
"Ketika kau berpaling untuk esok mengungkapkan sesuatu maka saat itu juga kau kehilangan kesempatan."
- Revanno VR -
***
"Dimana Vana."
Jasmine mengusap dadanya kaget tatkala kakaknya tiba-tiba masuk tanpa permisi. Dirinya yang sedang membaca majalah di sudut kamar pun menghampiri kakaknya yang langsung duduk di sisi ranjang dekat Vana.
"Masih tidur?" Gumam Vanno menaikkan sebelah alisnya. Tangannya bergerak menyingkirkan rambut Vana yang menutupi wajahnya.
Jasmine mendengus sebari melipat kedua tanganganya. "Udah jadi jasad mungkin."
"Mau mati yah?" Tukas Vanno dingin tanpa mengalihkan tatapannya dari Vana.
Jasmine mendesis pelan. "Apa lo buta kak? Tubuh Vana terbelit selimut kayak pocong. Asal lo tau kak." Jasmine berdehem sebentar sebelum meneruskan kalimatnya. "Semalem gue terpaksa tidur di sofa gara-gara Vana. Gara-gara Vana yang tidur kayak pencak silat dan gue samsak hidupnya. Di tendang sana, di tendang sini, di tamparlah, di peluk-peluk lah. Dikira gue benda mati." Sungut Jamine kesal.
Vanno tersenyum samar. "Bodo amat." Ucapnya mengendikkan bahunya. "Apa lo akan tetap di sini dan liat gue pacaran." Lanjutnya penuh ledekan. Selanjutnya Jasmine langsung ternganga dan cepat-cepat keluar dari kamarnya di sertai dengan suara bedebum pintu yang di tutup kencang.
Vanno menggeleng pelan. Senyum kecil tersungging di bibirnya. Perlahan ia melepaskan selimut yang melilit tubuh Vana. Kemudian ia mengguncangkan tubuh Vana, sesekali menepuk pipinya pelan.
"Vana bangun."
"Vana sayang."
"Sweetheart."
"Calon isteri."
__ADS_1
"Ratunya Vanno."
"Masa De..."
Ucapan Vanno terhenti. "Apa gue udah gila?!" Vanno mengacak rambutnya frustasi. Helaan berat lolos dari bibirnya. Sejenak ia tercenung. Benar, sepertinya ia memang mencintai Vana pada pandangan pertama. Bukan karena Vana menarik, karena dari sudut manapun tidak ada yang menarik dari gadis itu. Degup jantungnya lah cukup membuktikan bahwa itu adalah benar. Namun tak memperkirakan bahwa ia akan tergila-gila seperti ini. Entah sihir apa yang di gunakan Vana sehingga ia sendiri tak dapat mengenali dirinya sendiri.
Menggelikan. Vanno merasa sedang memerankan tokoh utama dalam sinetron cinta-cintaan.
"Ayo mandi." Gumam Vanno sebelum mengangkat Vana ala bridal sytle dan segera membawanya ke kamar mandi.
Penuh kehati-hatian Vanno meletakkan gadis itu di bathup. Setelahnya ia menyalakan keran dan mengatur airnya hingga sampai ke batas dada Vana.
Vanno menengguk ludahnya kasar. Baju tidur berbahan satin yang di pakai Vana begitu transparan setelah terkena air sehingga tubuh Vana yang putih terekspos jelas di baliknya. 'Sial!' Rutuk Vanno dalam hati. Mungkin setelah ia ia akan merutuki adiknya yang telah memeberikan Vana pakaian yang begitu tipis.
Menghela nafas panjang, Vanno menciprat-cipratkan air di dalam bak ke wajah Vana. Namun hasilnya nihil, gadis itu benar-benar terlelap dalam tidurnya. Sekarang Vanno paham, bahwa salah satu kebiasaan Vana adalah tidur terlelap tak peduli di manapun itu.
Laki-laki itu tersenyum kecil. Tangannya mengusap rambut Vana pelan. Sebelum meninggalkan Vana sendirian.
Setelah nada tersambung terdengar. Tanpa memberikan kesempatan lawan bicaranya untuk berbicara terlebih dahulu, Vanno berkata dengan nada dingin dan datar andalannya.
"Siapkan 10 pelayan wanita terbaik untuk memandikan dan melayani seorang gadis di bak mandi milik adikku. Katakan, jangan sampai ia terbangun dari tidurnya." Saat itu juga Vanno mematikannya secara sepihak.
***
Setelah kaki tangannya berkata jika Vana telah selesai didandani. Akhirnya Vanno kembali masuk ke dalam kamar Jasmine. Tangannya melambai pelan, secara spontan sepuluh pelayan yang berada di ruangan tersebut langsung keluar secara teratur.
Langkah kakinya membawa Vanno mendekat ke arah Vana. Pemuda tampan itu duduk pelan di samping Vana. Tangannya membelai wajah Vana lembut sesekali berdecak melihat pemandangan indah dihadapannya itu. Saat ini Vana memakai dress berwarna putih yang kontras dengan warna kulitnya yang putih. Sedangkan rambutnya yang pendek terlihat menawan dengan perpaduan wajahnya yang dipolesi sedikit make up natural. Kakinya yang jenjang pun tak terelakkan begitu menawan dengan balutan slietto berwarna perak.
Perlahan mata itu mengerjabkan matanya perlahan. Kerutan samar didahinya terlihat jelas ketika manik birunya menatap langit-langit berwana putih polos. Perlahan ia mengedarkan matanya, sejenak tertegun ketika pemandangan asinglah yang di dapati. Vana mendudukkan tubuhnya perlahan, masih belum menyadari bahwa ada seseorang selain dirinya disana. Kerutan didahinya semakin bertambah ketika bibirnya menggumamkan kata-kata tidak jelas. "Gue masih tidur, gue lagi bermimpi. Yah pasti. Karena nggak mungkin seseorang nyulik gue yang nggak ada untungnya."
__ADS_1
Vanno menggeleng pelan, meskipun samar namun gelombang suara Vana masih dapat ditangkap baik olehnya. "Cubitlah pipi mu." Kata Vanno pelan. Dengan bodohnya Vana mengikuti instruksi tersebut tanpa memperhatikan siapa yang berbicara.
"Awwsshh..." Vana mengaduh, cubitan yang dilakukannya terlalu kencang alhasil pipinya memerah merasakan panas yang menjalari sekitarnya. Lalu sebuah tangan tiba-tiba mengelus pipinya membuat Vana mematung. Sontak kepala berputar sembilan puluh derajat. Dapat dilihat seorang pria yang semalam menabraknya. "Va... Vanno." Gumam Vana tak percaya.
Vanno berdehem pelan tanpa menghilangkan fokus mengusap pipi Vana. "Apakah sakit." Lirihnya terdengar khawatir. Ah tidak, mungkin Vana yang terlalu pede untuk di khawatirkan pria itu. Vana menyentakkan tangan Vanno kasar. "Nggak usah pegang-pegang." Ketus Vana terlihat menggemaskan di mata Vanno. Pria itu tersenyum kecil, mungkin benar jika Vanno sudah tergila-gila pada Vana. karena setiap gerakan kecil yang di lakukan gadis itu entah kenapa selalu menarik matanya untuk menatap terus-menerus.
Saat hendak turun dari ranjang berukuran besar itu, Vana merasakan keanehan pada dirinya. Benar saja, bajunya telah berganti, sepatunya apalagi. 'Dress!! Crazy me?' Batin Vana tak percaya. Sejak taman kanak-kanak tak pernah sekalipun ia menyentuh barang yang dipakainya saat ini bahkan niat untuk memakainya pun tak pernah terpikirkan didalam benaknya. Vana mendengus, diliriknya Vanno tajam. "Apa maksud lo. Dimana baju gue."
"Lagi dicuci. Pakai baju itu dulu."
"Nggak mau. Gue mau ganti. Ah ya, siapa yang gantiin baju gue?" Tanya Vana sembari menarik-narik dress yang dipakainya tidak nyaman. Mau tak mau aktifitas tersebut membuat Vanno tersenyum tipis. "Nanti aku carikan baju yang lebih nyaman." Vanno tersenyum miring lalu bibirnya mendekat ke telinga Vana kemudian berbisik. "Dan yang menggantikan baju kamu adalah aku."
Vana menjauhkan kepalanya. Satu alisnya menaik sedangkan bibirnya mendatar. "Bagus deh, dengan begitu gue bisa punya alasan untuk melapor ke menteri perlindungan perempuan dan anak untuk menuntut ganti rugi." Kata Vana tenang sedangkan Vanno ternganga tak percaya, nyaris saja rahangnya jatuh. Ada sanjungan didalam hatinya namun ada juga rasa tercubit didalamnya sebab Vana dengan gampangnya mengatakan hal tersebut.
"Jadi kamu akan melakukan apa saja jika ada uang." Kata Vanno ragu, sedangkan yang orang yang ditanyainya hanya mengangguk. "Uang sebagai jaminan keuntungan. Ngapain ngelakuin sesuatu tetapi tidak ada untungnya." Ucapan tenang itu menohok Vanno. Meski terdengar nada malas didalamnya namun tak memungkiri ada keyakinan didalamnya.
"Apa jika ada orang yang melakukan tindak senonoh kepadamu, kamu hanya akan meminta uang sebagai ganti rugi." Lirih Vanno terdengar pilu. Tapi bukannya merasa iba, Vana hanya terkekeh kecil. "Oh, tentu saja ia akan serasa hidup dineraka namun matipun tak bisa."
"Lalu kenapa kamu tidak melakukannya padaku?" Vanno menatap Vana tepat dimanik birunya, mencoba menyelami apa yang dirasakan gadis itu. Namun nihil, dirinya bukan seorang ahli psikologi yang dapat mengetahui sikap seseorang tanpa diberitahu.
"Karena aku percaya padamu."
"Apa keuntungannya." Tanya Vanno tak mengerti, namun sejujurnya ada rasa hangat yang menjalari hatinya saat ini mendengar ucapan Vana sebelumnya. Rasa itu semakin mendalam dan terus menenrus menorobos hingga ke dalam.
"Cintamu akan semakin besar padaku. Dengan begitu tidak hanya uang yang akan aku dapatkan, tapi juga tawa dan rasa cinta." Jawab Vana tenang.
"Tapi jika orang itu pun mencintaimu. Apa kamu juga akan percaya padanya."
Vana mengendikkan bahunya acuh.
__ADS_1
"Lo nggak bakal ngebiarin itu terjadi. Karena yang gue lihat lo itu egois, lo nggak bakal mau berbagi. Meski itu hati lo sendiri."
***