
“Akhirnya kita bisa kembali juga. Syukurlah, aku pikir kita tidak akan pernah bisa kembali lagi.”
Di tengah perjalanan menuju kelas Sandra masih menyempatkan diri bicara banyak seperti biasa tanpa menghiraukan perubahan ekspresi diwajah Bila.
“Apa yang terjadi pada wajahmu Bila?”
Meskipun Sandra sudah mengetahui alasan dibalik perubahan pada sahabatnya itu namun tetap saja tak mempengaruhi jalan pikirannya jika hanya sekedar untuk mempermainkan Bila kali ini.
“Kalian tahu sejak kemarin kalian sering bertingkah aneh. Suhu tubuh kalian juga turun drastis, memangnya apa yang sudah terjadi pada kalian? Kalian bahkan tidak menceritakan apa-apa meski sudah ku tanyai berulang kali.”
Bersamaan dengan perkataannya Laska pergi mendekati Bila dan Sandra yang tadi berada cukup jauh. Sejak kedatangan mereka Bila dan Sandra sama sekali tak pernah mau berdekatan dengan Laska. Jarak mereka selama perjalan saat ini pun kurang lebih satu meter.
“Lihatlah. Kalian bahkan tidak mau berdekatan denganku.
"Bukan salahku jika saat itu tidak membantu kalian. Waktu itu aku sangat kebingungan dan tiba-tiba Andros, Brendi dan Draynes datang.
"Lalu apa yang harus ku lakukan kalau mereka berniat membantu? Ku pikir mereka benar-benar bisa membantu, makanya aku menurut saja saat mereka memintaku pergi.
"Mereka bilang bisa mengerjakan semuanya sendirian dan tidak membutuhkanku.
"Apa jangan-jangan semua perubahan sikap kalian ini ada hubungannya dengan bantuan dari mereka, atau kalian sudah tak bisa memaafkanku lagi?”
Laska kembali mendekati sahabatnya saat mereka lagi-lagi menghindar untuk kesekian kalinya sejak kejadian kemarin.
“Tidak Laska, aku dan Sandra sama sekali tidak seperti yang kau pikirkan. Kita ini bersahabat tapi kau masih sempat meragukan semua itu.”
“Ok, thanks.
“Oh ya, kira-kira siapa orang sudah melakukan semua kekacauan itu saat Andros, Brendi dan Draynes menyelamatkan kalian. Mereka pasti bertemu dengan pelakunya kan, atau mereka menemukanmu dalam kedaan pingsan.
"Apakah tidak terjadi apa-apa? Bagaimana cara mereka menyelamatkan kalian. seingatku kondisi Sandra sudah sangat mengkhawatirkan. Kamu tahu Dra, mulutmu mengeluarkan banyak sekali darah.
"Mereka melakukan apa ya sampai kalian masih ada didunia ini, apa mereka membawa kalian ke rumah sakit?”
Laska masih belum menyerah meskipun kemarin sama sekali tidak mendapatkan jawaban. Laska pikir kali ini mungkin entah Bila atau Sandra akhirnya mau menanggapinya.
Tepat saat Laska membicarakan hal tersebut Bila dan sandra kembali mengingat semua pembicaraan mereka mengenai hal yang terpaksa membuat Andros dan Brendi mengambil keputusan membuat suatu perubahan.
“Sampai kapan kalian akan diam seperti ini? Berbagilah sedikit denganku. Kalian bilang tadi kalau kita bersahabat, memangnya begini cara kalian memperlakukan seorang sahabat. Bil, Dra bicaralah.”
__ADS_1
Laska hampir terlihat seperti anak kecil yang sedang merengek minta dibelikan sebuah mainan.
“Laska kami benar-benar minta maaf, aku dan Sandra tidak bisa memberitahukan semuanya sekarang. Saat ini kami sedang mencari waktu yang tepat untuk menceritakan hal itu padamu, kami harap kamu bisa mengerti.
“Satu lagi. Untuk sementara waktu kamu jangan terlalu mendekatkan diri dengan Naomi dan Putri, karena..., mereka juga tidak terlalu dekat dengan kita kan.” Kata Bila akhirnya.
“Kenapa kalian harus mencari waktu yang tepat, sebesar apa masalah yang kalian hadapi. Kalian tidak berusaha menyembunyikan apapun kan.
"Lalu kenapa kalian malah mengaitkan masalah ini dengan Naomi dan Putri. Kenapa aku tidak boleh mendekati mereka?”
Hampir saja Laska berhasil mendesak Bila dan Sandra, tapi tidak saat ketiga orang yang baru-baru ini menjadi penolong datang dan bergabung bersama mereka.
“Laska.”
“Hey kalian. Maaf ya..., kemarin karena terlalu senang aku sampai lupa berterima kasih. Tidak hanya aku, keluarga serta teman-teman lain juga ingin berterima kasih.”
Kedatangan Andros, Brendi dan Draynes secara tidak langsung mengalihkan semua pembicaraan yang sempat mereka lakukan. Entah karena apa Laska pun jadi melupakan semua pertanyaan yang sempat diajukannya tadi.
“Tidak masalah. Lebih baik kita pergi kekelas dan melanjutkan pembicaraan disana.”
Mereka akhirnya memutuskan pergi ke kelas bersama-sama. Laska pun juga sama sekali tak keberatan menerima tawaran itu.
"Kamu tahu..., dua pasangan dan dua pengawalnya, bukankah itu adalah judul yang sangat cocok.”
Perkataan Laska kali itu hanya dibalas Draynes dengan tersenyum.
“Akhirnya. Aku bisa juga membuatmu tersenyum. Sebagai bayaran kamu harus menuruti semua perintahku. Let’s go.”
Laska sudah berjalan lebih dulu sedangkan Draynes pergi menyusulnya dari belakang, meninggalkan kedua pasangan itu cukup jauh.
--------^-------^--------^------
“Kau. Memangnya apa kesalahanku Naomi? Jika rencana ini sampai gagal bukan berarti ini semua adalah kesalahanku, kau juga bersalah.
"Jangan bertindak bodoh. Apa yang akan kau dapatkan dengan menyakitiku?
"Cepat atau lambat mereka pasti akan membalas semua permainan kita. Entah kita akan selamat atau tidak. Sudah ku katakan risiko menjalankan rencana ini terlalu besar, tapi kau sama sekali tidak menghiraukan perkataanku.
"Kita harus menghadapinya, kita tidak bisa terus-terusan menghindar seperti ini. Kita harus mencari tahu apakah masih ada celah untuk memainkan rencana lain. Aku yakin pasti masih ada sedikit harapan kan walaupun kemungkinannya sangat kecil.”
__ADS_1
“Bagaimana bisa kau bicara seyakin itu disaat keadaan kita seperti ini. Kau pikir semua akan berjalan sesuai dengan perkataanmu saja.
"Kau tahu siapa yang sedang kita hadapi sekarang. Andros. Tubuhmu bahkan sampai ketakutan saat pertama kali bertemu dengannya. Apa kau masih bisa bicara seyakin itu?”
Kesabaran Naomi telah mencapai batas apalagi saat mendengar Putri berusaha mengguruinya disaat rencana mereka mengalami kegagalan.
“Rencanamu sudah gagal kan, sekarang adalah giliran rencanaku. Kita ambil keuntungan dari semua kegagalan ini.
"Seburuk apapun nasib seseorang pasti akan ada suatu kecerahan bukan. Kegagalan yang kita alami saat ini merupakan pertanda keberuntungan bagi kita. Kita hanya perlu memanfaatkan keberuntungan itu, dan wow, keberuntungan itu akan menjadi sebuah kemenangan.”
“Kau yakin, kedengarannya kau sudah menemukan sebuah rencana seakan-akan kau lupa dengan perkataanmu selama ini. Benar kau akan berpihak padaku. Apa kau sudah memikirkannya?”
Naomi terus melihat kearah Putri mencoba membaca pikiran vampir itu.
“Of course, why not. Selama ini aku memang tidak pernah mau berpihak sepenuhnya terhadapmu tapi tanpa ku sadari aku sudah melakukan hal itu.
"Nasi sudah menjadi bubur, apa yang akan aku lakukan agar bisa mengembalikan semua ini. Seperti kata pepatah semuanya sudah terlambat. Walaupun aku sangat ingin sekali pun tetap saja aku tidak bisa melakukan apa-apa.”
Sama seperti yang dilakukan oleh Naomi Putri juga melakukan hal yang sama.
“Kau kedengaran sudah pasrah. Bagus, memang itu yang aku inginkan.”
Naomi terlihat tersenyum yang juga dibalas oleh rekannya.
“Sama seperti film yang terjadi, bahwa memerankan peran antagonis hanya akan mengalami masa sulit sebentar saja. Jika masih belum mencapai titik terang maka si pemeran akan selalu menguasai keadaan.
"Ku pikir itu lebih baik daripada nasib si pemeran protagonis yang hanya bisa merasa bahagia di potongan adegan filmnya saja. Setahuku mereka sering tertindas, hanya karena ingin mencari keadilan dan kebenaran. Padahal mereka sendiri yang malah mengalami ketidakadilan tersebut. Benar-benar menyedihkan.”
Putri menambahkan kembali perkataan dengan menggunakan perspektif pandangannya sendiri sebelum mengakhiri perbincangan mereka kali ini.
“Benarkah, disaat seperti ini kau masih memikirkan tentang film.”
“Kau lupa ya Naomi, dulunya kan aku ini adalah manusia. Wajar saja kalau aku masih memikirkan tentang kehidupan sebelum aku sampai berubah seperti ini.”
“Terserahlah. Lakukan apapun sesukamu.”
Perbincangan mereka berhenti sampai disana.
----------^------------^----------^-------
__ADS_1