The Devil Nerd

The Devil Nerd
Dua Puluh Tujuh


__ADS_3

" Karena hukum rimba berlaku dalam dunia, setiap orang berlomba-lomba menjadi predator tidak untuk mangsa. Siapa yang kuat menjadi pemenang, siapa yang kalah menjadi pecundang."


***


"Vana kesini sayang."


Di ruang keluarga Luther, Dakota memanggil Vana penuh kasih sayang. Vana patuh duduk di tengah-tengah Dakota dan Edward yang duduk di sofa single. Di samping Dakota terdapat dua saudara kembar yang bingung tetang apa yang akan di bicarakan oleh Oma dan Opanya


Ruangan itu memiliki warna putih yang mendominasi, termasuk dinding, langit-langit, juga sofa. Tak hanya itu, di depan sofa berbentuk L terdapat televisi besar yang tertempel di dinding. Jika berjalan ke sisi utara terdapat pintu dilapisi kain kasa tipis menuju balkon yang terhubung dengan pemandangan yang eksotis. Hal ini membuat Vana memiliki kesan bersih dan nyaman ketika melihatnya.



Edward berdehem kecil, " Vana, apa kamu mau jadi cucu Opa."


"Uhh." Vana tertegun sekaligus tercengang, selain Edward dan Dakota yang lainnya juga tidak menampilkan ekspresi yang berbeda.


"Pokoknya lo harus mau jadi gue cucu gue...ah maksudnya kamu mau jadi cucu oma ya sayang." Dakota mengubah suaranya menjadi lembut untuk menghadapi Vana.


"Oke." Vana menjawab langsung, lagi pula setelah di pikir-pikir lebih banyak keuntungannya daripada kerugiannya.


Yang pertama, ia menjadi kaya, banyak uang, banyak pelayan, dan kekuasaan.


Kedua, ia bisa makan enak setiap waktu, ia bisa makan sepuasnya tanpa perlu pikir.


Ketiga, ia bisa balas dendam terhadap musuh-musuhnya, itu yang paling utama.


'Hehehe mana mungkin gue sia-sia in, kesempatan nggak datang dua kali...ah rasanya gue udah bisa bayangin cowok-cowok ngemis di belakang gue.' Vana tertawa girang dalam dalam hatinya. Apalagi membayangkan mantanya, Vanno bersujud dihadapannya. Tinggal selangkah lagi, hal itu akan terjadi tidak lama.


Mengingat Vanno, rasa kedinginan melintas di sepasang mata Vana, hanya sebentar sehingga tidak ada yang melihatnya.


"Hehehe..." Dakota tidak mampu menyembunyikan perasaan senangnya. Sejak awal dia telah memperhatikan Vana diam-diam terutama matanya cemerlangnya yang menyembunyikan kejeniusan, hal itu mengingatkan Dakota tentang cucu sahabatnya yang baru ia lihat sekali ketika lahir. Apalagi Vana, namanya yang persis juga membawa dugaan bahwa Vana memang benar cucu sahabatnya yang dia cari.


Dakota telah mencarinya sejak tragedi 3 tahun lalu dimana Dalla, sahabatnya meninggal selang waktu yang sama dengan suaminya.


Henry, anak satu-satunya Dalla dikabarkan menghilang setelah ia kembali ke negaranya.


Dakota akhirnya kembali untuk menemukan bahwa tidak hanya Henry yang menghilang, ia juga membawa isteri dan anaknya juga anak Henry yang baru lahir beberapa bulan juga belum di temukan.


Selain itu, perusahan yang di kelola Ayah Henry juga tiba-tiba berpindah tangan, sayangnya perusahaan suaminya juga belum besar seperti saat ini sehingga Dakota tidak bisa berbuat apa-apa.


Yang bisa Dakota lakukan hanya terus mencari Henry dan keluarganya yang menghilang dengan begitu, ia bisa membantu kehidupan mereka.


Sayangnya sampai sekarang ia belum menemukan titik dimana mereka berada.


Karena saat ini Dakota menduga Vana adalah anak Henry, mungkin saja ia juga bisa bertemu dengan Henry.


Kalapun Vana bukan anak yang dia cari, Dakota tetap akan mengadopsinya untuk investasi masa depan cucu-cucunya.


Di sisi lain selain Dakota ada juga Aldino dan Eldino yang diam-diam bersorak dalam hati.


Jika Vana menjadi cucu angkat oma dan opa-nya, berarti mereka memiliki kesempatan lebih banyak untuk dekat.

__ADS_1


"Kalau begitu, kita harus beritahu orang tua mu segera mungkin." Ucap Dakota penuh semangat.


"En...gue pinjem hp lo dong Al." Vana menengok kearah Aldino tidak sabar. Oh ayolah, apakah ada manusia yang sabar untuk menjadi kaya. Tentu saja jika ada, dia bukan salah satunya.


"Hp gue di atas."


"Ah...hahaha...hp gue di sini, ini ini hp gue..pake hp gue." Eldino menyerahkan handphonenya dengan tawa. Dengan begitu ia akan langsung mendapatkan nomor calon mertuanya untuk negosiasi tanpa perlu meminta.


Eldino menatap Aldino dengan cara mengejek, bibirnya seolah mengatakan. "Lo kalah, satu kosong."


"Oh..makasih..." Setalah mengambil benda pipih ke tangannya, Vana tidak lupa mengucapkan terima kasih tapi sayangnya sejauh ini ia belum mengetahui siapa orang yang terlihat gila sejak tadi di matanya.


Well, orang itu sedari tadi benar-benar sok kenal sok dekat dengannya, juga ia cerewet. Uhh rasanya Vana ingin menarik bibirnya lantas mengulungnya dengan benang jagung dan kemudian menalinya dengan simpul mati hingga sepuluh kali.


Sayangnya hal itu hanya bisa ia imajinasikan, selain sayang juga dengan wajah tampannya, Vana tak tega kehilangan dirinya sebelum mengambil isi kantongnya.


Bibir Aldino seketika menyeringai dengan cara memprovokasi. "Satu Satu."


Eldino cemberut, "Eldino Alessandro, panggil sayang, baby, hubby atau apapun terserah lo tapi dengan satu syarat...panggil gue dengan mesra hehehe..."


Seketika itu juga Aldino menampar kepala Eldino. "Bermimpilah."


"Cih."


"Uhhh.." Vana hanya menggaruk kepalanya bingung, Dakota dan Edward hanya bisa menyimpan menggelengkan kepala dalam hati.


Vana mendial nomor Henry yang sudah di hafal di luar kepala.


Vana mengangguk, sesaat kemudian nada tersambung di gantikan oleh suara serak seorang laki-laki, itu suara Henry yang terdengar seperti habis bangun tidur karena memang jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Henry memang suka tidur awal sehingga ia bisa bangun petang sekitar jam setengah tiga untuk olahraga dan menyiapkan sarapan, itu kebiasaan yang sangat Vana hafal.


"A..ayah...ah hik..hik..hik.." Vana langsung menyambut Henry dengan tangisan.


Keluarga Luther tercengang, kenapa Vana tiba-tiba menangis? Apa mereka menyakiti gadis itu? Tapi mereka tidak berbuat apa-apa?


Sekarang keluarga Luther memandangi Vana penuh kebingungan dan ke khawatiran.


"Sa..sayang...kamu kenapa."


Sekarang tidak hanya Keluarga Luther, Henry pun sekarang khawatir.


"Hik...hik..."


Saat ini Vana benar-benar mengeluarkan bakat aktingnya, bahkan Vana mengeluarkan air mata asli meskipun Henry tidak dapat melihat.


Untuk terlihat nyata, Vana juga mengeluarkan suara serak dan ketakutan tak lupa juga sesekali menyedot ingus.


Vana benar-benar berperan sebagai artis yang baik. Jika dia benar-benar artis mungkin ia akan dapat menyapu bersih penghargaan oscar. Sayangnya dia bukan artis.


"Vana vana kamu kenapa sayang jangan menangis kamu kamu di mana sekarang." Terdengar nada panik disana, tidak ragu lagi suara Henry langsung jelas dengan ke khawatiran.


"Ayaaahhh...huuuhuuhuu..."

__ADS_1


"Jangan menangis oke...sini coba jelasin ada apa...jangan menangis."


"I...itu..itu, mereka bilang mereka ingin mengambil semua organ-organku untuk di jual lalu lalu mereka bilang mereka ingin memutilasi tangan dan kaki buat di jual ke orang kaya  yang memiliki fetish...Ayaaah aku takut hik hik."


"...." Keluarga Luther tidak mampu berkata-kata.


Mereka tidak bilang seperti itu, kenapa mereka harus di fitnah sedemikian kejam. Rasanya keluarga Luther ingin menangis tapi tidak menangis.


(Fetish/ Fetishism / Fetishme adalah sebuah hasrat seksual terdahap suatu bagian tubuh, objek, atau kegiatan / gerakan pada tubuh. Ini merupakan sebuah "penyakit" psikologi yg membuat penderita fetishism (Fetishist) terobsesi pada bagian tubuh / objek / gerakan, mencintai hanya bagian tubuh itu, dan peningkatan hasrat seksual pada bagian bagian tertentu itu.)


"APA! ********!! di mana kamu sekarang."


"Villa Luther."


"Ayah akan ke sana sekarang."


Setelah menutup teleponnya, seringaian Vana semakin lebar.


"Tunggu 15 menit." Ucapnya.


"Apa Ayahmu berada di sekitar sini."


"Tidak. Hanya saja 5 menit ganti baju, 5 menit perjalanan, 5 menit jalan kaki patut dihilangkan."


Anak durhaka!


"..."


"Ck, gue emang jenius."


"...."


Tidak tau malu! Penipuan! Itu namanya licik dan licik. Pikir keluarga Luther tak tau harus tertawa atau menangis.


***


Vana: "Kenapa kalian semua diam."


Keluarga Luther: 'Itu karena kami tidak bisa berkata-kata.' ( Gumam dalam hati)


Vana: "Ah gue rasa kalian masih kaget sama kejeniusan gue hehehe...gue tau, gue tau."


Keluarga Luther: 'Pantat mu!' (Mengutuk dalam hati.)


Terima kasih yang masih setia sama TDN, juga makasih yang masih sering comment terima kasih. Kalian yang terhebat, kalian bikin semangat lagi....pokoknya terima kasih semua yang mau baca cerita abal-abal ini.


Jangan lupa Vote and Comment 😊


***


Jum'at 29 Juni 2018

__ADS_1


__ADS_2