
“Sebenarnya kami tidak membolos. Kemarin kami dipanggil oleh pihak sekolah keruangan Tata Usaha untuk mengurus masalah administrasi.” Sambung Brendi dengan melihat kearah Andros yang masih saja diam. Sepertinya tadi Andros sempat salah bicara.
“Apa yang sedang kalian bicarakan? Apa tidak ada lagi tema lain selain pembicaraan yang tidak bermutu itu.
“Sandra kenapa kamu malah menuduh mereka membolos, memangnya kamu punya bukti bahwa kemarin mereka memang benar-benar membolos?
"Saranku, daripada kita membicarakan hal itu lebih baik kita membicarakan tentang rutinitas sehari-hari, kepribadian atau apalah. Bukannya malah berdebat seperti ini.”
Laska tiba-tiba terlihat sangat serius menanggapi apa yang sedang dibicarakan oleh teman-temannya. Sebelumnya Laska memang tak mengerti, tapi sekarang ia merasa harus memperbaiki semuanya terlebih dahulu. Laska pikir, itulah fungsinya sebagai ketua kelas.
“Dasar menyebalkan. Aku kan hanya sedang bertanya saja kepada mereka. Memangnya menurutmu sendiri kejadian kemarin tidak seperti membolos? Seenaknya menganggapku menuduh tanpa alasan.” Gerutu Sandra sambil menarik napas sepanjang mungkin berusaha agar tidak mengamuk.
“Dra sudahlah.
"Lupakan semua itu. Sekarang tawari saja mereka makan. Aku ingin pergi kedapur.”
Baru saja Bila hendak beringsut pergi meninggalkan tempat tidur tetapi terhenti saat keinginannya itu mendapat penolakan telak dari Sandra.
Sandra yang tadinya berniat untuk memberitahukan alasan mengapa ia sampai menduga bahwa Andros, Brendi dan Draynes membolos jadi terlupakan saat melihat Bila ingin pergi meninggalkan tempat peristirahatannya itu.
“Untuk apa? Jangan katakan kalau kamu sudah merasa bosan berada ditempat tidur. Bila ini semua untuk kebaikanmu sendiri, kamu membutuhkan istirahat. Jangan cerewet. Kamu adalah tanggung jawabku, please.”
“Aku juga tahu Dra, aku hanya ingin mengambil air putih didapur. Kamu tadi kan hanya membawakan es lemon.” Kata Bila yang sudah menarik hampir seluruh selimut.
“Kenapa tidak kamu katakan dari tadi kalau soal itu biar aku saja yang melakukannya, kamu kan masih sakit.”
Sandra masih saja tak membiarkan Bila keluar dan terlalu banyak bergerak. Sama seperti ibunya, untuk hal yang satu ini keduanya memang suka terlalu berlebihan. Mereka tak bermaksud tidak seperti itu, hanya saja mereka pikir semua yang mereka lakukan adalah untuk kebaikan Bila sendiri.
“Sandra justru karena sakit itulah aku tidak ingin bermalas-malasan disini. Ku rasa tidak ada salahnya bergerak sedikit, lagi pula kepalaku sudah agak baikkan kok sekarang.
__ADS_1
'Selain itu..., rencananya aku sudah ingin pergi kesekolah besok pagi. Untuk itu aku harus membiasakan diri agar besok tidak terlalu kaget saat harus banyak bergerak, sekalian berolahraga sedikit biar otot tidak terasa kaku.”
“What, besok. Apa kamu sudah tidak waras, kalau sakit kepalamu itu tiba-tiba muncul bagaimana? Siapa yang akan susah, kita kan. Kamu pun juga akan kesusahan nantinya.”
“Setiap keberhasilan itu kan selalu ada usaha, dan aku ingin mencoba terlebih dahulu. Kalaupun besok aku masih sakit itu berarti memang sudah menjadi nasibku.”
Bila tak mempunyai niat sedikit pun untuk berdebat dengan Sandra apalagi menyangkut masalah sepele seperti ini. Bila hanya sedang ingin bergerak sedikit, dan itupun hanya dengan berjalan mengambil air putih didapur. Hanya saja Sandra kelihatan sama sekali tak menyetujui apa yang ia dipikirkan.
“Sandra sudahlah. Biarkan Bila melakukan apa yang ia inginkan, toh masih dalam ruang lingkup rumahmu ini kan. Kalaupun kamu masih merasa khawatir biarkan Andros saja yang menemaninya. Daripada tidak ada kerjaan dan terus termenung seperti itu. Benar kan An.”
Laska akhirnya mengusulkan sesuatu terlebih saat mendapati Andros sedang tidak melakukan apa-apa dan terlihat berdiam diri terus-menerus seperti itu. Laska pikir tidak ada salahnya menyuruh Andros menemani Bila agar ia setidaknya melakukan sesuatu.
Selain itu Laska juga berpikir untuk menggoda Sandra yang kelihatan terlalu overprotektif dalam menjaga Bila sampai-sampai Bila tidak dibolehkan pergi kemanapun kecuali tidur dikamar ini saja.
Coba saja kalau Sandra yang berada diposisi Bila dia mungkin pasti lebih cerewet. Semua ini pun sudah lebih dari cukup menunjukkan bahwa Sandra memang terlalu berlebihan. Menurut Laska memang begitu.
“No, lebih baik aku saja. Ayo Bil.” Ajak Sandra cepat sebelum Laska bicara lebih banyak lagi, terkadang anak itu memang benar-benar menyusahkan.
“Kalau tidak keberatan aku bisa membantumu.” Kata Andros sebelum Sandra sempat membawa Bila pergi meninggalkan tempat tersebut.
“Nah... Andros saja sudah setuju. Sekarang lepaskan tangan Bila, dasar penganggu. Apa jangan-jangan..., kamu malah cemburu melihat Andros dan Bila hingga membuatmu ingin cepat-cepat membawanya pergi dari sini. Tekhnik pemisahan yang kurang tepat, kurasa.”
Sandra langsung dibuat melotot saat mendengar kalimat terakhir Laska sampai-sampai membuatnya refleks mengambil sebuah bantal dan melemparkannya tepat mengenai wajah sahabatnya itu.
“Rasakan, lain kali harusnya aku memilih benda berat untuk melempar kepalamu, biar otakmu lebih waras sedikit.”
Sandra terlihat sangat kesal. Laska yang awalnya terlihat tegas, berwibawa dan bijaksana malah berubah menjadi seperti ini.
“Hey Dra, jangan salahkan aku kalau kamu masih menjomlo. Aku tidak terlibat apapun tapi malah terkena getahnya.” Tambah Laska lagi hingga membuat kemarahan Sandra semakin memuncak.
__ADS_1
“Stoped.
“Ayo An kita pergi, aku sudah tidak tahan lagi barada disini. Bren, Draynes tolong jaga mereka ya, bila perlu buat saja pembatas sebesar mungkin agar mereka tidak bisa bertengkar lagi.”
“Tapi Bil kamu kan...”
Sandra sudah tak sempat melanjutkan perkataannya karena Bila sudah terlanjur pergi meninggalkan tempat itu, dengan Andros yang menemaninya.
“Lihatlah itu. Sekarang siapa yang akan bertanggung jawab.”
Sandra terlihat sedang memijat kepala. Sakit kepala yang akhir-akhir ini menyerang Bila ternyata sudah menular kepadanya.
---------^--------^----------^------
Andros dan Bila masih dalam perjalanan menuju dapur. Kebetulan dapur rumah Sandra memang terletak agak jauh. Untuk itu waktu yang diperlukan pun juga cukup banyak. Selama diperjalanan, entah karena apa Bila terus memperhatikan gerak-gerik Andros.
“Kenapa anak ini selalu saja diam, ditambah lagi ekspresinya datar begitu. Sebenarnya kan dia ini keren, tapi menyeramkan. Kenapa dia memilih style seperti ini. Sangat tidak singkron. Akan tetapi harus kuakui dia menarik.” Gerutu Bila disela-sela kegiatannya memperhatikan Andros.
“Kenapa?” Tanya Andros dengan masih melihat jalan yang ada dihadapannya, tanpa melihat Bila sedikitpun.
Bahkan meski dengan kedekatan mereka saat ini sama sekali tidak mempengaruhi Andros sedikitpun. Ia masih saja ditemani dengan ekspresi datar.
“Apa.”
Bila terlihat salah tingkah saat mengetahui bahwa Andros sudah memergokinya.
“Kenapa kamu melihatku?” Tambah Andros lagi masih dengan ekspresinya tadi.
--------^-------^-------^------
__ADS_1