
Dunia saat itu sudah mulai kondusif dari huru hara yang terjadi beberapa tahun yang lalu. Hari itu tampak beberapa pria sedang melakukan rapat bersama kepresidenan Amerika dan para senator dalam melakukan perbaikan perbaikan kepada Negara yang dulu terkena serangan yang banyak menewaskan manusia di seluruh penjuru dunia.
"Menurut pendapatku, kita harus melakukan rapat besar dan menunjuk sebuah badan dunia yang akan menanggulangi permasalahan besar ini Pak." Seru Senator Samuel Liden yang kini telah menjadi Ketua Senator.
"Baik lah, Tuan Samuel, hal ini kami serahkan padamu, siapkan laporan di meja ku sebulan lagi." Seru Tuan Presiden yang beranjak pergi dari ruangan itu.
"Pak, hari ini jadwal anda habis. Besok malam Bapak harus menjumpai Menhan Australia bersama wakil dari Senat beberapa Negara lain."
"Hantarkan aku ke bandara sekarang, aku ingin mengunjungi putri ku." Seru Samuel Liden yang langsung di antar ke pesawat pribadinya dengan menggunakan mobil dinas yang indah dan besar.
Empat jam kemudian, Samuel Liden telah tiba di kaki pegunungan Muji. Dia telah di tunggu oleh seorang manusia berpakaian serba hitam.
"Selamat datang ayah." Seru pria berpakaian hitam yang berdiri di atas angin beberapa kaki dari tanah.
"Apa kabar John?" Tanya Tuan Samuel.
"Baik, kami semua baik ayah. Silahkan," Seru John mempersilahkan Tuan Samuel menuju ke sebongkah batu besar yang terbuka.
Di dalam batu itu terdapat sebuah alat seperti mobil pemain golf berwarna hitam yang berhenti di atas rel panjang di mulai dari pintu tersebut.
Setelah John dan Tuan Samuel naik, pintu tertutup bersamaan dengan kendaraan tersebut yang meluncur dengan cepat terus ke atas hingga tak lama kemudian, Tuan Samuel dan menantunya itu tiba di sebuah pintu yang serupa di lantai rumah John.
Rumah yang lumayan besar berada di dataran tanah berbatu yang cukup subur. Dua kilometer dari situ terdengar suara air terjun besar yang meluncur deras tempat dimana John dulunya sering berlatih di bawah bimbingan Han Lojin yang kini terbaring di kawasan kuburan yang berada di samping rumah John.
"Ayah," Seru wanita cantik berambut pirang bermata biru kehijauan yang baru berusia 35 tahun.
Di samping nya terdapat seorang wanita lainnya yang tersenyum ramah kepada Tuan Samuel sambil mengangguk.
"Apa kabar Samuel?" Tanya seorang kakek tua yang menggunakan sebatang tongkat besi yang tampak ringan di genggaman tangan kanan nya.
"Baik Profesor, Anda sehat?"
"Ya, begitulah, seperti yang kau lihat Sam." Jawab Tuan Meshach sambil duduk mempersilahkan Samuel duduk di sisinya.
Tak lama kemudian, tampak dua orang anak keluar dari kamar sambil berlari lari kecil. Anak berusia 3 setengah tahun itu sangat berbeda kedua duanya.
__ADS_1
Yang satu tubuh nya berwarna hitam gelap seperti arang. Satu lagi putih kulitnya dan terlihat sangat tampan.
"Hei, bagaimana kabar mu Black and White?" Tanya Samuel sambil tersenyum menggendong anak yang sangat hitam itu.
"Baik Kakek." Jawab mereka hampir bersamaan.
"Pergilah ajak ibu main ke belakang." Seru Kek Meshach kepada kedua anak itu.
"Paman Profesor, sebenarnya apa yang terjadi dengan Anak itu? Mengapa semakin hari kulitnya semakin berubah." Tanya Samuel dengan suara pelan sambil menatap ke arah John secara bergantian.
"Black ** tidak apa apa, hanya kelainan pigmen kulit yang biasa terjadi akibat darah John yang telah keracunan."
"Kenapa White ** berbeda?" Sambung Samuel dengan alis berkerut.
"White tidak berasal dari indung sel telur yang senyawa dengan racun di tubuh John." Jawab Prof Meshach santai.
"Mungkin ini memang sudah takdir Tuhan ayah." Seru John sambil menghela napas panjang.
"Kau harus bersyukur John mempunyai anak seperti Black Junior, meski kulit nya kelainan, namun otak nya sangat cerdas."
"Sudahlah Nak, aku yakin suatu saat nanti, kekurangan nya akan membawa keuntungan besar baginya." Seru Kek Meshach.
"Semoga saja Kek, semoga saja." Jawab John lesu.
Tiba tiba, mereka dikagetkan oleh teriakan orang di bawah bukit,
"Dalai Lama datang berkunjung."
Suara yang mengandung tenaga Khi Kang itu di kerahkan oleh seorang pendeta lama yang mengawal Dalai Lama yang kini berada di kaki gunung muji.
"Sebentar, aku akan menjemput Kenji." Seru John sambil masuk ke sebuah ruang mirip lip besar di lantai rumah nya yang berada di ruang bawah.
"Silahkan John." Jawab Tuan Samuel tersenyum.
Tak berapa lama, John telah berada di ruangan itu kembali bersama beberapa orang Pendeta Lama yang mengawal seorang Dalai Lama yang tampan dan masih sangat muda.
__ADS_1
"Selamat datang di tempat kami Dalai Lama yang Mulia." Seru John, Samuel dan Kek Meshach dengan penghormatan yang tinggi.
"Terimakasih Kakek, Suhu dan Tuan Sam, sebenarnya kedatangan ku kemari ingin membicarakan hal penting dengan Suhu dan semua nya." Ucap Kenji yang kini telah menjadi pemimpin nomor satu di Tibet.
"Silahkan sampaikan apa yang menjadi keperluan Dalai Lama." Seru Kek Meshach dengan alis berkerut.
"Kami mendengar tentang rencana penyerbuan pemerintah Amerika ke Israel, benarkah hal itu Senator?" Tanya Kenji yang mulai kini baiknya kita sebut saja Dalai Lama.
"Hal itu hanya pengalihan isu saja Totiang, kami sengaja melepaskan isu tersebut untuk dapat menjadi umpan bagi Malech, Hans dan Christ serta kolega mereka." Jawab Samuel.
"Kami juga mendapat kabar tentang rencana penyerangan mereka ke daerah Tiongkok dan juga Tibet, apakah benar isu tersebut?" Dalai Lama kembali bertanya.
"Hal itu mungkin saja cuma gertakan atau mungkin juga benar, aku telah meminta bantuan kepada Wan Wan melakukan penyelidikan bersama tenaga Profesional Pemerintahan." Jawab Samuel Liden tenang.
"Kalau begitu, kami akan menunggu di sini saja jika di perkenankan." Seru Dalai Lama di anggukkan oleh John.
.---\*\*\*---. .---\*\*\*---. .---\*\*\*---.
Ruangan besar dan mewah itu terlihat megah dengan lukisan lukisan yang indah berseni tinggi. Tepat di tengah nya terdapat sebuah meja besar berbentuk bulat yang sedang di kelilingi oleh 6 orang berpakaian parlente dengan jas rapi.
"Tuan Malech, bagaimana langkah kita selanjutnya? Kapan kita akan bergerak?" Seru pria tampan yang kini tampak tua dengan wajah berseri.
"Sabarlah Tuan Christ, tak lama lagi kita akan melanjutkan rencana kita. Yang harus kita waspadai sekarang adalah The Black Man, apa kalian mendengar tentang nya selama ini?" Tanya Tuan Malech yang duduk di kepala meja besar itu.
"The Black Man terlihat beberapa kali di sekitaran New York. Tampaknya dia telah menjadi bawahan Senat kurang ajar itu." Seru pria bernama Hans yang kini tidak lagi menjadi komandan di Jerman.
"Tuan Hans, kau bersama Hanji coba lacak pergerakan The Black Man. Kalian bertiga persiapkan keperluan untuk gempuran ke Tibet dan Tiongkok besok malam."
Baru saja Tuan Malech menyelesaikan kata katanya, alarm bangunan tersebut tiba tiba berbunyi,
"Wiiiuuuwwwiiiiuuuwww,,"
"Penyusup, ada penyusup," Teriakan beberapa bawahan yang menjaga bangunan itu.
Bersambung ...
__ADS_1