
Setelah sekian lama perjuangan Laska dan Sandra akhirnya Bila sudah terlihat sedikit membaik. Agar tak membuat sakit kepala tersebut datang lagi Sandra memutuskan Bila harus beristirahat.
“Kenapa ya akhir-akhir ini sakit kepala itu seolah-olah tak pernah berhenti menyerang Bila. Memang sih semua itu merupakan penyakit masa kecil tapi seharusnya kan sudah sembuh total.
"Apa jangan-jangan semua itu ada hubungannya dengan kedatangan orang-orang menyeramkan itu?” Sandra mengatakan hal tersebut sambil melihat kearah Bila yang sedang tidur.
“Sebenarnya pikiranmu itu memihak kearah mana, sebentar-sebentar tentang pikiran buruk sebantar lagi suka sama Brendi. Aku benar-benar kebingungan karenamu.” Sanggah Laska dilanjutkan dengan menggaruk kepala yang bahkan sama sekali tak gatal.
“Bukan masalah itu, cobalah untuk berpikir serius Laska.” Kata Sandra dengan tatapan melotot. Mungkin dengan sikapnya ini Laska bisa mengikuti jalan pikiran yang lebih lurus.
“So kamu benar-benar menyukai orang itu, aku pikir kamu masih menyukaiku.”
“Sejak kapan aku menyukaimu? Dasar orang aneh.
“Laska please..., lebih baik kamu menjawab pertanyaanku tadi. Pendapatku benar kan. Ini untuk kebaikan Bila, Laska. Apa kamu tidak kasihan melihatnya?!”
“Baiklah..., harus ku akui perkataanmu memang ada benarnya juga, tapi terus terang saja Sandra kita tidak memiliki alasan apapun untuk menyalahkan mereka. Ditambah lagi dengan tidak ada hubungan apapun mereka dengan masalah ini.” Laska sudah ditemani bdengan tatapan serius. Benar-benar serius.
“I know, tapi tidak ada salahnya kan berpikir panjang. Aku tidak bermaksud menuduh, Laska. Hanya saja aku merasakan ada sesuatu yang aneh.
"Saat pertama kali Bila datang kerumahku dalam keadaan pingsan, sejak itulah sakit anehnya itu muncul kembali. Apalagi dia datang sendirian. Terus aku sempat mendengar suara ketukan pintu. Secara tidak langsung pasti ada seseorang yang sudah mengantarkannya. Masa iya Bila pingsan sambil jalan, it’s impossible.
“Dan lagi, pada hari yang sama Bila dan ketiga anak baru menyeramkan itu menghilang. Bahkan mereka sampai membolos dijam pelajaran. Setahuku Bila tidak pernah melakukan itu selama ini. Itulah sebab mengapa aku bertanya banyak hal tentang alasan menghilangnya mereka dijam pelajaran.
"Pasti bukanlah suatu kebetulan jika mereka menghilang diwaktu yang bersamaan. Kamu juga dengar sendiri apa jawaban mereka saat aku tanyai waktu itu. Jika saja kamu tidak menggangu mungkin kita sudah mendapatkan sesuatu yang mungkin bisa dijadikan petunjuk.” Kata Sandra menjelaskan semua hal yang ada dipikirannya saat ini.
“Bicaramu panjang sekali, aku hampir mengalami kesulitan memahami. Tapi sudahlah aku menemukan sesuatu.
"Satu lagi, sorry jika waktu itu aku malah mengacaukan semuanya. Tapi Dra menurutku semua itu bukan sepenuhnya kesalahanku. Wajar saja aku jadi bingung saat kamu tiba-tiba malah bertanya macam-macam terhadap mereka. Awalnya kan aku masih belum mengetahui apa yang sedang kalian pikirkan.”
“Ok aku juga, l’m sorry.
"Lupakan itu. So apa yang kamu temukan?” Tanya Sandra dengan tatapan penuh pengharapan.
“Keganjilan.” Jawab Laska pendek.
“Nah kan, akhirnya kamu bisa mengerti juga. Aku pikir tadi kamu akan tenggelam dalam sifat anehmu lagi.”
“Sudahlah..., biar begini-begini aku kan juga bisa serius. Maklumlah ketua kelas.” Laska sedang membanggakan diri didepan Sandra.
“Sstt..., pelankan suaramu, nanti Bila malah terbangun.” Bisik Sandra kepada Laska.
__ADS_1
“Kenapa kita tidak bicara diluar saja. Kalau bagitu kan kita tidak akan menggangu istirahat Bila.” Balas Laska dengan berbisik juga. Memang, dalam beberapa hal kedua orang itu terlihat sangat cocok.
“No. Aku tidak akan pernah meninggalkan Bila sendirian. Nanti kalau dia tiba-tiba menghilang bagaimana?”
“Singkirkan pikiran jelekmu itu, bisa-bisa kamu terus memikirkan hal yang tidak-tidak.”
“Sudahlah Laska lupakan semua itu. Aku ingin mengetahui apa yang kamu pikirkan mengenai ucapanku tadi. Ku rasa hanya itu yang perlu kita bicarakan.”
“Masalah itu, benar ganjil bukannya genap." Sandra langsung tanpa ekspresi.
“Maksudku..., semua firasat yang kamu pikirkan selama ini kemungkinan ada benarnya. Bagaimana kalau menurutmu kita menyelidikinya saja. Kita awasi mereka, siapa tahu kita mendapatkan sesuatu.
"Tapi ingat jangan terlalu melibatkan Bila dalam misi pengintaian ini. Aku tak ingin sampai sakit kepala dan penglihatan seramnya itu datang lagi. Kalaupun masih diperlukan katakan poin-poin penting saja, tetapi ingat harus jaga sikap.”
Laska akhirnya menawarkan sesuatu kepada Sandra yang mungkin bisa dilakukan untuk saat ini.
“Pengintaian. Nenurutmu itu akan berhasil? Mereka kelihatan lebih gesit daripada kita, apa mungkin rencana ini akan berjalan lancar?”
“Dra dicoba dulu. Soal hasilnya kita lihat saja nanti, tapi ada syaratnya.” Kata Laska dengan sedikit tersenyum. Sebuah senyuman yang sangat tidak disukai Sandra terlebih saat-saat seperti ini.
“Apa?” Sandra terlihat tak sabaran. Semua itu untuk kebaikan teman mereka sendiri tetapi Laska masih menyempatkan diri mengajukan syarat.
“Syaratnya jangan pernah melibatkan Naomi sebagai target pengintaian ini. Ok it’s right, harus ku akui dia memang terlihat sama misteriusnya seperti ketiga orang itu.
"Jikapun semua keadaan buruk memihak padanya, baru setelah itu kita jadikan dia sebagai target. Maksudku..., kamu tahu kan, kita harus melakukan pengintaian secara bergantian. Tidak bisa langsung sekaligus.” Kata Laska menjelaskan.
“Ya..., itu memang masuk akal sekali. Tiba-tiba sifat anehmu itu pergi dan berganti dengan Laska sang ketua kelas, pemimpin misi pengintaian.”
“Lalu aku harus bagaimana? Punya sifat aneh salah, serius, bicara panjang lebar juga salah. Kamu maunya aku harus seperti apa?” Tanya Laska dengan wajah masam.
“Aku menyukai semuanya asalkan jangan terlalu berlebihan.
“Alaska, suatu saat nanti kita pasti akan menjadi seorang detektif terkenal.”
“Iya kalau rencana ini berhasil, kalau tidak bagaimana?”
“Sudahlah. Biarkan aku menghayal dulu.” Sandra terlihat senyam-senyum sendirian. Sedangkan Laska hanya menatap tanpa ekspresi.
---------^---------^---------^------
"Kau sudah mengerti apa yang ku bicarakan?”
__ADS_1
“Tentu saja. Hanya saja masih ada sesuatu yang mengganjal dipikiranku. Apakah rencana ini tidak terlalu berlebihan, ini menyangkut hidup seseorang Naomi dan aku sangat tidak bisa melakukan hal itu.” Ekspresi wajah Putri seketika berubah saat mengingat tentang rencana mereka tadi malam.
Pikiran Putri berubah menjadi sangat menakutkan ketika membayangkan hal yang pernah dialaminya dulu.
Bagaimana mungkin ia tega melakukannya sedangkan ia sendiri juga sudah mengalami.
“Ingat. Usahakan jangan sampai kau memikirkan rencana ini apa lagi saat berada didekat mereka. Andros, Brendi dan Draynes bisa mengetahuinya.
"Aku tidak ingin rencana ini sampai gagal hanya karena kecerobohanmu.” Naomi kembali mengingatkan Putri.
“Lalu bagaimana dengan dirimu sendiri, kenapa mereka bisa mendengarkanku sedangkan mereka tidak bisa mendengarkanmu. Sebenarnya apa ada sesuatu yang kau miliki sedangkan aku tidak?”
“Sebuah keberuntungan, entah karena apa aku bisa memilikinya. Semacam pertahan. Sayangnya untuk saat ini aku hanya bisa menggunakan dalam bentuk itu saja, mungkin suatu saat nanti aku bisa lebih meningkatkannya lagi.
"Meski pun baru dalam bentuk pertahanan aku masih mengalami kesulitan, tetapi sudahlah. Lihat saja pada sisi yang baik.
"Apa kau tahu, tingkatannya hampir sama dengan kekuatan Batu Merah. Bukankah semua itu sangat menarik!”
Secara tidak langsung setelah kejadian kemarin Naomi semakin menganggap Putri sebagai salah satu vampire terpenting setelah Andros dan Ratu Meralda. Dalam kehidupan Naomi sebagai vampire, dia tak pernah tahu bagaimana rasanya memilliki seorang teman.
Jika dipikirkan tidak ada salahnya jika menganggap Putri sebagai vampire yang tepat sebagai seorang rekan baru sekaligus teman pertama dalam daftar kehidupan yang kelam tersebut. Hanya itu, dan terus begitu.
“Putri..., menurutmu rencana ini terlalu berlebihan? Cobalah untuk mengingat sesuatu. Apakah selama ini kau hanya membencinya?”
“Apa maksudmu, tentu saja aku sangat tidak menyukai keberadaan orang itu. Dia selalu saja mencuri kesempatanku. Setidaknya jika dia tidak bersikap berlebihan maka aku akan mempertimbangkan sesuatu tentang keberadaannya selama ini. Mungkin saja, jika aku mau.” Kata Putri menatap langsung kearah Naomi, jauh masuk kedalam pikirannya.
“Benar, mungkin saja. Jika dia memang menginginkan sesuatu maka semua itu akan dia dapatkan.
“C’mon. Kau tentu tidak suka jika harimu menjadi lebih buruk sebagai vampire kan, untuk itu kita tidak boleh sampai terlambat.”
Sangat terlihat jelas sebuah senyuman tipis segera berada diantara ekspresi dindin Naomi selama ini. Tapi tidak dengan Putri, dia masih harus berpikir 100 kali jika masih memaksakan diri untuk tersenyum.
Di tambah lagi dengan pikiran buruk yang selalu saja menghantuinya. Jelas semua itu sangat memengaruhi pola berpikir Putri saat itu. Namun tidak dengan kondisinya sekarang.
Vampire, bukanlah tipe ekspresif. Sekarang Putri adalah vampire bukan manusia, dia harus memahami arti dari kehidupannya saat ini. Memahami bukan hanya sekedar manjalaninya saja, tanpa adanya segala sesuatu yang mungkin saja terjadi.
Well, jika saat itu tiba Putri harus bisa mempertahankan diri, sebagai vampire.
Katakan selamat datang pada kehidupan abadimu, serta hidup yang kejam. Mungkinkah, atau semua itu hanyalah sebuah asumsi belaka.
Entah bagaimanapun akhirnya yang jelas garis takdir akan terus berjalan.
__ADS_1
--------^----------^---------^-----