
"Me-memangnya aku melihatmu apa?”
Bila berusaha menghindari pertanyaan Andros, jika bisa ia lebih baik membicarakan perihal lain daripada membicarakan hal yang baru saja dilakukannya tadi. Bila tiba-tiba merasa tidak nyaman terhadap Andros ditambah lagi saat mengingat bahwa ia sempat berpikiran macam-macam tentangnya.
“Bukan apa-apa, aku hanya merasa aneh. Kenapa kamu tak pernah menunjukkan ekpresi apapun selain ekspresi datarmu itu. Apa kamu memang sengaja melakukannya, agar kamu tidak diganggu oleh anak lain dikelas?”
Akhirnya malah perkataan itu yang keluar. Bila sontak merasa kebingungan sendiri.
Sebelumnya Bila memang tak ingin membahas hal ini, tapi entah mengapa perkataan itu keluar begitu saja.
“Tidak.” Jawab Andros sangat singkat, bahkan masih belum mengubah arah pandangan sama sekali.
“Apa hanya itu, dia bahkan sama sekali tak menatapku. Benar-benar aneh.”
Tanpa mereka sadari, ternyata ada seseorang yang terus memperhatikan mereka dari kejauhan. Termasuk Andros, dia pun juga tidak mengetahui bahwa mereka sudah lama diperhatikan. Seharusnya kemampuan itu selalu bersamanya, namun kelebihan tersebut tidak bisa mendeteksi kehadiran orang yang sedari tadi mengawasi gerak-gerik mereka.
“Sudah ku duga, benar-benar menyebalkan. Lihat saja apa yang akan ku lakukan. Nikmatilah waktu yang tidak berguna itu.” Katanya kemudian pergi meninggalkan tempat dimana Andros dan Bila masih bersama. Pergi sejauh mungkin sebelum Andros menyadari kedatangannya ditempat tersebut.
Merasa sudah pergi cukup jauh dan tak mungkin diketahui oleh Andros lagi, orang itu segera berhenti ditempat tersebut.
Tempat dimana ia bisa berpikir dengan tenang tanpa harus mengingat kejadian yang baru saja dilihatnya tadi. Mengingat hal itu hanya akan membuatnya semakin bertambah buruk.
“Menyebalkan, belum lagi masalah dengan Putri sekarang aku malah melihat hal menyedihkan seperti itu.” Gerutu Naomi mengepalkan sebelah tangan kemudian memukul sebuah dinding bangunan hingga retak, lalu hancur menjadi banyak kepingan kecil. Menyisakan sebuah lubang yang mengangga lebar.
“Tunggu dulu, Putri, aku sangat membencinya. Apa yang dia harapkan dari Andros sedangkan aku sendiri saja tak pernah dihiraukannya.
"Apalagi dia. Orang sepertinya sama sekali tidak akan mendapatkan apapun jika dengan sifat menjijikkan seperti itu.
"Heh..., setidaknya dia sama sepertiku, mempunyai nasib yang sama.
“Apakah aku bisa menggambil keuntungan dari semua ini. Meskipun aku tidak suka berurusan dengan manusia, apa lagi dengan dia.
__ADS_1
“ Tapi..., setidaknya aku harus mencobanya terlebih dahulu. Mungkin saja aku bisa mendapatkan kesempatan dalam situasi ini.
“Terima kasih Ratu, mungkin aku memang sendirian. Tapi dengan semua yang telah kau berikan padaku, aku pasti tidak akan menyia-yiakannya.” Ujar Naomi datar dengan sedikit senyum yang dipaksakan serta tatapan menyeramkan berwarna merah darah. Pertanda dia siap memulai permainannya.
“Lihat saja, aku pasti akan membuatmu menyesal hingga kalian tidak akan pernah bisa melupakan apa yang akan ku lakukan.”
--------^--------^--------^---------
Bicara tentang permainan. Naomi sudah mempersiapkan rencana yang sangat cocok untuk memulai semua ini. Naomi pun juga sudah tak sabar lagi melihat reaksi Andros saat tahu apa yang sudah dipersiapkannya.
Mengingat selama ini Andros bahkan tak pernah menganggap keberadaannya, maka setelah permainan ini dimulai dia tentu mau tidak mau harus berpikir dua kali jika masih menganggap Naomi lemah dan tidak bisa melakukan apa pun.
Selama ini Naomi memang selalu terlihat diam terkesan lebih pasrah dengan apa saja yang akan terjadi. Tapi..., kali ini Naomi berniat untuk melakukan sesuatu yang hebat, sesuatu yang bahkan tak pernah dipikirkan oleh mereka sebelumnya. Naomi hanya perlu menentukan waktu yang tepat untuk melancarkan kesempatan yang diberikan oleh Ratu Meralda.
“Jika aku sudah merasa muak, maka waktu yang paling tepat adalah sekarang. Bersiap-siaplah Andros.”
Naomi tak pernah pergi kemanapun bersama dengan Andros. Bahkan keduanya tak pernah sekalipun berbicara meskipun tinggal ditempat yang sama. Hari itu pun Andros, Brendi dan Draynes masih membungkam mulut dan langsung pergi meninggalkan Naomi sendirian.
Setibanya mereka disekolah Andros tidak langsung menuju kelas melainkan pergi untuk memastikan apakah Bila sudah datang kesekolah atau masih betah berada dirumah Sandra. Mungkin saja Sandra masih mencegah keinginan Bila hari itu.
Naomi mengetahui maksud dari kepergian Andros, tapi ia sama sekali tak peduli. Malahan ia terlihat tersenyum serta tak lagi merasa kesal seperti biasanya.
“Baguslah, dia sedang sibuk sekarang.”
Naomi segera pergi menuju kelas tidak menghiraukan Andros yang pergi kian menjauh.
“Sepertinya ada yang tidak beres disini. Aku mencium perasaan aneh.”
Mendengar perkataan Draynes Andros spontan menghentikan pergerakan menuju gerbang sekolah.
"Mungkinkah selama ini aku terlalu meremehkannya, sesaat aku melupakan bahwa dia juga vampire sama seperti kita.
__ADS_1
“Tapi apa hubungannya dengan semua itu. Apa hanya aku saja yang memikirkannya atau kalian berdua pun juga memikirkan hal yang sama denganku.
"Bahwa Naomi tidak suka bertindak gegabah. Dia bukanlah tipe vampire yang seperti itu. Mungkin saja dia sedang mempersiapkan sesuatu diluar sepengetahuan kita, dan memulai rencana licik. Itulah sebab mengapa aku tidak tertarik dengan vampire seperti dia.”
“Jadi..., apa yang harus kita lakukan sekarang? Membiarkan Naomi semakin liar atau menjinakkannya dengan sedikit tekanan.” Kata Brendi dengan tatapan yang kini semakin terlihat tajam.
“Baiklah, dia hanya ingin membuktikan keberadaannya. Tadinya aku berniat untuk mengabaikannya saja tapi sepertinya permainan akan segera dimulai.
"Terus awasi dia, jangan sampai dia mendapatkan celah sedikitpun, dan mencuri start secara diam-diam. Itu semua sama sekali tidak adil.”
“Bagaimana kalau menurutmu jika kita berpencar. Mungkin saja dia melupakan sesuatu tentang jumlah.” Draynes mengusulkan sesuatu.
“Sejak kapan kau mendalami konsep tentang jumlah, apakah kau sudah mendapatkan sesuatu dari sekolah ini?”
“Mungkin. Anggap saja aku sedikit tertarik dengan sesuatu yang ada disini. Kurasa itu adalah hal yang wajar, jika tidak kita tak akan pernah datang ketempat ini.” Jawab Draynes tampak sedang menyinggung masalah mereka yang sampai nekat datang kedunia manusia.
“Tolong jangan menguji kesabaranku, aku sedang berlatih menahan diri. Kau tentu tahu bahwa semua itu tidak mudah, untuk itu cobalah agar tak mengangguku.
“Mengenai masalah tadi bagaimana kalau kau saja yang melakukannya. Kurasa pasti tidak akan sulit.” Ujar Andros dengan sedikit tersenyum.
Andros yang selama ini tak pernah tersenyum kelihatan sangat keren dengan senyum pertamanya. Sebuah senyum yang sangat berbeda saat mereka pertama kali datang kedunia manusia.
“Kedengarannya menyenangkan, baiklah..., aku akan melakukannya. Selain itu aku pun memang sudah jenuh melihatmu terus berusaha menahan diri, dan satu lagi terima kasih atas pujiannya.”
“Tentu, setidaknya kau sudah mendapatkan sesuatu disini.” Potong Brendi cepat sebelum Andros sempat membalas perkataan Draynes.
Terkadang Draynes memang suka menyindir Andros dengan baik itu perkataan atau pun perbuatan. Meskipun Draynes sebenarnya sama sekali tak bermaksud untuk menyinggung Andros secara langsung.
“Aku pergi.”
Draynes pun menghilang masuk kedalam kelas menyusul Naomi. Draynes langsung menduduki tempatnya tanpa memperdulikan Vampir itu. Naomi sendiri pun kelihatan tak ingin ambil pusing meski ia sudah tahu bahwa pergerakannya mulai terbaca oleh Andros
__ADS_1
--------^-------^------^------