The Devil Nerd

The Devil Nerd
Dua Puluh Delapan


__ADS_3

"Dengan uang kau bisa membeli orang, uang masih segala-galanya di dunia."


***


Sesuai dengan prediksi Vana, 15 menit kemudian terdengar suara mobil datang, tidak diragukan itu kedua orang tua Vana.


Saat membuka pintu Henry di sambut sekelompok pelayan, meskipun sedikit linglung tanpa pikir panjang ia mengikuti pelayan di ikuti Anna di belakangnya.


Pikiran keduanya masih was-was sebab sekarang mereka berada di sarang serigala yang tidak tau apa perangkap di dalamnya. Tapi demi menyelamatkan Vana keduanya rela berjuang bahkan mati.


Saat melihat Vana duduk dari kejauhan, Anna dan Henry langsung berlari menghampirinya. Anna langsung membawa Vana kedalam pelukannya, Henry ikut mendekap keduanya. Seketika itu juga wajahnya yang khawatir perlahan hilang di gantikan kelegaan.


Vana yang berada di pelukan kedua orang tuanya tidak bisa berkata-kata. Jantungnya bergetar saat kepalanya merasakan sakit. Tepat saat ia merasakan air yang jatuh di wajahnya, sedikit-demi sedikit kepingan masa lalu mulai memutar seperti kaset di otaknya hingga sedikit demi sedikit mulai utuh. Vana mulai mengingat segalanya.


Saat adiknya yang baru lahir di culik, dan ia yang ingin menyelamatkanpun pada akhirnya ikut di bawa. Hingga kebenaran-kebenaran di baliknya pun terbongkar. Orang-orang kepercayaan keluarga mereka berbalik menusukkan pisau dari belakang.


Rasanya waktu itu seperti mimpi buruk yang tidak ingin ia temui.


Vana mengepalkan kedua tangannya erat hingga memutih, perasaan di khawatirkan, di peluk dan Bundanya yang belum pernah dia lihat menetesken air mata kini menangis memberikan perasaan familiar kepadanya.


Benar, kekhawatiran berlebihan yang di tunjukkan kedua orang tuanya bukan tanpa alasan.


Itu... itu karena mereka pernah kehilangan.


Bodohnya ia yang baru mengingat semuanya sekarang dan bermain kata bahwa ia di culik. Itu pasti menyakiti mereka, Vana menyesal dalam hatinya.


Diam-diam mata Vana mengeluarkan sebulir air mata yang langsung hapus tanpa ada yang memperhatikan. Ia harus kuat, bagaimana dia bisa membalas dendam kalau dia sendiri lemah.


Akhirnya setelah sekian lama Anna melepaskan pelukannya, Vana mengapus sisa air mata di wajah Bundanya itu, kepahitan menyelimuti hati nya tapi sekarang bukan waktunya untuk berduka.


Vana tertawa bodoh seolah tidak terjadi apa-apa. "Gue kira mata lo tanah tandus yang nggak bisa ngluarin air."


"Anak bodoh ini." Anna menjitak kepala Vana membuat putrinya itu cemberut.


"Sayang kamu nggak papa kan?" Henry bertanya dengan khawatir.


Vana mengangguk membuat Henry menghela nafas lega. Tapi sedetik kemudian kerutan terlihat di wajahnya, "Dimana dimana penculik itu. Biar Ayah gebukin sampai mati, berani-beraninya menculik putri Ayah."


Vana menggaruk kepalanya, "Uhhh... Ayah maaf itu bohong." Lantas setelah mengucapkan hal itu, Anna langsung menjewer telinga Vana.


"Apa maksud lo." Wajah Anna sama sekali tidak bisa di pandang enak, Vana hanya mampu meringis sedikit melihatnya tidak berani bersuara meskipun telinganya memerah.


"Sayang udah, yang penting Zeva nggak kenapa-napa."


"Tapi... tapi... dia nggak ngerti." Anna menatap Henry dengan pandangan putus asa.

__ADS_1


"Ayah... Bunda... maaf." Vana bermain dengan jarinya seperti seorang anak kecil yang merasa bersalah karena melakukan sesuatu. Mata Vana memandang Anna was-was, "Ini kompensansi." Tanpa ragu Vana langsung mencium pipi Anna secepat kilat, setelah itu wajahnya berubah malu karena sudah sangat lama ia tidak pernah intim dengan Bundanya itu malah lebih sering di isi pertengkaran.


Memperhatikan Vana, hati Anna sebagai seorang ibu menghangat. Bagaimanapun sebagai seorang ibu ketika melihat anaknya meminta maaf tanpa pikir panjangpun ia akan langsung memaafkannya.


Karena hati seorang ibu tidak pernah habis untuk anaknya.


Anna yang jarang tersenyum lembut kini tersenyum lembut."Yaudah ayo pulang."


"Siapa yang ngijinin kalian pulang." Seru Dakota kesal.


Tubuh Henry menegang lantas perlahan kepalanya memutar ke asal suara. Adapun setelah melihat orang tersebut, Henry dan Anna tidak mampu menahan ringisan.


"Sejak kapan tante Dakota di sini."


"Menurut lo!"


Henry dan Anna serempak menelan ludah secara kasar. Mereka sama sekali tidak menyadari ada orang lain selain Vana di ruangan ini, lagi pula mereka terlalu khawatir sehingga tidak mau repot-repot memperhatikan yang lain.


"Ayah kenal sama Oma?" Vana menaikkan sebelah alisnya seolah heran padahal ia ingat bahwa dulu dikamar neneknya ada fotonya dengan Oma Dakota waktu muda.


'Hehehe... dengan begitu jalan gue buat jadi nona kaya raya semakin mulus.' Pikir Vana picik. Apalagi melihat sentimen diantara mereka ia yakin dalam hati bahwa ia akan di manja dalam keluarga kaya ini.


"Umm Tante Dakota kenalan lama nenek mu." Henry mengangguk sambil menatap Vana was-was, ia tidak mau Vana mengetahui bahwa Dakota adalah sahabat baik Ibunya. Karena sejak Vana amnesia di sebabkan oleh trauma, ia telah mengarang banyak cerita untuk tidak membuatnya mengingat masa kecilnya yang suram.


Lagi pula sejak ia mengingat masa kecilnya, ia sudah memutuskan untuk tidak mengatakannya. Vana tidak bisa membayangkan ekspresi apa yang akan di tunjukkan kedua orang tuanya jika mereka tau ia sudah mengingat apa yang di lupakannya.


Kemudian setelah Vana mengingat kembali semua yang di lakukan kedua orang tuanya selama ini juga untuk dirinya sendiri. Benar, semuanya untuknya.


Vana pura-pura menguap untuk menutupi air mata yang hampir jatuh dari matanya.


Wajahnya yang malas dan mengatuk seperti seekor kucing yang ingin di belai membuat dua kembar bersaudara memiliki wajah yang lembut untuknya.


"Al bawa Vana ke kamar." Kata Dakota melihat Vana sayang.


Aldino langsung mengangguk tanpa ragu, Henry hanya terdiam tidak berani protes terhadap Dakota.


"Sayang, kamu bisa istirahat dulu. Ada yang ingin ayah bicarakan dengan Oma. Oke."


Vana mengangguk malas.


Saat hendak mengikuti Aldino ia merasakan tangan kirinya di tarik oleh seseorang. Vana menelengkan kepalanya dan melihat Eldino yang cemberut.


"Biar gue aja yang nganterin."


Lalu Vana merasakan tangan kanannya juga di tarik oleh seseorang, dahi Vana berkerut melihat Aldino. "Ayo Van."

__ADS_1


"Woi budeg lo yah, gue kan bilang biar gue aja yang nganter."


"Lepas."


"Lo yang lepas."


"Lo."


"Lo."


"Bacot! Kalian pikir dengan pegang tangan gue kek gini gue bisa langsung sampe kamar. Kalo kalian nggak punya ilmu teleportasi, stop pegang-pegang gue. Nggak ada gunanya tangan gue di pegang kalian tapi nggak bisa pindah kemanapun." Teriak Vana sambil melepaskan kedua tangannya paksa.


"Dimana kamarnya."


"Di tempat sebelumnya."


"A..itu kan kamar lo! Sial!"


Eldino berlari mengejar Vana yang sudah masuk ke dalam kamar Aldino. Di belakangnya Aldino mengikuti Eldino dengan santai sambil memasukkan satu tangannya ke saku.


***


Setelah kepergian mereka, suhu di ruangan turun beberapa derajat. Tatapan suram Dakota melewati anak dan menantu sahabatnya membuat suasana semakin suram tak terkendali.


"Jelaskan." Hanya satu kata yang mampu di ucapkan Dakota setelah terdiam lama. Edward mengusap punggungnya untuk menekan emosi Dakota yang meluap di dalam.


"Hanya untuk orang yang ingin saya lindungi. Besok aku akan membawa Vana pulang. Anggap saja tidak terjadi apa-apa hari ini." Ucap Henry sejelas mungkin, ini sudah keputusannya sejak awal. Ia ingin Vana menjauh dari dunianya dulu dimana kebohongan, kelicikkan, penghianatan, dan taktik dimana-mana.


"Apa lo gila!" Dakota menampar meja emosi sehingga dadanya naik turun. "Gue baru saja ketemu sama Vana dan sekarang lo ingin bawa dia pergi. hah! Seolah tidak terjadi apa-apa."


"Seharusnya tante Dakota ingat. Anda bukan siapa-siapa Vana."


"Brengsek!" 


Dakota mengertakkan giginya, disampingnya Edward hanya mampu mengusap punggung istrinya itu untuk tenang.


"Lo ingin ngelindungi orang-orang lo tapi begini? apa lo ****! Dengan jadi miskin, dengan lo menjauh sejauh mungkin hingga seperti di telan bumi lo bisa ngelindungi orang-orang lo! Seharusnya lo inget berapa orang yang lo singgung waktu itu. Apa lo pikir mereka bakal ngelepasin lo gitu aja setelah lo menghilang, tidak! mereka bakal cari lo terus sampai lo ga bakal bisa kembali." Ingat Dakota.


Jika ia tidak menghalangi orang-orang itu di bayang-bayang tidak tau apa yang akan terjadi dengan mereka. Setelah semua ia sudah pernah berjanji dengan sahabatnya bahwa mereka adalah keluarga jika diantara mereka bahagia maka anda harus yang pertama di beri kabar dan apabila salah satunya mengalami kesulitan makan anda harus menjadi yang pertama yang mengulurkan tangan.


Dakota menghela nafas, "Kalo lo mau ngelindungi orang-orang lo, lo harus lebih kuat dan berkuasa buat mereka yang bikin lo jatuh rasain hidup lebih buruk daripada kematian. Kalo lo mau ngelindungi orang-orang lo, lo harus berkuasa sampai ke titik dimana orang-orang takut nyentuh orang-orang lo."


"Tante, bantu aku kembali."


***

__ADS_1


__ADS_2