The Darkness Of Vampir World

The Darkness Of Vampir World
Firasat


__ADS_3

"Bila, syukurlah kamu sudah sadar. Aku sangat mengkhawatirkan keadaanmu.” Keluh Sandra sambil menyingkirkan beberapa tetes keringat yang ada diwajahnya.


Sandra kelihatan sangat kelelahan. Bagaimana tidak, sejak papa dan mamanya memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Bila, ia terus saja memikirkan hal yang aneh-aneh. Misalnya, apa yang sedang terjadi sekarang. Bagaimana bisa Bila sampai kerumahnya dalam keadaan seperti ini. Dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang lain.


Sandra merasa sangat kebingungan bercampur dengan rasa panik yang berlebihan. Saking terlalu bingungnya Sandra sampai tidak tahu harus berbuat apalagi.


“Dimana ini, apa aku sedang bermimpi?” Tanya Bila saat berhasil kembali pada dirinya walaupun masih terlihat seperti mengigau.


“Woy! Ini aku Sandra, temanmu, dan sekarang kamu sedang berada dirumahku Bila.” Ujar Sandra dilanjutkan dengan mencubit sedikit lengan sahabatnya itu. Sandra pikir dengan melakukannya bisa membuat Bila tersadar.


“Aw..., sakit.


“Ternyata kamu Dra, aku pikir tadi siapa.”


Bila langsung memegang lengan bekas mendaratnya cubitan Sandra tadi.


“Memangnya tadi kamu pikir siapa, hantu?


“Sudahlah, lupakan itu. Bila, kenapa kamu bisa sampai didepan rumahku? Dalam keadaan pingsan lagi.” Pertanyaan beruntun Sandra segera terdengar.


Sandra sangat kebingungan dengan semua kejadian itu. Ditambah lagi dengan mengingat sebelum ia menemukan Bila yang tergeletak begitu saja didepan rumahnya, ia masih sempat mendengar suara ketukan pintu.


“Aku, pingsan, didepan rumahmu?”


Bila terlihat semakin bertambah aneh.


“Tunggu-tunggu, perasaan tadi aku mendengar suara ketukan pintu. Yang pasti bukan kamu kan pelakunya sebab masih pingsan.” Sandra terlihat sedang berpikir.


“Terus, siapa yang melakukannya? Kalau siang menjelang sore biasanya ada hantu gak? Jangan-jangan malah hantu.” Tambah Sandra lagi, dengan tubuh yang sudah bergidik ngeri.


“Apa. Hantu, maksudnya aku tadi dibawa sama hantu?”


Bila ikut-ikutan takut apalagi saat membayangkan betapa seramnya sosok hantu yang membawanya pergi. Seiringan dengan hal itu keduanya langsung menyelimuti diri mereka dengan sangat tergesa-gesa. Tiba-tiba mereka merasa seluruh ruangan tersebut diselimuti dengan aura hitam kelam yang sangat menyeramkan.


“Gak mungkin hantu kak, masa sih hantu mau bawa kak Bila kerumah kita? Kalau mau ngomong pakai logika dong.” Sambar seorang anak kecil yang langsung bergabung bersama Bila dan Sandra.


Mendengar suara tersebut sontak Bila dan Sandra pun langsung memastikan apakah suara itu termasuk salah satu makhluk yang baru saja mereka bicarakan tadi.

__ADS_1


“Albert, kamu bikin kaget saja. Jantung kakak hampir mau copot tahu.” Semprot Sandra memarahi adiknya.


“Perasaan kakak tadi sedang takut, kenapa sekarang malah marah-marah?” Ujar Albert terdengar sangat polos.


Tentu saja anak itu terlihat masih sangat polos, umurnya saja baru 6 tahun. Tapi harus diakui jalan pikiran anak ini hampir mendekati sistem pikiran orang dewasa. Semua itu dilakukan dengan memperhatikan hal-hal yang menarik.


Saat Sandra mendengar perkataan sang adik yang ia pikirkan hanyalah ingin mengejar adik satu-satunya itu dan memberinya sedikit pelajaran.


Beruntung Bila menyadari apa yang akan dilakukan Sandra sehingga gadis itu bisa mencegah sesuatu yang baginya sama sekali tidak penting. Malahan jika dibiarkan akan menimbulkan kekacauan nantinya.


“Dra, sudahlah, biar aku saja ya.


“Al, lebih baik sekarang kamu mengajak bibi no, maksud kakak mama kamu. Nah..., kalian bisa pergi jalan-jalan. Siapa tahu nanti kamu ketemu sama anak tetangga terus kamu ajak main deh. Tapi ingat mainnya jangan yang aneh-aneh ya.” Kata Bila dengan tersenyum canggung.


Bila sendiri terlihat bingung. Semua yang dikatakannya tadi lebih mengarah ke-saran atau hanyalah sebuah gurauan semata. Berbeda dengan Sandra yang terlihat sedang memijat kepala. Lain lagi dengan Albert yang lebih suka berpikir ketimbang Sandra yang terlihat sedikit pusing.


“Tapi..., memangnya mama mau diajak jalan-jalan? Mama kan gak suka jalan-jalan. Mama lebih suka berada didapur. Dan Albert juga suka memakan masakan mama.” Kata Albert lagi yang tentu saja membuat Sandra bertambah pusing.


Penyakit itu bisa saja menular kepada siapapun termasuk Bila. Orang itu bahkan malah menatap Albert dengan tatapan yang membingungkan. Bisa-bisanya anak itu menjawab dan berpikir seperti itu. Tetapi semuanya berubah saat terdengar suara seseorang dan langsung bergabung bersama dengan mereka.


Orang tua Sandra terlihat sudah siap untuk pergi berbelanja kebutuhan rumah, dan saat orang tua itu melihat kearah Bila ia pun langsung tersenyum.


“Bila syukurlah kamu sudah sadar. Apakah kepalamu masih sakit?”


“Tidak bibi, kepalaku sudah lebih baikan.” Jawab Bila dengan tersenyum.


“Kalau begitu bibi pergi belanja dulu ya, kamu jangan sampai lupa minum obat. Kamu Sandra temani Bila, jaga dia dengan baik.


“Oya Bila, kamu jangan sampai berpikiran yang macam-macam. Termasuk mengenai papa dan mamamu, mereka sudah bibi beri tahu dan kamu juga sudah diizinkan menginap dirumah ini. Mereka sudah bibi bujuk agar tidak mengkhawatirkan keadaanmu lagi.” Tambah mama Sandra yang saking bersemangatnya merawat Bila sampai membuatnya menyampaikan informasi sedetail itu.


Sedangkan Bila hanya mengangguk-angguk mengerti dan berusaha untuk melakukan semua yang dipesankannya tadi.


“Itu sebabnya Albert menyukai kakak. Sampai jumpa kak Bila, lain kali kita bicara lagi ya. Bicara dengan kakak itu pasti bakalan seru.” Seperti itulah perkataan Albert saat sebelum meninggalkan kamar lalu pergi mengikuti ibunya.


Bila dan Sandra hanya bisa saling berpandangan sambil memikirkan apa yang baru saja dikatakan oleh Albert. Terkadang anak itu memang sulit diterka.


“Dra kamu sadar gak kalau adikmu itu lebih mirip orang genius, mirip Albert Einstein mungkin.” Ujar Bila dengan tatapan yang malah tertuju pada sebuah kalung dengan huruf berinisial NN sebagai liontinnya.

__ADS_1


Kalung tersebut merupakan barang yang paling berharga dalam hidup Bila. Namun sampai sekarang, setiap kali melihat kalung itu Bila masih saja merasa kebingungan.


Kenapa kalungnya mempunyai 2 huruf N?


Kenapa kalung itu juga memiliki 2 batu hiasan yang berwarna merah?


Semua itu justru semakin membuat Bila merasa sangat penasaran!


“Bila..., aku ada disini bukan disana.” Kata Sandra sambil menunjuk kalung yang kini sedang dipegang Bila.


Teguran Sandra tentu saja berhasil membuyarkan semua hal yang sempat dipikirkannya tadi. Bila hanya terlihat tersenyum saat menyadari bahwa dia sudah mengabaikan Sandra, sahabatnya itu.


“Bil, menurutku Albert ada benarnya juga. Coba pikirkan, hampir setiap ucapan yang kamu katakan selalu menjadi kenyataan.


"Apa kamu tidak pernah berpikir bahwa kamu itu istimewa, maksudku sedikit berbeda dengan yang lain.”


Sandra kelihatan berhasil menemukan topik pembicaraan yang lebih serius. Mungkin bisa dikatakan menarik.


“Tidak, menurutku itu masih wajar. Mungkin saja hanya kebetulan. Mengenai soal istimewa dan berbeda dengan yang lain aku masih belum tahu. Aku kan tidak pernah berpikiran sejauh itu.”


“Ya ampun Bila, masa sih kebetulan bisa datang setiap saat? Itu semua memang nyata dan kamu seharusnya memikirkan hal itu.” Kali ini Sandra terlihat lebih serius.


Sementara itu Bila hanya bisa terdiam seribu bahasa. Ia kelihatan sedang memikirkan hal yang dikatakan oleh Sandra.


“Dan..., Bila. Apa kamu merasa ada yang tidak beres? Semenjak kedatangan anak baru itu kita sering mengalami kejadian yang aneh. Padahal kan mereka datangnya baru tadi pagi.


"Oya, coba kamu ingat lagi kejadian sebelum kamu pingsan, mungkin ada sesuatu.”


Selain Sandra ingin mengetahui hal yang ditanyakannya tadi, Sandra juga ingin mencari tahu kenapa Bila sampai bolos sekolah dan datang kerumahnya dalam keadaan pingsan. Sandra pikir... semua deretan peristiwa tersebut seperti saling berkaitan satu sama lainnya.


Seiringan dengan ucapan Sandra Bila berusaha mengingat kembali apa saja yang telah terjadi padanya. Namun Bila mengalami sedikit kesulitan mengingat semua kejadian yang telah ia alami, sangat terlihat jelas dari bahasa tubuhnya yang saat ini sedang memejamkan kedua belah mata dengan dahi berkerut.


Baru saja Bila berhasil menemukan sedikit dari memorinya itu, tiba-tiba ia langsung membelakkan kedua belah matanya.


Sejenak, Bila hampir tidak bisa menghirup oksigen persediaan bagi paru-parunya saat itu. Bila kelihatan seperti terkena stroke ringan.


---------^--------^-------^--------

__ADS_1


__ADS_2