
Bila, Sandra dan Laska melewatkan perjalanan dengan mulut diam membisu serta wajah tenang diantara ketiganya. Tidak ada seorang pun yang berniat membuka pembicaraan mencairkan suasana, bahkan Alaska pun juga melakukan hal sama.
Entah karena apa sifat cerewet Laska pun berganti dengan kegiatan memfokuskan diri kearah jalan dan mengendarai kendaraannya dengan tenang. Setelah sebelum mereka memutuskan untuk pergi ke kediaman Putri dan mengambil mobil Laska yang berada dibengkel.
Semuanya berjalan dengan sangat lancar jika seandainya tak ada seekor kelinci putih bersih dengan mata merah menyala melintas secara tiba-tiba tepat ditengah jalan yang sedang mereka lewati. Laska yang menyetir dengan tenang terpaksa harus menghentikan mobilnya secara mendadak agar bisa menghindari tabrakan tersebut.
“Las kamu sedang memikirkan apa?
"Masa kelinci secantik itu sama sekali tak terlihat. Untung saja tidak tertabrak kalau dia sampai mati kan kasihan.”
“Dra, kenapa kelinci itu tidak bergerak bukankah tadi sama sekali tidak tertabrak?”
Bila spontan bertanya melihat kelinci yang masih tergeletak ditengah jalan itu saat mereka masih berada didalam mobil.
“Tunggu dulu, apa kalian melihat kelinci itu berlari ketengah jalan atau memang sudah tergeletak disana?”
“Ah sudahlah, jalan ini terlihat menyeramkan. Lebih baik kita pulang saja ya. Firasatku jadi tidak enak.”
Terdengar suara Sandra lirih dengan wajah pucat pasi.
“Tumben kamu merasa takut Dra, biasanya kan kamu yang paling pemberani diantara kita.” Komentar Laska bercanda saat mendapati wajah Sandra yang kelihatan aneh.
“Laska aku rasa Sandra memang benar. Lebih baik kita pulang. Aku juga merasakan hal yang sama dengannya.”
“Kamu juga Bil, kalau begitu baiklah kita pergi.” Laska masih menyempatkan diri tersenyum sesaat sebelum kembali melajukan mobil.
Laska terlihat bersikap tenang walaupun terus dihujani kemungkinan serta permintaan baik itu Bila dan Sandra. Seperti permintaan untuk mempercepat laju mobil agar bisa sampai secepat mungkin dirumah, kemungkinan mereka sedang dijebak seperti pada film-film action yang sering ditonton Sandra.
Entah apalagi yang akan mereka pikirkan setelah sampai dirumah nanti.
Sementara itu Laska hanya menanggapi semuanya dengan tersenyum, ia tidak bisa ikut-ikutan panik sama seperti Bila dan Sandra karena konsentrasi sangat dibutuhkan dalam mengendarai mobil apalagi dalam kondisi seperti ini.
Dan—lagi-lagi konsentrasi Laska dibuat pecah, itu semua terjadi bukan disebabkan kecerewetan Sandra ataupun Bila tapi karena lagi-lagi mereka hampir menabrak seekor kelinci. Kejadian tersebut terus terjadi berulang-ulang sampai yang kelima kalinya. Kelinci yang hampir ditabrak pun adalah kelinci yang sama disetiap kejadiannya.
Semua itu tentu saja membuat Laska merasa harus bertindak, sebagai seorang laki-laki.
__ADS_1
Akhirnya setelah mengalami kejadian yang sama sebanyak lima kali berturut-turut Laska pun memutuskan turun dari mobil untuk memeriksa keadaan disekitar. Sebelumnya Sandra sangat tidak setuju dengan keputusan Laska akan tetapi mereka sudah tak memiliki pilihan lain selain memastikan keadaan yang sedang terjadi.
Sebab kejadian itu merupakan kejadian yang terjadi kesekian kalinya sebelum mereka memutuskan untuk mengabaikan dan hanya berpikir bagaimana cara agar cepat sampai kerumah masing-masing.
Setelah selesai memeriksa keadaan disekitar Laska pun pergi melihat kelinci yang masih tergeletak ditengah jalan itu.
Betapa terkejutnya Laska saat mengetahui bahwa kelinci itu sudah mati dengan luka mangangga dileher. Bersamaan dengan hal tersebut terdengar suara teriakan dari dalam mobil yang tentu saja berasal dari Bila dan Sandra. Refleks Laska langsung berlari menghampiri mobil dan masih sempat melihat bayangan hitam yang melaju dengan sangat kencang.
Saat sampai tepat disamping mobil Laska mendapati Sandra yang masih duduk ditempatnya, tetapi tidak dengan Bila. Anak itu telah menghilang entah kemana. Laska sebenarnya ingin mencari keberadaan Bila, tetapi terhenti saat menyadari Sandra sama sekali tidak bergerak bahkan tanpa mengedipkan mata sekalipun.
“San, Sandra, kamu kenapa? Dra kenapa kamu bisa jadi seperti ini!” Ujar Laska setengah berteriak sambil terus mengoncangkan tubuh Sandra yang masih tidak bergerak sedikit pun. Tidak hanya itu, matanya berwarna merah darah yang sangat pekat.
--------^---------^--------^------
Tubuh Andros seketika tersentak saat masih berada dalam dimensi lain dibalik kalung berliontin dua huruf N yang terdapat dua Batu Merah dimasing-masing hurufnya. Saat itu Andros sedang berbicara dengan ibunya Ratu Mitra yang entah mengapa separuh jiwanya ada didalam kalung tersebut. Untuk itu mereka harus mengetahui semuanya secepat mungkin.
Semua itu terhenti saat Ratu Mitra membicarakan tentang petunjuk bahwa akan terjadi suatu hal yang sangat besar dihadapan mereka. Bersamaan dengan itu terlintas bayangan Nabila. Walaupun Andros tengah mengosongkan pikiran--karena untuk memasuki dimensi waktu dibutuhkan konsentrasi yang sangat baik, itu pun hanya bisa dilakukan dengan bantuan Brendi dan Draynes.
“Ada apa Andros?”
“Hentikan, kita harus segera menemui Bila.”
“Kenapa kau ingin menghentikan semua ini kita sudah hampir mengetahui jawaban yang selama ini kita cari, kalau soal kalung kita bisa mengembalikannya besok.”
Draynes kelihatan lelah, kemampuan pengendaliannya sangat dibutuhkan dalam melintasi dimensi waktu.
“Tidak, kita harus menemuinya.”
Andros bicara sangat bersungguh-sungguh. Hingga membuat Brendi dan Draynes akhirnya setuju mencari keberadaan Bila.
“Baiklah kita pergi.”
Akhirnya mereka memutuskan lebih memilih mempercayai Andros daripada melanjutkan rencana yang telah mereka laksanakan setengah perjalanan. Pergi tapi bukan kearah rumah milik Sandra melainkan menuju ketempat lain yang berhasil diketahui dengan menggunakan kemampuan penciuman.
Perasaan tak tenang seketika merasuki pikiran masing-masing ketika arah yang ditujukan oleh penciuman tersebut mengarah kesebuah hutan. Butuh waktu yang cukup lama untuk mengetahui posisi pasti keberadaan mereka disebabkan arah yang ditunjukkan menjadi tak beraturan, semua jadi tercampur aduk.
__ADS_1
“Laska, aku hanya bisa merasakan keberadannya saja selain itu kita juga tak bisa menentukan posisi mereka!”
“Berhenti, aku akan mencoba memastikan posisi mereka terlebih dahulu.”
Mereka semua seketika berhenti saat Draynes memberikan pengarahan untuk bisa menentukan lokasi keberadaan Laska.
Masih terus berkonsentrasi Draynes menunjukkan jalan yang harus mereka tempuh meski pun harus terhenti ketika terjadi percampuran antara penciuman dan penglihatan.
“Sepertinya ada yang tidak beres disini. Semua menjadi kacau, tidak salah lagi pikiranmu memang benar Andros.”
Di sela-sela pencarian mereka Brendi masih sempat mengatakan sesuatu tentang masalah yang sedang mereka hadapi.
“Arrgh...., dari tadi aku tidak bisa merasakan keberadaan Bila. Jika benar Naomi dan Putri penyebab dari semua ini, aku pasti akan melenyapkan mereka!”
Tatapan Andros seketika berubah saat wajah Bila terlintas dipikirannya.
“Tidak Andros, kau tidak boleh melakukan hal itu.”
“Apa yang sedang kau katakan, bukankah waktu itu kau sudah mengatakan itu?
"Kali ini tidak ada vampire mana pun yang bisa menyelamatkannya, kecuali jika mereka memang pantas.”
Mata Andros sudah berwarna merah darah saat melihat Brendi yang juga sedang menatap kearahnya.
“Berhenti, itu mereka.”
Darynes melihat kearah sebuah mobil yang berada ditengah jalan yang sepi. Tanpa meninggalkan kesempatan sedikitpun mereka segera menghampiri mobil tersebut menyaksikan Laska yang sedang berusaha memindahkan Sandra kebagian depan mobil. Setelah sekian lama berusaha mencari bantuan dengan menggunakan handphone.
“Laska.”
“Kalian, bagaimana kalian bisa ada disini?”
Laska terlihat sangat terkejut dengan kedatangan Andros, Brendi dan Draynes hingga hampir saja menjatuhkan Sandra.
“Itu semua tidaklah penting, sekarang dimana Bila?”
__ADS_1
Andros sudah tak bisa lagi menahan diri untuk tidak menanyakan keberadaan Nabila. Pikirannya berubah menjadi sangat kacau.
----------^-------^---------^-----