
"Kamu pernah menjadi miliknya untuk sekali, pernah juga menjadi milik yang lain berkali-kali tapi hatimu masih saja beku. Aku tidak hanya ingin memiliki ragamu, aku juga menginginkan hatimu jadi bersiap-siaplah aku akan masuk perlahan."
***
Felix mengendarai mobilnya memasuki salah satu kawasan real estate terkenal di Amerika. Berada di sudut kota yang masih dikelilingi oleh hutan dan berada di bukit tak jauh dari pusat kota membuat real estate ini memiliki harga fantastis sebab saat pagi hari udara disekitar masih segar dengan pemandangan hijau sedangkan saat malam hari lampu-lampu perumahan akan terlihat jelas berkerlap-kerlip seperti bintang.
Mobil sport Felix berhenti di salah satu rumah mewah. Rumah yang di belinya tiga tahun yang lalu dengan hasil kerja kerasnya sendiri itu memiliki gaya eropa kuno, ber cat putih gading dan taman yang luas serta air mancurnya yang indah hal tersebut layak menjadi rumah Felix yang menyukai estetika mewah.
Felix turun dari mobilnya ikuti Riel yang langsung menempel padanya. Felix menghela nafas, tidak tahan lagi untuk tidak mengeluh. "El, kalau lo nggak lepasin gue sekarang, lama-lama tangan gue bisa putus."
Riel cemberut, dengan enggan melepaskan tangan Felix.
Felix memasuki rumahnya disambut sekelompok pelayan di depan pintu, dia melepaskan jaketnya, topinya, dan terakhir melepaskan wignya. Felix bukanlah nama yang sebenarnya, itu adalah nama adiknya yang sering ia pakai kemana-mana. Nyatanya orang yang dipanggil Felix adalah seorang wanita yang menyamar.
Dia adalah Vana, Zevana Ariella Vidson yang sekarang telah menjadi pewaris utama yang bergerak di bidang IT. Setelah tumbuh dewasa ia telah menjadi salah satu sosok yang menawan, setelah melepas lensanya terlihat mata biru jernih memukau, kulitnya seperti tembus pandang, juga tubuh yang molek di umurnya yang masih muda tak diragukan lagi, ketika dewasa ia akan menjadi rebutan banyak pria. Apalagi ia memiliki kejeniusan yang patut diacungi jempol. Sehingga empat tahun yang lalu, Ayahnya tidak ragu memberikan wewenang untuk memegang perusahan dibawah kendalinya.
Meski baru seumur jagung, Vidson Coorporation mampu bersaing dengan perusahan-perusahaan lain yang sudah lebih dahulu terkenal. Selain dengan bantuan orang dalam, peran Vana juga sama penting sehinggnperusahaan mampu bersaing di pasar teknologi dunia.
Saat ini Vana sedang duduk sambil meminum air putih di dapur, di lain sisi Riel duduk di seberangnya sedang menyaksikan leher Vana yang begitu menggoda bahkan saat sedang menengguk air, bahkan Riel sebagai seorang wanita tidak mampu menahan iri. Apalagi jika hal tersebut dilihat oleh lawan jenisnya hampir seratus persen akan membuat mereka langsung mengejang.
Salah seorang pelayan bernama Angel mendekati Vana dan menyeka keringat di dahinya menggunakan handuk. Angel hanya dua tahun lebih muda dari Vana, memiliki kulit putih, mata besar berair membuatnya terlihat lembut dan imut. Nyatanya semua pelayan Vana tidak kurang memilki keindahan masing-masing yang membuat orang iri.
Vana menikmati semua keindahan juga ia menikmati semua hal yang ia miliki terutama hal tentang menikmati pelayanan yang diterimanya. Bisa dibilang, dia adalah seorang kaya raya yang tau bagaimana cara menikmati hidupnya.
"Angel, biarkan Riel yang masak kali ini."
"Baik nona muda."
"Riel, inget janji lo."
"Iya iya, Masakan yang terbaik kan. Kalau gitu gue bakal masak yang manis-manis kayak gue gimana?"
__ADS_1
Vana tidak menjawab hanya mengangguk dan meninggalkan Riel seorang diri.
"Angel siapkan bahan-bahan dikertas ini, Jolie potong yang perlu dipotong, Ramon petik mangga di belakang rumah lalu kasih ke Cory untuk dibuat jus, Bibi Tery tolong panggil saya jika sudah siap, saya akan mandi terlebih dahulu lalu saya yang akan memasak...oh iya kalau bisa siapkan secepat mungkin. Vana bukan seseorang yang suka menunggu."
Setelah mengatur, Riel meninggalkan dapur dan memasuki kamar yang memang di sediakan untuknya, meskipun Vana melarangnya untuk menetap mekipun ia memohon tetap saja sahabatnya itu masih cukup hati untuk membiarkannya memiliki kamar sendiri di rumahnya yang digunakan jika ia menginap.
Kamarnya di dominasi oleh warna-warna feminim sesuai selera Riel, hanya saja Vana menambahkan sedikit kemewahan didalamnya. Kasur queen size memilki ornamen unik untuk punggung kasur, di atas langit-langit terdapat lampu kaca yang terang seperti kristal juga gorden berwarna merah muda sesukaan Riel ditambahi manik-manik yang membuatnya cantik di malam hari. Tak urung ketika pertama kalinya Riel melihatnya, ia menangis terharu melihat betapa perhatiannya Vana kepadanya. Meskipun saat mengungkapkan terima kasihnya, Vana malah mengatakan bahwa itu tidak dilakukan olehnya tapi secara pribadi Riel tau bahwa Vana melakukan semua itu untuknya.
'Dia memang yang terbaik diantara yang terbaik! Ah andai saja dia laki-laki dia akan langsung menjadikan Vana istrinya. Tapi tak apa, dia juga bisa menjadi kakak iparnya.' Riel tertawa dalam hati.
Riel duduk di atas kasur dan menghidupkan teleponnya. Saat nada tersambung, dia melompat ke atas kasur sambil kegirangan menceritakan semua yang terjadi tadi di balapan.
"Sahabat gue keren kan kak!"
Terdengar tawa dari ujung sana. "Dia memang selalu keren."
Riel mengangguk semangat meskipun Romy tidak dapat melihatnya.
"Siapa?" Terdengar nada dingin di ujung sana membuat Riel sedikit bingung.
"Hah?!"
"Siapa laki-laki yang deketin Vana."
Riel menyeringai, "Oh, namanya Justin Brenda, gue nggak tau seberapa deket mereka karena yang gue liat mereka cukup akrab tapi gue merasa tatapan Justin ke Vana itu nggak bener. Tidak salah lagi, itu adalah tatapan cinta. Itu sama persis kayak tatapan lo ke Vana."
"Gue nggak nyangka, meskipun Vana nyamar jadi laki-laki tetep aja narik lawan jenis. Ck, keindahan yang sulit untuk diabaikan. Kalau nggak cepet-cepet gue rasa dia bakal jadi milik seseorang." Ucap Riel memanas-manasi.
"Berapa biayanya."
"Seperangkat perhiasan rancangan Queen Blue paling baru."
__ADS_1
(Catatan : Biru sama artinya dengan Bumi yang di sebut planet Biru.)
Seperti namanya yang dominasi dan sombong, meskipun awalnya di remehkan begitu banyak akhirnya nama itu memang mendominasi hingga menjadi standar yang harus dimiliki kalangan sosialita paling atas, selain karena setiap item selalu memiliki orientasi yang unik juga mewah, rancangan milik Queen Blue juga hanya mengeluarkan beberapa untuk setiap item. Karena itu banyak kalangan atas yang berebut untuk memiliki setidaknya satu untuk pamer.
Tapi sayang, karena saking banyaknya permintaan rancangan milik Blue membuat Riel yang menginginkan sejak dua bulan tidak pernah mendapatkan. Riel pun akhirnya membuat rencana untuk bersikeras mengikuti Vana bagaimanapun untuk mendapatkan berita yang dapat memicu kakaknya menuruti permintaannya.
"Setuju."
Riel mematikan telepon, akhirnya ia mendapatkan akhir sesuai prediksinya.
Vana memang harta karunnya!
Sambil bersiul, Riel memasuki kamar mandi karena ia tidak mau membuat Vana menunggu untuk makan.
***
Di sebuah ruangan teratas sebuah gedung bertingkat tinggi sesosok laki-laki menyandarkan kepalanya di sandaran kursi terlihat malas membuat rambutnya yang berwarna pirang berantakkan namun malah membuatnya semakin menawan seperti lukisan.
Romy menatap layar ponselnya yang menunjukkan gambar seorang gadis yang sedang menatap kamera sambil tertawa. Itu Vana, gadis yang selama ini di sukainya sejak 3 tahun yang lalu.
Awalnya ia hanya bisa menyimpan ini sendirian karena ternyata ia sudah memiliki tunangan tapi bulan lalu ia akhirnya bisa bergembira bahwa ternyata pertunangan itu tekah batal.
Kini gilirannya untuk tampil tidak hanya menjadi bayang-bayang untuk membuat Vana bahagia tetapi untuk berada di sampingnya.
Romy menyeringai lantas tangannya bergerak mendial nomer seseorang.
"Putuskan semua hubungan dengan Brenda Group."
***
Fafaniez
__ADS_1
24, November 2018