
(Mulmed: Kamar kedua orang tua Vana)
***
"Waktu tidak mungkin sama jika kita berada di waktu dan keadaan yang berbeda. Tapi waktu mempunyai cara untuk membuat mereka mirip 99,99 %"
***
Ke esokkan harinya...
Pintu berbahan kayu jati itu terbuka lebar. Nampak sepasang pasutri saling merapatkan tubuhnya satu sama lain. Vana mendengus sembari tangannya berkacak pinggang, tak lain karena kedua orang tuanya benar-benar membuat dirinya iri. Ada rasa keinginan yang muncul dalam hatinya, jika suatu saat ia pun akan seperti itu.
Kakinya melangkah pelan. Tubuh kecilnya menjulang di sisi ranjang milik kedua orang tuanya. Lalu sebuah seringaian licik muncul di sudut bibirnya. Vana menaiki peraduan berwarna putih itu lalu meloncat-loncat bak anak berusia lima tahun yang baru menemui tranpollingnya.
Vana meloncat-loncat seperti orang kesurupan. Terlebih karena suaranya yang di buat memekkakan telinga bagi setiap pendengarnya.
"PACARKU ADA LIMA..."
"RUPA-RUPA BENTUKNYA..."
"GENDUT KURUS KEREMPENG..."
"YANG DUA AGAK GEPENG."
"MELETUS PACAR GENDUT...DUT..!!!"
"YANG DUA MANGGUT-MANGGUT."
"PACARKU TINGGAL EMPAT!!!"
"YANG DUA BELUM SUNAT!"
Vana berteriak menyanyikan lagu yang dikreasikan dirinya sendiri menggunakan nada 'balonku' hingga berulang-ulang. Goncangan yang di berikan pun tiada henti hingga Anna mengerang kencang karena intinya berasal dari sampinng tempat tidurnya.
Anna terduduk dengan mata melotot. Secara spontan Vana turun dari ranjang. Tangan Vana melipat kedua tangannya membalas pelototan dari Anna.
"Gendeng." Ketus Anna penuh penghinaan. Vana hanya berdecih lalu menggerutu. "Maknya lebih gendeng."
Bola mata Anna membesar. Helaan nafasnya kasar lolos dari bibirnya. "Kalau mau latihan drama pocong-pocongan jangan disini." Celetuknya tajam.
__ADS_1
Vana mencebikkan bibirnya. "Situ kali yang mau jadi pocong beneran. Tidur kok kayak orang mati."
Anna memutar bola matanya kesal. "Huh. Nggak sadar diri." Gumamnya pelan membuat Henry membuka sedikit matanya. "Buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya." Katanya membuat kedua perempuan itu melontarkan tatapan tidak terima.
"Hari ini kita jadi pergi kan?!"
"Nggak!!" Sahut Henry sembari mengeratkan pelukannya pada pinggang Anna.
Satu alis Anna naik. Diliriknya sang suami lalu kembali menatap Vana. "Mau kemana?"
Vana berdecak. " Bali."
Henry memejamkan matanya erat ketika mendengarnya.
"Udah ingat?"
"Masih connect sih." Ucap Anna dengan tampang bodohnya.
Vana mendesis pelan.
"Siap-siap."
Anna mengangguk hendak berdiri namun sesuatu menahannya. Kepalanya menunduk lalu mendengus sebal. Tanpa aba-aba Anna menyikut wajah Henry hingga suaminya itu mengaduh sakit.
"Lima belas menit."
"Nggak usah macam-macam." Ucap Anna sarkas membuat Vana meliriknya sebal. Matanya bergerak menatap pria yang masih asyik bergelung dengan bantal-bantalnya.
Pelan tapi pasti Vana mendekati pria tersebut. Manik birunya memutar sebal. Terlihat bahwa Ayahnya sama sekali tidak punya niatan untuk bangun.
Vana mendekatkan bibirnya ketelinga Ayahnya. Anna yang melihatnya hanya menyemangati lewat gerakan bibirnya.
"BANGUUN! BANGUUN! AYAH BANGUUUN..."
Sontak bola mata Henry terbelalak lebar. Spontan ia terduduk dengan tangan yang memegangi degup jantungnya berada. Arah tatapannya melirik putri semata wayangnya yang hampir hilang di balik pintu. Ia mendesis pelan ketika terdengar tawa kencang dari luar sana.
Wajahnya tertekuk seperti lipatan baju yang belum di setrika. Semakin menekuk tatkala sara tawa lain terdengar. Anna, istrinya itu tertawa kencang melebihi Vana hingga tanpa sadar keluar air mata dari sudut matanya.
"Aduh wajah lo kocak amat. Aduh duh perut gue sakit." Ucap Anna di sela tawanya, tangan kanannya memegang perut sedangkan tangan kirinya menepuk-nepuk kasur keras sebagai pelampiasan.
__ADS_1
"Istri durhaka!"

(Note: Jepit rambut Anna)
***

(Note: Style yang di pakai Vana)
Suara desahan berat terdengar dari Vana. Sudah hampir dua jam dirinya menunggu. Namun, Ayah dan Bundanya tak kunjung menampakkan batanga hidungnya. Tangannya memegang kedua tali tas pinggangnya, tak jarang ia menaik-turunkan tasnya itu. Ekor metanya melirik ke belakang. Kakinya yang di lapisi sandal tipis terus menerus mengetuk jalan batu bata di halaman rumahnya.
Terdengar deru kaki seseorang membuat Vana langsung menengok. Bibirnya mengerucut sebal. Tak henti-hentinya ia menggerutu.
Anna berjalan terlebih dahulu diikuti oleh Henry yang kesusahan menggeret koper di kedua tangannya dan satu tas merah milik Anna yang disampirkan di bahu kanannya. Henry langsung berjalan ke mobilnya yang sudah terpakir di samping Vana dan membuka bagasi untuk menaruh kedua koper di tangannya.
"Lama amat sih Lo. " Omel Vana berjalan mendekati kedua orang tuanya. Tangannya bersidekap. Tatapannya langsung memicing melihat leher Anna kemerah-merahan, dalam hati ia merutuki kedua orang tuanya.
"Merah-merah tuh leher lo."
Anna langsung meraba-raba lehernya seraya menaikkan kerah bajunya lebih tinggi. Sedangkan Henry pura-pura tidak mendengar apapun dan fokus dengan barang bawaan mereka.
Diliriknya Henry sinis. "Serangganya ganas yah..." Vana membelai dagunya seraya bergumam. "Sangat ganas."
Bola mata Anna membola. Tatapannya langsung melirik Henry tajam hingga membuat pria itu menengguk ludahnya susah payah. Segera Henry memalingkan wajah dan kembali menyibukkan diri.
Jangan salahkan dirinya jika Vana mengetahui hal-hal yang seharusnya tidak diketahuinya diumurnya yang baru menginjak 13 tahun.
Anna lupa jika putrinya semata wayagnya itu sangat memahami hal-hal yang berbau dewasa. Selain karena permintaan anehnya yang menginginkan Vana sekolah dasar di umurnya yang belum genap 4 tahun, teman-teman sekelas yang umurnya di atas putrinya itu pasti juga mengajarinya tanpa sepengetahuannya. Ah satu lagi sepertinya Anna lupa jika ia dan suaminya juga sering kepergok Putrinya itu saat sedang melakukan hal yang lazim di lakukan oleh pasangan suami istri.
Vana terkekeh melihat reaksi kedua orang tuannya. "Aw bagaimana tuh rasanya? Enak?" Vana berhenti sejenak lalu menatap kedua orang tuannya datar. " Owh pasti enaklah. Sampai lupa kalau gue udah udah nunggu dua jam." Ucap Vana sarkas.
Henry memalingkan muka tersipu malu.
"A..ayo berangkat sekarang."
***
__ADS_1
Jangan lupa Voment dan semangatnya 😄
Ig: tsaniistighfarani