
Sepanjang perjalanan Putri masih saja menunjukkan raut wajah nampak sedang berpikir. Tanpa memperdulikan segala hal yang akan terjadi saat ini hingga berhasil membuatnya terus menerka-nerka.
Tak jauh dari tempat mereka berjalan wajah Andros, Brendi dan Draynes sudah hampir terlihat. Masih seperti biasa, berwajah datar.
“Apa kau sudah selesai, berhentilah melakukan kegiatan tak berguna itu.”
Suara Naomi berhasil memecah keheningan dengan tatapan yang masih tertuju kedepan.
“Lihatlah sikap mengerikanmu itu. Benar-benar vampire berwajah dingin.” Kata Putri dengan tersenyum kecut.
“Memangnya hal itu penting, bersiaplah mereka datang.”
“Hey, kau bicara seolah-olah sudah berhadapan dengan ujung takdirmu.” Tambah Putri lagi.
“Memang itu yang ku pikirkan.”
Hanya dalam waktu beberapa detik mereka pun saling berhadapan serta tatapan yang memperlihatkan kepentingan masing-masing. Tetapi entah karena apa rombongan Andros malah pergi melewati mereka begitu saja tanpa bicara sedikitpun meninggalkan Naomi dan Putri jauh dibelakang serta sebuah pesan singkat melalui kontak mata antara Andros dan Naomi.
“Bisa kau jelaskan apa yang sedang terjadi? Ku pikir tadi kita akan melakukan sesuatu.”
Sebuah pertanyaan berhasil keluar dari mulut Putri bahkan tanpa ia sadari.
“Dia sudah melakukannya.”
“Lalu apa yang terjadi?” Tambah Putri dengan tatapan serius.
“Kurasa sebuah peringatan. Mereka akan bertindak keras saat ini.”
Suara Naomi masih terdengar seperti biasa tanpa ada kesan terkejut sama sekali.
“Lihatlah wajahmu itu, bukankah tadi kau mengatakan bahwa kita sedang berada dalam kesulitan. Tetapi wajahmu selalu saja datar, aku rasa hidupmu memang keras dan membosankan.” Ujar Putri terdengar seperti sindiran telak bagi Naomi. Sedangkan Naomi melihat kearahnya dengan tatapan dingin.
“Berhentilah mengoceh, kita sudah tidak punya banyak waktu lagi.”
Ekspresi wajah Naomi seketika menegang saat mengingat waktu yang diberikan oleh Andros sebelum ia menggunakan kekuatan spesialnya, tentang dimensi waktu.
Kekuatan itu sangat melegenda disepanjang sejarah. Jika satu gerakan saja ia salah melangkah, maka keabadian hidupnyalah yang akan dipertaruhkan.
“Putri, ujung takdirku sekarang bergantung pada rencana ini. Kalaupun nanti sampai gagal usahakanlah untuk tetap bertahan."
“Ini semua bukan berarti aku berpihak padamu, Naomi.”
__ADS_1
Tatapan Putri seketika berubah saat bayangan menyeramkan dulu kembali menghampirinya.
“Lalu kau akan berpihak kepada siapa?”
“Kau ini menyusahkan saja.
"Sepertinya..., aku mencium keberadaan seseorang. Mungkinkah aku salah atau ini bau dari seseorang yang ku kenal?”
“Semua itu memang benar. Mereka baru saja datang, dan bersembunyi.”
Naomi menggerakkan bola mata menuju kearah taman tepat berada didekat mereka.
“Apakah mereka bisa mendengarkan pembicaraan kita?”
“Ku rasa tidak, mereka sedang kesulitan. Ayo pergi.”
Naomi mengajak Putri ikut bersamanya.
“Cepat sekali, apa kita tidak akan mengucapkan selamat pagi. Atau..., kau merasa malu?” Sebuah senyuman berhasil terukir diwajah Putri. Senyuman ini adalah kali pertama semanjak dirinya berubah menjadi makhluk penghisap darah.
“Merasa malu, tidak jika aku belum berhasil.”
“Terserahlah, ayo pergi.” Perkataan itu akhirnya mengakhiri pembicaraan diantara keduanya.
Kehilangan kesempatan yang baik memang bukanlah hal yang mudah untuk dimengerti baik Laska maupun Sandra. Keduanya masih saja sibuk menyalahkan salah satu diantara keduanya.
Saat waktu yang seharusnya digunakan untuk kesempatan baik itu hilang, mereka pun akhirnya berhenti dan pergi menuju kelas. Mendapati Bila yang sedang cemberut ditempatnya duduk, sendirian saja.
“Apa saja yang kalian lakukan, menghabiskan waktu berlama-lama ditoilet?”
Bila menatap kedua temannya dengan tatapan mencurigakan.
“Bila kenapa kamu malah berpikiran seperti itu? Aku sama Laska gak ngapa-ngapain kok.”
Wajah Sandra seketika berubah saat mendengar pertanyaan Bila.
Laska yang tadinya sedang berjalan berdampingan dengan Sandra langsung saja menghindar menjauh meninggalkan orang itu dengan wajah serba salah. Menyangkut masalah ini Laska sangat tak ingin dilibatkan, mungkin jika Laska benar-benar serius.
“Apa yang sedang kamu katakan Dra, aku kan hanya bertanya. Tapi jawabanmu malah melenceng sangat jauh, belum lagi dengan pikiran anehmu itu.”
Akhirnya Bila hanya bisa mengeluarkan tatapan membingungkan. Sebelum kejadian itu Laska dan Sandra memberitahukan alasan mereka pergi hingga membiarkan Bila berjalan sendirian menuju kelas.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan Bila bisa merasakan seseorang terus mengawasinya. Bahkan sampai dikelas pun ia masih merasakan hal yang sama. Meski pikirannya sedang kusut Bila tetap berusaha untuk tidak berpikiran buruk, apalagi berani mencoba menerka-nerka siapakah seseorang yang terus mengawasinya sedari tadi, mungkin lebih tepat memperhatikan dari jarak jauh.
“Mungkinkah..., atau semua itu hanya perasaanku saja?” Ujar Bila, tanpa sadar perkataan itu keluar saja.
“What, you crazy. Kenapa kamu malah bicara sendirian?”
Baru saja Sandra selesai mengatakan itu ia langsung mengisyaratkan sesuatu kepada Laska agar segera duduk, begitu juga dengan dirinya. Namun Laska malah melakukan tindakan pura-pura tidak tahu dan masih berada ditempat, mengabaikan semua isyarat yang diberikan oleh Sandra tadi.
“Ok terus berada disana dan berpura-pura tidak mengenalku. Bila perlu sampai kakimu patah sekalian sebab berdiri terlalu lama.”
Sandra terlihat sudah duduk ditempat, tak memperdulikan Laska yang masih berdiri dan bersikap seolah-olah ia tak mengenali Sandra lagi.
“Hey Asinan. Itu kan tempat dudukku, dasar aneh."
Sebuah senyum kemenangan muncul sesaat setelah Laska mengucapkan perkataan itu.
'Asinan’ sebuah julukan yang baru-baru ini terpikirkan oleh Laska. Sejauh ini baru pertama kalinya Laska menggunakan panggilan julukan kepada Sandra. Selebihnya Laska lebih suka pada kebenaran. Tidak, jika Laska sedang senang bercanda.
Percampuran antara kebenaran dan candaan adalah suatu hal nyata, seorang Alaska harus bisa membedakan waktu yang sesuai untuk menggunakan antara keduanya.
“Asinan, namaku itu Assandra bukan Asinan. Dasar aneh.
“Em..., Bil, apa maksud dari perkataan mu tadi?”
Sandra mencoba untuk memfokuskan diri dengan Bila saja daripada mendengarkan semua ocehan Laska. Sandra pikir hal itu lebih baik.
“Bukan apa-apa, mungkin aku hanya kurang istirahat. Itulah sebabnya aku malah berpikir yang bukan-bukan.”
Tanpa sadar tatapan Bila malah tertuju kearah Andros beserta temannya, sama halnya dengan Sandra yang juga ikut tertarik dengan objek tatapan tersebut.
“Memangnya apa yang sedang kamu pikirkan?”
Kali ini Laska terlihat serius saat mendapati kedua sahabatnya itu masih melihat kearah Andros, Brendi dan Draynes. Namun baik Bila ataupun Sandra seakan sudah tenggelam dalam kegiatan memandangi ketiga orang yang berada dikelas mereka baru-baru ini.
Ketika merasa diabaikan oleh kedua temannya itu Laska pun akhirnya memutuskan untuk menghampiri orang yang menjadi objek pandangan keduanya serta membiarkan mereka tetap berlarut-larut dalam pikiran masing-masing.
“Hey, bagaimana kabar kalian?”
Laska terlihat sedang menghampiri rombongan Andros dan langsung bergabung bersama mereka. Tak tanggung-tanggung, ia bergaya seperti seolah-olah sudah berteman sejak lama dengan ketiganya.
Sandra yang tadi masih terpaku dengan kegiatan memandangi ketiga sosok didepannya akhirnya menyadari bahwa sudah terjadi suatu yang tidak beres.
__ADS_1
--------^---------^-----------^--------