
"Sesehat-sehatnya pohon, akan ada hama juga yang mendatangi. Ibarat kata pohon itu lo dan hama itu cewek lain. Apa lo masih bisa kokoh untuk gue. Maaf tapi ada keraguan di hati gue."
-Zevanna Ariella Viddson-
***
Hampir saja Vanno terhuyung sebab pakaian panjang yang di pakainya, untung Ia bisa menyeimbangi tubuhnya sehingga tak terjatuh. Vanno mendengus pelan dan menarik tangan Vana sehingga gadis itu menghentikan langkah terburu-burunya.
"Kenapa?"
"Udah jauh kok."
Vana menoleh kebelakang kemudian melepaskan baju Vanno dan Jasmine. Setelah itu Vana berkacak pinggang puas. "Akhirnya bebas juga."
Vanno terkikik geli lantas manaikkan bajunya. "Aku akan ganti di toilet sekitar sini." Vana hanya mengangguk mejawab Vanno, kakinya membawa ke sebuah sudut dimana terletak sebuah bangku kayu panjang di sana.
Jasmine mengekori Vana dan duduk di sampingnya sambil menghadap Vana.
"Van, gue mau tanya."
"Emm." Vana hanya bergumam tak jelas. Kakinya diluruskan sedangkan kedua matanya menutup tak memperhatikan Jasmine. Nafasnya masih ngos-ngosan mungkin ini akibat jarangnya ia berolahraga dan lebih memilih tidur seharian. Vana menyesal dalam hati sepertinya setelah ini ia akan mulai rajin berolahraga menjadi 1 bulan sekali.
"Kenapa lo ngajak gue lari-larian malam-malam? Terus juga, ngapain kita di sini?" Jasmine menatap Vana polos tak mengerti.
"Gue jawab tapi ada imbalannya."
Jasmine mendesis pelan mendengar jawaban lugas Vana.
"Vana lo tau nggak kalau kakak gue suka lo." Tanya Jasmine mengubah topik, tatapannya seluruhnya tertuju pada Vana.
"Tau."
"Kalau kak Vanno nembak lo gimana?" Tanya Jasmine bersemangat, dan Vana hanya menjawab kalem. "Gue tembak balik. Semacam romeo dan juliet, yang satu mati dan yang satunya ikut mati total dua orang yang mati. And the End."
Jasmine mendengus. "Maksud gue kalau kakak gue mau jadiin lo sebagai pacarnya."
"Gue tolak."
"What?" Jasmine ternganga kaget, Vana menjawab cepat dan tanpa berpikir membuat Jasmine tanpa sadar mengepalkan kedua tangannya erat. "Apa kurangnya kakak gue? Dia ganteng, kaya, pintar dan yang terpenting dia cinta sama lo."
"Sayangnya gue nggak suka sama Vanno." Jawab Vana cepat membuat jasmine semakin mengetatkan tangannya. "Apa lo pernah denger tentang cinta yang datang karena terbiasa. Mungkin aja lo bisa balik suka sama kak Vanno."
__ADS_1
"Apa jaminannya? Gue bakal balik suka."
"Gue."
Vana membuka matanya lalu menatap Jasmine tertarik. "Maksud lo."
"Lo boleh minta apapun sama gue asalkan lo mau mencoba mencintai kakak gue dan nggak nolak apapun yang dia kasih sama lo." Tidak ada keraguan sedikitpun di mata Jasmine, dalam hati ia menegaskan. 'Semua ini demi kak Vanno, dia nggak boleh menerima sedikitpun penolakan seperti gue.'
Sebelah alis Vana naik. "Tapi kalau kakak lo tiba-tiba nggak cinta sama gue lagi?"
"Nggak mungkin. Kakak gue setia dan dia nggak mungkin punya dua orang nama di hatinya." Sahut Jasmine.
"Laki-laki itu seperti sepucuk daun di atas pohon. Ketika angin bergerak ke timur, ia akan ikut ke timur dan ketika angin bergerak ke barat, ia akan kebarat. Lo pahamkan maksud gue?"
"Tapi daun yang tersembunyi tidak akan mengikuti angin tersebut jika ada daun lebat yang melindunginya."
"Pelindung?"
Jasmine mengangguk, lalu menegakkan punggungnya tegas. "Ya, gue yang akan jadi pelindungnya dan memastikan bahwa daun itu hanya untuk pohonnya. Bukan mengikuti angin dan sewaktu-waktu bisa jatuh."
"Setuju."
***
Vana menoleh, dapat dilihat Vanno telah berganti pakaian.
"Pulang." Jawabnya kembali mengalihkan tatapannya ke arah laut.
"Emm...Kamu juga mau pulang?" Ucap Vanno ragu sembari duduk di tempat Jasmine sebelumnya.
"Jalan-jalan dulu yuk." Ajak Vana semangat.
"Ke..kemana?"
"Ikut aja."
Vana tersenyum manis, kemudian menarik Vanno paksa. "Ayo."
Vanno mengangguk dan tersipu malu saat melihat tangan Vana yang memegangnya. Terasa dingin, tapi Vanno merasakan panas di tubuhnya. Vanno pun mengikuti Vana dan mencoba mensejajarkan langkahnya dengan langkah terburu-buru gadis itu.
***
__ADS_1
Angin yang datang dari laut terasa dingin, Vana memeluk dirinya sendiri sembari memejamkan mata saat merasakan angin tersebut menamparnya lembut.
Ketenangan yang tercipta hanya ombak yang menjadi pemecah, langit hitam disertai bintang-bintang lantas membuatnya lebih menarik dari gadis di sampingnya. Sesaat setelah Vana memejamkan mata, Vanno memandanginya terus menerus tanpa henti. Ada gelenyar aneh saat Vanno melakukan itu, rasanya menggelitik tapi Vanno betah untuk berlama.
"Vanno." Panggil Vana membuka matanya dan terkejut saat menoleh melihat jarak wajah antara dirinya dan Vanno hanya beberapa senti.
Vanno terkjut hingga tanpa sadar menjauhkan wajahnya, kemudian menggaruk kepalanya yang sama sekali tiak gatal. "Maaf."
Vana memberungut mencoba mengalihkan ekspresi kaget serta jantungnya yang berdetak keras.
Keheningan kembali terjadi, keduanya sama-sama membungkam mulutnya rapat. Lantai pasir seolah menjadi saksibahwa kedua manusia itu tak bergerak sedikitpun dari tempatnya.
"Vana apa kamu kedinginan, ayo pulang." Ajak Vanno berdiri dan menepuk-nepuk bajunya. Lalu setelah itu Vanno menunduk dan melihat Vana hanya diam di tempat sembari menatap laut kosong.
"Vana, ayo pulang nanti kamu sakit. Angin malam nggak baik buat tubuh." Ucap Vanno lembut. Vanno mengulurkan tangannya dan akhirnya Vana menoleh dan menyambut ulurannya.
Jantung Vanno menggila saat measakan aliran listrik mengalir di setiap nadinya, tangan Vana menyambut ulurannya.
Jejak senang melintas di mata Vanno membuat Vana tertegun sejenak kemudian berdiri dengan bantuan Vanno. "Makasih." Ucap Vana tulus, dan melepaskan tangannya.
Vanno mengangguk pelan, ragu ia berjalan duluan sebab tak mampu menyembunyikan wajahnya yang seperti kepiting rebus.
"Tunggu."
Vanno menghentikan langkahnya saat sebuah tangan mungil memegangnya. Vanno tak mampu melihat ke belakang saat tangan itu semakin erat menggenggamnya.
"Gue lapar."
Vanno mengangguk pelan. "Aku tau."
Vana meremas tangan Vanno membuat cowok itu kaget.
"Satu lagi."
Tangan Vanno yang menggatung meremas dimana jantungnya berada. Tubuhnya gemetar gugup saat merasakan tangan mungil Vana kembali meremas tangannya.
"Apa lo nggak mau nembak gue jadi pacar lo."
***
Vanno: "Apa jika aku menembakmu menjadi pacarku kamu tidak akan menolak hem.."
__ADS_1

***