The Devil Nerd

The Devil Nerd
Satu


__ADS_3

Ini terasa hitam dan dingin.


sungguh...


kekosongan pikiran serasa sesak.


Aku membeku...menggigil tubuh mungilku.


Ingin meringkuk pun rasanya tak mampu.


Mencicit apalagi.


Seolah direnggut paksa.


Aku telah tergeletak nyaris tiada.


Mereka telah menikam ku..


Hingga ulu hati ini mati tak bersisa.


Aku Mati.


Aku Mati.


Aku Mati.


Mati di neraka.


Sungguh kejam.


Mereka sangat kejam.


Merintih aku...bertanya.


Apa salahku?


Kenapa aku?


Kini jiwaku telah mati.


Hanya pernah bermimpi tentang kematian.


Dan sesaat tentang balas dendam.


Gila.


Aku telah gila.


Hanya kegilaan yang aku pikirkan.


Aku ingin menghancurkan.


Menggorok leher kalian satu persatu.


Tak peduli ampunan dan lolongan.


Kalian harus mati.


Aku tertawa.


Aku sungguh bahagia, meski sekejap mata.


Aku ratu nya..


Dan kalian semua.....


MATI


***

__ADS_1


"Sebuah kebahagian yang tiba-tiba lenyap bukan karena kesalahan. Melainkan takdir yang ingin mengujimu untuk merasakan kebahagiaan yang lebih."


***


Bali, 10 Januari 2009


Keluarga Viddson diselimuti oleh kegembiraan. Anak kedua Anna telah lahir dengan selamat. Berjenis kelamin perempuan, berambut pirang mirip Anna dan memiliki mata sama seperti suaminya, Henry Viddson. Lengkap sudah kebahagiaan yang dimiliki mereka saat ini.


Vana mendekat ke arah Bundanya yang sedang menyusui adik barunya itu. Lantas tangan mungilnya mengusap sayang pipi adiknya. Seulas senyum kecil terbit dari bibirnya, menurutnya sang adik sangatlah cantik. Inilah yang diinginkannya selama ini. Setelah kesepian menjadi anak semata wayang, akhirnya Vana dapat memiliki adik di usianya yang baru menginjak 9 tahun.


"Ayah, kenapa adikku lebih cantik." Tanya Vana tanpa menatap Henry yang berada di sebelahnya. Henry tersenyum tipis, tangannya bergerak mengusap rambut pendek Vana. "Karena adikmu berhasil."


"Apa aku tidak berhasil Ayah." Pertannyaan polos dari Vana tersebut sontak membuat orang-orang diruangan itu tertawa.


"Kamu percobaan yang berhasil sayang." Kata Dalla, Ibu dari Henry itu tersenyum kecil.


Vana menatap neneknya itu kesal. "Berarti aku kelinci percobaan." Tanya nya lagi. Tangan gadis itu berhenti mengusap pipi adiknya. Lalu bersedekap dada angkuh. "Aku mengerti."


Anna yang menyaksikannya hanya menggeleng pelan. Pelan-pelan ia menutup payudaranya dan memindahkan putri keduannya yang sudah tertidur kesampingnya. Setelah itu terdengar derit pintu terbuka. Disana terdapat -Hendra- Ayah Hendry yang berniat masuk.


"Kakek." Vana langsung menubrukkan tubuhnya ke arah Hendra. Lelaki tua itu mendekap Vana lalu menggendongnya. "Kenapa cemberut hm?" Tanya Hendra menoel pipi Vana yang menggembung. Gadis itu mengerucutkan bibirnya. "Kata nenek aku kelinci percobaan. Kakek kan tau, aku lebih suka kucing." Jawabnya jujur. Tangan kecilnya memeluk leher kakeknya. "Kakek tau. Adikku seperti barbie." Hendra tersenyum samar lalu mengangguk pelan. Vana berujar kembali. "Nanti kalau udah gede, Zeva akan membuat Adik bayi dapet pangeran berkuda putih yang baik hati." Mata Vana menatap kakeknya polos. "Kakek harus membantuku. Tanpa penolakan." Ucap Vana sambil menyengir lebar menunjukkan deretan giginya.


Hendra tertawa kecil. Pria itu mencium kedua pipi Vana gemas. "Kenapa kamu menggemaskan hm."


Vana mengendikkan kedua bahunya. "Karen aku imut."


Hendra terkekeh mengacak-ngacak rambut Vana gemas. Lalu ia menatap anak dan menantunya. "Siapa namanya?"


"Zena Aralla Viddson." Jawab Henry membuat Anna tersenyum. Hendra mengangguk kecil. "Nama yang cantik." Komentar Anna langsung. Hendra pun mengangguk cepat. "Zevana Ariella Viddson dan Zena Aralla Viddson. Mereka cucuku, pewaris Viddson." Ungkapnya bangga.


Dalla bergumam kecil. "Zeva dan Zena. Mereka akan menjadi gadis yang kuat."


Pintu ruang inap tersebut kembali terbuka menampakkan seorang suster yang memakai masker di wajahnya. Ia menghampiri Anna, secara spontan Henry menyingkir untuk memberikan ruang kepada suster tersebut.


"Maaf Bu, bayinya harus di pindahkan dulu untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut." Kata suster tersebut hendak mengambil Zena dari Anna. Namun sebelum hendak mengambil Zena, Vana lebih dahulu menepisnya. Ternyata gadis kecil itu langsung meminta turun dari gendongan kakeknya setelah melihat orang asing yang tak dikenalnya ingin mengambil Zena.


"Tante penculik." Sungut Vana sambil merentangkan kedua tangannya dihadapan suster tersebut. Mata gadis itu menatap sang suster nyalang. Jangan diragukan tatapan gadis kecil tersebut benar-benar mengerikan.


Henry mendesah pelan. "Zeva, sini nak." Vana menggeleng cepat. "Ayah nggak percaya sama Zeva?" Tanya Vana dengan mata berkaca-kaca. "Suster ini udah bikin Bunda nangis. Dia orang jahat Yah. Dia dulu mau culik Zeva." Kata Vana membuat suasana tiba-tiba hening. Henry terpaku sejenak menatap wanita dihadapannya. "Biarkan dia Zeva." Ucapnya pelan. Ia mengusap rambut Vana lembut. "Biarkan." Ujarnya lagi.


Dalla menghela nafas kasar. Wanita tua itu berlutut di hadapan Vana dan memegang kedua lengannya. "Apa Zeva tidak rindu dengan rumah? Apa di Bali semenyenangkan itu?" Tanya Dalla lembut. Mengingatkan bahwa sebenarnya mereka sedang berada di salah satu rumah sakit ternama di Bali.


Vana menggeleng pelan, ia menurunkan kedua tangannya terpaksa. Gadis itu menyingkir dari hadapan sang suster dan mendekati Ayahnya. Matanya tak pernah lepas dari sang suster, dimulai saat menggendong adiknya hingga keluar dari ruangan. Vana mendongak ke arah Ayahnya. "Ayah, aku mau ke taman."


Tanpa menunggu balasan dari Henry, Vana melenggang pergi meninggalkan ruang rawat Bundanya.


"Aku akan menyusulnya." Dalla langsung menoleh kearah suaminya. "Bukankah hari ini kamu ada pertemuan dengan klien di Lombok?" Hendra mengangguk membuat Dalla mendengus. "Biar aku yang menyusulnya." Ucap Dalla. Sebelum menysul Vana, Dalla menyempatkan untuk menghampiri Anna lalu langsung mengecup dahinya. "Terima kasih menantuku. Ini hari yang bahagia."


***


Vana tidak benar-benar ke taman. Gadis kecil itu malah bersembunyi di salah satu pohon ditaman setelah mendapati suster yang membawa adiknya tidaklah ketempat yang dapat dibilang sebagai ruang perawatan untuk seorang bayi tetapi ke tempat parkiran dimana letaknya bersebelahan dengan taman rumah sakit.


Vana tercekat tatkala suster tersebut membuka maskernya. Benar dugaannya bahwa suster tersebut adalah Emily Pottisson. Dan tiba-tiba seorang laki-laki di sampingnya membuat jantung Vana seolah berhenti memompa tubuhnya seakan membeku ketika mangetahui bahwa ia adalah adik angkat Ayahnya, Dandy Mahendra.


Vana mundur selangkah. Terlalu kaget dengan apa yang dilihatnya. Vana menangis tanpa suara. Orang yang dulu hampir menculiknya seperti merencanakan sesuatu dengan orang yang hampir melecehkannya. "Apa yang akan mereka perbuat dengan adikku?" Lirih Vana. "Adikku masih terlalu kecil." Lanjutnya. Butiran bening lagi-lagi melucur dari matanya, kuat-kuat tangannya membekap mulutnya agar tak menimbulkan suara.


Vana langsung berlari kencang ketika melihat Emily dan Dandy hendak membawa adiknya memasuki mobil. "Lepasakan adikku." Teriaknya sambil berlari mengampiri Emily dan Dandy.


"Sial dia melihat kita." Umpat Emily. Segera ia menarik tangan Dandy untuk bergegas meninggalkan tempat tersebut.


"Aku akan membawanya." Ucap Dandy menyeringai licik.


Vana yang hampir saja mendekati dua orang tersebut pun mundur perlahan. Seringaian milik Dandy begitu membekas di kepalanya. Seolah kaset rusak, ia terus berputar-putar di kepala Vana. "Jangan...jangan..aku mohon...ampun. Ampuni aku." Lirihnya pedih, menggelengkan kepala pada dirinya sendiri.


"Kita harus segera menjualnya." Ucapan Dandy tersebut langsung membuat Vana terbakar emosi. Tentu ia tidak akan membiarkan dua orang jahat itu membuat kelam kehidupan adiknya. Dengan usaha keras melawan egonya, Vana memberanikan diri mendekat kearah keduannya. Langsung saja Vana menggigit tangan Emily yang menggendong adiknya.


Emily mengerang, Dandy langsung menarik Vana dan membekapnya dengan kain yang sudah ia berikan obat bius. Vana pun langsung tergeletak tak berdaya dan Dandy langsung menggendongnya memasuki mobil.


Tanpa disadari dari kejauhan seorang wanita tua melihatnya meskipun sekilas. Dalla, nenek tua itu terus berlari mengejar cucunya yang di bawa oleh mobil asing. Kakinya yang sudah tak sekuat dulu itu terus berlari dan berteriak berharap ada yang menolongnya. Tapi naas, suasana siang itu sangatlah sepi.

__ADS_1


"Jangan bawa cucuku."


"Kembalikan cucuku."


"Apa salah cucu-cucuku."


"Ku-mohon kembalikan cucuku." Ucap Dalla terakhir kalinya sebelum sebuah mobil tiba-tiba melaju kencang dan menghantan tubuhnya hingga terpental dan terbentur kencang oleh aspal jalan.


***


"Perasaan ku tidak enak." Kata Anna pelan. Secara spontan ia memegangi dadanya. Henry yang di sampingnya pun langsung mengelus kepala Anna mencoba menenangkan meskipun perasaannya sendiri tiba-tiba resah.


Henry mencium puncak kepala Anna lembut. "Tidurlah, kamu baru saja melahirkan. Sebaiknya kamu istirahat. Aku akan menyusul Ibu."


Anna mengangguk lemah. "Ku mohon ini hanya perasaan ku saja." Gumamnya setelah Henry menghilang dari balik pintu yang ditutup.


***


Tubuh Dalla tergeletak lemah. Darahnya berceceran kemana-mana. Orang-orang mulai datang mengerumuninya. Ada yang berteriak kencang untuk membawa kerumah sakit namun ada beberapa orang pula yang terlihat tidak peduli. Suasana begitu ricuh. Suara deru dan omongan orang-orang terdengar kencang di telinga Dalla yang masih memiliki sedikit kesadaran.


Wanita tua itu melirih dalam hati. Cucu-cucunya telah di culik. Dan mobil yang menabraknya melarikan diri setelah menabraknya. Dirinya harus bagaimana? Tubuhnya sekaku mayyit, kesadarannya hampir menghilang dan kematian seakan menyambutnya. Dalam hatinya ia terus berdoa jika cucunya baik-baik saja. Namun yang harus ia pertahankan saat ini adalah kesadarannya. Karena bagaimanapun, ia harus memberitahu anaknya. Bahwa cucunya tidak baik-baik saja.


"Selamatkan cu...cu...ku. me-mereka di..di cu-lik." Lirih Dalla setelah melihat Henry menerobos kerumunan dengan wajah pias. Sesampainya dihadapan Dalla, Henry langsung meletakkan kepala Ibunya itu di pahanya. Pria itu menagis mendekap Ibunya. "Ibu. Kumohon bertahanlah." Lirihnya sendu. "Jangan pergi Ibu."


"Me..mere-ka..di..di cu...culik." Ucap Dalla lemah sebelum hembusan terakhirnya hilang. Tidak ada nafas di paru-parunya, tidak ada lagi darah di nadinya, tidak ada lagi Ibunya. "Ibu..." Henry menagis pilu. Hingga membuat beberapa orang ikut menangis terharu.


"Maaf Pak- ." Ucapan petugas rumah sakit itu langsung terhenti ketika Henry menukasnya. "Aku yang akan meletakkannya." Ucap Henry serak. Lantas Ia menggendong jasad Ibunya hati-hati dan meletakkannya diatas brankar tak rela. Henry mengecup lembut kening Dalla yang mulai mendingin lama hingga setelah melepasnya, sebuah kain langsung menutupi seluruh tubuh Ibunya.


Setelahnya Henry langsung berlari kencang menuju ruang rawat istrinya. Nafasnya terengah-engah setelah sampai. langsung saja ia memeluk Istrinya erat dan menangis.


Anna terkejut ketika mendapati Henry yang memeluknya. Ia yang baru saja bangun tidur sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi dengan suaminya itu. Namun tangannya tanpa ragu mengusap-ngusap punggung suaminya mencoba menenangkan.


"Apa yang terjadi?" tanya Anna pelan membuat Henry melepaskan pelukannya. Matanya yang mulai membengkak menatap raut Anna yang kebingungan. Henry mengakup wajah Istrinya lalu berkata sesuatu yang tidak pernah ada di bayangan Anna.


"Ibu meninggal."


Sontak mata Anna memanas. " Ti-tidak mungkin. Ini tidak mungkin." Lirihnya tak percaya. Ia terisak kencang. Manik matanya menatap Henry dalam. "Katakan."


"Katakan kalau semua itu bohong." Henry diam. Membuat tangisan Anna menjadi. "KATAKAN KALAU SEMUA ITU BOHONG..!!! KATAKAN. KU MOHON KATAKAN KALAU ITU BOHONG..! ITU SE...semua itu bohong kan." Ucap Anna semakin lirih. Seakan dunianya runtuh tatkala Henry mengangguk kaku.


Anna membekap mulutnya. Ia bertanya disela tangisannya. "Dimana Ibu."


"Jagalah Ibu untukku." Henry memegang tangan Anna memohon membuat dahi wanita dihadapannya itu berkerut curam. "Kamu mau kemana?"


"An..anak-anak kita." Lidah Henry kelu.


"Anak-anak kita kenapa?"


"Me..mereka." Henry menghembuskan nafas berat. "Mereka baik-baik saja." Ia ingin menangis kembali ketika mengingat keadaan yang sebenarnya terjadi. Namun ia menahannya. Henry tak ingin membuat Istrinya khawatir. Henry menatap manik mata Anna, merasa bersalah karena tidak dapat menjaga keluarga mereka dengan baik.


***


Henry mengerang kencang. Petra yang merupakan sahabat sekaligus tangan kanannya sama sekali tidak dapat di hubungi. Henry kembali mencoba menelfon Petra untuk segera membantunya mencari putrinya yang di culik. Sesekali ia juga menelfon Ayahnya untuk membantu namun juga diangkat. 'Mungkin sedang Ayah sibuk.' Begitu pikirnya.


Menurut CCTV yang diperlihatkan bangunan di dekat tempat tragedi tabrakan Ibunya. Kedua putrinya diculik oleh dua orang. Namun karena membelakangi kamera, membuat Henry tidak dapat melihat wajahnya. Untuk kesekian kalinya Henry menghembuskan nafas berat. Tangan kanannya masih saja mencoba mendial orang-orang kepercayaannya sedangkan tangan kirinya memegang kemudi mobil yang sedang di lajukannya tak tentu arah.


Lalu suara dering nada panggilan masuk membuat Henry cepat-cepat mengangkatnya. "Petra."


"Maaf Pak, ini dari pihak kepolisian." Suara berat itu terdengar jelas. Namun langsung membuat dahi Heny berkerut bingung."I-iya ada apa?"


"Apa benar ini dengan Bapak Henry Viddson?"


Ragu-ragu Henry mengangguk meskipun lawan bicara tidak melihat."Ya, saya sendiri."


"Kami menemukan Bapak Hendra Viddson meninggal dunia di dalam mobilnya yang masuk ke jurang."


***


Jangan lupa Vote, Comment dan semangatnya yah ^_^

__ADS_1


a


__ADS_2