
“Boleh, kalau kalian tidak keberatan.” Ujar Sandra tanpa menghiraukan perkataan Laska tadi.
Melihat gurauannya kali ini sama sekali tak ditangggapi oleh Sandra, Laska hanya merespon dengan senyam-senyum tak jelas. Laska yakin meskipun umpan yang ia berikan saat itu sama sekali tak berpengaruh terhadap Sandra, ia tahu bahwa perkataan tadi cukup menyinggung perasaannya.
Hanya saja kali itu Sandra berhasil menguasai diri. Dari awal sampai akhir perjalanan mereka menuju mobil, Laska masih saja terus tersenyum. Ia kelihatan sangat bersemangat apalagi jika hal tersebut berkaitan dengan ‘kisah cinta’ kedua sahabatnya.
Lalu bagaimana dengan Alaska sendiri?
Apakah ia masih mengharapkan Naomi, atau dia sudah sama sekali tak perduli?
Entahlah untuk masalah itu hanya Tuhan dan Alaska saja yang tahu.
“Lihatlah, sepertinya mereka diawasi 24 jam.”
Terdengar suara Putri memecah keheningan.
“Kau benar. Ini bahkan lebih sulit daripada perkiraanku.”
“Jadi bagaimana sekarang?”
“Kita lihat saja perkembangan selanjutnya.” Jawab Naomi sambil mengisyaratkan Putri untuk segera pergi.
Di perjalanan....
“Draynes, kalau boleh tahu kalian berasal dari mana?” Di tengah perjalanan Sandra masih menyempatkan diri melanjutkan penyelidikan mereka setelah baru saja mengalami kegagalan direncana pertama.
Bukan hanya sekedar rencana saja yang gagal tetapi struktur dan bentuknya sama tak jauh berbeda.
Seharusnya Naomi dan Putri tidaklah ditargetkan sebagai sasaran, tetapi Laska terus memaksa Sandra saat melihat kedua orang tersebut sedang bicara.
Padahal kemarin Laska sendirilah yang sudah memberitahukan bahwa Naomi tidak termasuk dalam terget penyelidikan. Hanya saja saat melihat mereka terlihat seperti sedang membicarakan sesuatu yang penting, Laska tiba-tiba menjadi berubah pikiran. Tetapi sudahlah, mereka masih harus melanjutkan tahap penyelidikan itu.
“Kami berasal dari wilayah sekitar sini.” Jawab Draynes cukup singkat.
“Kalau begitu bolehkah kami berkunjung kerumah kalian?” Pinta Sandra sambil terus melihat kearah Draynes, dengan harapan mereka mau menerima permintaan sederhana tersebut. Tak hanya itu Laska pun juga memberi sedikit tambahan.
“Langsung pergi sekarang juga boleh kan!?”
“Kenapa kalian tiba-tiba sangat bersemangat ingin pergi kerumah mereka, memangnya kalian yakin kalau mereka itu tinggal serumah.
"Setahuku Sandra tadi hanya menanyakan dari mana mereka berasal, bukan alamat rumah. Aku jadi bingung lalu apa maksudnya?”
Pendapat Bila langsung disambut alasan spontan yang keluar dari mulut Laska, bahkan tanpa berpikir terlebih dahulu.
__ADS_1
“Jadi orang itu harus kreative Bil, biar peluang masuknya jadi lebih luas.”
“Masuk kemana, apa yang sedang kamu bicarakan?”
Bila semakin terlihat bingung. Sementara itu Brendi melirik Andros yang sedang menyetir.
“Itu, maksudku..., peluang pendekatan.
"PDKT. Masa iya kamu tidak tahu.” Kata Laska terlihat semakin aneh yang langsung saja membuat Sandra menoleh kearahnya, sedangkan ia sendiri lebih memilih melihat Draynes.
“Em..., Draynes kami boleh kan pergi kerumahmu, atau kerumah Andros, atau mungkin ke rumahmu saja Bren.
"Bagaimana Dra, Bil, pilih salah satu.”
“Bukankah lebih baik kalau kita pulang kerumah masing-masing, kita disini kan hanya sebagai penumpang.” Ujar Bila terdengar sangat polos.
“Ok, thakyou.” Kata Laska akhirnya, serta diam untuk sementara waktu.
Kesempatan itu pun digunakan oleh Sandra dengan sebaik mungkin. Setidaknya ia mungkin saja masih bisa mendapatkan celah guna mencari sedikit informasi.
“Draynes. Menurut kalian cerita yang berhubungan dengan kekuatan ajaib itu benar-benar ada, seperti Harry Potter?”
Kali ini Sandra kembali melancarkan pertanyaan lain. Apalagi saat mendapati Laska sudah diam sepenuhnya. Mungkin saja setelah ini ia akan bersikap lebih serius. Walau bagaimana pun Sandra masih sangat mengharapkan keseriusan dari orang itu.
“Tergantung, tetapi menurutku sendiri itu bisa saja mungkin terjadi.”
"Mengenai masalah ini, bagaimana pendapatmu tentang seseorang yang menderita sakit yang seharusnya sudah sembuh sejak lama, tapi sekarang kambuh lagi.
"Apakah semua itu ada hubungannya dengan penglihatan yang ia miliki, atau mungkin disebabkan oleh sesuatu yang lain.
“Sorry, aku jadi menanyakan banyak hal seperti ini. Padahal kita masih belum lama berteman.”
“Itu semua masih masuk akal, memang ada sebagian orang yang diberikan kemampuan seperti itu. Semacam kekuatan supranatural, anak indigo.”
“No, bukan itu maksudku. Sesuatu yang berbeda tapi memiliki makna yang hampir sama.
“Begini. Orang itu memang seperti yang kamu katakan tadi, hanya saja dia tidak memiliki kemampuan supranatural atau semacamnya. Dia hanya memikirkan sesuatu dan terkadang atau bahkan kebetulan semua itu benar-benar terjadi. Mungkin sejenis ramalan. Namun kajiannya tidak sampai kesana, hanya sebuah firasat.
"Tebih tepatnya begitu. Hanya saja rasanya ada sesuatu yang aneh dengan semua firasat tersebut.”
“Firasat itu tergantung perasaan. Tapi sepertinya terdapat sesuatu yang mungkin ia miliki sedangkan tidak dengan orang lain.”
“Apa maksudmu berbeda, lalu apa sesuatu dibalik penglihatan itu?
__ADS_1
"Apa sebenarnya yang sedang terjadi. Apakah semua itu berhubungan dengan kalung ini?”
Bila yang tadi hanya diam dan mendengarkan tiba-tiba spontan bertanya bahkan tanpa ia sedari, setelah itu ia refleks menunjuk kearah kalung yang masih berada didalam kerah baju.
“Bolehkah kami melihat kalung itu?”
Bila segera melihat kearah kedua sahabatnya seakan sedang meminta persetujuan dari kedua orang itu karena ia sendiri masih merasa sangat ragu apakah tindakan tersebut benar atau salah.
Ia akhirnya memutuskan memberikan kalung tersebut kepada Draynes saat mendapat anggukan singkat dari Sandra.
Benda itu disambut Draynes dengan sangat baik kemudian diperhatikan.
Seketika itu juga Draynes bisa merasakan kehadiran akan tanda-tanda kekuatan Batu Merah serta selintas bayangan tentang Ratu Mitra, ibunda Andros.
Sebenarnya apa hubungan antara Ratu Mitra yang sudah tiada dengan kalung berliontin 2 huruf N itu?!
Draynes bisa merasakan ada sesuatu yang telah terjadi diantara keduanya dimasa lalu. Hanya saja ia masih belum bisa memastikan semua itu.
Laska menyenggol bahu Draynes ketika melihatnya diam seribu bahasa saat baru saja memperhatikan kalung tersebut. Tindakan itu berhasil membuat Draynes keluar dari pikirannya sendiri dan tersadar.
“Apa saja yang baru kamu lihat? Kalian kelihatan mengetahui banyak hal mengenai masalah ini dan berusaha untuk menutupinya. Sebenarnya, kalian siapa?”
Sandra langsung bicara keinti permasalahan yang telah didapatkan melalui reaksi serta jawaban yang Draynes katakan. Tidak salah lagi mereka pasti bukanlah orang biasa. Jika tak benar, tidak mungkin dia bisa bersikap dan memberikan jawaban seperti itu.
Tidak akan mungkin jika seseorang langsung terdiam membisu seperti sedang melihat sesuatu yang aneh, padahal itu hanyalah sebuah kalung.
Pemikiran spontan Sandra terhenti saat Andros memberhentikan mobil secara mendadak hingga membuat seluruh isi penumpang terlihat kaget, kecuali Andros Brendi dan Draynes.
“Ada apa?”
Laska yang tadi duduk tenang sambil memperhatikan jalannya pembicaraan sekarang telah menangkap kursi yang ada didepan dengan wajah polos ketakutan.
“Maaf, kita sudah sampai. Aku agak lupa dengan jalan disekitar daerah ini. Sekali lagi aku minta maaf.” Kata Andros dengan melihat kearah Bila dan Sandra.
“Perasaan baru kemarin kalian pergi bertamu kerumahku, kenapa sekarang kamu sudah lupa?
"Kalaupun kamu tidak bisa mengingat hal itu setidaknya jangan membawa mobil dengan sangat kencang. Supaya tidak terjadi hal semacam ini.
“Sudahlah lupakan itu. Terima kasih atas tumbangannya. Ayo Bil, Las.
"Ingat lain kali harus hati-hati!”
Sandra bicara panjang lebar sambil turun dari mobil serta tidak lupa mengajak Bila dan Laska.
__ADS_1
Mereka pun akhirnya pergi setelah mengucapkan terima kasih.
--------^--------^---------^------