The Darkness Of Vampir World

The Darkness Of Vampir World
Diskusi


__ADS_3

"What!!!”


Begitulah reaksi Laska saat mendengar penjelasan mengenai hal yang sedang dipikirkan oleh Sandra dan Bila akhir-akhir ini. Terutama Sandra, gadis dangan perawakan tubuh tegap itu selalu mewanti-wanti agar Bila jangan sampai melupakannya.


Padahal Bila hampir tak pernah lagi memikirkan apapun yang berhubungan dengan pendapat aneh Sandra terhadap ketiga orang yang akhir-akhir ini terlihat akrab dengan mereka.


Semuanya terjadi begitu saja, entah karena terlalu terbawa arus kedekatan hubungan atau memang tak ingin mengisi pikiran dengan hal-hal rumit. Walaupun hampir setiap malam, sebelum tidur Bila selalu berusaha untuk menemukan sebagian dari memorinya yang hilang.


Hanya saja bukannya jawaban yang Bila dapatkan melainkan sakit kepala yang datang silih berganti. Sangat sulit, menemukan jawaban dari pertanyaan yang sedang dipikirkan mereka saat itu.


“Kalian yakin kalau memang itu penyebabnya?”


“Ya-yakinlah. Cuma..., semua itu masih berupa firasatku saja.”


Wajah Laska seketika berubah saat melihat Sandra tersenyum canggung. Padahal sebelumnya Laska sudah mencoba seserius mungkin dalam menghadapi masalah yang sedang mereka hadapi.


“Sandra apa kamu tidak bisa membaca keadaan, aku kan sedang serius tadi. Kamunya malah cengar-cengir gak jelas.” Protes Laska saat konsentrasinya buyar total.


“Habis mau bagaimana lagi semuanya kan masih belum terbukti. Ditambah lagi masalah Naomi. Aku yakin kamu pasti masih memikirkan hal itu.” Tambah Sandra dengan wajah merengut berganti dengan tatapan membingungkan kepada Bila.


“Maksudmu, kamu cemburu dengan perasaanku terhadap Naomi?” Ujar Laska dengan tatapan menggoda. Akhir-akhir ini rasanya sangat menyenangkan jika menggoda Sandra terus-menerus.


“Apa, cemburu. Dengar ya Laska daripada aku cemburu soal hubungan kamu dengan Naomi lebih baik aku punya hubungan khusus sama Brendi.” Balas Sandra dengan melempar sebuah buku berukuran tebal tetapi gagal mengenai sasaran saat Laska berhasil menangkapnya.


“Hubungan khusus, maksud kamu pacaran. Pikiran saja selalu buruk tahu-tahu malah menyukai salah satu diantara mereka.” Kata Laska kali ini dengan tatapan mengejek.


“Woy ketua kelas kalau bicara itu pakai otak jangan sampai asal keluar saja.”


Rasa hormat Sandra kepada Laska berhasil hancur oleh perbuatan yang diciptakan Laska sendiri, mungkin.


“Dra, Laska. Jangan memulai pertengkaran lagi.


“Dan kamu Laska, seharusnya kamu membantu kami berpikir. Aku benar-benar sudah tidak tahu harus bagaimana lagi, saat bertemu dengan Naomi dan Putri tadi pagi. Entah kerena apa tiba-tiba aku merasa ada sesuatu yang terjadi diantara mereka. Tidak hanya itu aku juga berpikir bahwa akan terjadi suatu hal yang buruk, tapi aku sama sekali tidak tahu hal apa itu. Menurut kalian apakah aku ini aneh?” Tanya Bila tepat berhadapan langsung dengan mereka. Berharap keduanya mempunyai solusi dari permasalahan yang ia hadapi.


“Entahlah.” Komentar Laska pendek.


“Aku juga tidak tahu.” Tambah Sandra kemudian.


Disaat Bila terlihat seperti telah kehilangan semangat hidup, baru setelah itu Sandra mencoba berpikir lebih kritis.


“Wait, bagaimana bisa kamu berpikiran seperti itu. Bukankah akhir-akhir ini apapun yang kamu pikirkan hampir semuanya menjadi kenyataan. Mungkinkah semua itu berarti bahwa firasat burukmu merupakan sebuah pertanda. Aku memang tidak bisa memastikan apa saja yang bisa terjadi, tapi menurutku kamu harus berhati-hati.

__ADS_1


“Ok, untuk sementara waktu ini kamu jangan pulang dulu kerumah paman dan bibi. Bila perlu kamu harus tetap tinggal disini selamanya. Aku takut akan terjadi sesuatu yang buruk terhadapmu. Apalagi setiap kamu berada dirumah kamu selalu sendirian karena paman dan bibi disibukkan dengan urusan pekerjaan. Ya..., kecuali pada malam hari.”


Setelah beberapa saat akhirnya Sandra menyadari sesuatu.


“Dra kamu terlalu berlebihan masa iya pikiranmu sampai sejauh itu.” Proted Laska dengan wajah polos.


“What do you say, aku terlalu berlebihan. Aku kan hanya sedang memikirkan kebaikan. Bukan seperti dirimu yang suka mendramatisir keadaan. Entah karena apa kamu sampai mendapatkan sifat seperti itu.”


“Ok up to you. Dasar ibuk-ibuk cerewet, bawel, menyebalkan.”


"Bila bukankah sudah selama dua hari ini kalian duduk berdekatan. Apakah kamu juga merasakan sesuatu yang aneh?”


Sandra kembali menanyakan sesuatu kepada Bila. Untuk hal yang satu ini Sandra merasa harus mengetahuinya secara langsung.


“Sesuatu yang aneh, maksudmu apa Sandra. Jangan pernah berpikiran buruk tentang nya, atau dia akan menambah daftar orang yang tidak suka bertukar pikiran denganmu. Beruntung selama ini aku masih bisa bertahan. Jika tidak, maka tidak akan ada satu orangpun yang mau bicara denganmu. Yah, kecuali Bila, mungkin.”


Laska terlihat sedang membaca buku yang sempat ditangkapnya tadi, sebuah buku lemparan dari Sandra. Serta tidak lupa meminum kembali es teh buatan ibu Sandra. Katanya sih hasil dari resep baru yang sedang diuji coba.


Laska sendiri pun terasa seperti kelinci percobaan, tetapi sudahlah lagi pula makanan atau minuman apapun hasil buatan ibu Sandra memang selalu menggugah selera walau dari hasil percobaan sekalipun.


“Ternyata kamu memang penggemar setia mamaku, buktinya minuman hasil percobaan pun masih saja kamu habiskan.” Sandra bicara dengan mengedipkan sebelah mata. Gara-gara semua itu Sandra jadi melupakan masalah yang seharusnya ia tanyai kepada Bila tadi.


“Impossible.”


“Alah sok bahasa inggrisan segala, harusnya kamu belajar banyak dari bibi supaya jurus andalan pinter masaknya itu nular sama kamu.”


“Laska, Sandra c’mon. Kalian sama-sama sudah besar."


Ditengah-tengah keributan yang terjadi antara Laska dan Sandra, selalu Bila yang menjadi penengah diantara keduanya. Terkadang kedua orang itu memang sering lupa akan situasi yang terjadi hanya disebabkan oleh masalah kecil seperti ini.


“Iya-iya maaf.”


“Aku juga, maaf ya.”


“Emm...,


“O iya, Dra, kelihatannya tatapan seram Naomi hampir sama dengan Andros dan kedua temannya. Mungkinkah mereka semua mempunyai sifat yang sama. Bisa jadi mereka itu berteman, maksudku sama seperti kita.”


"Teman apanya, wajah Andros saja selalu masam saat bertemu dengan orang dingin itu. Selain itu mereka juga tak pernah terlihat akrab tidak seperti kita yang selalu nempel kayak surat sama perangko.” Sanggah Sandra cepat tepat setelah Bila baru saja menerangkan isi pikirannya.


“Kalau aku sama Bila sih jadi surat sama perangkonya terus kamu jadi apanya Dra, tukang pos, yang kerjaaannya cuma bisa mengirim surat keributan?”

__ADS_1


Baru saja Bila mengingatkan Laska, tetapi ia sudah mulai melakukannya kembali.


Terkadang Laska memang sangat sulit dikendalikan apa lagi jika berhubungan dengan Sandra, entah mengapa ia sangat suka menggangu sahabatnya yang satu itu.


Wajah Sandra langsung berubah saat mendengar perkataan Laska namun tak bertahan lama saat ia lebih memilih untuk mengabaikan hal itu.


“Baiklah, aku hanya perlu menganggap dia tidak ada.”


“Bil bukannya mau berpikiran buruk terus, tapi selama kalian duduk berdekatan apakah Naomi pernah bicara denganmu atau sebaliknya?”


“Tidak. Memang aneh, mau bagaimana lagi. Sudah selama dua hari ini kami sama sekali belum pernah bicara apapun. Jangankan untuk bicara berdua menyebut namaku saja dia tidak pernah. Hanya saja aku sering mendapati dia melihat kearahku. Aku sama sekali tak berani menegur, orangnya saja selalu berwajah datar seperti itu. Aku juga tidak yakin apa dia mengetahui namaku atau tidak.”


Bila menceritakan semua hal yang ia alami selama duduk berdekatan dengan Naomi.


“Sebenarnya dia itu punya maksud apa, kedapatan sedang memperhatikanmu tapi dia malah tidak bicara sedikitpun. Seharusnya jika ingin berkenalan itu kan hanya perlu menyebutkan nama saja, lalu apa susahnya?”


Sandra terlihat sedang meminum es teh buatan ibunya tadi. Meski minuman hasil percobaan harus diakui bahwa minuman tersebut memang sangat menyegarkan. Ditambah lagi dengan pikiran kusut seperti ini.


“Sandra, Naomi itu kan menjabat sebagai seorang anak baru. Seharusnya Bila lah yang lebih mendominasi dalam banyak hal, termasuk berkenalan. Disamping itu bisa saja kan kalau Naomi itu orangnya memang pendiam, bukan menyeramkan sama seperti pikiranmu selama ini.”


“Bila, menurutmu sendiri bagaimana?”


Akhirnya Sandra hanya bisa mengembalikan semua keputusan ketangan Bila, karena dia lah yang mengalami kejadian tersebut secara langsung.


“Entahlah aku masih bingung.


“Dan ya, sejak kapan Naomi dan Putri jadi teman? Setahuku mereka..., arghh!!!...”


Belum sempat Bila menyelesaikan perkataannya sakit kepala yang akhir-akhir ini menyerang kembali menyergap.


“Tuh kan sebaiknya kamu jangan memaksakan diri terlebih dahulu, lihatlah sekarang sakit kepalamu itu datang lagi.” Laska malah bicara begitu ditengah-tengah Sandra membantu Bila.


“Laska daripada kamu ceramah terus lebih baik kamu membantuku menolong Bila.” Pinta Sandra sebelum ia kewalahan.


“Terus aku harus apa?”


Disaat-saat seperti itu Laska masih menyempatkan diri bertanya sebab ia tiba-tiba berubah menjadi serba salah saat melihat Bila hampir kehilangan seluruh kesadaran.


“Cepat ambilkan obat pereda rasa sakit didalam laci meja, airnya juga berada diatas."


-------^----------^-------^---------

__ADS_1


__ADS_2