The Devil Nerd

The Devil Nerd
Sebelas


__ADS_3

"Yang ku ketahui saat ini adalah rasa nyaman yang menderaku ketika bersamamu."


***


"Van."


"Hem." Vanno berdehem sembari memelankan langkah kakinya.


"Lo tau. Gue ngerasa kayak lagi di gendong sama pacar tau nggak. Romantis romantis gimana gitu." Sebuah senyuman tulus timbul di bibirnya. Gadis itu semakin mengetatkan tangannya di leher Vanno.


"Gue malah ngarasa sedang nggak bawa apa-apa."


BUGH!!


"Secara nggak langsung Lo bilang gue nggak ada alias setan!" Ketus Vana setelah memukul bahu Vanno tanpa bersalah. "Lo beneran suka sama gue nggak sih!" Ujarnya kesal.


"Suka." Singkat Vanno pelan.


"Cinta nggak?"


"Masih ragu!"


"Ck, berarti Lo nggak cinta sama gue. Karena cinta itu tidak pernah meragu barang sedetik pun." Ucap Vana dengan nada sok puitisnya.


"Baiklah. Aku mencintaimu."


Vana langsung mendesis mendengar jawaban Vanno. Gadis itu menoleh ke wajah Vanno yang berjarak beberapa centi darinya. "Lo kok gampang banget bilang kayak gitu."


"Nggak boleh ragu."


"Kenapa lo bisa secepat itu suka sama gue."


"Cinta?" Vanno menaikkan kedua alisnya. Kepalanya menoleh sedikit. Jantungnya berdebar kencang. Untuk kedua kali hidungnya dan Vana bertabrakan. Sontak wajah Vanno langsung menghadap ke depan kembali, sedangkan Vana langsung memalingkan muka.


"I-iya, Cinta sama Gue." Kata Vana terpatah. Untuk pertama kalinya ia begitu dekat dengan lawan jenis selain kakek dan Ayahnya. Gila! Wajahnya tidak tahan lagi untuk memerah.


"Karena hati gue milih lo."


Vana menyembunyikan wajahnya di bahu Vanno. Dan bergumam lirih. "Se simple itu?"


"Yah."


"Lo serius?" Ekor matanya melirik Vanno penasaran untuk mengetahui keseriusan lelaki itu.


"Gue nggak pernah seserius ini."

__ADS_1


"Tapi gue nggak suka apalagi cinta sama Lo. Kita aja baru kenal."


"Belum." Ralat Vanno penuh percaya diri. Meskipun ada rasa sesak di dalam hatinya mengetahui ucapan yang keluar dari mulut gadis yang di sukainya itu.


"Nggak mungkin gue suka sama Lo."


"Nggak ada yang nggak mungkin."


"Vanno." Panggil Vana ragu.


"Apa."


"Kalau kita jadian gimana?"


"Boleh." Vanno mengangguk antusias. "Sekarang."


Vana memukul kepala Vanno. "Kalau ****!"


Vanno mendecak, namun tak urung bibirnya tersenyum lebar mendengar pertanyaan Vana yang menurutnya mengandung warna kuning dalam lampu lalu lintas. "Mama gue bakal langsung dateng ke rumah lo."


"Ngapain? Marah-marah nggak setuju?" Seru Vana langsung, mengutarakan pemikiran konyolnya.


"Lo pikir ini sinetron." Vanno mendecih menahan senyumannya. Pertanyaan Vana yang entah kenapa membuat Vanno merasa lebih dekat ... selangkah.


"Apa mau nagih utang." Seru Vana kencang sambil mengangkat kepalanya dari pundak Vanno.


"Nggak sih." Vana cengengesan lebar. "Emangnya Mama lo mau apa di ke rumah gue?"


"Mungkin bisa di sebut gila. Mama gue bakal lamar lo saat itu juga."


"Gila!" Komentar Vana tanpa sadar. Vanno terkekeh geli. "Memang."


"Gue mau tanya sesuatu sama lo." Tanya Vana tiba-tiba terpikir akan suatu kemungkinan.


"Apa?"


"Kalau suatu saat gue pergi."


"Jangan pergi ninggalin gue." Tukas Vanno dengan nada keras. Ada rasa khawatir yang menggerogoti hatinya untuk pertama kali. Ada rasa takut kehilangan yang begitu besar dalam jiwanya. Giginya menggigit mulut bagian dalam. "Lo nggak akan tinggalin gue kan." Ada nada getir di sana.


Vana sempat terhanyut sebentar. Namun yang terjadi selanjutnya, tangannya berayun memukul kepala Vanno untuk kedua kalinya. "Kalau ******!"


Vanno memperbaiki posisi gendongan Vana yang sedikit oleng. Tanpa sadar hembusan lega terus-terusan keluar dari mulutnya. "Mungkin gue akan hancur saat itu juga." Jawabnya jujur.


"Uluh..uluhh..gue terharu." Ucap Vana mendramatisir. "Terus lo masih tetep cinta nggak?" Gumam Vana pelan. Kepala kembali menyandar pada bahu Vanno. Hidungnya semakin meringsek menghirup bau Vanno yang khas dan di sukainya. Bahu Vanno yang cukup lebar untuk sesusianya itu membuat Vana nyaman berasa tidur di kasur miliknya di rumah.

__ADS_1


"Gue akan tetap Cinta sama Lo. Karena bagaimana-pun gue nggak pernah mengijinkan satu orang pun untuk menempati hati gue selain lo. Gue nggak mau hati gue terbagi untuk orang selain lo. Hati Gue Cuma satu dan itu milik Lo. Kalaupun suatu saat Lo pergi dan ada orang lain yang perlahan masuk ke hati gue, gue akan hilangkan untuk Lo. Kalau ada orang lain yang masuk ke hati Lo, gue akan langsung hapus. Tak perduli jika Gue di bilang egois. Karena gue egois untuk pertahanin Cinta Gue. Nggak perlu 24 jam untuk menyadari bahwa gue benar-benar mencintai Lo."


Benar. Vanno mencintai Vana. Bagaimanapun ini adalah pertama kali untuknya. Merasa takut, khawatir, dan mencinta. Biar kata umurnya masih seumur jagung. Biar dikata cintanya, cinta monyet. Tapi Vanno lebih yakin pada hatinya. Pada intuisinya. hanya pada Vana hatinya. Meski belum memaknai seberapa jauh apa itu cinta. Tapi Vanno menyakini akan kesetiaan. Walau ada beberapa hal yang belum di ketahuinya tentang Vanna. Tetapi ia memiliki keyakinan. Vana hanya untuk dirinya. Yah, Vanno harus menyakini tentang itu.


Langkah kaki terhenti di tengah persimpangan.


"Vana, Ini belok ke kanan atau ke kiri."


Krikk


Vanno melirik Vana dengan ekor matanya. Mata Vana terpejam yang artinya gadis itu tertidur. Good, padahal kata-kata yang dirangkainya tadi cukup bagus tetapi tidak di dengarkan oleh empu yang di tujunya. Hembusan nafas keluar dari mulut Vanno. Ia tersenyum kecil.


"Segitu nyamannya yah."


***


"Bersihkan tubuhnya dengan handuk yang di celupkan ke dalam air hangat. Tolong ganti pakaiannya dengan pakaian yang nyaman dan masih baru. Terus jangan lupa selimuti dia dengan selimut tebal dan hangat, AC nya jangan terlalu dingin. Jangan berisik. Jaga di dengan baik."


"Cerewet." Komentar Jasmine dengan tatapan anehnya pada Vanno. Selama eksistensi hidupnya, tak pernah sekalipun kakaknya itu secerewet ini. Tapi bisikan di kepalanya membuat Jasmine akhirnya mengerti.


Cinta dapat merubah segalanya.


"Namanya siapa kak?" Tanyanya meilirik gadis yang sama seperti yang dilihatnya di pantai. Gadis itu sudah terbaring lurus di kasurnya.


"Vana."


"Kembaran ketemu gede lo yah." Goda Jasmine sembari menaik turunkan kedua alisnya.


"Calon Istri gue." Jawab Vanno membusungkan dadanya bangga. Ada senyum yang di tahannya ketika berkata.


"Prett!!! Ngaku-ngaku jadi suami aja lo." Celetuk Jasmine sembari mendudukkan tubuhnya di sofa dekatnya. Kakinya menyilang menatap Vana dan Vanno bergantian. "Emangnya Vana mau sama lo." Katanya terdengar seperti ejekan.


"Mama mau punya cucu." Jawab Vanno kalem. Ia mendaratkan pantatnya di samping Jasmine. Punggungnya bersandar lelah dengan mata terpejam erat sedangkan kedua kakinya lurus. Rasa letih setelah menggendong Vana baru terasa, kakinya pegal dan pening menyerang kepalanya. Bukannya mengeluh, Vanno malah tersenyum cerah dalam hatinya. Tak terasa malamnya habis bersama Vana, gadis yang di sukainya.


Jasmine menyentil dahi Vanno keras hingga lelaki itu membuka mata dan menoleh padanya. Dengan tatapan tajam.


Jasmine melipat kedua tangannya tidak terpengaruh sedikitpun dengan tatapan yang di berikan padanya. "Cucu mbah mu! Nikah dulu baru punya anak. Pliss deh, cukup Mama aja yang gila. Lo jangan."


Vanno mengendikkan bahunya acuh. "Nanti gue kasih undangan sebesar pintu buat lo." Ucapnya santai. Beranjak keluar dari kamar Jasmine namun sebelum benar-benar hilang di telan pintu. Laki-laki itu berkata penuh permohonan dalam kalimatnya.


"Jaga kakak ipar Lo baik-baik."


Sontak Jasmine ingin segera meruqyah kakaknya.


***

__ADS_1


Bagaimana part ini?


Fafaniez


__ADS_2