
“Laska kau tidak marah kan?”
Perasaan tak tenang selalu menghantui Bila dan Sandra dari semalam hingga beranjak sampai sekarang. Keduanya seperti sudah tak tahu lagi harus berbuat apa disaat-saat seperti ini.
“Tidak, itu bukanlah masalah besar.”
Laska mencoba untuk tidak memikirkan apapun lagi. Tidak sampai pikirannya kembali normal.
“Lalunkenapa kau masih bersikap seperti ini?”
“Aku saja tidak mengerti, sangat sulit untuk mempercayai semuanya. Ternyata mereka, mereka makhluk penghisap darah. Kenapa kita tidak bisa mengetahuinya padahal penyelidikan itu baru saja dilakukan.
“Kita sudah sangat terlambat, menyadari semua diwaktu tidak tepat seperti ini. Bahkan aku sudah tidak bisa memikirkan mengenai apapun lagi.”
“Laska...,”
“Cukup Bila, Sandra. Kita bicarakan masalah ini nanti. Aku benar-benar tidak bisa membicarakannya.”
Bila dan Sandra mengerti akan sikap yang ditunjukkan oleh Laska. Tentu sangat sulit baginya menerima perubahan dalam waktu yang sangat singkat. Seharusnya mereka tidak melakukannya. keputusan untuk melakukan perubahan secepat itu terasa sangat tidak bisa dipercaya, bahkan hanya memikirkan keputusan itu saja terdangar sangat tidak adil.
Dan Laska, yang harus mengalami semua itu diikuti dengan ketidaksanggupan Bila dan Sandra dalam mencegah semuanya. Dengan kata lain mereka sudah kehabisan pilihan.
“Apakah semua ini masih bisa disebut takdir?”
Bila dan Sandra menatap Laska secara bersamaan sesaat setelah ia menyelesaikan ucapan.
“Semua ini bukanlah takdir Laska, melainkan sebuah kesalahan. Kesalahan karena ketidakmampuan kami dalam menangani semuanya.
"Kami tidak bisa berbuat banyak selain mengambil keputusan yang belum tentu benar dan berharap banyak pada keputusan ini.
"Awalnya kami pikir semua akan baik-baik saja, tapi saat mendengar kau terus memikirkan dia. Kami..., tidak bisa berdiam diri terus. Harus ada seseorang atau apapun itu melakukan sesuatu walaupun pilihannya sangat tidak masuk akal.”
Bila akhirnya bicara terus terang.
“Tidak semua masalah bisa diselesaikan dengan pendapat ataupun pemikiran seperti itu Bila. Bersembunyi dibalik sesuatu yang kalian sebut dengan takdir itu bukanlah pilihan tepat.
“Tetapi sudahlah, takdir atau apapun itu aku tetap menghargai usaha kalian.
"Sekarang yang ingin ku ketahui adalah apakah kalian akan membalas mereka? Mereka, Naomi dan Putri. Aku bahkan sangat sulit mempercayai bahwa merekalah penyebab semua kekecauan ini. Mereka semua, bukan manusia.
__ADS_1
"Andros, Brendi dan Daynes. Kita semua sudah terjebak dalam lingkaran setan ini.”
Bila dan Sandra saling berpandangan saat mendengar perkataan Laska.
“Entahlah kami juga tidak tahu. Sampai saat ini kami belum pernah memikirkan tentang balas dendam. Semua itu pasti akan melahirkan kebencian lagi, dan tali perselisihan tidak akan pernah hilang. Semua terasa sangat sulit.”
“Bahkan dengan semua perubahan ini kalian masih saja terlihat sangat lemah. Perasaan seperti apa yang sedang kalian pikirkan. Aku sudah berusaha membacanya tapi tetap tidak bisa mendapatkan apapun.
"Kalian ingin berbaikan dengan mereka, atau kalian tidak melakukan apa-apa. Cepat atau lambat pasti akan terjadi sesuatu. Entah itu dari pihak kita atau mereka.
"Andros, Brendi dan Draynes pasti juga akan bertindak walau tidak dengan persetujuan kalian. Sebelum menjalin hubungan dengan kita mereka sudah saling mengenal sejak lama, entah apa saja yang telah mereka alami. Pikirkanlah sebuah keputusan, seperti kalian sudah mengambil keputusan menyangkut hidupku ini.”
Awalnya Laska berniat pergi meninggalkan tempat itu. Semua terhenti saat Bila tiba-tiba bicara kembali.
“Aku sudah mendapatkan kalungku kembali Laska, sejak saat itu aku kembali mendapatkan kepercayaan diri lagi. Selama ini aku hanya berharap semua berjalan baik-baik saja sesuai dengan harapanku. Tidak akan pernah terjadi suatu hal yang buruk.
“Aku sangat percaya dengan kekuasaan takdir, dan aku percaya kita bisa menghadapi semua ini. Dalam sebuah kehidupan pasti akan ada suatu hal baru, awal sebuah kejadian. Jalinan hubungan itu akan terus berjalan Laska.
“Sampai saat ini aku tidak pernah berpikir tentang balas dendam, kebencian dan kemarahan. Tapi..., saat itu aku mulai membiarkannya tumbuh dan menguasai pikiranku.
"Saat ini entah kerena apa aku bisa merasakan semacam hubungan dengan mereka. Aku sama sekali tidak tahu hubungan seperti apa yang ku rasakan ini. Tentang hubungan apa yang tercipta sebenarnya.”
“Bicara apa kau Bila, kau ingin melakukan apa?
Sandra merasa sangat kesal dengan perkataan Bila, ditambah lagi saat menyadari sifat kebaikan Bila suatu saat nanti akan menjadi kelemahan baginya.
“Hentikan. Kita selesaikan pembicaraan ini. Beristirahatlah, setelah ini kita harus pergi ke sekolah. Setelah itu ku harap kau bisa meyakinkan dirimu lagi.”
Perkataan terakhir Laska tidak dibalas oleh sipapa pun yang menandai persetujuan dari Bila maupun Sandra. Dengan melihat keduanya sebentar Laska memutuskan kembali melanjutkan perjalanan yang sempat tertunda tadi.
“Bila kau mau kemana?”
“Setelah semua kekacauan ini apa yang akan dipikirkan oleh keluargamu Sandra. Kita menghilang ditengah malam dan pergi tanpa memberitahukan apa-apa.”
“Tenanglah, aku sudah menuliskan pesan. Selain itu aku juga sudah berhasil memengaruhi pikiran mama. Rasanya sangat aneh saat aku masih berharap banyak pada mereka.
“Kau mau kemana. Jangan pernah berpikir kau bisa lari dariku. Ingat ya, sampai saat ini pun aku masih tetap bertanggung jawab atas dirimu. Jangan membuatku khawatir. Jika terjadi sesuatu katakan saja. Ya..., harus ku akui pikiranku ini memang sering berubah-ubah, untuk itu kau bisa memperingatiku.”
Sandra terlihat sedang tersenyum, sebuah senyuman tulus.
__ADS_1
“Kau kelihatan sudah lebih baik. Rencananya aku ingin pergi menemui mereka. Kalau kau mau aku memang sangat ingin mengajakmu.”
“Apa!”
“Kenapa Sandra, kau tidak bisa membaca pikiranku ya, kasihan. Ayo pergi.”
“Tapi Bila, aku..."
“Tidak ada tapi-tapian. Kita harus mencari sesuatu. Pengambilan keputusan bersama kan lebih baik daripada sendiri-sendiri. Jadi jangan membantah.”
Sandra tidak bisa berbuat apa-apa saat Bila membawanya dengan cara paksa. Terkadang Bila memang sangat berbakat dalam hal pemaksaan.
“Bila kenapa kita datang kesini, ini kan kamar mereka.”
Sandra sudah tak bisa lagi mengunci mulut saat Bila membawanya ketempat yang menurutnya sangat tidak memungkinkan.
“Kita sedang mencari mereka Dra, kalau bukan kesini lalu mau kemana lagi?”
“Bila l know, kelihatannya mereka juga tidak ada disini. Lebih baik kita pergi.”
Sandra sangat ingin pergi meninggalkan tempat itu secepat mungkin sebelum Bila melakukan sesuatu yang lebih aneh lagi.
“Yakin?”
“Iya aku yakin. Kalau kau tidak percaya coba pakai penciumanmu.”
“Baiklah, kita cari ke tempat lain.”
Perkataan Bila yang satu itu membuat Sandra menarik napas lega. Sandra sangat berantusias meninggalkan tempat tersebut. Rasanya aneh jika berlama-lama ditempat pribadi, apalagi tempat itu terlalu mencolok—menurut pandangan Sandra.
Di dalam kamar tersebut terdapat tiga ranjang berukuran sedang yang menurut Bila dan Sandra digunakan sebagai tempat tidur.
Selain itu juga terdapat lebih banyak barang antik dibandingkan dengan yang berada diluar, rak yang berisi buku-buku kuno, serta beberapa hiasan kamar berbentuk batu merah.
Meskipun terdapat banyak lampu penerangan tetap saja masih belum cukup untuk membuat ruangan itu agar kelihatan tak menyeramkan. Di tambah lagi dengan beberapa lukisan kuno, berjejer rapi, seolah-olah sedang mengawasi pergerakan mereka.
Bila tiba-tiba saja berhenti saat menemukan sebuah benda yang sangat menarik perhatiannya.
“Bil ada apa?”
__ADS_1
Sandra spontan bertanya saat melihat Bila tiba-tiba berhenti.
-------------^------------^---------^------