
"Undangan yang tak pernah ku ketahui, tak pernah ku kenali dan tak pernah ku lihat. Menyampaikan cintaku untuk mu yang bagai jalan lika-liku ku saat ini. Tapi aku yakin, suatu saat ada penyambutan untuk kurir hatimu."
- Revanno Georgio VR -
***
Vanna mendudukkan tubuhnya di atas kursi yang berlantai pasir. Matanya meilirik ke restorant yang agak ramai meski terlihat sepi. Sengaja ia memilih restorant yang berada paling ujung. Selain karena curi-curi dengar bahwa restorant inilah yang paling mewah sekaligus yang paling mahal. Katakanlah Vana licik karena meminta Vanno mentraktirnya di restoran tersebut.
Vanno hanya mendengus lalu duduk di depan Vana. Sedetik kemudian pelayan restoran tersebut datang sembari membawa buku menu dan buku note kecil serta alat tulis ditangannya. Pelayan itu menundukkan kepalanya sopan ketika dihadapan Vanno yang merupakan anak pemilik restorant tempatnya bekerja.
Vana yang tidak tau menahu dengan sikap pelayan tersebut hanya mengendikkan bahu. Tangannya meraih buku menu yang di sodorkan.
Manik coklat Vanno hanya meirik sekilas buku menu yang di berikan padanya. Pandangannya menatap Vana yang sedang fokus dengan buku menu di tangannya sesekali bergumam. Tanpa sadar ia tertawa kecil hingga membuat pelayan yang melihatnya terpukau. Betapa tampan tuan mudanya tersebut. Jika saja ia masih seumuran dengannya, pasti ia menjadi fans beratnya. Sayang, masa mudanya telah berlalu.
"Nasi seafood dan orange jus."
Dahi pelayan tersebut melipat. Baru saja ia mendengar tawa dari tuan mudanya, namun sekarang ia malah mendengar suara dingin, datar dan angkuh di nadanya. 'Apa tuan muda memiliki kepribadian ganda?.' Begitu pikirnya. Tapi sedetik kemudian ia menggelengkan kepala tak mau ambil pusing.
"Nasi jinggo, nasi campur ayam Bali, lawar kuwir pake' daging bebek. Minumnya jus alpukat, jus jambu, jus apel dan es krim sundae. " Ucap Vana tanpa mengalihkan fokusnya dari buku menu. Lantas ia mendongak dan menatap Vanno dengan cengiran kudanya. "Nggak akan bangkrutkan."
Dengan kaku kepala Vanno tergerak menggeleng. Tatapan tak percaya ia berikan pada Vana. "Apa perut lo muat?"
"Apa lo nggak mampu bayar?" Bukannya menjawab, Vana malah menanyai Vanno balik dengan nada skeptisnya.
"Turutin maunya." Ucap Vanno tenang. Pelayan itu pun mengangguk setelah selesai mencatat pesanan tuan muda dan pacarnya yang terlihat serasi dimata. Waiters itu menggeleng dalam hati. 'Anak kecil aja gendengan.'
Selepas pelayan itu pergi. susana canggung begitu kentara diantara keduanya yang sama-sama bingung untuk memulai berbicara. Akhirnya sedikit desahan dari bibir Vanno, pria itu mulai mengeluarkan suaranya.
"Nama gue Vanno."
Vana mengangguk kecil. "Gue kira ****!"
Vanno mendesis pelan. "Revanno Georgio Vanrover."
"Revan?"
Vanno menaikkan sebelah alisnya. "Nama kesayangan?" Ucapnya meledek. Sontak Vana langsung melotot dan berseru kencang. "Nggak usah ngarep."
Vanno terkekeh geli. Lantas mengulurkan tangannya untuk menjabat Vana. "Nama lo?"
"Vana." Jawab Vana singkat tanpa membalas uluran Vanno.
Pria itu menyeringai diam-diam melihat penolakan langsung dari Vana. Tidak pernah ada satu pun seseorang yang mencampakkannya seperti itu, yah sebelum Vana. Gadis itu semakin menarik dimata Vanno. Pria yang sedari tadi menampik perasaannya di usia belia akhirnya mengalah. Ia menyukai Vana. Meski belum tau seberapa rasa sukanya. Apakah sampai menembus cinta atau hanya menembus sesaat.
"Lengkapnya?"
Vana menangkupkan jari-jarinya hingga mengerucut lalu mengarahkan ke Vanno. "Coba Lo tiup deh." Dengan bodohnya Vanno menurut, dengan wajah bingunnya ia meniup pelan tangan Vana.
__ADS_1
"Apa yang terjadi?"
"Tidak ada apa-apa."
"Ada." Ucap Vana menyeringai menyebalkan.
Dahi Vanno mengkerut. "Apa?"
"Kepo!" Tawa Vana meledak sedangkan Vanno langsung mengerucutkan bibirnya kesal.
"Nggak usah manyun. Makin jelek aja Lo."
Tanpa Vanno sadari. Bersama Vana ia dapat mengeluarkan bergabai ekspresi yang selama ini di simpannya.
***
"Thanks makanannya. Gue mau pulang dulu." Pamit Vana sembari memelankan lagkah kakinya. Pasir yang di injaknya sesekali di tendang. Tangannya di masukkan kedalam kedua saku jaket Vanno yang di pakainya. Mengingat jaket membuat Vana langsung memutar tubuhnya kebelakang dimana Vanno berada. Kedua alisnya meninggi melihat Vanno menatapnya intens. Spontan, Vanna menggaruk tengkuknya canggung. Berpikir bahwa Vanno menatap jaket miliknya. "Jaket lo gue cuci dulu. Entar gue balikin."
Langkah Vanno berhenti selangkah di hadapan Vana. Tanpa sadar pria itu menahan nafas melihat Vana yang disinari lampu di sekitar pantai. Terlihat seperti dewi bulan yang sangat cantik di matanya. Sontak Vanno melotot. 'Apa-apaan tadi? Dewi bulan? apa dirinya sudah gila?!'
Vana mengibas-ngibaskan tangannya di depan Vanno yang sedang melamun. "Entar gue balikin jaket lo. Gue masih mampu beli jaket kayak gini."
Sedetik kemudian Vanno tersadar dan tergagap. "B-buat lo."
Vana tersenyum cerah. "Makasih." Ujarnya tulus.
Vanno tersenyum samar sembari mencoba menghentikan detakan jantungnya yang berdentu keras. Senyuman Vana benar-benar memiliki efek besar pada tubuhnya. 'Sial!' Rutuknya dalam hati.
Vana menggelengkan kepala pelan. Tatapannya melirik sekitarnya yang mulai sepi dan gelap. Pedagang sekitar dan restorant-restorant pun mulai tutup. Ragu-ragu ia menatap Vanno.
"Sekitar sini lagi banyak penculikkan."
Tubuh Vana langsung menegang mendengar penuturan Vanno. Keringat dingin keluar dari dahinya sedangkan tubuhnya menggigil tak terkendali. Sepintas, ingatan masa kecilnya kembali nampak meskipun samar. Seolah kaset rusak yang terus berputar di kepalanya. Vana menutup rapat matanya. Tanpa sadar erangan kencang lolos dari bibirnya hingga membuat Vanno panik dan tanpa aba-aba. Vanno memeluk tubuh Vana erat seolah tidak ingin melepaskan.
Tangannya mengusap punggung Vana perlahan. Mencoba menengakan gadis itu dengan kata-katanya. "Tidak papa. Semua akan baik-baik saja."
Vana menguraikan pelukannya. Tangannya mengepal erat. Giginya bergemelatuk kencang. Sebagian memorinya saat umur sembilan tahun telah kembali. Akhirnya ingatannya telah pulih, meskipun hanya sebagian.
Pantas saja Vana sangat sulit untuk mengingat memorinya yang hilang. Tidak pernah ada pembahasan tentang dimana paman yang di sayanginya dan tentang penculikkan dirinya sewaktu kecil. Vana menggeram dalam hati. Perasaannya memang tidak enak setelah menginjakkan kakinya di Bali. Meski berusaha menyangkal. Akhirrnya ia tahu alasannya, bahwa segala penderitaannya berawal dari tampatnya berpijak. Bali.
"Vana?"
Vana tersentak dari lamunannya. Perlahan genggaman tangannya mengendur. Tubuhnya menjauh dari Vanno. "Aku tidak papa." Ucapnya pelan.
Vanno menatap Vana khawatir. "Gue akan selalu ada buat lo." Ucapan Vanno seakan sihir yang membuat hati Vana menghangat karenanya. Tanpa sadar sudut bibirnya menyunggingkan senyum manis.
Tapi tunggu?
__ADS_1
Kenapa Vana merasa ada kalimat lain di balik kata-kata Vanno? Apa itu hanya perasaannya saja atau memang itu kebenarannya. Manik mata Vana langsung menatap Vanno horor.
"Apa lo suka sama gue?"
Vanno langsung memalingkan wajahnya yang memerah hingga ke telinga. Pelan tapi pasti. Vanno mengangguk malu.
Mata Vana membola terkejut. Bahkan ekspresi kaget tak dapat di sembunyikan dari wajahnya. Ternyata dugaannya benar. Vanno menyukainya. Bahkan di waktu yang singkat Vanno mengakui bahwa pria itu mentukainya meskipun baru bertemu belum ada 24 jam.
GILA!
Satu pikiran yang melintas di benak Vana. Ragu-ragu ia bertanya kembali. "Apa lo bercanda?"
"Gue nggak suka bercanda." Ucapan tegas serta tatapan serius Vanno layangkan pada Vana. "Lo perlu bukti?" Ucapnya menyeringai tajam. Kakinya bergerak maju untuk mempersempit jarak antara ia dan gadis yang di sukainya itu.
Vana hanya diam mematung. Tak tau harus berbuat apa. Tubuhnya seakan sulit di gerakkan barang seincipun. Hingga suatu yang menyentuh hidungnya membuat Vana melonjak kaget dan melangkah mundur. Hampir saja bibirnya dan bibir Vanno bersentuhan. Vana mengumpati Vanno yang hampir membuatnya tak lagi polos dan suci.
BRUKKK!!
Tubuh Vana terjerembab di atas pasir. Erangan lolos dari bibirnya. Tangannya langsung memegang kakinya yang terasa berdenyut.
"Lo nggak papa?" Tanya Vanno panik. Ia langsung berjongkok di hadapan Vana. Raut kecemasan di wajahnya tidak dapat di sembunyikan lagi. Tangannya yang beregerak takut-takut hendak menyentuh kaki Vana. Namun sebelum itu dilakukan sebuah jitakan keras langsung mendarat di kepalanya.
"LO BUTA ATAU GIMANA HAH!!" ucap Vana dengan nada tinggi. Mulutnya berdecih sebal. "Semua ini gara-gara lo!"
"Salah gue?" Tanya Vanno menyeringi tipis. Di tatapnya wajah Vana gelagapan. "Iya salah lo! K-kenapa lo...lo mau ci...ci..." Ujar gadis itu terbata membuat Vanno menyembunyikan tawanya dalam hati. Sebisa mungkin wajahnya tidak memerah melihat tingkah menggemaskan gadis yang di sukainya itu.
"Cium?"
Vana menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal. Kepalanya mengangguk canggung. "I-iya."
"Memangnya gue mau cium lo?"
"I-iya tadi."
"Tadi? Kapan?"
"Ta..tadi."
"Tadi yang mana?"
"Y-yang...Arggghh." Tanpa basa-basi sebuah toyoran kencang mendarat manis di kepala Vanno. Siapa lagi kalau bukan ulah Vana. Namun bukannya marah, Vanno malah menyunggingkan senyum lebarnya.
"Masih waras kan lo?"
Seketika itu juga senyum Vanno lenyap di gantikan wajah datar tanpa ekspresi.
"Gendong." Pinta Vana. Dalam nadanya sama sekali tidak ada nada meminta, hanya suara ketus dan terdengar seperti sebuah perintah. Namun Vanno tidak mempersalahkannya. Pria itu berjongkok membelakangi Vana.
__ADS_1
"Ayo naik."
***