The Devil Nerd

The Devil Nerd
Dua


__ADS_3

"Seorang sahabat yang menyimpan racun untukmu bukanlah sebuah ketidakmungkinan."


***


Henry langsung memutar arah ke tempat yang sudah di sebutkan polisi melalu pesan. Mata Henry menatap jalanan namun fikirannya kosong. Pria itu tidaklah menangis mengetahui kenyataan bahwa sekarang. Kedua orang yang di kasihi meninggal di hari dan waktu yang berdekatan. Henry diam tanpa ekspresi, tidak bersuara maupun mengeluarkan keputus asaan.


Kebahagiaan yang baru saja di alaminya seolah direnggut paksa tanpa perasaan. Takdir seolah selalu egois tanpa rasa iba. Bahkan belum ada satu hari anak keduanya lahir sekarang ia menemukan fakta bahwa anaknya itu di culik dengan anak pertamanya. Lalu Ibunya meninggal disusul oleh Ayahnya. Apa harus sekejam itu. Apa mereka tak pantas mendapat bahagia. Tak pantas memiliki orang terkasih. Kenapa takdir seolah kejam hanya kepadannya. Kenapa?


Butuh beberapa menit untuk sampai ke tempat kejadian. Disana sudah ramai dengan mobil-mobil polisi serta warga sekitar yang ikut andil membantu menarik mobil naik ke atas jurang. Mobil ambulans dengan bunyi khasnya pun terlihat datang dari arah selatan.


Henry memakirkan sembarang mobilnya. Segera ia berlari menerobos kerumunan orang-orang yang sedang melingkari tubuh Ayahnya yang tergeletak di tanah. Setelah sampai di depan jasad Ayahnya. Henry hanya mematung menatapnya, tak menangis namun di dalam hatinya ia menjerit-jerit kesakitan. Ia tak berekspresi apapun namun di dalam hatinya ia terpuruk.


Cukup lama Henry memandangi Ayahnya. Setelah itu dirinya langsung berbalik dan berkata pelan kepada polisi yang berdiri di sampingnya. "Tolong urusi jenazah Ayah saya."


Henry berjalan cepat kembali ketempat mobilnya. Setelah masuk suara dering panggilan masuk dari Handphone pintar Henry kembali terdengar. Henry menatap layar Handphonenya. Tertera nama seketaris Ayahnya disana –Tria–. Ragu karena takut mendapatkan berita buruk akhirnya Henry membiarkannya. Namun setelah nada dering yang kesekian kali akhirnya Henry mengangkatnya.


"Halo."


"Maaf Pak Henry. Apakah anda bisa datang kekantor sekarang."


"Ada apa?"


"Pak Petra datang ke kantor dan mengatakan pada seluruh karyawan bahwa sekarang ia adalah pemilik sah dari kantor Pak Hendra. Beliau juga membawa surat-surat yang berisi tanda tangan dari Pak Hendra sendiri yang menyatakan bahwa ucapannya adalah kebenaran. Kami sebagai karyawan hanya ingin meminta penjelasan langsung dari Bapak." Tangan Henry langsung memutuskan sambungan sepihak. Wajahnya semakin dingin dan kaku. Kakinya meninjak pedal semakin ke bawah membuat mobil melaju kencang.


***


Anna meraung kencang didepan jasad kedua orang terkasihnya. Isakan terdengar menyayat hati bagi pendengarnya. Tangannya terkepal kuat ketika melihat tubuh orang sudah yang dianggapnya sebagai orang tua kandungnya terbujur kaku. Tangannya itu terus menerus meremas dadanya berharap rasa sakit yang dirasakan di dalamnya reda. Namun tak pelak, rasa itu semakin lama semakin sesak dan menyakitkan.


Anna butuh pelukan suaminya. Butuh ketenangan dari suaminya. Namun suaminya itu belum juga kembali setelah meninggalkannya tadi siang dengan berita yang mengerikan. Vana juga belum kembali sampai saat ini. Bayi yang belum satu hari juga begitu.


Anna frustasi. Tangannya meremas erat rambut pirangnya yang acak-acakan persis orang gila. Wanita itu terus saja menjerit memilukan sambil mendekap tubuh tak bernyawa Della dan Henry bergantian.


"KENAPA KALIAN PERGI HAH?! KENAPA?!"


"Hiks...hiks...KENAPA KALIAN PERGI!"


"KU MOHON BANGUNLAH. DAN KATAKAN BAHWA SEMUA INI BOHONG."


"KATAKAN KALAU SEMUA INI BOHONG."


"AKU MOHON JANGAN BERCANDA...BANGUNLAH...KU MOHON BANGUNLAH."


"Hiks...ini tidak nyata kan. KATAKAN INI TIDAK NYATA...hiks..hiks...ini mimpi."


"Yah ini cuma mimpi. Ini Cuma mimpi. Aku harus segera bangun." Gumam Anna pada dirinya sendiri. Hatinya terus menyakinkan bahwa sebenarnya semuanya hanya bunga tidurnya. Namun menyadari detak jantungnya yang berdentum keras membuat Anna mematung. "Ini bukanlah mimpi." Lirihnya sebelum kegelapan merenggut kesadarannya.


***


Hari hampir menggelap. Rintik hujan mulai berjatuhan. Namun Henry tak kunjung menemukan anak-anaknya. Meski tanpa bantuan siapapun dan tanpa petunjuk apapun. Henry tetap berusaha mencari anak-anak terkasihnya yang hilang.


Melapor polisi pun percuma karena mereka tidak akan menerima kasus hilangnya anak sebelum 24 jam. Semua sahabatnya pun sedang tidak berada di negara yang ia tempati saat ini. Hanya dirinya. Yah, hanya tubuh yang mulai kesakitan karena sedari pagi belum makan dan minum. Matanya juga tak henti-hentinya terbelalak untuk memperhatikan jalan. Kakinya yang terkadang kesemutan karena terus-menerus duduk.

__ADS_1


"Ayah akan menemukan kalian. Ayah janji. Ayah menyayangi kalian." Gumamnya penuh keteguhan.


Mobil Henry berhenti tatkala melihat seseorang yang dikenalnya di sisi kanan jalan. Henry langsung keluar dari mobil dan menghampiri orang tersebut.


"Tante Dakota." Wanita yang dipanggil Dakota itupun menoleh ke sumber suara. Senyum tipis terbit di wajahnya. Orang yang dicarinya ternyata ada dihadapannya. Ketika mendapati kabar bahwa sahabatnya meninggal dan dikabarkan perusahaannya telah berpindah tangan kepada orang lain, Dakota langsung terbang dari London ke Bali-Indonesia menggunakan jet pribadi milik suaminya.


Sesampainya di Bali. Dakota langsung dikejutkan dengan kabar dari mata-matanya bahwa cucu-cucu sahabatnya di culik. Saat itu juga ia langsung menelfoni orang-orang kepercayaannya untuk ikut mencari kesetiap sudut Bali hingga keluar kota. Dakota sendiri ikut mencari menggunakan mobil taksi sewaan untuk berjaga-jaga sebagai penyamaran. Namun naas, mobil tersebut mogok di tengah jalan.


Dakota langsung mendekap Henry ke pelukannya. "Tante sudah tau semuanya." Ucap Dakota pelan. Wanita itu terisak, air mata yang lagi-lagi membasahi pipinya langsung di hapus kasar.


Dakota mengurai pelukannya. Tanganya menangkup Henry yang saat ini lebih tinggi dari terakhir kali bertemu dengannya. Anak sahabatnya benar benar telah di perdaya oleh takdir. Tubuhnya bernyawa namun seperti tak bernyawa. Dakota berkata lirih penuh kesungguhan. "Tante akan membantu sebisa mungkin."


Henry mengangguk pelan layaknya anak kecil. Dirinya memang membutuhkan seseorang yang dapat sedikit meloloskan dari takdir kejam yang mematikannya. "Terima kasih."


***


Manik bermata biru itu perlahan terbuka. Vana menyipitkan matanya ketika yang pertama dilihatnya adalah sebuah ruangan dengan cahaya remang-remang. Tubuh Vana bergerak, namun sulit karena ternyata tangan dan kakinya terikat kencang. Posisinya yang terduduk dilantai yang dingin membuatnya sedikit menggigil. Hujan di luar terdengar bergemiricik menimbulkan kesan takut baginya. Vana menangis pelan, tanpa suara. Mulutnya yang tersumpal kain membuatnya seperti orang bisu.


Tiba-tiba sebuah pintu satu-satunya di sana berdecit kencang. Terlihat dua sosok yang memasuki tempat tersebut. Keduannya sama-sama menyeringai licik menatap tubuh ringkih Vana yang memberontak untuk di lepaskan.


"Emm..emm." Vana mencoba berbicara. Namun semua itu hanyalah kesia-siaan karena dua orang didepannya malah tertawa jahat tanpa iba.


Tubuh gadis berusia 9 tahun itu bergetar hebat. Tangannya yang terikat terkepal kuat hingga kubu-kubunya memutih. Hatinya berteriak ganas. Matanya menatap penuh benci dua orang dewasa di hadapannya. Air mata terus saja mengalir dari sudut matanya.


'Ayah..Bunda...tolong Zeva.'


'Kakek...nenek...tolong Zeva.'


'Ze..Zena juga disini...Yah...tolong selamatkan kami.'


'Aku mohon temukan kami.'


Dandy mendekati tubuh Vana dan berjongkok dihadapan gadis itu. Tangannya yang besar mengelus pipi Vana sayang. "Kau sudah semakin besar." Ucapnya pelan sambil mengambil sumpalan kain di mulut Vana.


"Kenapa kalian menculik aku dan adikku?" Tanya Vana dengan nada keras dan tajam membuat Dandy tersenyum kecil.


"Karena kami menginginkan itu."


Vana mendesis keras mendengar jawaban itu.


"Kalian iblis tau nggak. Ah, lebih tepatnya kalian monster berwajah manusia. Manusia yang nggak seharusnya hidup." Ucap Vana tajam. Entah darimana gadis sekecil itu belajar kata-kata seperti itu. Yang jelas saat ini Vana benar-benar ingin membunuh kedua orang dewasa di hadapannya.


Emily mendengus sedangkan Dandy tertawa kecil.


Dandy bertopang dagu. "Apa gadis kecil ku ini sangat ingin membunuh ku, hm." Tanpa ragu Vana mengangguk cepat.


"Secepatnya kalian akan mati."


"Kau yang akan mati terlebih dahulu." Gumam Emily geram. Tangannya sangat gatal untuk menggampar pipi mulus Vana. Sayang, pastinya Dandy akan membalas lebih kepadanya. Sial!


"Dimana adikku?" Tanya Vana tatkala matanya sama sekali tidak menemukan adiknya di ruangan yang pengap itu.

__ADS_1


"Adik mu?" Tanya Emily remeh. Wanita berbalut busana seksi itu menatap Vana sinis. "Sudah gue jual."


Tubuh Vana membeku. Matanya memanas siap untuk mengeluarkan air mata. Tubuh kecilnya bergetar kencang, bibir mungilnya pun begitu. "Kalian sangat-sangat jahat. Apa salah adikku?" Lirihnya sedih.


"Lo maupun adik lo sama sekali tidak salah. Tapi orang tua lo yang salah." Ucap Emily terihat terluka. Tangannya melipat di dada.


Vana menangis. Isakan lirih lolos dari bibirnya. Kepalanya menoleh pada Dandy yang menatapnya sendu. "Paman, apa salah adikku? Apa salah kami paman? Kenapa paman seperti ini."


Dandy terpaku sejenak. "Jangan menangis." Tangannya bergerak mengusap air mata Vana. "Kenapa kamu menghindariku?"


Dahi Vana berkerut curam. "Maksud paman?"


Dandy mendesah pelan. "Aku melakukan ini karena kamu menghindariku. Bahkan selama setahun ini. Kemana kamu gadis kecil ku?"


Vana mematung. "Paman. Ak-"


"Kenapa keluargamu menjauhkan mu dari ku?" Ucap Dandy cepat. "Apa anak SMA sepertiku tidak boleh menyukaimu?" Tanyanya kembali menyendu.


Vana langsung menggeleng cepat-cepat. "Ti-tidak paman."


"Lalu apa? Kenapa kamu menghilang setelah aku memelukmu."


"Ta..tapi paman ingin mencium ku. Aku masih kecil paman." Gadis Itu menundukkan kepalanya. Tatapan Dandy yang intens membuatnya risih.


"Aku hanya ingin mencium pipi mu. Aku tidak melecehkan mu. Aku benar-benar menyukaimu sebagai wanita."


"Tapi aku tidak menyukai paman sebagai laki-laki. Aku menyukai paman karena paman adalah paman ku."


"Aku tau." Dandy mengangguk pelan. Matanya menutup berusaha meredakan hatinya yang tercubit kencang mendengar ungkapan Vana.


"Apa paman benar-benar menyukai ku?"


Dandy langsung membuka matanya. "Tentu saja." Jawabnya tanya ragu.


"Tapi kenapa paman menyakitiku."


"Kamu menghindari ku."


"Saat itu.."


"Hey sudahlah. Hentikan drama kacangan ini." Tukas Emily dengan dengusan kerasnya. Matanya menatap jengah dua sosok di depannya.


"Diamlah." Ucap Dandy tajam.


Emily berdecak. "Ck, apa lo nggak denger sedari tadi hp lo bunyi."


Dandy mendesah berat. Ucapan Emily memang benar, ponsel pintarnya berdering tanpa henti. Dandy berdiri dan mengambil ponsel disakunya. Matanya melirik Vana sekilas sebelum berjalan keluar dari ruangan itu.


Vana menatap Dandy sendu. "Saat itu aku sakit paman. Aku hanya tidak ingin paman khawatir. Aku menyayangi paman."


***

__ADS_1


__ADS_2