The Darkness Of Vampir World

The Darkness Of Vampir World
Perbincangan


__ADS_3

"Bila kenapa bayangan Laska bisa berada disana, perasaan tadi dia masih berdiri.” Tanya Sandra masih dengan kegiatan memperhatikan rombongan Andros tetapi kali ini tatapannya berubah menjadi seakan tak percaya.


Lain lagi dengan Bila yang sudah sadar, hingga memilih untuk tidak melanjutkan kegiatan aneh itu dan segera mengutarakan isi pikirannya secara langsung.


“Itu bukan bayangan melainkan memang benar-benar Laska.”


“Apa kamu bilang!”


Sandra terlihat sangat terkejut, terlebih saat memikirkan apa saja yang akan terjadi jika Laska masih tetap berada disana dan berbicara yang tidak-tidak. Semua itu tak berlangsung lama saat Sandra berpikir untuk memperingatkan Laska agar tidak melakukan hal-hal yang menurutnya tak bisa diterima akal sehat, apalagi saat mengingat kejadian waktu itu.


Kejadian saat Laska secara tidak langsung mengungkapkan perasaan kepada Naomi. Lebih tepatnya tentang perasaan kagum. Untuk saat ini Laska memang hanya sebatas kagum, tapi semuanya dirasa masih terlalu cepat. Naomi bahkan baru beberapa hari berada disekolah Permata Indah.


“Laska, Jan-Gan Bi-Ca-Ra Apa-Pun.” Ujar Sandra pelan berusaha memberitahukan sesuatu pada Laska bahkan sampai menunjukkan ekspresi mengancam.


“Apa Dra, kamu mengatakan sesuatu?”


Entah dikarenakan terlalu bersemangat atau apa, suara Laska bahkan terdengar sampai keluar ruangan kelas. Seakan baru saja menyambut kedatangan Naomi dan Putri yang berada tepat didepan pintu. Masih ditemani ekspresi yang sama keduanya lebih memilih masuk kedalam kelas ketimbang terus berdiri didepan pintu yang bisa saja menghalangi jalan siswa lain masuk.


“Sudahlah Sandra biarkan saja Laska, sebentar lagi kan kita akan masuk.” Ujar Bila menenangkan pikiran sahabatnya itu.


“Tapi Bil kalau dibiarkan seperti itu, Laska bisa bicara yang tidak-tidak.” Balas Sandra dengan wajah merengut. Walaupun saat itu cuaca sedang sangat cerah nyatanya tak berhasil membuat pikiran Sandra menjadi tenang.


“Tenanglah. Aku yakin anak itu tidak akan melakukan sesuatu yang aneh. Biarkan dia berbicara dengan sesama lelaki, mungkin saja dia sudah merasa bosan bicara dengan kita terus.”


“Terserahlah, kepalaku sedang pusing. Aku rasa lebih baik aku menyegarkan pikiran setelah pulang nanti.”


Mendengar perkataan Sandra Bila pun hanya bisa membalasnya dengan tersenyum. Hanya dengan tersenyum.


Kembali ke Laska.....


“Bren bagaimana pendapatmu mengenai Sandra, apakah anak itu menarik?”


Kali ini Laska benar-benar ingin mengetahui apakah Brendi hanya ingin sebatas berteman atau bahkan bisa lebih jauh dari perkiraannya selama ini. Sederhana saja, jika dilihat dari tangggapan dan sikap yang ditunjukkan oleh orang itu, siapa saja pasti hanya akan mengira bahwa Brendi sama sekali tak merasa tertarik kepada siapapun. Baik itu terhadap Sandra atau bahkan dengan Bila sekalipun.

__ADS_1


Tidak, jika orang tersebut memang bisa memendam serta pandai menyimpan masalah dengan sangat baik.


Sedangkan dengan Andros, dia memang tak bisa dipastikan bahwa sedang menyukai seseorang atau tidak. Tetapi setidaknya dia mulai terlihat akrab dengan Bila.


Kemungkinan Andros memang hanya ingin sebatas berteman atau bahkan bisa jadi lebih daripada itu. Semuanya tak akan pernah diketahui sebelum seseorang berani menanyakannya langsung kepada mereka. Untuk itu Laska berencana melalukan hal tersebut.


“Kenapa kamu malah menanyakan hal itu?” Balas Brendi memutarbalikkan pertanyaan.


“Tentu saja karena aku ingin tahu. Ya..., itu pun jika kamu mau memberitahukannya.” Laska bicara dengan tersenyum.


“Apa hal itu sangat penting bagimu?”


Draynes yang sedari tadi diam akhirnya turut serta dalam pembicaraan tersebut.


“Apakah sesulit itu menanyakan sesuatu pada kalian?


"Sebenarnya pertanyaan ini memang tidak terlalu penting. Aku hanya penasaran saja dengan sikap kalian akhir-akhir ini. Menurutku hanya itu alasannya.” Tambah Laska dilanjutkan dengan melihat kearah pintu memastikan guru mereka masih belum datang.


“Menarik, kalau saja dia bukan manusia.”


“Vampire, werewolf, gatot kaca atau mungkin penyihir seperti Harry Potter. Atau jangan-jangan, kamu bukan manusia. Bukan kan, pasti manusia kan? Benar kan, benar kan!”


Laska terus-menerus bertanya kepada Brendi. Namun orang itu malah tak menjawab dan masih menunjukkan wajah seperti biasanya. Lain lagi dengan Draynes, dia terus berusaha untuk mengendalikan pikiran Laska yang semakin liar disebabkan oleh perkataan Brendi tadi.


“Bukan. Jika saja Sandra tidak banyak bicara, dia pasti menjadi lebih menarik lagi.”


Untuk kali ini Brendi tak akan bicara hal yang bisa membuat posisi mereka terpojok. Ucapannya tadi hanya ia katakan untuk mengetes apakah pikiran Laska bisa dikendalikan oleh Draynes atau tidak.


Seharusnya hal itu tak perlu dilakukan, hanya saja Brendi ingin melakukan sesuatu yang berbeda.


“Cerewat itu kan sifat relatif. Jadi siapapun bisa saja memiliki sifat seperti itu. Mungkin kamu memang sering berwajah datar, sedangkan Sandra adalah orang yang cerewet. Tapi menurutku kalian berdua tetap cocok.” Sebuah senyuman menggoda terlihat setelah Laska mengedipkan sebelah matanya.


Perbincangan mereka terhenti saat seorang guru ‘Terdisiplin’ masuk kedalam kelas. Menyadari bahwa guru tersebut merupakan guru ‘Terdisiplin’ disekolahnya Laska segera berlari dari tempat duduk rombongan Andros, Brendi dan Draynes dan berpura-pura sedang membaca buku. Bahkan sampai melupakan perbincangan yang sempat mereka tekuni.

__ADS_1


--------^---------^---------^-------


"Kamu yakin mau pulang jalan kaki Bil, kalau sakit kepalamu itu datang lagi bagaimana?”


Sandra yang tadi hanya diam tiba-tiba berkomentar terhadap apa yang sedang dipikirkan oleh Bila.


“Memangnya perkataanku tidak wajar, aku kan hanya ingin berolahraga sedikit.”


“Olahraga sih boleh saja, asalkan jangan sampai membuat kesehatanmu menurun. Nanti fungsi olahraganya bisa terbalik, yang tadinya kepengen sehat eh malah jatuh sakit.” Kata Laska saat mereka baru saja tiba didepan pintu gerbang sekolah. Langkah kaki Bila seketika terhenti saat mendengar Laska bicara demikian.


“Jadi kita akan pulang dengan apa? Mobil kamu kan masih ada dibengkel.”


Perkataan tersebut seketika membuat Bila mengingat kembali kejadian disaat mereka hendak pergi ke sekolah tadi pagi.


Saat itu entah karena apa mobil Laska rusak ketika mereka baru saja masuk kedalamnya. Benar-benar situasai yang tak mendukung. Beruntung mereka masih sempat mencari angkot untuk berangkat kesekolah. Sementara itu mobil Laska diurus oleh ayah Sandra.


“Jadi..., kita akan pulang dengan apa?” Tanya Bila seakan sudah tak ingin bicara banyak mempertahankan hal yang ia inginkan.


“Nah gitu dong, kalau lagi sakit itu harus nurut. Tapi, kita pulang pakai apa ya?”


Sandra yang tadinya sempat bersemangat tiba-tiba jadi merengut saat mendengar perkataan Laska.


Akan tetapi semua itu tak bertahan lama ketika rombongan Andros datang menghampiri mereka.


Bahkan sampai saat ini pun Sandra masih belum pernah melihat salah satu dari mereka tersenyum. Terutama Brendi, apakah wajah anak itu akan berubah saat ditemani dengan senyuman?


Untuk saat ini hanya hal itu yang bisa dipikirkan oleh Sandra.


“Butuh tumpangan?”


“Tumben menawarkan tumpangan mau mengajak Bila dan Sandra jalan-jalan?”


Di saat-saat seperti itu Laska masih menyempatkan diri mengusik pikiran teman-temannya, terutama Sandra. Cewak satu itu memang cukup mudah termakan semua perkataannya. Laska sendiri merasa sangat bangga jika berhasil membuat Sandra jadi bad mood. Hanya sekedar hoby, sebuah gurauan.

__ADS_1


-------^-------^------^------


__ADS_2