
Pada saat jam istirahat Bila pun pergi kekantin sekolah dan menempati tempatnya yang biasa. Namun hari ini entah karena apa nafsu makan Bila menjadi terganggu, hingga membuatnya tidak ingin memakan apa pun. Di tambah lagi Bila memang sedang sendirian dikarenakan Laska dan Sandra masih disibukkan dengan urusan kelas.
Bagaimana tidak, Laska adalah ketua kelas sedangkan Sandra sebagai sekretaris. Hanya Bila saja yang tidak memiliki kedudukan apa pun dikelas kecuali sebagai seorang siswi disana.
“Kenapa nafsu makanku jadi terganggu? Biasanya kan aku sudah terbiasa makan sendiri.” Pikir Bila dalam hati.
“It’s ok, kalau aku sedang tidak nafsu makan lebih baik aku pergi ketempat biasa.”
Setelah memikirkan hal apa yang sebaiknya ia lakukan akhirnya Bila pun memutuskan untuk pergi kearah taman sekolah. Sesampainya Bila ditempat itu ia pun langsung saja duduk disebuah pohon yang terkenal akan kesunyian.
Pohon ini dikatakan sunyi dan sepi karena tidak pernah ada orang lain yang terlihat duduk dibawahnya kecuali Bila. Bila sendiri sangat menyukai ketenangan, sehingga membuatnya sangat betah duduk menyendiri dibawah pohon yang rindang ini. Bila rasa tidak ada orang yang akan menganggu ketenangannya disana.
Baru sekitar beberapa menit berlalu terdengar suara derap kaki yang melangkah kian mendekat.
Bila sedang yang menikmati suasana tenang berpadu dengan semilir angin yang meniup begitu dingin membuat gadis itu tak merasakan kehadiran sosok seseorang yang masih misterius. Suara itu terdengar semakin mendekat hingga akhirnya tiba tepat disamping Bila.
“Nabila, nama yang cukup menarik.”
Terdengar suara yang tentu saja berhasil membuat Bila tersadar sepenuhnya bahwa ia sedang tidak sendirian. Kedatangannya yang tiba-tiba berhasil membuat Bila hampir jatuh ketanah sebab kaget dengan kehadiran seseorang yang tiba-tiba sudah berada disampingnya saat itu.
Tepat setelah kejadian tersebut Bila bisa merasakan sesuatu sedang menahan tubuhnya agar tidak berhasil terjatuh. Kejadian itu terjadi begitu cepat hingga ia tidak menyadari bahwa ternyata Androslah yang sudah menolongnya demikian orang yang telah membuatnya hampir terjatuh tadi.
Dari kejadian itu, tanpa disengaja matanya dan mata Andros saling bertemu hingga membuat seluruh tubuhnya merinding seketika. Bila bisa merasakan keanehan yang terdapat dalam diri Andros ketika melihat tatapan mata Andros yang tajam, bahkan terlihat lebih menyeramkan daripada sebelumnya.
“Andros” Panggil Brendi yang sudah berada dihadapan Andros dan Bila bersama dengan Draynes.
Menyadari ada orang lain selainnya dan Andros, Bila pun langsung saja berdiri dan mencoba untuk bersikap seperti biasanya lagi. Setelah melihat mereka sejenak Bila pikir sebaiknya ia segera pergi dari tempat dimana ia masih bersama dengan mereka. Bila merasa tempat itu terlihat sangat menyeramkan dengan tambahan ketiga anak baru yang masih saja melihatnya dengan tatapan tajam, seolah-olah dia adalah mangsa yang hendak dimakan oleh seekor serigala, ditambah lagi kesunyian yang tidak pernah dirasakan perlahan masuk kedalam seluruh tubuhnya membuat ia semakin bertambah merinding.
Saat hendak berdiri dan pergi dari tempat itu tangan Bila terasa dipegang oleh seseorang yang masih menatapnya dengan tatapan yang sulit dimengerti. Melihat tatapan tersebut Bila pun merasa seakan seluruh kekuatannya hilang tak bersisa. Akan tetapi dengan cepat Bila berusaha kembali kepada dirinya yang selalu bersikap keras walau pun sangat sulit untuk ia lakukan.
“Maaf tapi aku harus pergi sekarang.” Katanya dengan mata yang kini sudah tidak melihat kearah Andros lagi. Disaat seperti ini melihat kearah mata Andros yang tajam bukanlah hal yang baik baginya.
“Kenapa terlalu terburu-buru, bukankah kita belum berkenalan.” Ujar Andros masih dengan tatapan yang sama.
“Tidak. Hanya saja sebentar lagi akan masuk, dan aku tidak mau sampai terlambat.” Bila membuat alasan yang mungkin saja bisa untuk Andros mengerti.
“Tidak akan aku lepaskan.” Ujarnya datar tetapi masih sempat sedikit tersenyum kearah Bila.
“Orang ini memang benar-benar keterlaluan, seharusnya dia bisa mengerti bahwa aku sudah sangat risih padanya. Terlebih disaat kondisi seperti ini membuat tubuhku tidak henti-hentinya merinding, lebih mirip seperti suasana pada film horror.”
__ADS_1
“Andros lepaskan saja dia, apa kamu tidak kasihan? Lihat wajahnya itu, aku rasa dia sudah sangat ketakutan.”
Draynes yang sedari tadi diam akhirnya ikut nimbrung dalam percakapan Andros dan Nabila.
“Apa pedulimu terhadap orang ini.”
Andros malah melihat Draynes dengan tatapan yang lebih tajam lagi dari sebelumnya, hingga berhasil membuat-ku merasakan penglihatan yang dulu pernah ku- miliki.
‘Waktu itu aku masih sangat kecil, aku memang sering mendapatkan berbagai macam penglihatan. Entah karena apa, tapi setiap kali penglihatan itu muncul selalu saja memperlihatkan semua hal yang sangat menyeramkan hingga membuatku sampai mengalami demam panas yang tinggi. Tidak hanya itu aku bahkan sering berteriak ketakutan setiap penglihatan itu muncul.Tetapi itu dulu, dan sekarang seharusnya penglihatan seperti itu tak pernah datang lagi semenjak Ayah dan Ibu berusaha mengobatiku. Hingga akhirnya aku bisa sembuh sepenuhnya.’
“Tidak…!!!”
Terdengar suara teriakan dari mulut Nabila, secepat itu pula Andros melepaskan gengaman tangannya.
“Bila.”
Andros terlihat sedikit kaget saat melihat Bila hampir kehilangan seluruh kesadarannya. Orang itu segera bertindak menolong Bila sebelum ia berakhir jatuh pingsan.
“Kau merasakannya Andros?”
Brendi terlihat berada didekat Andros dan Bila. Sedangkan Draynes masih diam ditempatnya dengan tatapan dingin.
Tiba-tiba Draynes angkat bicara dalam masalah itu. Saat Andros mendengar ucapan Draynes, ia langsung melihatnya dengan tatapan tajam disertai mata yang kini sudah berubah.
“Hentikan, kita harus membawa Bila ketempat yang aman sebelum ada orang yang datang ketempat ini.” Kata Brendi memperingati mereka.
Sebenarnya yang Brendi pikirkan saat itu hanyalah tak ingin melihat keduanya membuang-buang waktu dengan meributkan hal itu. Terutama Andros.
Semua kalangan vampire juga tahu kalau ia tak terlalu bisa mengendalikan emosinya, meskipun dalam hal itu Draynes pun juga tak bisa disalahkan. Hanya saja walau apapun yang terjadi mereka harus menghindari keributan yang bisa memicu Andros menjadi kehabisan kesabaran.
“Baiklah.” Ujar Draynes akhirnya. Seiringan dengan hal itu, mata Andros pun berubah menjadi normal kembali.
Mereka pun bergegas pergi meninggalkan tempat tersebut dengan Nabila yang masih bersama mereka. Setelah melintasi hutan rimba yang lebat baru setelahnya mereka sampai ditempat tujuan. Tak jauh dari tempat itu terlihat sebuah villa yang cukup besar, megah namun tampak menyeramkan dari villa biasanya.
Dengan tambahan tumbuhan yang tumbuh hampir menutupi seluruh dari dinding villa tersebut, semakin membuatnya terlihat lebih menakutkan. Angin semilir yang cukup kencang juga menyambut kedatangan mereka ditempat itu.
“Ada yang datang kesini.” Ujar Brendi diikuti dengusan napas Draynes.
Perlahan terlihat bayangan yang melintas dari segala arah sampai akhirnya berhenti tepat dihadapan mereka.
__ADS_1
“Lama tidak berjumpa, Andros.”
“Naomi.” Kata Andros tenang namun terlihat sedikit terkejut dengan kedatangannya yang tiba-tiba.
Naomi sendiri terlihat tersenyum kearah Andros dengan tatapan lembutnya. Senyuman itu seketika menghilang saat ia melihat seseorang yang sedang dibawa oleh Andros, akan tetapi Naomi masih bersikap tenang dengan wajah tanpa ekspresinya.
“Siapa dia, Draynes?”
Kali ini Naomi lebih memilih bertanya kepada Draynes, menanyakan hal itu kepada Brendi bukanlah hal yang baik apalagi dengan Andros.
Brendi adalah vampire dengan watak teguh pada pendirian serta tegas. Untuk Andros sendiri seluruh vampire mengetahui bahwa ia tak bisa mengendalikan emosinya. Sedangkan Draynes pun juga cukup berwibawa dan bijaksana. Hanya saja, Naomi rasa pertanyaan yang diajukannya akan lebih baik ia tujukan pada Draynes.
Bukan berarti Draynes merupakan sosok yang lemah, tapi sifat bijaksana dan wibawanya lah yang membuat Naomi mungkin bisa mendapatkan jawaban. Tetapi tetap saja dia masih belum mendapatkan apa yang ia inginkan.
“Terus diam atau bicara?” Tambah Naomi lagi karena masih tak diperdulikan, ditambah dengan tatapannya yang semakin dipertajam.
Situasinya menjadi semakin rumit, Draynes yang tadinya masih diam akhirnya memutuskan untuk melakukan sesuatu agar tidak terjadi hal yang lebih buruk lagi. Saat ia hendak bicara, Andros langsung mendahuluinya bahkan sebelum ia sempat melakukan hal tersebut.
“Itu bukan urusanmu, pergi dan kembalilah.” Ujar Andros dengan wajah datarnya.
“Beginikah cara kalian menyambut kedatangan kami?” Terdengar suara seseorang dan langsung bergabung dengan pembicaraan mereka, bahkan tanpa sepengetahuan siapa pun.
Melihat kedatangannya, sontak Brendi dan Draynes pun langsung saja melakukan hal yang biasa dilakukan layaknya saat menyambut kedatangan orang penting.
Seorang yang baru datang tadi merupakan sang Ratu dari kerajaan yang mereka tempati. Lebih tepatnya Ratu Meralda, ibu tiri dari Andros. Sementara itu Andros masih saja diam tidak melakukan apa pun layaknya Brendi dan Draynes.
“Ada apa Andros, apa kau tidak suka dengan kedatanganku?” Tanya Ratu Meralda dengan tatapan yang tertuju langsung kearah Andros, kemudian berganti lagi dengan seseorang yang sedang bersama dengannya.
“Aku harus pergi.
"Brend, Draynes ayo berangkat.”
“Lalu bagaimana dengan ibumu, dan Naomi?” Tanya Ratu Meralda lagi dengan ekspresi khas miliknya.
“Kalian masuklah dulu kedalam villa itu, pergi dan beristirahatlah. Nanti kami akan menyusul.”
Setelah bicara demikian Andros, Brendi dan Draynes menghilang ditelan kegelapan dan pergi dari tempat itu tanpa meninggalkan bekas sedikitpun. Naomi terlihat seperti ingin mengejar kepergian Andros, namun dengan cepat dihentikan oleh Ratu Meralda.
-------^-------^-------^-------^
__ADS_1