
Melihat keganasan amukan The Black Man dari ruang monitoring pabrik, Boaz Immanuel, Malech Mechiah dan Nyonya Liu serta beberapa sekutu mereka terdiri dari pimpinan pasukan dan ilmuan ilmuan hebat itu ketakutan setengah mati.
"Kita harus lari sekarang juga." Seru Tuan Malech dengan keringat dingin di dahinya.
"Hei, bawa aku ke ruang bawah tanah sekarang." Boaz yang masih duduk di kursi roda itu memerintahkan bawahannya melarikan dirinya lewat gorong gorong.
"Ayo cepat, kita pergi dari sini."
Belasan orang itu segera keluar dari ruang monitor CCTV melarikan diri lewat belakang dimana terdapat pintu besi menuju tangga menurun menembus gorong gorong dimana sebagian pasukan mereka pernah dihabisi oleh The Black Man.
John yang kini hanya tinggal menghadapi Rooney yang semakin merasa marah dan gentar, segera meluncur dengan kekuatan penuh ke arah Rooney, satu satunya Black Monster yang masih hidup.
Beberapa pasukan keamanan ada yang nekat berlarian mengejar John untuk memukul atau mencoba membunuh nya.
Namun banyak pula pasukan yang telah lari tunggang langgang melihat kematian didepan mata.
Saat The Black Man sibuk dengan pasukan pasukan yang nekat itu, Rooney menggunakan kesempatan tersebut untuk melarikan diri ke arah atas menuju gerbang luar.
John yang melihat Rooney terbang melarikan diri membiarkan nya saja. Kini dia sibuk menubruk ke sana sini terbang sambil melepaskan pukulan beracunnya kepada pasukan tentara bawahan Malech dan Boaz.
Baru beberapa puluh detik saja, kembali puluhan mayat kehitaman dan kehijauan bergelimpangan di ruangan itu.
Sebagian ada yang di lemparkan ke mesin hingga hangus terkena ledakan mesin. Ada pula yang di lempar ke sumur besi berisi cairan kimia. Ada yang di pukul pecah tengkoraknya dan berbagai macam keadaan mengerikan pasukan yang mengantarkan nyawa mereka di tangan The Black Man.
Setelah puluhan orang tersisa, para pasukan segera melarikan diri tertatih tatih hingga John di tinggal sendirian saja di ruang bawah tanah Pabrik Min.
Setelah menghancurkan mesin mesin produksi hingga tak bisa digunakan lagi, John segera menuju ke belakang.
Saat melewati sebuah ruangan, John yang melihat banyak layar monitor berada di ruang tersebut segera masuk dan melihat di layar Nyonya Liu dan Pimpinan penjahat sedang melarikan diri di koridor gorong gorong.
Segera dia melesat terbang dengan cepat menyusul para penjahat hingga sampai di ujung lorong panjang dan gelap itu, John berpapasan dengan mereka.
Tuan Malech dan beberapa ilmuan dan pimpinan pasukan yang lebih dulu naik ke atas melalui lubang keluar, diselamatkan oleh bawahan nya menuju helikopter yang terparkir tak jauh dari situ.
__ADS_1
Nyonya Liu yang menunggu bersama putranya dan lima orang pimpinan pasukan yang sedang menaikkan Tuan Boaz ke atas dengan kursi rodanya kaget melihat kelebatan cahaya hitam telah berada di belakang mereka.
"Kalian harus mengganti nyawa keluarga Paman Li." Suara rendah menggema yang keluar dari kerongkongan The Black Man yang dibakar emosi itu membuat mereka menggigil.
Secepat kilat John menarik Tuan Boaz Immanuel yang hampir keluar dari lorong itu hingga mendeprok di lantai bersama kursi rodanya yang patah patah.
Sangat sedih melihat keadaan Boaz yang terseok seok seperti ayam pincang dengan tangis di bibirnya. Namun jika memikirkan kejahatan kejahatannya, sepantasnya kepalanya di hancurkan saja.
Dengan ancaman keras The Black Man berteriak kencang.
"Bunuh pria keparat ini jika kalian ingin selamat."
"Tum,, tuumhh,, tumh,, thuuumh,," Suara tembakan ke arah John bergema di lubang saluran bawah tanah itu.
"Haaiiit,, Praaakkkhhh,,," Seorang kepala pasukan pecah kepalanya terkena tamparan John.
"Kalian lebih memilih mati semuanya." Geram John dengan suara rendah.
"Door door door,," Tiga kali tembakan pimpinan pasukan lainnya menewaskan Boaz Immanuel dalam kondisinya yang hampir sekarat itu.
"Ampuni aku Tuan,, Jangan bunuh kami," Seru Nyonya Liu yang telah mendoprok di samping putranya yang masih kecil itu.
Dengan kemarahan meluap, The Black Man melangkah perlahan ke arah Nyonya Liu seraya berkata,
"Putra mu tidak bersalah, tak perlu aku membunuh,,," Tiba tiba Nyonya Liu memeluk John dan ... terjun ke arah pintu air yang jatuh ke jurang kecil yang dalam itu.
Bocah kecil yang biasa di panggil Han Ji itu menjerit melihat ibunya jatuh bersama pria berseragam hitam yang banyak sekali membunuh pasukan.
Bocah itu segera di panggul dibawa oleh 4 kepala pasukan yang masih selamat karena membunuh 'Bos' yang selama ini menggaji mereka.
Kita tinggalkan dulu bocah kecil yang kelak dikenal sebagai Han-ji yang akan menggegerkan dunia dengan kejahatannya melebihi kejahatan Kakek dan ayahnya yang telah tewas bernama Charlie dan Larry Sung.
The Black Man yang tubuhnya melayang kebawah, sebenarnya sangat mudah untuk selamat. Dia hanya perlu memusatkan pikiran nya untuk terbang membawa tubuh Nyonya Liu yang memeluknya dengan erat.
__ADS_1
Namun, John yang tadi hampir luluh melihat ketulusan ratapan Nyonya Liu dan berniat akan membiarkan mereka selamat, kembali bangkit amarahnya yang seakan meledak di dada hingga pikiran nya buntu.
Rasa marah, rasa kecewa, dendam yang dulu teringat kembali serta kebodohannya yang hampir terulang dua kali mempercayai wanita licik itu membuat nya hanya menuju kan pandangan dan pikirannya kepada wanita yang melekat di badannya.
"Dasar kau wanita licik,, Dhuuk dhuuk dhhuuukk,, Prraaakkhh,,, Bhhukkk,, Ggrrrhhh,,"
Tiga kali pukulan John ke arah muka Nyonya Liu melepaskan rangkulan tangan wanita itu di tubuhnya. Sebuah tinju mendarat di kepala Nyonya Liu membuatnya menjadi mayat dengan kepala pecah.
Hempasan tubuh John dan Nyonya Liu di pinggiran tebing membuat John pingsan. Sedangkan tubuh Nyonya Liu yang telah tewas itu, hancur berhamburan ke sana sini.
Tubuh John yang kini terus berguling menuruni lereng tebing membuat nya terpental pental diantara batu batu tebing yang kadang datar kadang meruncing.
Setelah jatuh belasan kilometer, akhirnya John mendarat menabrak akar pohon kayu besar dalam keadaan pingsan di dasar tebing yang berjarak puluhan mil dari lorong gorong gorong Pabrik Min.
Sehari semalam John pingsan di sana hingga hujan deras mengguyurnya. Ketika sadar, John segera memegang kaca pelindung mata membuka penutup kepalanya.
Saat dia akan bangun, dia merasakan ngilu dan nyeri yang sangat di tulang kering sebelah kiri. Begitu dia duduk, dia melihat arah telapak kakinya terbalik ke belakang.
Ternyata John mengalami patah kaki yang parah. Sambil menggigit giginya, John menahan sakit dan menggeser pantatnya bersandar di batang pohon besar itu.
Sambil menyeringai, dia memasang penutup kepala kembali dan kacamatanya. Dengan pengerahan tenaga pikirannya, John mencoba terbang namun sia sia. Mesin di punggungnya hidup sebentar kemudian mati lagi. Begitu seterusnya.
Rupanya, saat dia terjatuh dan terhempas di lereng tebing, sebuah permukaan runcing menghantam mesin petak kecil di punggungnya.
Kini John benar benar putus asa setelah puluhan kali mencoba terbang namun tetap gagal. akhirnya, kembali dia membuka penutup kepala yang mengontrol mesin di punggungnya dan diapun tertidur.
Entah tertidur karena lelah lahir batin atau pingsan menahan rasa sakit, yang tau hanyalah dia dan Tuhan saja.
Sebagaimana The Black Man yang super hebat, terkadang kita juga seperti itu. Kita hanya mampu mensyukuri ketika kebaikan menimpa kita, jika keburukan dan musibah melanda, maka kita akan lupa bersyukur kepada Tuhan penguasa semesta.
Dalam keadaan nya, John sangat untung jika dibandingkan dengan Nyonya Liu atau siapapun yang memiliki nasib seperti nya.
Orang pasti akan mati terjatuh dari jarah hampir 100 kilometer itu. Namun John sebagai The Black Man hanya mengalami patah kaki di bagian tulang kering saja tanpa kurang suatu apapun.
__ADS_1
Namun kembali lagi kepada dasar, John juga manusia biasa seperti kita yang memiliki pikiran dan daya pikir terbatas hingga kadang tak mampu menyelami rahasia Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang.
Bersambung ...