
“Dra kamu yakin tidak apa-apa, aku jadi khawatir melihatmu.”
“Bila tenanglah. Mana mungkin setelah pembicaraan panjang lebar seperti tadi aku masih ingin mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin.
"Kalian sendiri kan yang memintaku untuk mengerti, lalu kenapa sekarang kau masih menanyakan hal itu lagi.”
Sandra kelihatan masih seperti biasa seakan tidak terjadi apa-apa sebelumnya.
“Sandra aku hanya takut dengan bersikap seperti ini diam-diam kamu malah menyimpan semuanya sendirian. Aku tidak ingin dibalik sikapmu ini kamu harus menanggung semuanya.
“Besok adalah hari yang paling menegangkan untuk kita. Aku benar-benar tidak yakin apakah kita bisa melewatinya atau tidak.
"Aku sangat takut Sandra. Bagaimana jika seandainya nanti kita tidak bisa melewatinya, lalu apa yang akan terjadi. Aku..., rasanya tidak ingin pergi.”
Dengan perasaan penuh kekhawatiran Bila menyampaikan semua hal ia dipikirkan.
“Jangan bicara begitu Bil, itu namanya pesimis. Kita ini kan adalah orang yang pantang menyerah. Kita lihat saja nanti, apa yang akan terjadi setelah kita bertemu dengan mereka.
"Selain itu Bila, walaupun disana nanti ada banyak manusia kita tahan saja semua nafsunya. Beres kan.”
“Dra kenapa kamu malah bicara seperti itu, memangnya kamu dulu bukan manusia apa?Apa kamu senang dengan semua perubahan ini?
"Kalau bicara itu memang mudah Sandra.”
“Habis mau bagaimana lagi? Apa kamu mau melihatku menyalahkan takdir. Kita sudah terlanjur berubah Bila, kita tidak bisa kembali lagi.
"Kamu pikir aku sama sekali tidak merasa khawatir, aku juga sama sepertimu. Hanya saja kita tidak boleh sampai berpikiran negatif. Jika kamu saja berpikiran seperti ini bagaimana kita bisa melakukan semuanya? Cobalah untuk menjadi diri sendiri.”
Semangat serta tekad membuat Sandra menjadi sedemikian yakin. Kepercayaan dirilah yang akan membawa sebuah perubahan besar dikehidupan mendatang. Bila terus melihat Sandra sambil mulai menjernihkan kepalanya kembali.
“Jika Sandra saja bisa seyakin ini, kenapa aku tidak bisa melakukannya. Aku hanya membutuhkan tekad dan keyakinan yang kuat. Ku harap semua berjalan baik-baik saja, sejernih pikiran kami saat ini.”
Dalam keheningan Bila kembali memikirkan sesuatu yang tentu saja bukan pikiran putus asa seperti tadi.
“Nah begitu Bil, kita tidak boleh sampai memikirkan hal buruk terus-terusan. Setidaknya kita mengharapkan semua baik-baik saja kan.
“Dan lagi, aku yakin sakit kepalamu itu pasti tidak akan datang lagi. Bukankah ini pertanda baik. Ya..., kita anggap saja satu masalah darimu hilang berganti dengan masalah yang lain.”
__ADS_1
“Maksudmu..., habis satu masalah datang lagi masalah lain, itu kan sama saja.”
Tanggapan Bila disambut Sandra dengan tersenyum canggung. Sandra rasa ia memang salah bicara.
“Be-benar, setidaknya kan masalahmu sudah berkurang. Jadilah orang yang suka bersyukur.”
“Sudahlah, bicara denganmu malah semakin membuat kepala ku bertambah pusing. Ini namanya bukan berkurang melainkan malah bertambah.” Bila terlihat sedang memijat bagian kepala bersamaan dengan kedatangan Andros dan Brendi ke kamar mereka.
Kedatangan keduanya yang terkesan mendadak itu berhasil membuat Bila dan Sandra menjadi merasa tidak nyaman. Di tambah lagi saat mengingat kejadian sebelum mereka bertukar dari manusia ke makhluk lain. Semua itu tentu saja semakin membuat mereka merasa saling tak nyaman satu sama lain.
Tidak hanya Bila dan Sandra, Andros dan Brendi pun juga ikut merasa tidak nyaman akan situasi yang mereka alami. Bahkan kondisi itu masih berlanjut sampai Draynes muncul dan bergabung bersama dengan mereka.
--------^------^-----^-----
“Apakah kalian sudah selesai? Kapan latihannya dimulai.
"Besok adalah hari yang sudah ditentukan untuk kita. Jika kalian masih terus bersikap seperti ini kita tidak akan pernah mendapatkan apapun.”
Draynes terus melihat kearah keempat Vampir itu secara bergantian. Semua itu bahkan malah semakin membuat Bila dan Sandra bertambah aneh.
“Draynes benar. Kita lupakan semua ketidaknyamanan ini untuk sementara waktu. Pikirkan sesuatu untuk menyelesaikan masalah kita.”
“Ku rasa memang benar, baiklah kita mulai saja latihannya.”
Baru saja Sandra menyelesaikan perkataan ia langsung melesat pergi meninggalkan tempat tersebut secepat yang ia mampu, bahkan sampai melupakan Bila sahabatnya.
Sejak awal memang Sandralah yang paling merasa tak nyaman jika dibandingkan dengan Bila. Sandra bahkan pernah berpikir tidak ingin bertemu Brendi diwaktu dekat ini, karena hanya dengan melihat wajahnya saja membuat ia terasa semakin bertambah pucat.
Saat melewati mereka Sandra bahkan sama sekali tak berani menatap wajah siapa pun, terutama Brendi. Vampire itu bisa saja membuatnya semakin kelihatan aneh. Sandra harap ia bisa melewati situasi ini dengan cepat.
Pergerakan vampir baru itu seketika terhenti saat seseorang menarik tangannya hingga berhasil membuat keduanya saling berhadapan. Sedetik kemudian Sandra menyadari bahwa ia sudah berada sangat dekat dengan wajah yang tentu saja membuat perubahan drastis padanya. Benar, hanya dalam sekejap Sandra merasakan suhu tubuhnya kini terasa sangat dingin, wajahnya juga pasti sudah kelihatan aneh.
“Apakah kau bisa berkonsentrasi? Pelatihan ini sangat membutuhkan konsentrasi. Ku harap kau bisa memperbaiki pikiranmu itu.”
Wajah itu terus memperhatikan Sandra sampai membuat ia tidak tahu harus menjawab apa.
“Te-tentu, akan ku usahakan.”
__ADS_1
Suara Sandra terdengar sangat aneh. Situasinya sama sekali tak berubah saat Brendi masih belum melepaskan pegangan tangan mereka.
“Bren, lepaskan dia. Akan lebih sulit baginya untuk berkonsentrasi jika kau terus memperlakukan dia seperti itu.”
Draynes segera memperingatkan Brendi agar melepaskan pegangan tangan tersebut karena Drayneslah yang akan menjadi pemimpin dalam latihan pengendalian diri kali ini. Jika tidak, latihan tersebut pasti akan memakan banyak waktu.
Baru setelah itu Brendi akhirnya melepaskan pegangan tangan tersebut, dengan begitu bebaslah Sandra dari ancaman ketidaknyamanan yang sempat menguasai pikirannya baru-baru ini.
“Benar. Kita harus segera bergegas, jika tidak latihan tidak akan pernah di mulai.”
Bila merasa harus segera melakukan latihan daripada harus terjebak dalam situasi yang sama seperti Sandra tadi.
“Bila, aku tahu ini semua memang sulit. Bisakah kau melupakannya?”
Tidak hanya Brendi, Andros pun tak mau ketinggalan dalam hal memastikan keadaan Bila. Tidak seperti Sandra, Bila bukan hanya tak bisa menjawab apapun tetapi ia bahkan juga hanya bisa berdiri mematung ditempat.
Beruntung Sandra segera mengambil tindakan dengan cara menarik Bila, dengan begitu secara tak langsung Sandra berhasil menyelamatkan Bila dari kondisi yang sempat dialaminya tadi.
“Ruangan latihannya bukan disana.”
Draynes kembali bicara saat melihat Sandra membawa Bila pergi menuju sebuah ruangan lain.
“Ok. Kalau begitu kenapa tidak kau tunjukkan saja letak ruangan latihan. Bukan, maksudku kalian.”
“An, Bren, lebih baik kalian tidak usah ikut. Latihan ini tidak akan pernah selesai jika kalian masih berada disini. Kalian bisa bekerja sama kan?”
Draynes mengusulkan sesuatu yang hanya dibalas Andros dan Brendi dengan terus melihat kearahnya. Mengisyaratkan arti tatapan antara setuju atau makna lain. Terlihat ambigu.
“Tenanglah, tidak akan terjadi sesuatu dengan mereka.
"Kalian bisa mempercayakan itu padaku. Benar kan Bil, Dra?”
Usulan dari Draynes langsung disambut Bila dan Sandra sangat antusias karena memang keduanya sangat tak ingin terjadi sesuatu yang lebih buruk--menyangkut diri mereka.
“Perlu kalian ketahui, setelah semua latihan ini ku harap kalian tidak bersikap kekanakan seperti itu lagi. Ku rasa kalian sudah cukup dewasa untuk mengerti.
"Sekali lagi tolong kerja samanya.”
__ADS_1
--------^-------^--------^-------