
"Jadi ini yang kamu inginkan. Aku sudah lama mengenalmu Putri.
"Baiklah. Katakan, apa kamu ingin menghabiskan banyak waktu bersama dengan kami atau anak baru ini?”
Kara bicara seolah-olah ia telah mengerti apa saja yang harus dilakukannya dalam menghadapi situasi seperti ini. Tentu saja, ia memang sudah mengenal Putri bahkan ia pun juga sudah tahu bagaimana sifat yang dimiliki sahabat masa kecilnya itu.
Perkataan Kara berhasil membuat Putri melirik kearah Naomi yang terlihat masih saja diam menyaksikan usaha Putri mengendalikan teman-temannya itu. Putri merasa semua hal yang terjadi terasa semakin sulit.
“What do you say, bukankah kita sudah lama berteman? Apa kau ingin mengakhiri hubungan itu?”
Putri terlihat kaget tetapi bau darah terus menyerang penciumannya. Semua itu tentu saja membuat ia semakin kesulitan.
“Aku tidak mengatakan kita sudah tak lagi berteman. Aku hanya menyediakan ruang pergerakan untukmu. Agar kamu lebih leluasa berpikir.
"Katakan keputusanmu dan aku akan menerimanya. Tenang saja, apapun yang akan kamu katakan kita semua tetaplah berteman.”
Sesaat setelah berhasil membaca pikiran Kara Putri akhirnya memutuskan untuk tak bertele-tele dan langsung mengatakan keputusannya seperti yang diinginkan oleh Kara. Memang itu yang harus ia lakukan.
Disamping itu Kara kelihatan tulus mengatakan hal tadi.
“Untuk saat ini aku memilih bersama dengan anak baru ini saja. Terima kasih karena kalian sudah mengerti keadaanku.”
Putri tersenyum tertahan setelah berhasil mengendalikan emosi berikut nafsu yang tadi hampir saja sempat membuatnya tak bisa bertahan.
“Tentu saja, itulah gunanya teman.”
Kara membalas senyum Putri kemudian mengajak seluruh teman-temannya pergi. Sesaat setelah kepergian mereka Naomi akhirnya berhenti menjadi seorang penonton segala usaha Putri.
“Lihatlah semua ini, sekarang apa lagi yang akan terjadi selanjutnya. Ternyata saat menjadi vampire aku harus mengorbankan banyak hal.”
“I see, bagaimana kalau sekarang kita memberikan kejutan pada Andros. Setelah bertemu dengannya dan Bila ku rasa kau tidak akan membantahku lagi.”
Rencana pertama yang telah disusun Naomi sedemikian rupa sudah hampir mencapai puncak, sebuah puncak kemenangan. Sebab hanya itu sesuatu yang Naomi inginkan.
“Apakah ini akan berhasil?”
Dilihat dari cara Putri mengatakan hal itu ia masih sangat meragukan rencana Naomi. Terlebih Putri sebenarnya memang tak terlalu ingin melibatkan diri dalam sesuatu yang belum pasti. Apalagi mau tidak mau ia harus berada di pihak Naomi yang bahkan sama sekali belum bisa diterima baik itu pikiran atau bahkan perasaannya sendiri.
“Tentu saja. Selain itu Andros sangat menyukai kejutan.”
Tatapan Naomi langsung tertuju pada Andros, Brendi dan Draynes yang terlihat sedang menuju kearah mereka. Ekspresi wajah mereka masih saja terlihat seperti biasa, dingin mencekam.
“Mereka datang, bersiaplah.” Tambah Naomi lagi.
Tubuh Putri terasa bergetar sejenak saat Andros beserta kedua temannya berjalan semakin mendekat.
__ADS_1
Aura kekuatan dahsyat terpancar sangat kuat dari dalam tubuh Andros.
“Perasaan macam apa ini?” Pikir Putri tiada henti.
“Diam. Mereka bisa mendengarkan mu.” Ujar Naomi kejam walaupun Putri sama sekali tak membicarakannya melainkan hanya sekadar memikirkan.
Sampai akhirnya ketiga vampire itu tiba tepat dihadapan mereka dan saling berhadapan.
“Bagaimana pendapat kalian mengenai rekan baruku?”
Belum lama setelah kedatangan mereka Naomi langsung membuka pembicaraan, walaupun Andros sama sekali tak berniat berbicara dengannya. Ekspresi wajah Andros masih terlihat datar meskipun sedikit terlihat bahwa ia cukup kaget atas perbuatan yang Naomi lakukan.
“Jadi ini permainanmu, kau memang licik.”
“Terima kasih, aku anggap itu sebagai pujian.” Kata Naomi dengan tatapan yang menyeramkan berwarna merah darah begitu melihat Andros melakukan hal yang sama.
“Apa kau tahu apa yang sudah kau lakukan, sekarang aku memiliki alasan kuat untuk menghabisi mu.”
Baru saja Andros akan mengeluarkan kemampuan yang diwariskan oleh Raja Darkos ayahnya.
Namun terhenti saat Brendi berhasil mengunci pergelangan tangannya. Walau apapun yang sudah terjadi mereka tetap tak bisa membiarkan Andros melakukan semua itu.
“Apa yang kau lakukan. Apakah sekarang kau ingin melindunginya. Biarkan aku melakukan tugasku. Baru setelah itu lakukanlah apa yang sudah menjadi tugasmu.”
Tatapan Andros seketika menjadi semakin tajam saat melihat Brendi masih saja mengunci pergelangan tangannya, tanpa memberikan kesempatan apapun.
"Jangan rusak pikiranmu dengan hal-hal rumit. Semua itu hanya akan menimbulkan kekacauan nantinya.”
Draynes akhirnya mulai angkat bicara mengenai tindakan yang akan dilakukan Andros, disamping utu Putri yang masih melihat kearahnya—sebab sedari tadi Putri hanya terus memperhatikan tak berniat untuk ikut campur dalam pembicaraan tersebut.
Hanya dengan melihat kemarahan Andros yang terkesan tidak stabil nyatanya berhasil membuat Putri tak berani ikut campur dalam pembicaraan itu.
Tidak disangka Andros yang sebelumnya selalu terlihat bersikap dingin ternyata bisa berubah menjadi seperti ini. Putri menyaksikan semua kejadian itu dengan tatapan seakan tak percaya.
“Tidak mungkin, ada apa dengan semua ini. Andros dia...”
Putri merasa bahwa apa yang dilihatnya saat itu bukanlah seperti Andros yang ia kenal selama ini, salah satu anak baru terkeren di sekolahnya melainkan makhluk lain berwujud vampire.
“Sebuah kebenaran, semua yang tak terlihat selama ini belum tentu sesuatu yang tidak mungkin. Kebenaran dibalik kenyataan, itulah yang sedang terjadi sekarang.”
Wajah Andros kembali menegang mendengar sindiran tajam dari Naomi tepat saat Brendi baru saja melepaskan tangannya. Tetapi semua itu tak bertahan lama. Walau bagaimanapun juga Andros harus bisa menyesuaikan diri dengan segala hal yang mungkin saja membuatnya kehabisan kesabaran.
“Kau pikir kau siapa, berusaha membuktikan keberadaanmu dengan bergantung dengan rencana licik. Kau sudah memperlihatkannya Naomi dan kau pun telah membuktikannya.
"Lakukanlah apa saja yang telah kau persiapkan den berikanlah aku sesuatu yang hebat, maka kemampuanmu akan ku akui dengan semua yang ku miliki.”
__ADS_1
“Aku memang bukan siapa-siapa Andros, bahkan sampai sekarang pun aku masih menjadi diriku sendiri. Tapi..., setidaknya mataku mulai terbuka lebar, serta bisa membedakan sesuatu yang benar atau salah.”
Ekspresi wajah Naomi masih belum berubah ditambah lagi dengan kemarahan Andros padanya.
“Menurutmu perbuatan ini benar, menjadikan manusia sebagai makhluk penghisap darah hanya untuk kepentingannya sendiri. Kau tidaklah lebih dari vampire yang egois.
"Sekali lagi kau memang benar. Kau berada bersamaku hidup didunia yang berbeda dan kau memang ada. Garis kehidupan kekallah yang membawa kita sampai disini.
"Pandangan kita sangat berbeda, oleh karena itu garis pertentangan membuatku harus terus berwaspada.”
“Kaulah yang menciptakannya sendiri Andros. Lalu apa yang bisa ku perbuat, menyalahkan takdir karena malah bertemu denganmu. Ada banyak hal yang terjadi, dan aku selalu diselimuti kekhawatiran.
"Apakah hubungan ini akan berjalan baik-baik saja atau tidak. Kau boleh menjadi dirimu sendiri dan aku pun juga akan memilih jalan untukku sendiri. Kita memang berbeda Andros, tetapi perbedaan itulah yang akan menjauhkan ataupun mendekatkan garis takdir.
“Aku pergi, dengan membuat rasa benci semakin dalam dapat menciptakan perselisihan semakin panjang. Dan itu sangat membosankan bagiku.”
Akhirnya Naomi memutuskan pergi meninggalkan Andros, Brendi dan Draynes serta tidak lupa mengajak Putri ikut bersamanya. Saat itu sangat terlihat jelas Putri masih belum bisa mengerti semua kejadian yang baru saja terjadi. Mereka pergi meninggalkan rombongan Andros sejauh mungkin, tanpa Andros yang sama sekali tak berniat mengejar.
Naomi dan Putri pergi sejauh mungkin sampai akhirnya mereka tak bisa lagi memikirkan semua hal yang baru saja terjadi. Hanya saja berbanding terbalik dengan Putri yang masih belum bisa melupakan hal tadi begitu saja, ditambah lagi dengan mengingat perkataan Andros.
Bagaikan film dalam sebuah kaset rusak, tak bisa berhenti menghantui pikirannya. Semua itu berhasil membuat Putri secara refleks menghentikan langkah dalam mengikuti Naomi.
“Kenapa kau berhenti, apakah ada sesuatu?” Tanya Naomi masih dengan posisinya tak berhadapan langsung dengan Putri.
"Menurutmu sendiri apa yang sebaiknya ku lakukan, terus ikut bersamamu atau memikirkan semua hal yang barusan terjadi. Sangat sulit bagiku untuk mengerti semuanya, ditambah lagi dengan kondisi seperti ini.
“Benar. Aku harus mengucapkan selamat tinggal dengan apapun yang berhubungan dengan manusia. Tapi semua itu selalu berputar-putar dalam pikiranku.”
Bola mata Putri tiba-tiba berubah tanpa sepengetahuan dirinya.
“Bukankah sudah ku katakan padamu. Jika memang sulit, cobalah untuk berpikir. Apakah kau akan ikut bersamaku atau tidak.
"Kau tahu seperti apa aku, dan kau juga sudah melihat seperti apa dia. Tapi kau belum bertemu dengan Bila, baru setelah itu kau memutuskan semuanya.”
Naomi menyisihkan sedikit jeda sebelum melanjutkan perkataannya lagi.
“Maaf atas semua yang telah terjadi padamu.”
Ekspresi datar Naomi selama ini berganti dengan wajah yang sedikit menunduk. Semangat itu kelihatan dilakukan dengan keinginan yang tulus.
“Berhentilah bicara, ayo pergi ke kelas.
"Sebentar lagi kita akan segera masuk. Jangan lupa, kau harus tetap bertanggung jawab.”
Sesaat setelah mengatakan hal tersebut Putri pergi menuju kearah kelas. Dia pergi dengan menggunakan kemampuan berlari begitu cepat, lebih tepatnya menggunakan kemampuan sebagi vampire baru. Meninggalkan Naomi yang masih berdiri mematung ditempatnya.
__ADS_1
“Rekan baru. Apakah seperti ini rasanya memiliki seorang teman. Aku harus menganggapmu seperti apa, hanya sebagai seorang rekan atau lebih dari itu?”
---------^---------^---------^-------