
Buat teman-teman semua, jangan lupa di like dan beri love nya buat kami dan terus dukung kami dalam melakukan penulisan cerita yang akan menghibur semuanya.
*****-----*****-----*****-----*****-----*****-----*****
"Permisi, bisakah aku bertemu dengan Dalai Lama?" Ucap John seraya mengacungkan kedua belah tangannya yang di rapatkan ke depan dada.
"Saudara siapa? Ada perlu apa menjumpai Pemimpin kami?" Jawab salah seorang pendeta lama dengan pertanyaan pula.
"Dia adalah The Black Man, pembela kebenaran". terdengar suara seorang kakek yang sangat berwibawa dari rumah induk dan tak lama kemudian, tampaklah seorang kakek yang berbadan tegap sedang berjalan ke arah John.
Usia kakek yang biasa di sebut Sinjin lama itu kira-kira 89 tahun. Namun kulitnya masih tampak seperti bayi yang putih kemerah-merahan dengan wajah bulat dan jenggot serta kumis putih memanjang.
"Silahkan masuk anak muda" Seru Sinjin Lama seraya merentangkan tangannya ke arah rumah induk.
Melihat wibawa yang sangat besar dalam diri kakek itu, John yang masih berada dalam wujud The Black Man mau tidak mau segera membungkukkan sedikit badannya ke arah Sinjin Lama.
Dengan langkah perlahan, John berjalan ke dalam rumah di iringi Sinjin Lama beserta beberapa Pendeta Lama tingkat atas yang berjalan di sampingnya.
"Mari" Ucap John.
Setelah John dipersilahkan duduk oleh Tuan rumah, segera Sinjin Lama bertanya,
"Apakah anda utusan Angkatan Militer di luar sana?"
"Tidak Sian Jin (manusia setengah dewa), saya tidak terikat dengan kelompok mana pun. Justru kedatangan saya kemari ingin menanyakan kepada Sianjin sebenarnya ada hal apa sehingga tampak Militer Tiongkok seperti hendak menyerang kerajaan Bhutan dan para tetua yang ada disini".
"Apakah anda dapat kami percaya?"
"Tentu saja, karena selama ini tentu Sianjin lebih mengetahui siapa dan bagaimana saya sebenarnya". Jawab John.
"Semua kecurigaan ini bermula saat Wakil kami berkhianat dan membawa nama para Pendeta Lama ke kancah Pemerintahan Internasional" Jelas Sinjin Lama.
Lantas, kakek tua yang menjadi orang nomor satu di Tibet itu melanjutkan ceritanya kepada The Black Man.
__ADS_1
Sekitar 6 bulan yang lalu, utusan Perdana Menteri beserta beberapa orang Aparat Pemerintahan China mendatangi kediaman para Pendeta Lama di sana.
Saat itu, Sinjin Lama sedang menyempurnakan pertapaan nya di kamar khusus di sana. Lalu para utusan Perdana Menteri dan Aparat Pemerintah di terima oleh Mojin Lama yang menjadi Wakil Pemimpin Pendeta Lama.
Entah percakapan apa yang terjadi, yang di ketahui oleh para Pendeta Lama termasuk Sinjin Lama adalah bahwa Pemerintah Tiongkok menawarkan agar praktik keagamaan di hapus kan di Tibet dan mereka segera bergabung dengan Aliansi Komunis Tiongkok.
Saat hal itu di sampaikan oleh Mojin Lama kepada Sinjin Lama, Sang Ketua Lama itu marah besar dan tidak menerima usulan gila tersebut.
Namun tak lama berselang waktu, Aparat Kemiliteran beserta Jenderal Perwira segera datang dan mengancam akan membombardir seluruh kuil Pendeta Lama dan menumpas mereka semua.
Saat itulah, Mojin lama terang-terangan mengumumkan bahwa mereka bersedia menerima peraturan baru Pemerintah Tiongkok tersebut. Namun karena hal itu, terjadilah perkelahian perebutan kursi Ketua Pendeta Lama antara Mojin Lama dan Sinjin Lama.
Dengan kecurangannya, Mojin Lama mampu mengalahkan Sinjin Lama dan peraturan itupun berlaku mulai saat itu.
Mojin Lama yang kini telah merubah namanya menjadi Xi Jin Hung segera ikut bergabung dengan Pemerintah Tiongkok. Namun kebanyakan para Pendeta Lama tetap bertahan di bawah kepemimpinan Sinjin Lama yang selalu mendapatkan teror dan kecaman hingga tiba hari ini mereka telah di kepung oleh Kemiliteran Tiongkok.
Mendengar cerita seperti itu, John segera berkata,
"Tetapi bukankah undang-undang melindungi hak setiap warga negara dan para pendeta di sini memeluk agama?"
"Benar anak muda, namun hal itu hanyalah Formalitas yang di jalankan dihadapan umum dan dunia. Secara tersembunyi, mereka terus saja mengembangkan paham nya ke seluruh penjuru dunia".
Kini John pun paham tentang permasalahan yang terjadi. Setelah selesai menanyakan permasalahan saat itu, The Black Man segera terbang melalui bagian belakang bangunan besar itu melewati pagar tembok tinggi yang berbatas jurang yang sangat dalam.
John sengaja melakukan hal itu karena supaya para Komandan Militer di luar sana tidak melihatnya keluar.
Sehingga mereka semua mengira ada The Black Man di dalam komplek kuil tersebut.
Segera John terbang dengan cepat ke Kota Beijing melalui hutan, jalan terpencil dan telaga serta perairan yang terbentang antara Tibet dan Beijing.
Sesampainya John di sana, dia segera pergi ke gedung induk Kementerian Tiongkok.
Tak perlu waktu lama bagi John untuk bisa menemukan Perdana Menteri Liu dan bertanya tentang kemiliteran yang telah di kirim ke sana.
__ADS_1
Saat itu, Menteri Liu beralasan bahwa hal itu merupakan perintah langsung Presiden maka John segera pamit izin untuk menemui Presiden.
Namun betapa kagetnya John ketika tiba-tiba sebuah kurungan besar dari baja keluar dari dalam lantai dan kini, The Black Man telah terkurung dalam kandang baja berukuran 2x2 meter persegi.
Di dalam kantor besar yang memang ternyata telah lama di rancang untuk penangkapan The Black Man itu kini muncul sepuluh orang.
Terlihat di antara mereka berdiri seorang wanita yang tidak lain adalah Nyonya Liu bersama suaminya dalam keadaan menyeringai.
Terdapat pula seorang yang gundul kepalanya bermuka hitam dengan pakaian yang sangat necis, dia adalah Mojin Lama yang kini telah menjadi salah seorang pentolan Aliansi Komunis Tiongkok bernama Xi Jin Hung.
Ada pula beberapa orang lainnya yang tidak begitu dikenal oleh John.
Dengan sangat emosi, John segera mencoba menghancurkan kerangkeng jeruji tebal itu. Namun, betapa kagetnya John yang biasa nya mampu mematahkan mobil menjadi dua kini tak mampu berkutik terhadap jeruji besi baja tersebut.
Para musuh yang berada di luar kerangkeng besi tertawa terbahak-bahak melihat John tidak berhasil membuka atau mematahkan jeruji.
Saat itu, John teringat pesan suhunya dulu yang pernah berkata padanya,
"Kau telah mempunyai dua jenis kekuatan yang sangat besar, jika kau berhadapan dengan hal yang tak mampu kau hadapi, maka lihatlah apa itu dan dengan jenis yang mana kau mampu menghadapinya".
John kini segera duduk bersila dan memejamkan kedua matanya seraya memusatkan pikiran. Perlahan-lahan, para musuh di luar jeruji merasakan hawa panas yang makin lama semakin terasa hingga beberapa orang yang ada di dekat jeruji kini telah menjauh.
Di sana hanya tinggal tujuh orang bawahan Perdana Menteri China, Nyonya Liu dan suaminya serta Xi Jin Hung yang akhirnya keluar melarikan diri.
Sekitar 5 menit John bersemedi dan kini dia bangun dari duduknya seraya membuka matanya yang telah merah menyala.
Perlahan John mendekati jeruji yang terbuat dari baja itu dan memegang jeruji. Para penjaga kini telah berlarian kalang kabut saat menyaksikan jeruji baja itu meleleh saat di sentuh tangan John.
Tak perlu waktu lama, kini John segera menghajar seluruh penjaga yang tadi tertawa mengejeknya.
Dalam waktu yang tidak lama, semua penjaga dan bawahan Perdana Menteri Liu telah patah dan terluka di hajar oleh The Black Man.
Segera John terbang dengan memusatkan pikirannya untuk mengejar musuh yang kini secara terang-terangan ingin menghabisinya.
__ADS_1
BERSAMBUNG ...