The Darkness Of Vampir World

The Darkness Of Vampir World
Poor


__ADS_3

Naomi pergi mengikuti Putri hingga tiba disebuah lorong yang sangat jarang dilewati oleh orang lain disekolah tersebut. Di sana juga terdapat gudang sunyi bekas kelas yang sudah tak terpakai lagi.


“Sepertinya ada yang mengikutiku, tapi siapa?” Gumam Putri dilanjutkan dengan meraba lehernya yang tiba-tiba saja terasa kedinginan.


“Disini sangat dingin dan suasana juga sangat menyeramkan. Lebih baik aku lari saja.”


Bagaikan baru saja melihat sesuatu yang menyeramkan Putri bersiap lari sekencang mungkin meninggalkan tempat sepi tersebut. Namun terlambat saat Naomi sudah berada tepat dihadapannya.


Putri hampir saja terjatuh ke lantai akibat kedatangan Naomi yang terkesan mendadak.


“Naomi, kamu, kenapa kamu bisa ada disini?”


Tidak seperti biasanya kali ini suara Putri terdengar sangat gugup saat melihat Naomi yang kian menyeramkan.


“Halo Putri, bukankah kau ingin mengajakku berteman. Kemari dan datanglah padaku.”


Naomi sama sekali tak memperdulikan ekspresi Putri, malahan ia berjalan semakin mendekat kearahnya sementara orang itu malah mundur menjauh.


“What, no, bukan, maksudku kenapa?”


Putri semakin terlihat panik ditambah lagi jika dia terus melangkahkan kakinya terus kebelakang yang tersisa hanyalah ruangan kelas kosong, tempat gudang penyimpanan barang-barang sekolah tak terpakai.


Menyadari bahwa dirinya semakin terpojok Putri pun memutuskan untuk berlari menerobos celah diantara tubuh Naomi yang menghalangi jalan keluarnya. Tetapi tetap saja usaha tersebut menjadi sia-sia saat Naomi masih terus menghalangi pergerakannya. Merasa tidak ada harapan untuk melarikan diri dari tempat itu Putri pun akhirnya pergi berlari secepat mungkin kearah gudang serta mencoba berusaha sekuat tenaga agar bisa membuka pintunya.


Kebetulan pintu gudang tersebut memang sengaja tidak dikunci kerena hanya berisikan barang-barang sekolah yang sudah tak terpakai. Namun tetap saja pintu tersebut sangat sulit dibuka sebab sudah lama tak digunakan serta telah usang.


“Ku mohon cepatlah terbuka, ku mohon.” Kata Putri masih berusaha membukakan pintu sementara Naomi berjalan semakin mendekat.


Pintu tersebut akhirnya terbuka setelah Putri mendorongnya dengan sekuat tenaga. Melihat usahanya berhasil ia pun langung masuk kedalam serta tak lupa berusaha untuk menutup pintu kembali. Meskipun tangannya telah terluka akibat bersentuhan dengan ganggang pintu yang berusaha dibukanya dengan cara paksa tadi, hingga mengeluarkan cukup banyak darah.


Sebelum Putri berhasil menutup pintu itu sepenuhnya Naomi langsung menerobos masuk kedalam sehingga membuat tubuh Putri terjatuh kelantai. Tak terelakkan darah bekas luka Putri tadi berceceran dilantai tempat ia terjatuh. Melihat semua itu Naomi pun langung menutup pintu gudang serta mencoba mengeluarkan kekuatan Batu Merah yang sudah menyatu didalam tubuhnya, agar membuat bau darah dan keberadaan mereka tak bisa diketahui Andros, Brendi dan Draynes.


Dengan mata yang sudah berwarna merah darah Naomi berjalan semakin mendekat kearah Putri yang meringis kesakitan.


“Kamu, tidak mungkin.”


Putri berusaha mundur meski sekarang ia merasa sakit luar biasa disekujur tubuhnya. Saat berada dalam keadaan terdesak mata Putri tertuju pada sebuah besi yang berada tak jauh dari tempatnya. Tanpa berpikir panjang Putri langsung mengambil benda tersebut dan berusaha berdiri walaupun tangan dan seluruh tubuh yang terasa sangat sakit sekalipun.


“Pergi atau aku akan memukulmu dengan benda ini!”


Meski Putri terus mengarahkan besi itu tepat didepan Naomi, ia terus saja maju tanpa merasa takut sedikitpun. Sampai akhirnya Naomi tiba tepat didepan Putri kemudian menepis tangan gadis itu hingga membuat benda tersebut terjatuh. Kemudian membawanya ke tempat yang membuat orang tersebut terpojok agar tak bisa berusaha melawan kembali.


“Naomi, tolong jangan bunuh aku, aku berjanji tidak akan memberi tahu siapapun tentang kamu yang sebenarnya. Aku mohon tolong lepaskan aku.” Pinta Putri yang terlihat sudah menangis.


“Tenanglah Putri, ini hanya akan terasa sakit sebentar saja. Setelah itu kau pasti tak akan merasakan apapun lagi.”


“Tolong, ku mohon jangan bunuh aku.”

__ADS_1


Sayangnya Naomi sama sekali tak menghiraukan permohonan Putri dan langsung menggigit lehernya, yang tersisa hanyalah sebuah jeritan tertahan dari mulut Putri.


Pada akhirnya Putri jatuh setelah kehabisan darah. Bersamaan dengan hal itu Naomi mencium keberadaan Andros, Brendi dan Draynes semakin mendekat ke tempat dimana ia dan Putri masih berada disana.


Naomi berusaha untuk menenangkan diri agar bisa berkonsentrasi memperkuat pelindung yang sudah diciptakannya tadi. Jangan sampai Andros, Brendi dan Draynes mencium keberadaan mereka didalam gudang. Terutama Andros, vampire satu itu bisa saja melakukan apapun yang bisa membuatnya kesulitan.


“Andros, bagaimana sekarang?”


“Kita kehilangan mereka.” Kata Andros datar dengan mata yang kini sudah berubah.


“Menurut kalian apa mungkin Naomi akan melakukan tindakan tak terduga?” Tanya Brendi melihat kearah Andros dan Draynes secara bergantian.


“Untuk saat ini kita masih belum bisa memastikannya tapi semua itu justru menbuat kita harus terus berwaspada, kita tidak akan pernah tahu permainan apa yang sedang direncanakan Vampir licik itu.”


“Sudahlah Draynes aku rasa Naomi masih berada disekitar sini, lebih baik jika kita segera menemukannya.”


Andros, Brendi dan Draynes memutuskan melanjutkan pencarian tanpa menyadari bahwa tempat Naomi bersembunyi tak jauh dari tempat mereka sempat berhenti tadi. Naomi langsung terduduk saat merasa sudah mencapai batas kemampuan bersamaan dengan kepergian Andros.


“Sepertinya tubuhku masih belum terbiasa dengan kekuatan ini. Aku harus segera pergi sebelum mereka berhasil menemukanku.”


Kepergian Naomi dari tempat persembunyian itu dirasa adalah keputusan yang paling tepat.


Ia pun juga tak melupakan Putri, dengan kondisinya sekarang orang itu sangat membutuhkan kekuatan Batu Merah agar tubuhnya bisa bertahan.


Villa tempat Naomi tinggal selama ini tentu bukanlah pilihan yang tepat, apalagi Naomi tidak tinggal sendirian disana. Tujuan Naomi kali ini adalah sebuah rumah yang pernah ditemukannya. Tempat itu dirasa pilihan paling aman agar tak ditemukan oleh Andros, Brendi ataupun Draynes.


"Baiklah, aku hanya perlu melihat perkembangan. Setelah itu rencana pertama selesai.” Ujar Naomi sambil melihat Putri kemudian masuk kedalam rumah tak berpenghuni itu.


Sudah sekitar lima jam berlalu tetapi Putri masih belum menunjukkan tanda-tanda akan bangun dari peristirahatannya. Seharusnya sekarang dengan kemampuan yang dimiliki Naomi serta bantuan dari Batu Merah sudah lebih dari cukup untuk membantu mempersingkat waktu proses penyebaran perubahan.


Hal itu tentu saja berhasil membuat Naomi kehabisan kesabaran, ditambah lagi dengan berbagai kemungkinan yang bisa saja terjadi. Semua itu hanya akan menciptakan kesulitan untuknya.


Ketika Naomi berniat pergi keluar untuk menenangkan pikiran tangan Putri perlahan bergerak diikuti dengan terbukanya kedua belah mata orang itu.


“Akhirnya kau bangun juga, aku sempat kesulitan karenamu.”


Putri bisa merasakan terjadi banyak perubahan padanya, terutama pada penglihatan dan penciuman yang berubah menjadi semakin tajam. Bahkan benda kasat matapun saat ini bisa ia lihat.


Perlahan Putri menyadari bahwa tubuhnya yang sekarang bukanlah seperti tubuh yang dahulu lagi.


“Apa yang terjadi padaku?


"Tidak mungkin, kenapa tubuhku menjadi sangat aneh?”


Putri spontan bergerak secara mendadak saat mengetahui bahwa Naomi berada dekat dengannya. Pergerakan Putri menjadi sangat cepat sehingga ia tak menyadari bahwa telah menabrak sebuah tiang penyangga rumah.


“Mustahil, ini semua tidak mungkin.” Putri masih tidak mempercayai hal yang barusan terjadi.

__ADS_1


“Putri..., kendalikan dirimu. Cobalah mengerti bahwa kau memang sudah ditakdirkan menjadi vampire, sama sepertiku.”


“Tidak, kau bohong. Aku tidak mungin berubah menjadi sepertimu.”


Putri masih belum bisa menerima keadaan. Itu benar-benar mustahil.


“Diam, berhentilah bicara dan dengarkan aku baik-baik.”


Naomi ingin menjelaskan tentang apa yang seharusnya dilakukan namun vampire baru itu malah menyela perkatannya.


“Untuk apa aku mendengarkanmu lebih baik aku segera pergi dari sini. Seharusnya kaulah yang harus bertanggung jawab tapi aku sudah sangat muak melihatmu.”


Baru saja Putri hendak melangkahkan kaki berniat pergi meninggalkan tempat itu, akan tetapi Naomi segera menghentikannya sebelum Putri benar-benar meninggalkan tempat tersebut. Apalagi dengan kondisinya yang sekarang.


“Sekarang kau adalah vampire baru. Apa kau yakin bisa mengendalikan diri? Setidaknya kau berpikir tentang hal itu.


"Kalau kau pergi, bagaimana jika nanti kau bertemu dengan seseorang?


"Aku yakin kau pasti tidak akan bisa menahannya. Rasa terbakar ditenggorokanmu merupakan hal pertama yang akan kau rasakan.”


“Tutup mulutmu, jangan banyak bicara. Seharusnya aku tak akan pernah menjadi seperti ini. Kau hanya bisa menyusahkan orang lain, dan kau tidak berpikir apa saja akibat dari perbuatanmu ini.”


Putri masih berniat melanjutkan perjalan dan tak memperdulikan perkataan Naomi. Berada terlalu lama ditempat tersebut bukanlah hal yang baik. Tapi..., kemana Putri harus pergi? Sekarang ini ia bukan manusia seperti yang dulu.


Semua itu disebabkan oleh tindakan nekat Naomi. Pergerakan Putri terhenti dengan sendirinya saat ia merasa tenggorokannya terasa seperti terbakar.


“Tidak mungkin.”


“Apa kau sudah selesai, sekarang ikuti aku. Kita akan pergi berburu.”


“Kau pikir aku akan ikut bersamamu.”


“Tentu saja.


"Apa kau tak ingin mengetahui penyebab dari semua ini? Serta sedikit rahasia.”


“Rahasia. Aku sama sekali tak tertarik dengan rahasiamu.”


Tangan Putri berhasil memegang leher saat rasa terbakar itu terasa semakin menyengat.


“Bukan aku Putri, tetapi Andros. Ayo pergi. Sepertinya tenggorokanmu semakin memanas.”


“Kelihatannya aku tidak punya pilihan lain. Kita berangkat.”


“Pilihan yang tepat.”


“Cepat, atau aku akan berubah pikiran.”

__ADS_1


---------^-------^----------^------


__ADS_2