
Di sekolah hari itu mereka kembali kedatangan anak baru, serangkaian tentang anak baru seolah-olah tak bisa berhenti berjalan. Berbeda dengan anak baru yang datang pertama, kali ini mereka kedatangan seorang anak baru perempuan yang berpenampilan sangat supel. Kelihatan sangat cantik berpadu dengan bentuk wajah tirus serta rambut yang dibiarkan tergerai begitu saja.
ekspresi wajahnya memang terlihat tidak jauh berbeda dengan ketiga anak baru yang datang kemarin tetapi tetap saja tak berpengaruh terhadap anak lelaki yang ada dalam kelas tersebut, jika hanya sekedar menyoraki kedatangannya. Benar-benar sebuah pesona yang menakjubkan.
Tidak diragukan lagi dengan penampilan style modis seperti itu anak baru yang satu ini juga tak kalah saing dengan ketiga anak baru yang datang kemarin. Hanya saja dia memiliki sedikit kekurangan, hanya satu. Dia tak pernah tersenyum. Sama halnya dengan Andros, Brendi dan Draynes yang hanya menunjukkan ekspresi wajah datar.
Aneh tapi meyakinkan.
"Sstt... Dra, lihatlah anak baru itu. Kelihatannya dia baik.” Desis Laska menyenggol sedikit tangan Sandra yang digunakannya untuk menyangga wajah sambil memperhatikan anak baru tersebut.
“Laska..., kamu itu ketua kelas. Cobalah bersikap lebih tenang.” Balas Sandra cuek sambil memperbaiki letak tangan yang disenggol oleh Laska tadi.
“Ketua kelas kan tidak harus selalu serius. Sekali-kali tidak ada salahnya seorang ketua kelas melakukan sesuatu yang lain. Lagi pula ketua kelas kan juga manusia yang memiliki sederetan pengalaman.” Ocehan Laska kembali terdengar sembari masih saja melihat kearah anak baru itu. Sedangkan Sandra langsung menatap aneh tepat saat Laska menyelesaikan kalimatnya tadi.
Mungkinkah Laska melangkah memasuki pintu penggemar setia dan bergabung bersama dengan yang lain?!
Anak baru, sebuah julukan yang selalu membuat kesan berbeda.
“Itu memang wajar tapi bagiku itu tetap aneh.”
“Apanya yang aneh?” Tanya Laska kali ini langsung melihat Sandra dengan tatapan yang membingungkan.
“Tidak ada.
"Em... Laska. Coba kamu perhatikan mata anak baru itu, kalau tidak salah namanya..., Naomi kan?”
“Emm, memangnya kenapa?” Laska masih menyempatkan diri melihat Naomi yang melewati tempat duduk mereka.
Ekspresi wajahnya masih saja datar walaupun diperhatikan oleh hampir seluruh penghuni kelas tersebut. Terutama kaum lelaki, termasuk Laska. Ia dengan wajah datarnya kelihatan sedang menuju kearah pojok diposisi paling belakang kelas. Kebetulan meja itu memang sedang kosong sekarang.
“Tunggu dulu, itu kan tempat duduk Bila. Kenapa anak baru itu malah duduk disana?”
Sandra terlihat sangat kaget saat mengetahui tempat yang dipilih oleh anak baru itu.
__ADS_1
"Why, itu kan wajar. Dia hanya mencari tempat duduk dan kebetulan tempat itu memang sedang kosong.” Jawab Laska masih menyempatkan diri melihat Naomi untuk terakhir kalinya sebelum pelajaran dimulai.
“Bagus sekali, kamu bahkan tidak bertanya kenapa orang yang duduk disana tidak masuk sekarang.”
Sandra bertatapan langsung dengan Laska yang mulai menyadari sesuatu.
“Kamu ada benarnya juga, aku hampir saja lupa. Anak itu kenapa lagi sampai harus absen?”
Laska akhirnya menanyakan sesuatu yang berhubungan dengan Nabila. Sebelumnya ia sama sekali tak menyinggung apapun mengenai sahabat masa kecilnya itu.
“Sudah ku duga, ternyata seorang anak baru bisa menimbulkan hal semacam ini. Pesona anak baru memang sangat menakjubkan.”
Sandra sudah tidak melihat Laska lagi sebab pelajaran pagi itu dimulai dengan penjelasan dari guru mereka. Jika berhubungan dengan pelajaran Sandra berusaha mempertahankan konsentrasi, meski terkadang masih sempat terlupakan.
“Apa yang kamu bicarakan, kedengarannya seperti sedang marah kepadaku.”
Laska turut memperhatikan penjelasan dari guru mereka sesekali menyempatkan diri melirik Sandra yang kelihatan cuek.
“Belajar itu harus tenang dan fokus Laska. Kita lanjutkan pembicaraan ini nanti. Ya..., itu pun jika kamu tidak disibukkan dengan kegiatan lain.” Sandra terlihat sedikit tersenyum sesaat sesudah mengatakan hal itu, sedangkan Laska malah membalasnya dengan wajah kesal.
Waktu terus berjalan, sebagian siswa sudah ada yang merasa jenuh dengan pelajaran itu. Matematika memang cukup menguras pikiran dengan semua rumus yang ada didalamnya.
Naomi kelihatan sama sekali tak terpengaruh dengan semua hal itu malahan ia lebih terkesan tak peduli. Wajah Naomi masih ditemani dengan ekspresi datar.
Tidak hanya Naomi bahkan Andros pun juga terlihat tak tertarik dengan penjelasan yang diberikan guru mereka. Dia lebih suka diam sesekali melihat kearah luar jendela. Entah apa yang sedang dipikirkannya saat itu.
Melihat ekspresi sebagian atau hampir seluruh siswa, tentu saja membuat guru mereka menyadari bahwa sebagian dari muridnya tidak memperhatikan materi yang sedang disampaikan. Hal itu membuat sang guru memberi tugas sebagai ganjaran bagi mereka yang tidak fokus.
Perlahan pak Hendra berjalan menghampiri whiteboard. Sebagian siswa ada yang manghela napas panjang pertanda dunia terasa semakin kelam. Baru saja pak Hendra selesai menuliskan soal suara lonceng istirahat bergema dengan nyaring. Tentu saja semua itu membuat hampir seluruh siswa bersorak gembira karena telah bebas dari belenggu pelajaran yang membosankan.
“Dra kamu kan belum menjawab pertanyaanku, kenapa sekarang sudah mau keluar?” Cerocos Laska saat melihat Sandra bergegas pergi meninggalkan kelas.
“Alaska memangnya kamu tidak lapar? Kita kan bisa bicara dikantin.” Ujar Sandra sambil mengisyaratkan agar Laska ikut bersamanya.
__ADS_1
“Sandra dikantin itu rame, lagipula aku yakin kamu pasti tidak bisa fokus kalau sudah berhadapan dengan makanan.”
“Aku sudah lapar Laska, kalau nanti kamu masih belum puas cerita di kantin lebih baik kamu ke rumahku saja. Sekalian pergi menjenguk Bila. Satu lagi, aku tidak bisa cerita disini.”
Sandra melihat seisi ruangan dan menemukan keempat anak baru yang menyeramkan itu masih ada di sana.
“Memangnya kenapa?” Wajah Laska terlihat sangat aneh.
“Ikut aku.”
Tanpa tanggung-tanggung Sandra langsung menarik lengan Laska sehingga orang tersebut terpaksa harus mengikuti kemanapun gadis itu pergi.
"Dra kenapa kamu menarik lenganku. Naomi kan masih ada disana.”
Laska langsung saja protes saat mereka tiba ditempat tujuan.
“Kenapa sih kamu masih saja membicarakan anak baru itu, lagi pula memangnya dia peduli.
"Apa kamu tidak merasa ada yang aneh dari mereka? Mereka terlihat menyeramkan.” Bisik Sandra tidak lupa melihat kesegala penjuru arah. Memastikan orang yang sedang dibicarakannya tidak ada disekitar tempat tersebut.
“Dasar aneh.” Komentar Laska pendek tak ingin masalah itu dibesar-besarkan. Walaupun sebenarnya ia sama sekali tak setuju dengan pendapat Sandra mengenai anak baru itu.
Sandra akhirnya berhenti mencari saat ia sama sekali tak menemukan siapapun yang berpotensi sebagai penyebar gosip terutama keempat anak baru yang ia bicarakan tadi.
“Syukurlah mereka tidak ada disini.”
“Katanya tadi sedang lapar kan, sebaiknya kita segera pergi sebelum masuk kedalam antrian yang panjang.”
Laska terlihat tak ingin melanjutkan perdebatan antara ia dan Sandra lagi. Terkadang perdebatan yang terjadi antara keduanya tak pernah menemukan penyelesaian. Lebih tepatnya untuk saat ini Laska sedang tak bernafsu melakukan hal tersebut.
Tak jauh dari tempat mereka Naomi terlihat sedang mengawasi gerak-gerik keduanya. Naomi memperhatikan dengan tatapan dingin, sedingin pikirannya saat itu.
Baru beberapa menit terlewati Andros, Brendi dan Draynes tampak sedang menuju kearah tempat dimana Naomi memperhatian Sandra dan Laska tadi.
__ADS_1
Pada saat itu juga keduanya saling beradu pandang, sebuah tatapan yang mengisyaratkan kepentingan masing-masing. Andros kemudian menyuruh Brendi dan Draynes pergi meninggalkan dia dan Naomi untuk membicarakan beberapa hal penting. Tanpa banyak bicara keduanya pun langsung menuruti keninginan Andros.
-------^------^------^-----