
Katakanlah bahwa dirimu baik-baik saja
Katakanlah bahwa dirimu tidak butuh siapa saja
Meski sisimu ada seseorang
Meski atasmu ada payung yang memegang
Mulut terucap ingin sendirian
Tapi hatimu tak dapat mengelak
Bahwa kau membutuhkan sandaran
***
Vanno mengelap keringat di dahinya untuk kesekian kali. Vana yang melihatnya mendengus geli. Melihat Vanno memakai pakaian khas noni-noni belanda zaman dahulu serta wig rambut serta dandanan yang dibuat persis membuat Vana yakin jika cowok itu tidak hanya menderita kelelahan jiwa tapi batin sekaligus.
"Duduk aja kalau capek." Saran Vana seraya mengipas-ngipaskan topinya.
Berbalik dengan Vanno dan Henry yang memakai pakaian wanita belanda zaman dahulu. Vana malah memakai pakaian tentara belanda zaman dahulu, sehingga topi dikepalanya acap kali dipakai untuk kipasan.
"Un." Vanno mengangguk. Menutup matanya sejenak. Tanpa sadar Vanno mendesah. Hari ini harga dirinya sebagai laki-laki benar-benar terluka, pakaian yang di pakainya sekarang berat dan susah untuk berjalan selain itu wig dikepalanya benar-benar membuat Vanno malu setengah mati. Untung saja semua itu demi Vana. Melihat Vana tertawa karenanya saja Vanno sudah senang meski karena penampilannya setidaknya Vana ketawa karenanya.
"Vana ayo pulang." Ajak Henry sambil mengangkat gaunnya berjalan kearah Vana. Henry duduk di samping Vanno dan melepaskan wig nya dan menaruhnya di samping wig milik Vanno di atas meja. Payung putih yang sebelumnya dipegang terus pun digeletakkan begitu saja.
"Zeva mau ganti baju dulu Yah. Dan ini buat kalian, Zeva tadi beli di pinggir pantai." Kata Vana mengambil kantung kresek di kolong meja. Dan meletakkannya di depan Vanno dan Ayahnya. Lantas Vana beranjak pergi ke wc umum.
Henry membuka kantung kresek yang di belikan Vana dan menemukan dua pasang setelan baju yang di tengahnya terdapat tulisan Bali dengan huruf kapital semua. Henry memberikan Vanno satu setel ukuran yang lebih kecil darinya.
"Pasti nanti minta ganti lebih." Gumam Henry merengut. Vana tak mungkin memberikan gratis meski itu kepada Ayahnya sendiri. Meski uangnya berasal darinya juga, Henry tau tipikal Vana yang menghargai uang pemberian. Henry mendecak dalam hati.
Vanno terkekeh pelan mendengar gumaman Henry. Tangannya mengambil baju tersebut kemudian menciumnya sembari tersenyum. 'Baju ini dari Vana.' Batinnya senang.
Tak lama kemudian Vana telah selesai berganti dengan model pakaian yang hampir sama dengan Vanno dan Henry. Vana berjalan sembari tangan kirinya menenteng baju yang sebelumnya, kemudian melemparnya begitu saja setelah itu ia segera meraih jaket yang tersampir disisi kursi samping Henry segera dipakai sebagai pelapis luar.
"My Hubby."
Serentak Henry menengok ke sumber suara. Terlihat Anna dengan seorang gadis berjalan ke arahnya.
"Kakak..." Itu adalah suara Jasmine. Saat tak sengaja bertemu dengan Anna di tengah jalan akhirnya ia memutuskan untuk mengikuti dengan alasan ingin bertemu kakaknya.
"Ngapain?"
"Pufftttt..." Jasmine menahan tawa saat sampai didepan Vanno dan melihat penampilan kakanya dari ujung rambut hingga kepala.
"Ganti kelamin kapan kak?"
Vanno mendengus mendengar ledekan Jasmine sedangkan yang lainnya menertawakan selain Henry yang menatap datar.
" Mana uangnya." Itu adalah kata pertama Anna sesampainya di sana. Kedua tangannnya terlipat di depan dada, terlihat jelas binar di matanya.
Henry berdiri kemudian langsung menghampiri Anna dan memberikan uang penghasilan yang didapat berjualan rujak selama setengah hari. "Semuanya habis. Apa kamu senang." Henry memeluk Anna dan memberikan kecupan ringan di kepalanya.
"Lalu mana uang fotonya?"
"Fo...foto apa?" Tanya Vana menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.
"Lo pikir gue nggak tau kalau lo diam-diam minta bayaran sama orang-orang yang minta foto sama lo dan noni belanda gue?"
Vana mendecak kemudian memberikan uang di sakunya kepada Anna.
__ADS_1
"Lagi." Kata Anna menyeringai. Vana mendesah kemudian kembali merogoh sakunya lalu terpaksa memberikan kepada Anna yang tersenyum puas.
"Ini ada lagi Bun." Vanno mengeluarkan dompetnya dan memberikan segepok uang untuk Anna. Dengan senang hati Anna menerimanya dan memeluknya. Henry yang disampingnya hanya bisa menggelengkan kepala, Anna adalah orang yang tak ingin melepaskan uang pemberian. Sama seperti Vana. Meski melakukan bujukkan apapun, jika sudah ditangannya maka itu miliknya jika mengambilnya maka dihitung utang.
Vana langsung menyikut Vanno. " Thank's yah." Gumamnya yang diangguki Vanno.
"Lo baik." Mau tak mau Vanno tersipu malu mendengar pujian Vana.
Vana melirik Bundanya. 'Meskipun gue nggak tau uang itu buat apa. Tapi gue tau kalau lo butuh Bun.'
Jasmine yang melihat interaksi tersebut kaget. Bukankah berarti Vanno melakukannya sukarela? Dan..dan sekarang memberikan tambahan? Kerja kerasnya nggak di bayar tapi lihatlah senyum yang selalu terpampang di wajahnya. "Aishhh...Kak Vanno sama aja kayak gue." Gumam Jasmine hampir tak bersuara.
"Sweet ayo pulang supaya aku bisa memelukmu sepuasnya. Di sini kamu pasti kedinginan." Bisik Henry sambil mengeratkan pelukannya pada Anna.
"Un." Anna mengangguk. Tapi kemudian ia mengelus perutnya berputar.
Vana melotot melihat tangan Anna. "Sepertinya Vanno kecapek-an." Vana menatap Vanno dengan senyuman tetapi tangannya bergerak mencubit Vanno ganas.
Vanno meringis sedikit kemudian mengangguk cepat. "I...iya. Jasmine juga sepertinya mengantuk."
Jasmine memincingkan matanya. "Gue nggak ngantuk. Ini kan masih jam sepuluh, biasanya aku tidur jam sebelas." Jawab Jasmine jujur. Setiap malam ia memang begadang sekedar mengecek media sosial milik Aldino atau melihat ada balasan tidak dari cowok itu berulang kali. Jadi Jasmine sudah terbiasa untuk tidur tengah malam.
Vana merutuk Jasmine dalam hatinya sedangkan Anna menaikkan sebelah alisnya.
"Kalau mau pergi-pergi aja." Ucap Anna santai membuat Vana menoleh cepat padanya.
Tanpa menunggu waktu, Vana menarik baju Vanno dan Jasmine pergi sebelum Anna berubah pikiran dan menyuruhnya untuk melakukan sesuatu lagi.
Anna yang melihat Vana menjauh hanya mendengus kasar kemudian ia membalas memeluk Henry.
"My Hubby...Gue.."
"Sayang..." Henry menatap Anna memelas.
Henry menggeleng cepat. "Kamu ingin apa sayang." Ucap Henry melupakan tubuhnya yang pegal-pegal.
"Gue laper."
Tanpa sadar Henry menghembuskan nafas lega. Akibat kehamilannya, Anna semakin sensitif dan selalu meminta hal yang aneh-aneh membuat Henry terkadang di buat pusing tujuh keliling.
"Baiklah, kamu tunggu disini dulu. Aku mau ganti baju." Ucap Henry sambil mengecup kepala Anna. Lalu berjalan meninggalkan Anna sendirian.
Melihat Henry menjauh, Anna mendudukkan tubuhnya dikursi. Lalu mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Gue udah ada uangnya, apa lo bisa cari lagi." Kata Anna to the point.
Orang di seberang sana tertawa mendengar Anna yang tak mau basa-basi. "Gue sama temen-temen gue udah cari hampir keseluruh Indonesia tapi hasilnya nihil, jejak anak lo sama sekali tidak bisa di temukan."
"Cari lagi. kalau perlu keluar negeri." Sahut Anna dingin, tidak ada jejak emosi disana.
"Lo tau kan biayanya nggak sedikit."
Anna mengangguk. "Gue tau Peter."
"Baiklah." Terdengar hembusan nafas dari sana kemudian orang yang ternyata bernama Peter tersebut kembali berbicara. "Gue saranin lo siapin uang lagi yang lebih banyak, gue tau kalau lo sekarang lebih kaya dari Henry. Tapi kalau gue boleh kasih saran, lo sebaiknya bilang sama Henry masalah ini."
"Gue nggak bisa." Jawab Anna langsung.
Peter mendecak keras. "Parah lo! Lo nggak mau bilang tentang beberapa butik lo, gue bisa terima. Tapi sekarang ini tentang anak lo yang hilang dan lo masih ingin sembunyiin dari Henry lagi. Apa lo pikir gue sebagai teman lo bakal terima lo menderita sendirian."
"Gue nggak bisa. Gue nggak mau dia khawatir dan gue nggak mau kalau dia ngerasa kalau gue ngrendahin dia sebagai suami karena gue lebih kaya dari dia."
__ADS_1
"Yayaya...gue tau lo secinta apa sama suami lo itu." Ucap Peter santai. "Btw lo bisa transfer seperti biasa."
"Oke."
Anna langsung mematikan sambungannya.
"Tidak perlu kau sembunyikan lagi."
Hampir saja Anna menjatuhkan ponselnya karena terkejut. "My...Hub-hubby."
Henry langsung menarik pinggang Anna kemudian membawanya ke dalam dekapannya. "Aku sudah tau."
"Ap..apa?" Gagap Anna bingung. Saat ini jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya.
"Aku sudah tau semuanya." Lanjut Henry dengan suara pelan.
"Tentang butik kamu dan tentang pencarian kamu selama ini."
"Apa ini alasan kamu ke Bali? Selain memerintahkan seseorang, kamu juga ingin menyelidiki sendiri."
"I..iya." jawab Anna, kepalanya disandarkan pada dada bidang Henry.
"Kapan? Kapan My Hubby tau."
"Barusan. Awalnya aku pikir permintaan kamu ke Bali karena kamu lupa atas apa yang terjadi di sini. Lalu aku kembali berpikir bahwa mungkin saja ini bawaan bayi sehingga kamu lupa. Tapi setelah tak sengaja mendengar pembicaraan kamu, aku tau kamu tidak lupa. Saat Zeva ingin ke Bali, kamu berpura-pura lupa seolah tidak ada kejadian apapun yang terjadi sini."
"Lalu tentang butik?"
"Aku sudah tau sejak lama."
"Apa My Hubby marah?" Anna mendongak menatap Henry untuk melihat ekspresi dari pria itu.
Henry menggeleng pelan. "Tidak. Tapi aku kecewa."
Mendengar nada kecewa dari suaminya entah kenapa mata Anna tiba-tiba memanas. "Maaf...maaf...hik..hik maaf..maaf My Hubby."
"Tidak papa." Henry menangkup kedua pipi Anna dan air mata di sana. "Tapi bisakah kamu tidak menyembunyikan apapun lagi dariku. Aku ingin kamu membagi beban mu, bukankah kita suami istri?"
"I-iya. Gue nggak bakal sembunyiin apapun lagi..hik...hik..." Anna semakin mengencangkan tangisannya, Henry tersenyum lembut. "Udah nggak usah nangis, nanti adik bayinya ikut sedih loh." Ucap Henry sedikit bercanda, tangannya kembali mengusap air mata Anna.
Anna mengangguk cepat. Lalu setelah itu keheningan menghampiri hingga suara perut seseorang memecahkan keheningan tersebut.
Henry tertawa kecil, melepaskan pelukannya kemudian menatap Anna sayang. "Laper?"
Anna kembali mengangguk seperti anak kecil.
"Baiklah, aku ganti baju dulu."
"Kenapa nggak dari tadi."
"Tadi di tengah jalan baju gantinya kelupaan di bawa."
"Pantesan bisa tau, ternyata nguping." Gumam Anna pelan, Henry terkekeh kemudian mengacak-ngacak rambut wanita yang di cintainya itu.
Anna cemberut, bibirnya maju beberapa centi hingga membuat Henry gemas dan secepat kilat mengecup bibir Anna.
"Aku mencintai mu." Ucap Henry keras sambil berlari kecil menghindar. Satu tangannya menenteng kantung berisi baju gantinya sedangkan yang satunya memberikan ciuman jauh untuk Anna berulang kali.
Sedetik kemudian wajah Anna sudah memerah seperti kepiting rebus.
"I love you too."
__ADS_1
***