
"Sebenarnya apa yang sedang kalian rencanakan. Sejak kemarin kalian sering berdiskusi berdua tanpa melibatkan aku?”
Bila sudah tidak bisa lagi mengontrol rasa keingintahuannya ketika lagi-lagi mendapati Sandra dan Laska kembali bicara bersama bahkan tanpa berniat mengajak ia bergabung. Padahal sebelum itu masalah apapun yang sedang mereka bahas, pasti selalu melibatkan dia.
“Em..., i-itu, aku dan Sandra sedang membicarakan tentang masalah kepegurusan kelas. Ja-jadi kamu tidak perlu tahu.” Laska terdengar terbata-bata walaupun kesan wibawanya sama sekali tak berkurang.
“Urusan kelas, kenapa aku tidak boleh tahu. Aku kan juga anggota kelas itu. Kalian tahu kita sekelas.” Kata Bila dengan memberikan penekanan dikata ‘sekelas’-nya.
“Benar kita memang sekelas, tapi ini adalah unrusan antara ketua kelas dengan sekretaris saja, mengerti.” Tambah Laska lagi, yang berhasil menuai kecurigaan dari Bila.
“Sejak kapan peraturan seperti itu berlaku. Aku rasa ada yang sedang kalian sembunyikan.
"Cepat katakan atau aku akan mencari tahu sendiri.”
“Kenapa kamu malah berpikiran seperti itu, kami tidak menyembunyikan apapun. Sebenarnya tidak jika sakit kepalamu itu tak mengganggu. Jadi berhentilah bertanya dan jaga kondisimu baik-baik.”
Laska bicara dengan cukup tegas.
“Jadi selama ini aku menyusahkan kalian ya, makanya kalian jadi bersikap seperti ini.”
“Apa. Bukan seperti itu Bil, kami hanya sedang mengadakan penyelidikan untuk mengetahui apakah sakit kepala dan penglihatanmu selama ini ada hubungannya dengan...”
Perkataan Sandra jadi terpotong saat melihat Laska melotot kearahnya.
“Tentang apa?”
“Itu, em..., tentang apa ya?
“Ah sudahlah. Las kita beri tahukan saja, kan hanya poin-poin penting. Aku tidak bisa menyembunyikan sesuatu dari temanku sendiri apalagi masalah ini sangat berkaitan erat dengannya. Dia kan juga berhak tahu.”
Ekspresi wajah Laska seketika berubah saat mendengar Sandra berbicara demikian.
“Terserah apa katamu, kalau itu memang baik lakukan saja.” Kata Laska memasang wajah pura-pura cuek. Sedangkan Sandra lebih memilih tidak merespon perkataan Laska dan melanjutkan perkataan lagi.
“Bila..., akhir-akhir ini kami mencurigai Andros, Brendi dan Draynes. Naomi juga ku curigai kalau Laska tak membantahnya dengan membuat banyak alasan.
"Menurutku mereka itu sangat mencurigakan ditambah lagi dengan pembicaraan tadi. Oleh sebab itu aku dan Laska akan melakukan penyelidikan ini lebih mendalam, dan semoga saja berhasil.”
“Penyelidikan, kedengarannya menarik.”
Bersamaan dengan perkataan itu tiba-tiba Bila ingat akan sesuatu setelah tangannya bergerak meraba kerah baju berwarna putih miliknya.
“Ada apa Bil?” Tanya Sandra saat mendapati ekspresi aneh dari wajah Bila.
“Gawat, kalungnya tertinggal.”
__ADS_1
“Kalung, kalung apa?”
Laska terlihat sama sekali tak mengerti dengan jalan pikiran kedua sahabatnya, wajah orang itu jadi linglung tak karuan.
“Maksudmu..., kalungnya tertinggal di mereka. Kenapa kita sampai tidak sadar sih? Harusnya kan selama ini kalung itu tidak pernah kamu lepas.” Tambah Sandra semakin membuat Laska tidak mengerti.
“Kita harus mencarinya.”
“Tapi Bil kita kan bisa menanyakan mereka besok. Selain itu kita sama sekali tidak tahu dimana mereka tinggal.”
“Tidak, aku tidak bisa menunggu selama itu, kalian tahu kan seberapa berharganya benda itu bagiku.”
Bila tetap bersikeras untuk mencari kalung tersebut tanpa memikirkan mengenai apapun lagi. Mengabaikan semua hal yang kemungkinan bisa terjadi.
“Ooo..., kalung itu. Ku pikir tadinya benda apa.”
Setelah sekian lama mendengar pembicaraan Bila dan Sandra, Laska akhirnya berhasil mengerti sesuatu tentang apa yang sedang mereka bicarakan sejak tadi. Entah mengapa otak Laska berkerja lebih lambat.
“Iya aku tahu Bila, tapi mencari tanpa adanya arah tujuan sama saja dengan menyesatkan diri sendiri. Kita tidak bisa mengambil risiko sebesar itu.
"Jika pun masih tetap bersikeras kepada siapa kita akan menanyakannya. Mereka itu kan masih baru tinggal didaerah sekitar sini.” Tambah Sandra masih dengan meyakinkan Bila bahwa mereka benar-benar tidak punya pilihan lain selain menunggu hari esok tiba.
“Kenapa kita tidak mencoba menanyakannya kepada Naomi atau Putri, dilihat dari segala aspek kurasa mereka mungkin tahu.”
Walaupun dengan perasaan setengah tak percaya mereka bertiga akhirnya setuju dengan ide yang Laska tawarkan. Tak membuang banyak waktu Bila, Sandra dan Laska bergegas pergi kerumah Putri untuk mencari tahu alamat rumah Andros atau salah satu diantara mereka.
Setibanya mereka disana baik Bila, Sandra maupun Laska sangat dikejutkan dengan keberadaan Naomi yang juga sedang ada dirumah Putri.
Laska sangat penasaran hingga tak henti-henti membuatnya terus bertanya kepada Putri alasan dibalik keberadaan Naomi dirumahnya.
Ketika itu Putri mengatakan Naomi hanya sedang berkunjung dan kebetulan mereka semua dipertemuan diwaktu bersamaan.
‘kebetulan yang aneh’ begitulah pendapat dari Sandra.
Perjalanan mereka terus berlanjut setelah ‘kebetulan’ ternyata Naomi mengetahui alamat rumah yang sedang mereka cari. Hanya saja alamat rumah yang diceritakan oleh Naomi bahkan sama sekali tidak dimengerti baik itu Bila, Sandra juga Laska.
Ketiganya bahkan hanya bisa saling tatap saat baru saja mendengar informasi yang Naomi berikan. Tidak hanya itu, dari Naomi jugalah mereka mengetahui bahwa Andros, Brendi dan Draynes ternyata tinggal serumah.
“Itu jalan kerumah siapa, masa sampai harus melewati hutan segala. Memangnya rumah mereka ada ditengah hutan?!” Tanya Sandra disertai dengan wajah seakan tak percaya sambil terus memperhatikan gerak-gerik Naomi.
“Tidak penting apa kalian mempercayai jawabanku atau tidak, kalian bertanya dan aku hanya menjawabnya.
"Jikapun kalian masih ingin pergi aku bisa menemani kalian bersama dengan Putri.” Kata Naomi dengan sedikit tersenyum.
Bahkan tawaran bantuan disertai dengan senyuman Naomi pun masih tetap membuat Sandra memutuskan untuk merundingkan masalah ini terlebih dahulu. Sepenting apapun tujuan mereka tetap saja mereka tidak boleh sampai bertindak gegabah apalagi harus mengambil risiko dengan berjalan melewati hutan.
__ADS_1
“Tunggu sebentar ya.” Ujar Sandra sambil menarik lengan kedua sahabatnya dan menyingkir cukup jauh dari tempat tersebut.
“Bila, Laska. Sebaiknya kita batalkan saja ya. Aku tahu kalung itu memang sangat penting. Tapi apakah harus kita menempuh jalan dihutan?
"Kedegarannya tempat itu juga cukup jauh. Wku juga tidak yakin kalau ada tempat tinggal ditengah hutan. Yang benar saja?!” Kata Sandra sambil sesekali melirik kearah Naomi dan Putri.
“Risikonya memang terlalu besar. Kemungkinan kita sedang dibohongi juga terbuka lebar. Tapi aku tidak bisa begini terus, lalu aku harus bagaimana?
"Kalung itu adalah benda yang paling berharga dalam hidupku.”
“Aduh kenapa malah jadi ribet seperti ini sih. Kita kan sudah bertiga ditambah lagi dengan Naomi dan Putri.
"Jika sekarang kalian masih merasa ragu cobalah untuk percaya padaku, atau lebih baik kita pulang saja.”
Laska mulai terlihat tidak sabaran.
Semantara itu Sandra terus melihat kearah Bila berusaha meyakinkannya agar memilih pilihan yang paling tepat.
Setelah berpikir cukup lama akhirnya Bila berhasil mengambil sebuah keputusan.
“Ok Kita tunggu sampai besok. Padahal kita sudah sampai sejauh ini. Tetapi sudahlah, kita tidak bisa melangkah terlalu jauh dalam sebuah hal yang belum pasti. Aku juga khawatir kita akan menyesal nanti.”
“It’s ok. Walaupun aku kehilangan kesempatan ini, ku rasa lebih baik daripada harus melibatkan kalian.” Tambah Laska lagi.
Bersamaan dengan pengambilan keputusan itu mereka kembali ketempat Naomi memberitahukan keputusan terakhir mereka. Walaupun masih ditemani dengan wajah dingin tetap saja Naomi tidak bisa menyembunyikan ekspresi berbeda dibalik sikapnya itu sesaat setelah mendengar keputusan mereka.
Hanya saja baik Bila, Sandra atau bahkan Laska sama sekali tak menyadari hal itu.
“Kenapa, kalian berubah pikiran?”
“Ku rasa begitu, kami datang kesini memang untuk mencari tahu alamat rumah mereka. Jika ternyata rumah mereka letaknya jauh kami tidak bisa pergi, ditambah lagi dengan kondisi Bila yang masih belum stabil.
"Pasti akan merepotkan kalau dia tiba-tiba sakit ditengah jalan. Makanya kami tidak jadi pergi.” Ujar Sandra menjelaskan.
“Untuk apa kalian menanyakan alamat rumah mereka, bukankah perjalanan kesini juga cukup jauh.
"Kalau bukan karena urusan penting kalian pasti akan menunggu sampai besok untuk bertemu dengan mereka.”
Sandra segera mengajak Bila dan Laska buru-buru pulang bahkan tanpa menjawab pertanyaan Naomi. Untuk saat ini hanya itu yang bisa ia lakukan daripada membuat alasan yang tidak masuk akal, akan lebih baik jika kali ini mereka menghindar.
“Nao, maaf ya kami sedang terburu-buru. So thanks.”
Baru saja Sandra menyelesaikan kalimatnya ia langsung menarik lengan Bila dan Laska melangkah pergi meninggalkan tempat tersebut. Tanpa memberikan kesempatan bagi keduanya memprotes.
----------^---------^------------^
__ADS_1