
Di Kota Bandung sedikit ke arah puncak yang dekat dengan daerah pegunungan dimana kebun teh dan kebun lainnya tampak subur, terlihat seorang gadis cantik yang sedang melatih seorang bocah botak yang tampan berusia 8 tahun dan dua orang anak perempuan berwajah oriental yang cantik.
Sarah hari itu melatih murid muridnya yang juga menjadi murid suaminya di alam yang luas jauh dari manusia lainnya.
Dari tempat mereka berdiri, tampak sebuah rumah yang kecil dibawah yang menjadi rumah mereka dimana dua orang ibu sedang bercakap cakap dengan tenang.
Di tempat yang tinggi itu, Sarah mulai melatih ilmu pedang kepada bocah lelaki yang biasa di panggilnya Ken Ji itu menurut petunjuk Kitab Pedang Sian Liong yang ikut dibawa John saat kembalinya kemarin dulu ke situ.
Sarah juga memberikan ilmu dasar menghimpun tenaga dalam kepada kedua gadis cilik yang dipanggilnya Lin Lin dan Wan Wan yang kini di anggap anak oleh nya.
Ilmu Pedang Sian Liong (Dewa Naga) memang sangat hebat. Kenji yang berlatih dengan pengerahan tenaga yang telah diajarkan oleh mendiang Sianjin Lama dulu tampak begitu hebat meski Pedang Pusaka Sian Liong yang dipegangnya terlihat sedikit lebih besar dengan postur tubuhnya yang masih 8 tahun, namun tenaga yang dihasilkan tidak kalah hebatnya dari orang dewasa yang ahli sekalipun.
Setelah matahari naik tinggi hampir tengah hari, mereka berempat pun pulang berlomba lari dari tebing menurun tepian gunung itu menuju ke bawah dimana Nek Citra dan Nek Melly sedang menunggu Lin Lin dan Wan Wan yang sangat disayanginya.
Sesampainya mereka berempat disitu yang tentu saja dimenangkan oleh Kenji, mereka segera disambut oleh kedua wanita setengah tua yang dipanggilnya nenek.
Lin Lin di peluk oleh Nek Melly, sedangkan Wan Wan yang paling kecil dan manja dipeluk oleh Nek Citra. Tampak raut kesedihan dari wajah Ken Ji yang langsung masuk memasuki kamar.
Mendapat isyarat Sarah, kedua ibu itu memandang ke arah Kenji yang melangkah dengan tak bersemangat kedalam kamar.
Sesampainya ke kamar, Kenji menitikkan beberapa air mata. Sarah yang tiba tiba masuk berkata kepada nya,
"Mengapa kau menangis Kenji?"
"Tidak apa apa Subo (Bu Guru), saya hanya teringat kepada keluarga saya."
"Jangan bersedih Ken Ji (Nak Ken), sekarang kami semua adalah keluargamu."
"Saya hanya merasa alangkah bahagianya seperti Adik Lin Lin dan Adik Wan Wan yang masih mempunyai Nenek yang begitu sayang kepada mereka."
"Kau salah Kenji, Seluruh keluarga Lin Lin dan Wan Wan telah tewas semuanya menjadi korban perang, Nek Citra itu adalah ibu kandung Suhumu dan Nek Melly adalah Ibu kandung ku. Sedangkan Lin Lin dan Wan Wan adalah keponakan angkat kami." Mendengar penjelasan Subo nya, kesedihan Kenji tampak memudar.
"Jika begitu, kenapa Nenek berdua hanya sayang kepada Adik Lin dan Wan Wan saja. Apakah mereka berdua benci padaku karena aku ... botak Subo?" Tanya Kenji polos.
Pada saat itu, Nek Citra dan Nek Melly masuk menggandeng Lin Lin dan Wan Wan.
"Kami sangat menyayangimu Kenji, kau sudah kami anggap seperti cucu sendiri. Namun karena kau merupakan calon pemimpin besar kelak, kau harus bisa mengatur perasaanmu dan tak terikat dengan dunia." Seruan Bu Citra membuat Kenji terharu dan memeluk paha Nek Citra yang sedang berdiri itu.
Nek Melly juga tampak mengelus kepala botak nya dan berseru,
__ADS_1
"Masak cuma gara gara botak, kami tidak menyayangimu?"
Pecahlah tawa mereka berenam dalam ruangan kamar yang sederhana dan bersih itu. Tak lama kemudian, mereka semua telah makan siang bersama setelah Kenji, Lin Lin dan Wan Wan mandi dan mengganti pakaian mereka.
.---***---. .---***---. .---***---.
John yang memakai pakaian pelayan yang rapi dan lengkap dengan dasi kecil yang dapat menyembunyikan Uniform The Black Man nya kini di masukkan kedalam ruang besar dan indah.
Beberapa kali John mampu keluar dan ditangkap kembali oleh mereka. Rooney berkata geram kepadanya,
"Sebenarnya apa yang kau inginkan? Jangan buat kesabaran ku habis dan terpaksa membunuhmu,"
"Apa kau kira mampu membunuhku bajing*n? Kalau tidak mengingat perintah atasanku, sudah dari tadi ku bunuh kalian semua," Ancam John yang memang sengaja ingin mempermainkan mereka.
"Bicaramu sungguh besar anak muda, coba kau perlihatkan bagaimana akan menghadapi kami,,," Belum habis perkataan Rooney, John segera melesat cepat merebut semua senjata dari tangan Rooney dan ke 6 bawahannya.
Dengan kaget dan ternganga, Rooney yang melihat semua senjata ditangan mereka berhasil dilucuti dalam waktu beberapa detik saja memandang pucat ke arah John yang tampan.
"Sebenarnya siapa kau," Bentak Nyonya Liu yang kini agak ingat ingat lupa dengan suara bentakan John tadi.
"Tidak penting kalian tau siapa namaku. Aku di utus oleh atasanku untuk mengecek tawanan dibawah sini. Antarkan aku kesana cepat." Seru John yang memang tadi mendengar percakapan Nyonya Liu dan suaminya tentang tawanan dibawah tanah.
"Cepat,,, apa kalian pikir aku tidak mampu memaksa kalian semua? Namun mengingat hubungan antara kita, lebih baik cepat, aku hanya ingin memastikan tawanan itu baik baik saja."
Akhirnya, karena tidak mau berurusan dengan Tuan Malech yang mempunyai pasukan sehebat ini, mereka pun memenuhi permintaan John dan mengantarkannya ke ruang tahanan yang berada paling ujung di bawah tangga.
Begitu pintu dibuka, Senat Samuel terkejut dan berkata,
"The,,,"
"Diam kau penjahat," Teriak John kepada Senator Samuel Liden yang langsung diam tak berkutik.
Setelah John melangkah masuk, mereka segera mengurung John didalam atas perintah Nyonya Liu yang berseru,
"Kurung, aku ingat sekarang, dia The Black Man."
Seluruh penjaga dan Rooney sendiri segera mundur tersentak mendengar ucapan Nyonya Liu, seakan akan mereka semua takut ditarik oleh John yang kini mereka ketahui adalah The Black Man melalui jeruji besi di pintu masuk itu.
Segera Nyonya Liu memerintahkan menjauh dari pintu baja kuat itu dan menyuruh melakukan penjagaan ketat dengan menambah personil di ruang bawah tanah.
__ADS_1
Nyonya Liu yang tak jadi menikmati indehoi bersama Rooney segera naik ke atas menghubungi Tuan Malech bersama Rooney di kamarnya.
John yang kini berada di ruang tahanan, meminta maaf atas bentakannya kepada Pak Samuel yang juga meminta maaf karena telah membocorkan rahasia penyamarannya.
Kini John melihat wajah orang tua di samping Senat Sam yang juga memandang John dengan mata terbelalak.
John seperti melihat ayahnya yang kembali hidup dengan wajah kusam dan jauh lebih tua di penuhi kumis dan jenggot serta rambut putih bercampur keperakan sedikit keemasan panjang terurai ke bahu.
Sedangkan Kek Meshach seperti memandang wajah putranya yang memiliki rambut yang hitam serta sedikit campuran asia yang tampak pada bola mata dan tarikan bibirnya yang indah.
Hanya Pak Samuel yang melihat begitu kental persamaan antara kedua Kakek dan Cucu yang ada di dekatnya itu.
"Cucu ku," Seru Kek Meshach dengan getaran suara penuh kesedihan mengingat putranya.
"Kakek?" Pertanyaan John dengan suara aneh pula terasa menggetarkan perasaan.
"Ya, aku kakek mu John. Ayah Profesor Denish Black Hawk." Ucap Kek Meshach dengan air mata berderai dan langsung memeluk erat cucunya tersebut.
Memang, Kek Meshach telah diceritakan oleh Senator Samuel tentang anaknya yang telah menumpas Virus Medulla dulu dan mendapat gelar Profesor dibantu banyak temannya. Senator juga menceritakan sedikit tentang John yang diketahuinya.
Setelah melepas kerinduan dengan cucunya, Kakek itu pun bertanya tentang seluruh kehidupan John dan keluarganya.
John yang duduk mengusap air matanya, menceritakan dengan penuh haru dimana saat sebelum lahir, orang tuanya sudah hidup sebagai buronan mafia dikejar kejar kesana kemari.
Hingga saat kelahiran John pun dia mengalami penyakit keanehan yang diturunkan oleh ayahnya. Seluruh cerita kehidupan yang didengar dari ayah, ibu, kakek dan gurunya di ceritakannya semua.
Hingga bertahun tahun John belajar dibimbing gurunya yang dikenal nya sebagai Han Lojin di puncak gunung Muji di Himalaya.
Setelah usianya belasan tahun dia mendapatkan teman seperguruan yang kini menjadi tunangan nya dan betapa ayahnya yang berhasil membuat kan baju ajaib yang kini di hadiahkan kepadanya oleh ilmuan ilmuan hebat yang tewas dalam penyerangan Charlie Sung dan jadilah dia seorang Pahlawan yang di kenal oleh dunia dengan nama The Black Man hingga dia berhasil menumpas The Dark Man yang mengancam keluarga Senat Sam dan di sanalah dia berkenalan dengan Barbara dan Senator Sam.
"Maaf Profesor, John, bagaimana keadaan Barbara sekarang?" Tanya Senat Sam yang memotong cerita John saat mendengar nama Barbara.
"Barbara sekarang berada di rumah bibinya Pak, setelah melihat rekaman CCTV itu, Berbara terpukul dan meminta tolong kepadaku menyeliki tentang anda hingga kini penyelidikan ku membawa ku ke sini." Ucap John yang membuat hati Senat Sam tenang.
"Mari kita mencoba keluar dari sini," Seruan John membuat Senat Sam berkata,
"Jangan dulu John, apa gunanya jika kita keluar dari sini tanpa kakek mu? Mungkin kau akan berhasil melewati penjagaan ketat itu. Bagaimana dengan kakek mu yang puluhan tahun telah terkurung dan menderita disini? Meskipun aku mati asal Barbara dapat kau jaga aku tidak masalah, namun pikirkan lah kakek mu." Seruan Pak Samuel menyadarkan John.
Mereka terkurung berhari hari didalam ruangan yang remang dengan makanan dan minuman yang selalu diantarkan oleh para penjaga khusus ruang bawah tanah itu.
__ADS_1
Bersambung ...