
"Bila coba tebak apa yang terjadi disekolah tadi.”
Laska langsung memulai pembicaran dengan Bila tanpa menyadari bahwa ia sama sekali belum menanyakan bagaimana kabar sahabatnya itu.
“Aku yakin kamu pasti tidak akan suka Bil, apa kau tidak merasakan perubahan yang terjadi pada sahabat masa kecilmu itu?” Kata Sandra sambil bergidik ngeri kearah Bila.
“Kalau bicara itu harus dipikir dulu Dra, apakah hal itu akan menyakiti ataupun menyinggung perasaan. Dengan kata lain lebih baik pikirkan terlebih dahulu apa saja dampak dari semua yang kamu ucapkan.”
Laska mengambil sebuah boneka beruang berukuran sedang yang sering digunakan untuk melempar Sandra seperti biasanya. Dan..., melayanglah benda tersebut tepat mengenai wajah perempuan itu.
“Memangnya apa yang sedang terjadi sampai-sampai perkataan Sandra tadi bisa menyinggung perasaanmu Laska?”
Bila hampir saja ingin tertawa melihat kelakuan kedua sahabatnya jika sakit kepala mengerikan itu tidak kembali datang.
“Bila kamu tidak apa-apa. Sudahlah jangan terlalu banyak pikiran, nanti sakitmu semakin bertambah parah. Em... apa obatnya sudah diminum?” Tanya Sandra saat menyadari sesuatu.
“Sudah. Tadi bibi yang memberikan obat sekaligus membantuku meminumnya. Sebelumnya kepalaku sudah terasa lebih baikan tetapi sekarang tiba-tiba malah terasa sakit.”
“Mungkin memang sudah menjadi nasibmu Bila.” Komentar Laska pendek terhadap apa yang menimpa sahabat masa kecilnya itu. Mendengar perkataan Laska, Sandra sontak menunjukkan wajah masam namun hal itu sama sekali tak dihiraukan oleh Laska. Sedangkan Bila tak ingin membesar-besarkan masalah tersebut.
“Sudahlah jangan terlalu mengkhawatirkan keadaanku.
“Sebenarnya apa yang sedang terjadi Las? Kalau dilihat dari ekspresimu mungkinkah ada anak baru disekolah, dan dia seorang perempuan.” Ujar Bila yang bahkan sama sekali tak yakin dengan apa yang dibicarakannya sendiri.
Anggap saja sebagai sebuah tebakan, lebih tepatnya begitu.
“Kenapa kamu bisa mengetahuinya apa Sandra sudah memberitahumu?”
Laska terlihat tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Nabila. Padahal sebelumnya ia berniat untuk menceritakan sebuah kejutan tentang perkenalan dengan anak baru tersebut.
Oiya, Laska kan masih belum sempat berkenalan dengannya. Besok Laska pasti tidak akan melewatkan kesempatan itu.
“No, aku sama sekali tak memberitahukan apapun. Apa kamu tidak tahu kalau sahabat kita yang satu ini mempunyai kelebihan.
"Ya..., walaupun lebih terkesan tebak-tebakan sih, tapi setidaknya hampir semua tebakannya itu selalu benar. Aku dan Albert saja sudah mengakui kelebihannya itu.” Kata Sandra sambil bangkit dari tempat duduk saat mendengar suara ketukan pintu.
“Tunggu sebentar ya, aku kedepan dulu sekalian pergi kedapur dan menggambilkan beberapa jenis cemilan.”
“Ambil yang banyak ya Dra, kebetulan aku memang sedang lapar. Jangan lupa minuman yang biasa juga dibawa.”
__ADS_1
Laska terlihat cuek sambil melihat-lihat beberapa macam buku yang ada didalam kamar sahabatnya itu.
“Memangnya kamu pikir aku ini pelayan apa, seenaknya memerintahku seperti itu.”
Sandra terlihat sangat tidak terima diperlakukan Laska seperti seorang pelayan. Walaupun disekolah ia sangat menghormati Laska sebagai ketua kelas.
“Itu kan kewajibanmu sebagai tuan rumah. Masa iya aku yang harus melakukannya?”
“Stop. Jangan berdebat disini, nanti kepalaku bertambah sakit.
"Dan Sandra bukannya tadi kamu ingin membukakan pintu. Coba dengarkan itu baik-baik. Aku yakin pintu rumahmu bisa saja rusak kalau kamu tidak segera membukakan pintunya.”
“Ok, l’m going now.”
Selain sudah tak ingin meneruskan perdebatan antara ia Laska yang sama sekali tak ada habisnya, Sandra pun juga memikirkan hal yang sama dengan Bila. Bisa-bisa pintu rumahnya benar-benar rusak jika tidak ditindaklanjuti dengan cepat.
Sandra segera membukakan pintu dan berhadapan langsung dengan sosok orang yang berada disana. Di mana saat itu nampaklah tiga orang yang sedang menunggu didepan rumahnya dengan ekspresi datar. Tak hanya mereka, Sandra pun juga melihat Albert--sang adik juga berada disana sambil bermain mobil-mobilan.
Melihat semua itu tanpa disadari, Sandra tiba-tiba merasa seperti ada sesuatu yang mencekal lehernya. Ia merasa takut. Entah itu karena melihat orang yang datang kerumahnya atau disebabkan oleh sesuatu yang lain.
Sandra sendiri juga tak terlalu mengerti tentang apa yang sedang terjadi dan apa yang sedang ia dipikirkan.
“Albert, masuk ke rumah. Tadi kamu dipanggil mama.” Kata Sandra kepada adiknya tetapi malah melihat kearah ketiga tamu misterius itu.
“Hey dengarkan perkataan kakakmu. Tidak baik kamu melawan orang tua. Kakak yakin kamu bukanlah anak nakal.” Kata salah satu orang misterius itu.
“Kelihatannya kakak lumayan mirip dengan kak Bila. Baiklah..., Albert memang bukan anak nakal melainkan anak yang baik.”
Albert langsung menghentikan semua kegiatan bermain dan pergi berlari masuk kedalam rumah. Sementara itu Sandra hanya bisa melihat ketiga orang baru tersebut dengan tatapan sulit dipercaya.
Bagaimana bisa Albert sang adik bisa langsung mengambil kesimpulan bahwa orang yang baru saja berbicara dengannya tadi memiliki sifat serta pemikiran yang sama dengan Bila?
Padahal Albert bahkan baru melihat orang tersebut untuk yang pertama kalinya.
“Ke-kenapa kalian bisa datang kesini? Bukannya kita sama sekali belum berkenalan. Lalu bagaimana bisa kalian tahu alamat rumah ini?”
Sandra masih tetap dengan ekspresinya tadi.
“Dengan sedikit perjuangan, kami menanyakan alamat rumahmu dari teman-teman disekolah.” Kata mereka berbohong dan Sandra sama sekali tak menyadari hal tersebut.
__ADS_1
“Ya, itu cukup masuk akal. Sekarang apa keperluan kalian datang kesini?”
Sandra malah menanyai mereka banyak hal dan bukannya mengajak mereka masuk. Sebenarnya Sandra tidak bermaksud begitu. Hanya saja, ia benar-benar merasa aneh saat mendapati mereka datang langsung kerumahnya.
Semua itu terasa terlalu cepat. Jangankan untuk berteman baik, mereka bahkan sama sekali belum berkenalan.
“Kami hanya ingin menjeguk Bila. Ku dengar dia sedang berada dirumahmu.”
“Dari mana kalian bisa mengetahui hal itu, apakah kalian sudah datang langsung kerumahnya?” Tambah Sandra lagi, kali ini dengan tatapan yang membingungkan.
“Benar. Kami sudah pergi kerumahnya dan mengetahui semua itu dari ibunya sendiri.”
“Sulit dipercaya ternyata kalian sudah bertindak sejauh itu.”
“Sandra kedengarannya ada tamu diluar. Kenapa tidak diajak masuk?” Terdengar suara seseorang yang masih berada didalam rumah.
“Kenapa mama bisa ada disini?” Sandra kelihatan sedikit kaget saat mendapati ibunya sudah berada disampingnya saat itu.
“Tadi adikmu yang memberitahu mama kalau ada tamu diluar dan kamu malah mengintrogasi mereka disini.
"Sekarang lebih baik kamu ambilkan cemilan dan minuman untuk teman-temanmu ini, didalam kan sudah ada Laska. Em...”
Sandra kelihatan sangat tidak setuju dengan keinginan dari sang ibu, tetapi tetap saja mau tidak mau ia harus melakukan semua itu. Walau bagaimanapun cara Sandra membuat agar ibunya mengerti, apalagi jika tidak disertai dengan alasan yang tak jelas, tentu saja semua itu tidak akan membuahkan hasil.
"Maafkan anak bibi ya. Dia memang suka begitu terhadap orang baru.” Kata ibu Sandra saat sudah berada diruang tamu.
“Tidak masalah Bi. Maaf, apakah benar Bila sedang berada disini. Sebenarnya kedatangan kami kesini adalah untuk menjeguknya.”
“Sebelumnya bibi tidak pernah melihat kalian. Apa kalian ini teman sekolah mereka?” Ibu Sandra mengajukan pertanyaan bermaksud mengetahui identitas tamunya itu.
“Benar Bi, kami baru saja pindah. Ini kedua teman saya namanya Brendi dan Draynes dan saya sendiri Andros.”
“Em. Kalau kalian ingin menjeguk Bila, dia ada dikamar Sandra letaknya tidak jauh dari ruangan ini. Bibi tinggal dulu ya, nanti Sandra juga akan menyusul.”
“Terima kasih bibi.”
Tanpa banyak berpikir mereka pun segera pergi menuju tempat dimana mereka bisa menemui Bila. Terutama Andros, dia bahkan menjadi orang pertama diantara mereka bertiga.
Sesampainya mereka tepat didepan pintu ruangan itu, mereka masih menyempatkan diri untuk saling berpandangan kemudian dilanjutkan dengan anggukan singkat secara bergantian.
__ADS_1
“Boleh kami masuk?”
-----------^----------^---------^