
Kali ini Drayneslah yang pertama kali memulai pembicaraan. Saat menyadari kedatangan mereka Laska pun spontan menoleh kearah datangnya sumber suara, kemudian tersenyum saat mendapati Andros, Brendi dan Draynes sedang berada disana.
“Tentu saja boleh, kenapa tidak. Lagipula aku memang sedang membutuhkan teman.” Kata Laska tanpa menyadari bahwa perkataannya itu menyinggung perasaan Bila.
“Memangnya aku ini kamu anggap apa Laska?” Ujar Bila yang entah kenapa sakit kepala yang sempat menyerangnya tadi perlahan menghilang.
“Aku sama sekali tidak bermaksud begitu Bil maksudnya aku bisa punya teman sejenis, dari tadi kan hanya aku sendiri yang beda sedangkan kamu dan Sandra perempuan.” Jawab Laska cepat sebelum Bila berpikiran macam-macam.
“Ok tidak masalah.
"Kalian, kenapa masih berdiri disana silahkan masuk.”
Bila segera mengajak Andros, Brendi dan Draynes masuk. Setidaknya ia tidak membiarkan mereka tetap berdiri mematung disana hanya karena kesalahpahaman yang sempat terjadi antara ia dan Laska.
Walaupun jika dipikir-pikir sebenarnya Bila masih menyimpan rasa kesal ketika mereka datang sebagai anak baru dikelas dan berhasil membuat keributan.
Terutama Andros, anak itu benar-benar menyusahkan sekaligus menyeramkan. Tetapi semua itu bukan berarti Bila harus membenci mereka apalagi disaat mereka datang untuk menjeguknya.
Setiap orang pasti memiliki kesalahan, baik itu kesalahan kecil ataupun kesalahan besar.
Sebuah kesalahan harus diiringi dengan kesadaran serta perbaikan untuk menemukan jalan keluarnya. Meskipun demikian semua itu tetap bergantung pada orang yang melakukan kesalahan tersebut.
Lebih tepatnya lagi kita sebagai manusia yang memiliki akal pikiran harusnya berpikir tentang hal itu. Benar, jika itu memang mungkin.
Sandra yang tadinya pergi mengambil makanan segera bergabung bersama mereka dengan tangan yang dipenuhi berbagai macam jenis cemilan dan minuman es lemon kesukaan mereka. Saking terlalu banyaknya Sandra sampai harus meminta bantuan kepada Albert membawakan sebagian dari cemilan tersebut.
“Sandra apa tidak terlalu berlebihan, aku saja sampai kasihan melihatmu.” Ujar Bila pelan saat Sandra tiba ditempat duduknya, terlihat sangat kelelahan.
“Memang berlebihan, mau bagaimana lagi mama terlalu bersemangat.” Balas Sandra singkat terlihat sedang tak ingin membahas hal itu lagi.
“Kakak boleh Albert minta sedikit, Albert mau memakannya didepan televisi. Serial kartun kesukaan Albert sudah tayang lho kak, boleh kan?”
Sebuah senyuman manis Albert segera terlihat. Ia berusaha membujuk kakaknya dengan harapan perintaan tersebut dapat terpenuhi. Senyuman anak itu benar-benar polos, sepolos tingkah lakunya saat ini. Anak itu kelihatan sangat imut saat menginginkan sesuatu.
“Ambil saja sebanyak yang kamu butuhkan. Ingat jangan makan terlalu banyak, nanti kakak malah dimarahi mama.”
Mendengar persetujuan dari sang kakak tanpa membuang banyak waktu Albert langsung mengambil dua toples berisi penuh kacang, kemudian masih menyempatkan diri tersenyum kearah mereka semua. Anak itu terlihat sangat senang saat keinginannya terpenuhi.
“Bagaimana kondisimu Bila, apakah sudah merasa lebih baik?”
__ADS_1
Sesaat setelah kepergian adik Sandra, Andros langsung menanyakan keadaan Bila.
Mendahului Laska dalam melakukan hal tersebut.
“Apa, bukan, maksudku..., aku sudah lebih baik.” Ujar Bila sedikit tersendat karena kaget dengan pertanyaan Andros yang terkesan terlalu terburu-buru.
“Lihat Laska seseorang baru saja mendahuluimu menanyakan keadaan Bila. Padahal..., dia baru saja datang. Dasar tidak peka.”
Sandra tersenyum melihat ekspresi wajah Bila ketika menjawab pertanyaan dari Andros. Sedangkan kedua temannya sama sekali tidak tersenyum sedikitpun, apa lagi Laska. Orang itu hanya menunjukkan wajah tanpa ekspresi, kelihatannya Laska sedang kesal sekarang.
Sandra tak terlalu memperdulikannya malahan setelah itu ia terus melihat Andros, Brendi dan Draynes secara bergantian. Tiba-tiba Sandra jadi memikirkan sesuatu.
Bila yang sedari tadi melihat kearah Sandra akhirnya menyadari bahwa sahabatnya itu sedang memikirkan sesuatu yang ia sendiri sama sekali tak tahu. Tanpa menyadari bahwa Andros, Brendi dan Draynes sudah mengetahui apa saja yang mereka pikirkan.
“Hey, apa yang sedang kalian lakukan? Apa kalian sedang memikirkan sesuatu yang sulit. Daripada kalian diam seperti itu hanya gara-gara banyak pikiran, lebih baik menjadi sepertiku ini yang selalu tenang dan mengalir. Tanpa dibebani apapun.” Terdengar suara Laska memecah keheningan.
“Bicara apa kamu tadi? Kedengarannya aneh.” Sandra langsung bicara menyerocos sedangkan Laska sendiri lagi-lagi malah terlihat cuek dan sibuk memakan setoples keripik kemudian meminum es yang sudah disediakan oleh Sandra tadi.
“Tidak ada, lupakan itu. Cobalah menawari semua makanan ini kepada Andros, Brendi atau Draynes.
"Jangan sampai semua makanan dan minuman ini masih tersimpan rapi ditempatnya. Kamu tadi kan sudah susah-susah membawakannya kesini, sampai meminta bantuan kepada Albert. Aku saja kasihan melihatmu.” Kata Laska masih dengan kegiatannya yang tadi.
“Dasar suka mendramatisir keadaan. Aku heran, kenapa kamu sampai terpilih menjadi ketua kelas.”
Sebenarnya Sandra tidak berniat serius mengatakan hal itu kepada Laska, tapi apa boleh buat Laska terlanjur salah paham atas perkataan Sandra kepadanya dengan menganggap Sandra benar-benar serius.
“Seriously, kemana perginya rasa hormatmu kepadaku? Bukannya kamu sendiri yang mencalonkanku sebagai ketua kelas. Dasar aneh.
"Memangnya kinerja seorang ketua kelas hanya dilihat dari apakah ia selalu terlihat serius dan formal?
"Aku rasa setiap orang pasti memiliki sifat yang berbeda-beda, kecuali dia memang tidak tahu cara menikmati hidup.”
Laska spontan menunjukkan wajah masam tapi semua itu malah membuat Sandra dan Bila tertawa geli. Melihat semua itu tentu saja membuat Laska terlihat bingung.
“Kenapa kalian malah tertawa, memangnya ada sesuatu yang lucu dari kemarahanku ini?” Tambah Laska lagi kali ini dengan wajah yang semakin sulit dimengerti.
“Mereka hanya sedang mentertawakan reaksimu Ka, bukan kemarahanmu. Apa kamu benar-benar tidak menyadarinya, Sandra tadi hanya sedang mempermainkanmu. Ia sama sekali tak bermaksud menyinggung ataupun mengejekmu.Tapi kamu malah menganggap semuanya serius.”
Brendi yang sedari tadi diam turut mengambil alih dalam perbincangan mereka.
__ADS_1
“Benar kan perkataanku, kamu memang aneh Dra.”
Laska akhirnya menyadari bahwa ia sedang dipermainkan oleh Sandra, orang itu terlihat tidak terima.
Tetapi hal itu justru membuatnya malah ikut tertawa bersama dengan kedua sahabatnya.
Sekarang siapa yang aneh? Sandra atau Laska.
Setelah mereka berhenti tertawa Sandra tiba-tiba menatap kearah Bila menunjukkan bahwa ia sedang sangat kebingungan.
Sandra sebenarnya lagi-lagi tak terlalu mengerti, kenapa ia sering memikirkan hal yang aneh-aneh. Terutama terhadap Andros, Brendi dan Draynes.
Tapi... rasanya ia memang harus menyelidiki sesuatu kenapa pikirannya terus tertuju kepada ketiganya. Mungkin saja semua itu ada hubungannya dengan apa yang sudah terjadi terhadap Bila.
Tidak hanya Sandra Bila pun juga membalas tatapan tersebut sambil mengisyaratkan bahwa ia sedang berusaha mengerti arti dari semua tatapan itu. Saat melihat Sandra terus melirik kearah Andros, Brendi dan Draynes baru akhirnya Bila bisa mengerti arti dari semua tatapan yang ditujukan oleh Sandra kepadanya.
Entah karena apa sakit kepala yang akhir-akhir ini menyerangnya juga sudah lebih baikan, bahkan bisa dikatakan tak terasa sama sekali. Semua itu tentu saja membuat akses berpikir Bila semakin bertambah luas.
“An, dihari..., pertama kalian masuk... sekolah, kudengar kalian membolos.
"Apakah semua itu benar?” Tanya Bila memberanikan diri walaupun masih terdengar sangat ragu-ragu.
“Benar.” Jawab Andros singkat terlihat sangat berhati-hati, jangan sampai semuanya berakhir disini.
“Kenapa?”
Sandra spontan melanjutkan pertanyaan Bila walaupun juga terdengar hampir sama dengan Bila.
“Kenapa. Kalian tentu tahu kan kalau anak baru perlu mengurus banyak hal. Surat kepindahan, mendatangani berbagai macam persyaratan dan menyerahkan semua dokumen yang diperlukan oleh sekolah.” Jawab Draynes datar namun terdengar sangat menyakinkan.
“Bukankah semua itu harusnya dilakukan oleh orang tua atau wali kalian. Mengenai masalah menandatangani persyaratan harusnya kalian sudah mengurus semua itu dijauh hari sebelum kepindahan kalian kesini.”
Di lihat dari jumlah kata-kata yang Sandra ucapkan, ia kelihatan sudah tak merasa ragu-ragu lagi. Berbanding terbalik dengan Laska yang malah terlihat sangat kebingungan dengan apa yang sedang mereka bicarakan.
Hal yang mereka bicarakan memang terkesan terlalu cepat berubah-ubah.
“Sandra, kemarin kami memang sedang mengurus masalah kepindahan. Awalnya kami sudah mengurus semuanya tapi ternyata masih ada keperluan lain yang harus diselesaikan.”
“Aku jadi bingung, apa hubungan antara bolos dengan mengurus kepindahan. Kedengarannya aneh.”
__ADS_1
-------^--------^------^-------