besar besaran akan dilakukan?" Tanya Tuan Liu atas bisikan istrinya.


Tuan Malech sebagai Menhan Negara Israel melihat ke arah Tuan Boaz yang lebih tua darinya menanti keputusan.


"Produksi besar besaran tidak dapat kita lakukan disini. Kita harus memindahkan tempat produksi ke daerah yang terpencil dan sulit untuk di jangkau." Seru Boaz dengan wajah serius.


"Aku tau tempat yang sunyi dan sulit di jangkau, Himalaya." Seru Nyonya Liu spontan dengan wajah tertawa bangga.


"Sungguh pemikiran yang bodoh, kau pikir kita harus sembunyi dari siapa ha? Malah ke tempat dimana dia berasal." Seru Boaz yang masih dongkol kepada Nyonya Liu karena kematian adiknya.


"Maaf Ketua, aku tidak tau kalau kita harus bersembunyi ketakutan dari Siluman Hitam itu." Seru Nyonya Liu menunduk dengan nada mengejek.


"Kau diam lah saja, harusnya kau memasak saja di belakang." Ucapan Boaz seakan menikam tepat di jantung Nyonya Liu.


Dengan langkah lebar, Nyonya Liu segera melangkah keluar ruangan itu menuju kamarnya di belakang bangunan besar.


Tuan Liu yang merasa tak enak hati memberanikan diri.


"Maaf Ketua, aku harus menyusul istriku sebentar."


Hanya dengan anggukan saja Boaz menjawab perkataan Tuan Liu.


Semenjak kematian adiknya, seluruh personil khusus dikerahkan oleh Menhan untuk mencari The Black Man.


Namun, karena pencarian mereka tidak di dukung oleh masyarakat dimana mana, maka hingga setahun, persembunyian The Black Man belum juga diketahui.


Harapan mereka satu satunya hanyalah Tuan Samuel Liden. Namun beberapa bulan yang lalu, Samuel pun tak pernah terlihat di kantornya yang berada di New York dan Washington DC.


Tak berapa lama mereka berbincang masalah rencana produksi penelitian mereka, dari jauh tampak tiga titik hitam mendekat ke arah pulau.


"Lapor ketua, Tuan Rooney, Jin Hung dan Liu Gan mohon menghadap." Salah seorang bawahan melapor kepada mereka.


"Suruh mereka masuk," Seru Boaz Immanuel.

__ADS_1


Tak lama kemudian, tampak duduk di hadapan mereka tiga orang aneh.


Rooney terlihat menyeramkan dengan kulit tangan melepuh. Kini pakaian yang terbuat dari baja ringan menutupi dari kaki hingga sampai ke leher sebatas pergelangan bahu.


Mesin besar tergantung di belakangnya dengan rakitan senjata gabungan melingkar lingkar di pergelangan tangannya.


Di samping nya duduk pula seorang lainnya, dia lah Liu Gan dengan mata sipitnya. Warna kehitaman di wajah dan lengannya terlihat sedikit lebih pudar dari Rooney.


Yang paling aneh adalah orang yang ada di samping Liu Gan bernama Xi Jin Hung. Pria botak bekas wakil dalai lama ini memiliki tampang paling menyeramkan.


Jin Hung tanpa semprotan cairan saja sudah sangat menyeramkan. Apalagi kini setelah kulitnya berubah melepuh bintik berair dengan mesin sama seperti di punggung Rooney namun sedikit lebih kecil.


"Wah, sekarang, dengan adanya kalian sebagai penjaga, kami tak perlu lagi khawatir dengan gangguan The Black Man. Bagaimana kemampuan dua orang sahabatmu ini Rooney?" Tanya Boaz yang menjadi pimpinan terbesar di situ.


"Dengan kami bertiga, tak usah khawatir dengan The Black Man Ketua, kami sanggup menghancurkannya." Jawab Rooney dengan wajah sombong.


"Baiklah, keputusan sudah di buat, kita akan melakukan Produksi besar besaran di pegunungan Himalaya. Dari sana kita akan mulai melakukan serangan Reboisasi besar besaran di seluruh Asia di lanjutkan di Eropa dan Amerika." Mendengar keputusan Boaz, semua orang meninggalkan ruangan tersebut kecuali Boaz, Malech dan ketika Black Monster.


"Ada masalah apa?" Tanya Boaz.


"Kami menemukan bukti bukti rencana pengkhianatan Komandan Hans."


"Aku sudah tau hal itu. Hanya bukti bukti belum kuat. Target utama kita adalah Eropa. Setelah itu baru Amerika dan selanjutnya Asia. Hal ini sengaja tidak ku katakan tadi agar Hans mendapat kejutan." Seru Boaz dengan senyum licik di mulutnya.


"Maaf Ketua, Nyonya Liu kenapa?" Tanya Rooney.


"Jangan kau ambil pusing. Katakan saja kepada atasanmu itu, ikuti saja permainan ku."


"Baik Ketua." Jawab Rooney berbareng dengan anggukan kepala Liu Gan dan Jin Hung.


.---***---. .---***---. .---***---.


"Kenji, Lin Lin, Wan Wan, kemarilah kalian, duduk." John memanggil ketiga muridnya.


"Ada apa Suhu?" Tanya Kenji setelah duduk di atas rerumputan hijau yang tebal itu.


"Besok aku akan pergi ke sarang musuh, aku berpesan kepada kalian, patuhilah Subo sepenuh hati. Jangan membantah apapun kata katanya. Anggaplah dia seperti ibu kandung kalian sendiri." John berkata tegas.


"Apakah Suhu akan pergi lama?" Tanya Lin Lin khawatir.

__ADS_1


"Mungkin sebulan, atau berbulan bulan, atau bisa jadi bertahun tahun. Musuh ku banyak dan hebat hebat. Selalu tanamkan kebaikan di hati kalian. Kelak, jika aku tidak pulang, kalian jagalah Subo, Nenek dan kakek kalian."


"Izinkan aku ikut Suhu," Seru Kenji menahan keharuan hatinya.


"Kau masih terlalu kecil Kenji. Belajarlah yang rajin, kelak akan tiba masanya kau melanglang buana."


Linangan air mata di wajah ketiga muridnya membuat John terharu. Sarah yang ada di dekat mereka telah menangis dari tadi tanpa suara. Hanya deraian air matanya saja yang terlihat menetes.


"Suhu (Pak Guru), Subo (Bu Guru), Saya mengucapkan terimakasih banyak atas kebaikan budi anda berdua." Kenji membungkuk seraya berlutut kepada John dan Sarah menahan keharuan hatinya.


"Bangunlah Kenji, doakan saja kita dapat berkumpul lagi bersama sama kelak." Ucap John menahan runtuh nya air mata.


Kenji memaksa diri bangun dan begitu melihat wajah Gurunya, kesedihan di hatinya menyesak hingga suara tangisan nya terdengar nyaring.


Kenji menubruk kedua orang yang ada di depannya itu. Sambil memeluk dia berkata.


"Suhu, jangan pergi dulu. Tunggulah aku dewasa kita pergi menghadapi musuh bersama sama."


"Tabah kan hatimu Kenji, kalian juga. Jangan larut dalam duka. Hanya doa saja yang kita butuhkan sekarang."


Perlahan lahan, keharuan hati mereka dapat mereda. Setelah semua tangis terdiam, John bangun melangkah kan kakinya ke arah belakang rumah besar kakeknya.


Pada pandangan Sarah dan tiga muridnya, bayangan John itu tampak pergi menjauh, Jauh sekali hingga seakan akan mereka tak kan pernah dapat berjumpa lagi.


Malam itu, suasana tenang dan tentram saat keluarga John makan malam.


"John, selesai makan, buka seragam mu, biar aku memeriksa bagaimana mereka dapat membuat seragam secanggih itu." Seruan Kek Meshach terdengar jelas lantaran tidak ada suara lainnya di ruangan tersebut.


"Baik Kek." Jawab John yang telah menghabiskan makannya.


Malam itu, John menjelaskan kepada Tuan Meshach bagaimana cara kerjanya baju itu. Dia juga mengatakan, dulu John sempat gagal mengontrol baju tersebut karena pengaruh racun yang menutupi selaput otak nya.


Setelah dia mengunyah batu bintang seperti dalam mimpi neneknya, John baru berhasil menerbangkan seragam canggih tersebut.


Hampir penuh satu buku tebal Kek Meshach menuliskan bahan dan komponen komponen yang terdapat pada Uniform tersebut hingga lewat tengah malam, barulah mereka berdua tidur ke kamar nya masing masing.


Entah mengapa, Tuan Meshach pun merasa sedih hatinya melihat keputusan John yang akan menghadapi musuh musuh dunia itu seorang diri.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2